
Jace meraih ponselnya, seketika ia menggeser layar datar ketika mendapatkan notifikasi email. Jace seraya membalas surat elektronik
tersebu, disebabkan berkaitan dengan kantor di New York. AdalahJacob kepala divisi keuangan, si pengirim email, itu berarti sang pengantin baru telah kembali dari bulan madunya di Bahama.
Pimpinan Alstrom memberikan cuti khusus kepada Jacob, mungkin sebagai hadiah pernikahan kepada temannya. Semoga saja Jacob menikmati masa indah dengan wanita itu, siapa lagi jika bukan Lainey.
Apakah kau sudah mengikuti akun sosial media sepupuku, Aubrey Camomile.
Bukannya berterima kasih karena respon cepat karena Jace membalas email Jacob, malah pria itu mengingatkannya kepada Aubrey yang super seksi.
Jace mendengus geli sambil menggelengkan kepala. Kesibukan di Paris membuatnya lupa akan semua hal, termasuk janjinya terhadap Aubrey. Bukan menghabiskan waktu dengan bersenang-senang di kota Paris, Jace benar-benar sibuk dengan proses pengerjaan busana dengan
menggunakan teknik haute couture. Hanya hari kedua kedatangannya, ia sempat mengajak semua kepala divisi kantor Paris untuk makan bersama dan menghabiskan malam dengan mencicipi wine terbaik.
“Aubrey Camomile.” Jace mengeja nama wanita seksi yang menurut penuturan Jacob telah menjadi single parent selama 4 tahun.
Ia pun mendapatkan akun instagram pemilik manik biru dengan kelopak sangat indah, bibirnya pun sensual. Membayangkan sosok Aubrey membuatnya menekan layar “Following”. Mata Jace menatap ratusan foto yang membuatnya menelan saliva. Wajah cantik, tubuh sintal dengan lekukan bak gitar Spanyol sangat menggoda iman.
Jika Jace punya. Iman maksudnya !
ia bukan pria yang taat pada hal religius mengenai penyerahan jiwa kepada hal tak nampak.
Ada yang menarik perhatiannya, gadis kecil yang suka berpose seperti halnya Aubrey. Gadis kecil yang sangat diyakini Jace adalah putri Aubrey, cantik dan mengingatkannya kepada Serenade. Jika putri Aubrey memiliki surai coklat, Serenade blondie terang malah hampir seperti warna surai Sky.
Jace menghela napas panjang.
Ya, secantik ataupun pun sesensual Aubrey, tidak bisa menyamai pesona seorang Sky Navarro. Tidak ! Ucapan Jace bukan berarti ia masih
memiliki hati kepada supermodel itu, hanya saja itulah kenyataannya. Sky telah pensiun menjadi angels Victoria 2 tahun yang lalu namun tidak menyurutkan namanya di kancah dunia fashion. Buktinya tiap tahun Jace terus menaikkan nilai kontrak kerja sama dengan supermodel yang satu-satunya pernah ia tangani.
Jace bisa dikatakan pengguna sosial media di level menengah, dalam seminggu ketika sibuk maka tak banyak membagikan rutinitasnya. Namun ketika Jace sedang berwisata, touring dengan klub sepeda ataupun sendirian, ia akan menjadi sangat aktif di dunia maya.
Melihat kolom bagian kanan, pada bagian foto ditandai. Seutas senyum mengukir wajah ketika melihat foto bersama dengan mahasiswi Francais de la Mode yang sangat cerewet di bandara beberapa hari yang lalu.
“Iris Coppole. Gadis yang sangat sibuk.” Gumam Jace mengamati unggahan foto gadis berkewarganegaraan Italia tersebut. Namun Jace sempat mendengar penuturan Iris, jika memiliki darah Asia dari kakeknya.
Tanpa berpikir panjang Jace menekan layar ponselnya, mengikuti akun sosial media Iris Coppole.
…
Di saat bersamaan dua wanita berbeda usia sangat bahagia hanya dikarenakan akun sosial media mereka diikuti kembali oleh pria yang sangat sukses, single dan pula tampan.
Aubrey menekan nomer telepon kakak sepupunya.
“Akhirnya dia mengikutiku.” Seru Aubrey ketika panggilan suaranya tersambung. Wajahnya sangat berseri dengan bibir naik ke atas disertai
tawa yang manis.
Jace sangat sibuk, dia harus diingatkan hal kecil seperti itu, sister. Ketika membalas email, aku mengingatkannya kembali tentang dirimu.
Desahan puas meluncur dari bibir terpulas lip tint berwarna merah menyala. Sesuai dengan predikat sebagai manager Quens terseksi, Aubrey
harus mempertahankan kesempurnaan penampilan dari wajah hingga busana yang dikenakannya.
“Aku mengerti, Jack. Dia pria yang sangat sibuk, tapi aku sangat menyukainya. Tampan dan kaya.”
Jacob mendecih di ujung telinga Aubrey namun membuatnya semakin tertawa ringan.
Aku bosan mendengar itu, sis. Kenapa juga harus lewat diriku, kau baru ingin mendekatinya. Coba dari dulu kau coba mengirimkannya direct message di akunnya, mungkin saja bossku membalasmu. Lihat matanya ketika melihatmu, sis. Dia tertarik.
Aubrey menggigit bibirnya “Jack, kau tidak memberiku mimpi di pagi hari, bukan ? Kita tahu jika hidup Jace Von Alstrom dikelilingi oleh
supermodel, apalah aku dibandingkan mereka.” ucapnya merendah tapi tetap girang.
Jacob tertawa kecil
Ya, bossku mengganti supermodel satu dengan yang lain seperti mengganti pakaian siang dan malam. Sangat jarang mengenakan l pakaian yang
sama dalam sebulan. Boss kami adalah trendsetter fashion dunia, harusnya dia menjadi model karena tidak ada designer setampan dirinya dan lagi dia bukan seorang homo.
Aubrey mengerucutkan bibirnya “Aku akan mendapatkannya, Jack. Jalan apapun akan aku tempuh untuk memerangkap pria itu dalam tempat tidurku.”
Tawa Jacob semakin keras terdengar pada benda pipih berwarna hitam di telinga Aubrey, sang manager pemasaran Quens pun sempat menjauhkan ponselnya.
Aubrey, kau sangat cantik di keluarga kita tapi juga bodoh. Jace tidak akan terperdaya hal seperti itu. Maksudku jika kau hanya ingin tidur
dengannya, gunakan sensualitasmu. Ya, tidur bersama mungkin selama beberapa hari kemudian Jace meninggalkanmu.
“Aku akan menjadi pakaian yang tidak akan dipakainya lagi ?” sahut Aubrey menerawang.
Ya, sis. Jika kau menginginkannya lebih, dengarkan aku.
Wanita mengenakan suit berwarna dark navy membalut pas tubuh sesuai lekukannya terlihat bersandar pada pinggiran jendela ruangannya.
“Aku mendengarmu, Jack. Katakan semuanya, kelemahan bossmu. Karena kelebihannya aku sangat tahu. Perlu kau ketahui, jika aku tidak ingin sekadar berkencan sesaat dengannya. Aku menginginkan lebih, kriteria pria yang kuidam-idamkan semua ada padanya. Jace Von Alstrom, akan menjadi pengganti pria brengsek itu.” gerutu Aubrey mengingat mantan suaminya. Pria yang tidak akan diingatnya lagi dan sangat jauh dari Jace yang sangat sempurna.
…
Iris terpekik riang dan melompat dengan ponsel di tangannya. Teman kuliahnya di dalam ruangan kelas menatap dengan tawa melihat gadis bertubuh tinggi itu menarikan satu gerakan balet.
“Apa yang membuatmu sangat bahagia, babe ?” tanya Hadley.
Iris menghentikan tariannya lalu memamerkan ponselnya kepada temannya. Sontak gadis-gadis sepantaran mengerumuninya.
“Lihat, JACE VON ALSTROM ! MENGIKUTIKU DI INSTAGRAM !” pamer Iris berteriak lantang diikuti pekikan heboh teman-temannya.
Sebanyak 7 gadis melompat, terpekik sambil berpelukan. Iris yang berbahagia seolah menjadi kebahagian bersama bagi mereka.
“Aku akan sering mengunggah hasil karyaku.” Ucap Iris optimis, anggukan kepalanya pun sangat mantap menatap kepada teman-temannya.
“Kami bersamamu, babe. Semoga kita bisa mendapatkan tempat magang tahun depan.”
Iris menyeringai senang “Aku sangat berharap bisa magang di Alstrom.” Pekiknya setelah menyelesaikan ucapan.
“Semoga, babe. Dan kau bisa melihat Mr. Alstrom tiap hari, atau mungkin model-model tampan yang bekerja untuk peragaan. Aku tidak muluk-muluk, tidak perlu sebesar Alstrom tempatku magang nanti, tapi setidaknya bisa melihat pria-pria tampan.” ujar Hadley dengan wajah menyeringai nakal.
Gadis-gadis cantik itu serempak mendengus kasar lalu tertawa cekikikan bak remaja belasan tahun.
“Demi dewa mode, aku Iris Coppole menyerahkan hidupku kepadamu sepenuhnya agar bisa menjadi pegawai magang di Alstrom.” Iris mengatupkan kedua tangan, mata terpejam mengucap mantra penuh harap doanya terkabulkan.
…
Jace menyandarkan punggungnya pada jok mobil sembari memerhatikan jalanan yang membuatnya menjauh dari Le Petit Restaurant. Tempat Jace
bertemu dengan panitia Paris Fashion Week Show, mereka lamadi tempat itu, membahas event besar yang melibatkan Alstrom.
Semakin mendekati hari peragaan, semakin berat pula beban di pundak Jace, terlebih banyak hal yang harus dikerjakan oleh panitia PFW. Jace meminta beberapa perubahan pada design ruangan yang membuat wajah para panitia itu memerah, mungkin marah yang tertahan tapi Jace adalah pemilik The Alstrom. Brand yang sedang naik daun dan menyaingi brand ternama yang sudah malang melintang di dunia fashion berpuluh bahkan ratusan tahun yang lalu.
Mobil berhenti pada lampu merah, Jace menaikkan pandangan dan matanya melebar melihat sosok gadis yang melintas di depan.
“Hei Iris !” panggil Jace dengan suara sangat tinggi. Gadis yang mengenakan blus putih dipadu mini shirt denim menghentikan langkahnya dan
menoleh.
Jace terkekeh melihat respon Iris yang menjatuhkan bibirnya ketika melihat si pemanggil.
“Berhenti di depan.” Perintah Jace kepada sopirnya. Frasier, sopir kepercayaan yang selalu setia mengantar Jace selama di Paris.
Melihat mobil berhenti, gadis mengenakan boot tinggi berlari menghampiri kendaraan Jace.
“Hai, Mr. Asltrom.” Tawa Iris memegang kaca mobil mewah berwarna hitam.
Jace mendongak dengan senyuman simpul di bibirnya “Mau kemana ?” tanyanya
Wajah suka cita khas gadis seusianya tersipu menatap Jace “Aku baru saja pulang kuliah, tadi singgah membeli beberapa benang dan akan membeli pizza di restoran sana.” Iris menunjukkan pada restoran kecil di tengah bangunan lain di
sebelah kiri.
“Apa kau ingin mentraktirku ?” canda Jace tak lepas melihat mimik riang Iris.
Seolah mendapatkan lampu hijau, dengan manik hitam yang membulat Iris pun lalu menaik tuas pintu di depannya.
“Tentu saja aku akan mentraktirmu, Mr. Alstrom.” Tanpa segan dan melupakan kebesaran nama Jace di dunia fashion, Iris menarik tangan pria
tampan itu untuk keluar dari mobil.
Jace tertawa melihat tingkah Iris, agresif tapi entah mengapa ia tidak bisa melayangkan protes. Toh juga Jace sudah tidak mempunyai pekerjaan hari itu. Pizza terdengar menggiurkan setelah ia tidak bisa menghabiskan makanannya karena diskusi alot dengan panitia PFW.
“Pizza di sini sangat enak, Mr. Alstrom. Percayalah padaku karena aku gadis Italia.” Iris menggamit lengan Jace memasuki restoran yang terkenal dengan kelezatan pizzanya.
Jace mengangguk mengiyakan dan patuh duduk di kursi yang ditarik oleh Iris, harusnya ia –lah yang menyilakan gadis yang memiliki endorpin tak pernah habis. Setidaknya itu yang ditangkap oleh Jace selama dua pertemuan mereka.
“Apapun yang kau pesan.” Sergah Jace ketika melihat bibir Iris terbuka dan hendak bertanya.
“Baiklah.” Iris berdiri menghampiri pria berseragam serba putih dan melontarkan perkataan yang sedikit dimengerti oleh Jace. Iris
memesankan dua pizza dalam Bahasa Italia, selebihnya ia tidak mengerti perkataan panjang kedua orang yang saling melemparkan senda gurau.
“Jangan lihat tempatnya, Mr. Alstrom.” Kata Iris ketika melihat Jace melayangkan pandangan pada ruannlgan restoran yang tidak terlalu
besar. Nuansa kota Napoli yang notabene pusat pizza terbaik di Italy sangat terasa di dalam restoran itu. Jace beberapa kali berkencan dengan model dari negara tersebut, namun gadis di depannya berbeda. Iris tidak mempunyai logat
yang kental ketika berbahasa Inggris, sangat fasih sama halnya dengan orang-orang Amerika.
“Apa kau besar di U.S ?” tanya menatap Iris yang terpaku memandanginya.
“Bagaimana kau bisa mengetahuinya, Mr. Asltrom ?” Iris balik bertanya masih dengan wajah riang dan sedikit tersipu.
Jace menaikkan bahunya sejenak dengan senyuman tipis di bibir “Kau berbicara tidak seperti umumnya orang Italia yang aku kenal, Bahasa Inggrismu sangat bagus. New Jersey ?” tebaknya diikuti pekikan tertahan oleh Iris.
“Tuhan, kau menebaknya dengan benar, Mr. Alstrom. Aku lahir di Turin, Italy. Kemudian papa ditugaskan ke U.S ketika aku berusia 4 tahun. Kami di sana selama 15 tahun, kemudian kembali ke Italy.” terang Iris
“Sekretarisku berasal dari New Jersey. Berkatnya, aku sangat hapal dengan logat dari kota itu. Tapi kau juga sangat lancar menggunakan Bahasa Italy.”
Iris menyelipkan rambut di telinganya melihat senyuman Jace yang memamerkan gigi indahnya.
“Aku juga lancar menggunakan bahasa Perancis, Mr. Asltrom.”
Manik abu Jace melebar takjub “Sungguh banyak kelebihan. Aku melihatmu unggahanmu sedang latihan balet di sosial media.”
Gadis belia di depan Jace menangkup wajahnya yang memerah lalu mengangguk “Sejak kecil aku sangat menyukai balet dan fashion. Di
Italia, aku mengurus butik kecil milik nana-ku.”
“Grandma ?” tanya Jace, gadis di depannya mengangguk kuat berulang-ulang kali.
“Ya grandma, Mr. Alstrom. Itu kenapa aku menunda kuliah karena sibuk mengurus “Canali”. Tidak besar, skala sangat kecil dibandingkan
Alstrom. Jika Alstrom adalah bundaran lebar sebuah pizza, maka Canali adalah bubuk lada di atasnya.” Penuturan Iris membuat Jace terbahak tawa, matanya sampai hilang dengan tangan melambai ke depan.
Iris menggigit bibirnya melihat Jace yang begitu hidup. Tampan dan sangat pintar di dunia yang sedang dipelajarinya dengan baik-baik. Pria di
depannya tidak boleh di sentuh, hanya untuk dikagumi. Sebesar apapun suka Iris kepada Jace, ia tidak boleh berlebihan dalam bertingkah.
“Kau selalu sendiri, Nona Coppole. Apa kau sendiri ataukah ada pria yang bodoh mencampakkanmu?”
Dada Iris bergemuruh mendengar pertanyaan Jace disertai dengan keindahan senyuman yang maha hebat itu.
“Bagaimana denganmu, Mr. Alstrom? Kau juga selalu sendiri. Apakah kau sudah bosan dengan model bertubuh indah, maaf aku mengikuti semua
hal tentangmu. Kami mempunyai forum yang membahas sisi lain para designer top
dunia.” Ujar Iris dengan polosnya.
“Apa ?” tanya Jace sambil menelengkan kepala.
Iris mengangguk mantap “Mr. Alstrom, kau memiliki banyak penggemar. Aku adalah salah satunya, apa aku boleh jujur kepadamu ?” tanyanya menatap lurus kepada pria yang sangat rapi dengan suitnya yang berwarna coklat.
“Silahkan, Iris.” Sopan Jace menunggu perkataan Iris.
Iris berdeham melancarkan saliva di tenggorokannya “Kau sangat tampan, Mr. Asltrom. Kau memiliki senyuman yang mematikan, tubuhmu berotot. Ya, kami melihatnya dari unggahan sosial mediamu. Dan lagi, ide-idemu
yang tidak biasa di dunia fashion. Kau adalah dewa yang nyata di dunia kami, kau sangat sempurna, Mr. Alstrom. Aku menyukai dan memujamu.” Tuturnya dengan semangat bak para pahlawan di medan perang.
Wajah Jace memerah hebat, ia tidak pernah mendapatkan perkataan yang membuatnya darahnya berdesir kencang. Genggamannnya menguat pada gelas kaca di tangan. Iris terlihat tidak surut setelah berucap, kali ini berani bersitatap intens dengan Jace.
Gadis yang unik !
###
alo kesayangan 💕,
aku kebut nulis malam setelah kerja..
sorry, aku berusaha memenuhi janji walau telat..
semoga kalian suka novelku yang baru ini..
best commet di novel Kai :
love,
D 😘