JACE

JACE
Amazed



“Apa yang kau lakukan dini hari seperti ini?” tanya Jace menatap gadis yang sedang menangkup gelas plastik berisi americano.


Swalayan 24 jam itu memiliki dua meja dari aluminium masing-masing dilengkapi dengan dua


kursi. Mereka menempati meja di sebelah kiri sementara di meja kanan tidak berpenghuni. Siapa juga yang menghabiskan waktu duduk di depan swalayan pada jam 3 dini hari. Mungkin hanya Iris dan Jace menjadi pelanggan swalayan itu selama


30 menit terakhir.


“Aku mengerjakan designku, Mr. Alstrom. Ketika selesai aku baru sadar jika sudah lewat jam 2 malam dan aku lapar. Oh yah, flatku berada di


sana. Belok kanan pertama, bangunan ketiga bercat putih dengan pintu dari kayu mahogani berwarna hitam. Aku berada di lantai paling atas, lantai 4 kamar 07.” Terang Iris antusias menjelaskan tempat tinggalnya, tanpa diminta oleh Jace, pria yang terlihat lebih tampan dengan penampilan rapi dengan rambut berantakan.


“Padahal tempat kuliahmu cukup jauh dari sini.” Tenang Jace berujar ikut menyesap kopi yang memberikannya vitamin penahan kantuk.


Iris mengulum senyuman dengan mata berbinar riang, cukup terang dan hidup di waktu seperti ini “Tempatku latihan sekaligus mengajar balet tidak jauh dari sini. Lihat lampu jalan itu, plang merah. Itu tempatku mengajar balet, Mr. Alstrom.”


Mata Jace menyipit ke arah yang ditunjukkan Iris, sungguh ia sangat lelah namun berupaya fokus pada plang merah bertuliskan “The Ballet Opera”.


“Bagaimana kau mengatur waktumu, kuliah dan mengajar balet?” tanya Jace kembali menatap wajah Iris, gadis bersurai hitam dengan senyuman


merekah dan sangat manis.


Iris terdiam sejenak lalu mengembuskan napas dengan perlahan “Semua kuliahku berakhir pada jam 2 siang dan aku mengajar balet dari jam 4 sore selama 2 jam. Setelah itu, aku akan latihan selama 90 menit dan pulang ke flat


mengerjakan tugas kuliah.”


“Sangat sibuk, kau masih muda tapi sudah punya segudang kesibukan.” Timpal Jace sambil mengedutkan alisnya, pun kemudian gadis di depannya tersenyum tersipu.


“Tidak sesibuk pikiranmu, Mr. Alstrom. Aku masih punya waktu untuk bersantai, menghabiskan waktu bersama dengan teman-temanku. Kau yang


lebih sibuk, seorang pemilik dan designer utama brand sebesar Alstrom. Pikiranku terbuka ketika melihat di channel V live catwalk Alstrom. Itu juga yang membuatku bekerja larut, aku sama sekali tidak mengantuk karena banyak ide yang bermunculam. Yah, walau sangat jauh dari koleksi Fall dan Winter Alstrom yang superb.” celoteh panjang Iris. Ia tidak bisa memungkiri jika darah Italy membuat bibirnya melaju kencang dalam. menguasai sebuah percakapan.


Sedikit rona mera di wajah Jace mendengar pujian polos dari Iris. Pria bermanik abu itu menyugar rambutnya ke belakang dengan bibir menyunggingkan sebuah senyuman tipis.


“Mungkin suatu hari aku bisa melihat designmu, gadis pizza. Sayangnya aku akan kembali ke New York, mungkin lain kali.” tandas Jace


“Mr. Alstrom…” ucap Iris meragu, kembali ia melihat pria tampan di depannya menguap lebar. Besar keinginan di hati hendak mengajak Jace ke


apartemen, memperlihatkan tumpukan designnya yang tidak berguna. Tidak sepenuhnya juga tidak berguna, Iris meralatnya. Designnya menjadi koleksi di Canali, butik kecil milik nananya.


“Ya?” jace mencoba melebarkan matanya ke depan, memfokuskan perhatiannya kepada gadis bermanik sangat jernih dan cerah, berbanding terbalik dengan dirinya.


Iris menggelengkan kepala “Tidak ada apa-apa. Ya lain kali saja. Semoga kita bertemu lagi.” Iris menyerah karena mengajak seseorang yang


memiliki nama sebesar Jace Von Alstrom sangat berlebihan bagi gadis biasa sepertinya. Dan nanti apa yang muncul di pikiran Jace jika ia melontarkan ajakan ke apartemen di jam 3 dini hari.


Pria tampan memiliki tatapan sendu, menyentuh hati Iris dalam. Ia sangat ingin menarik tangan Jace ke apartemennya dan menyuruh pria itu untuk beristirahat.


Jace meletakkan ponselnya di atas meja dengan pelan lalu menyodorkan dekat ke tangan Iris “Simpan nomer ponselmu, gadis pizza.”


Bola mata Iris hampir saja melompat keluar akan spontanitas Jace, tanpa berpikir panjang dengan cekatan ia menyimpan nomer ponselnya. Tidak mau sepihak, Iris menekan panggilan ke nomernya sendiri.


“Gadis Pizza. Namaku di kontakmu, Mr.Alstrom.” Wajah Iris semakin terang mengalahkan sinar full moon yang hadir berpuluh tahun ketika mengembalikan ponsel Jace.


“Aku bisa melupakan nama aslimu, Iris.” Suara Jace terdengar lemah, kopi yang membasahi tenggorokan sesaat lalu tidak bisa lagi menahan kantuknya.


Iris sontak berdiri dan menarik tangan kokoh Jace, pria bersurai coklat itu mendongak “Kau harus pulang, Mr. Alstrom. Istirahatlah, hari ini pasti sangat melelahkan untukmu.”


Jace seolah pasrah dengan sifat dominan Iris yang menuntunnya kembali ke mobil. Sopirnya juga sangat siaga telah berdiri di samping pintu yang terbuka. Jace sempat menengok ke arah belakang. Jacob dan selingkuhannya telah terlelap. Sepertiny tidak ada yang terjadi, percintaan yang mungkin akan disesali oleh Jacob.


Iris merasakan hampa ketika tangan Jace terlepas dari genggamannya. Ketika Jace berbalik, ia kembali memasang wajah cerianya.


Bukan mata kali ini yang meloncat keluar, melainkan hati Iris ketika Jace memegang kedua bahunya.


“Terima kasih, gadis pizza. Sudah menemaniku selama 30 menit, maaf tidak bisa mengantarmu pulang.” Ucap Jace menundukkan kepala dan menatap wajah Iris dengan lekat.


Pemilik rambut ikal dan hitam kemerahan itu menggelengkankepala “Cuma dekat.” Singkat Iris yang hatinya mendadak dilanda rasa sedih karena akanberpisah dengan pria lembut dan rupawan. Ia sangat tahu jika Jace sangat lelah namun pria itu tetap sangat sopan dan ramah.


Well, sejak awal bertemu Jace juga sangat ramah. Pria itu mendengarkan semua perkataannya dengan baik, seorang pemuja sekaligus penggemar. Harusnya seorang seterkenal Jace tidak menggubris Iris, atau mungkin hanya memberikannya sebuah tanda tangan dan berlalu dengan muka senyum yang dipaksakan.


Jace berbeda, malah berjalan menemaninya hingga ke bagian penjemputan bandara. Tentu saja Iris tidak enak hati ketika designer ternama


itu menawarinya sebuah tumpangan ke kota. Iris menolaknya dengan sopan, mungkin jodoh pula yang membuat mereka kembali bertemu, dan kini mereka akan kembali terpisah.


Sedih! Ya Iris bersedih, karena mungkin saja ia akan lama bertemu kembali dengan Jace.


“Sampai jumpa, Mr. Asltrom.” Berbekal naluri yang merajai akal sehat, ia memeluk Jace dengan erat. Hanya sesaat, tidak bisa lebih lama merasakan debar jantung Jace walau Iris sangat ingin melakukannya. Mendekap erat hingga selamanya.


Mustahil, itu tidak akan terjadi.


Wajah Iris merona ketika pelukan sekilas itu terlepas. Jace menaikkan kedua ujung bibirnya.


“Sampai bertemu kembali, Iris Coppole.” Ucap Jace lembut dan sempat mengacak surai hitam Iris sebelum akhirnya ia mendudukkan tubuh pada jok depan.


“Pulanglah dan beristirahat, gadis pizza. Kau boleh mengirimkan aku pesan, oh atau mungkin mengirimkan foto designmu. Tenang saja,


aku tidak akan mengambilnya menjadi design Alstrom.” Tutur Jace lembut kepada gadis yang berdiri mematung di samping mobil.


Secercah senyuman terbit di bibir Iris, ia pun menganggukkan kepala dengan manik yang sedikit memburam.


“Selamat beristirahat, Mr. Alstrom.” Ucap sang gadis dengan lemah.


“Jace. Kau boleh memanggilku dengan itu, Iris. Kau juga selamat beristirahat.”


Usai melihat anggukan pelan kepala Iris, Jace


mengintruksikan kepada Frasier, sopirnya untuk mulai menjalankan kendaraan. Seutas senyuman simpul ketika Jace membalas lambaian tangan Iris.


Jace memejamkan mata, tubuhnya teramat lelah untuk memikirkan setitik sedih karena berpisah dengan gadis pizza yang sangat ceria itu.



Pramugari menyilakan Jace ke arah kursinya, first class yang memiliki cabin tersendiri. Fasilitas kelas atas yang membuat Jace tidak akan merasakan terbang selama hampir 9 jam di atas awan.


“Mr. Alstrom.” Sapa gadis berwajah mungil dan kelopak mata redup di sebelah cabinnya.


“Hei. Bagaimana kabarmu?” balas Jace menyapa tak kalah riang. Ia tidak menyangka akan bersebelahan dengan Tallulah. Sang model yang


jatuh pingsan 2 malam lalu di pesta Alstrom.


Tallulah sekilas menunduk lalu kembali menatap Jace yang sedang menyimpan tas kecilnya pada meja di dekat jendela.


“Aku baik-baik saja, Mr. Alstrom.” Tallulah menjawab dari sebelah. Mereka terpisahkan oleh pembatas berwarna coklat tua, yang nantinya jika


hendak menginginkan sebuah privasi, para penumpang first class boleh menaikkan bagian


atas pemisah cabin.


“Apa kata dokter?” Jace memegang pembatas sembari menatap wajah sang model belia yang sedang menggigit bibir bawahnya.


Sangat pemalu dan kikuk, Jace mendeskripsikan Tallulah yang nyatanya mempesona ketika di berjalan di atas catwalk pun berpose di majalah mode.


“Hanya kelelahan. Dokter hanya menyuruhku banyak beristirahat. Dan kata dokter aku sedikit syok malam itu.” jelas Tallulah.


Alis Jace mengerut seolah memilirkan sesuatu “Kau syok? Apa yang membuatmu syok, Tallulah?”


wine dengan badan yang letih.” Jawab Tallulah berbohong. Pria di depannya –lah yang membuatnya syok.


Bayangkan duduk sedekat itu dengan pria yang menjadi idolanya, kemudian digendong bak pengantin ke toilet. Antara malu dan butuh,


Tallulah harus menghadapinya. Tapi ia tidak siap mental dengan perhatian Jace kepadanya. Pria itu merawatnya, melihatnya muntah. Rasa malu hingga ke ubun-ubun yang membuatnya hilang kesadaran.


Jace menelengkan kepala berkali-kali “Harusnya kau kuat minum, kau berasal dari Alaska, Tallulah.” Ucapnya lembut dan penuh perhatian.


“Aku kuat minum, Mr. Alstrom. Hanya saja malam itu tidak tepat.”


Jace mengendus geli “Jadi kapan kau merasakan waktu yang tepat untuk minum banyak?”


Iris kedapatan, ia tidak bisa menjawab pertanyaan yang sebenarnya terdengar sebuah candaan dari pria idolanya. Sekarang jantungnya bergemuruh hebat, ia tidak mau kejadian memalukan malam itu terulang kembali.


“Sudahlah, nanti saja kau menjawabnya. Pesawat akan take off.” Sambung Jace akhirnya menduduki single sofa berbahan leather nan empuk. Ia


hanya melemparkan senyuman lebar kepada Tallulah yang terus menatapnya.


Sepanjang perjalanan mereka terus berbincang, atau bisa dikatakan Jace yang lebih banyak menanyakan sesuatu dan Tallulah menjawab. Sedikit banyak Jace mengetahui hal pribadi dari gadis itu, termasuk tempat tinggal, kesibukan Tallulah yang ternyata mengambil kuliah di NYU.


Jace sempat tertidur ketika sebelumnya melihat Tallulah menahan kantuk karena terus-terusan mengobrol. 3 jam lamanya mereka beristirahat,


sebelum suara kapten pesawat yang memberikan informasi jika sesaat lagi pesawat akan mendarat di JFK Airport.


“Tallulah.” Panggil Jace ketika mereka berjalan mengikuti alur antrian untuk keluar dari pesawat.


Gadis yang mengenakan coat panjang berwarna navy dengan handbag di tangan menoleh menatap Jace. Tallulah nampak sangat elegan, tidak


sama ketika berjam-jam lamanya mereka berbincang selama penerbangan. Tallulah malu,


kikuk, dan terus merona ketika Jace memandanginya. Jace pula akhirnya berinisiatif mematutkan pandangan pada tablet canggih miliknya, mengerjakan hal tidak penting dan sesekali melirik ke arah Tallulah yang membalas perkataannya.


“Ya, Mr. Asltrom?” tanya Tallulah mengumbar senyuman dari bibir indah dan lesung pipi yang sangat menarik. Wajar Talulah menjadi rebutan


brand-brand ternama, wajahnya sangat cantik dan unik. Beberapa wanita memiliki kecantikan yang wah, namun tidak lama setelah itu hanya menjadi kelebihan yang sangat membosankan.


“Apakah ada yang menjemputmu? Jika tidak ada, kita bisa bersama menuju kota.” Tawar Jace yang membuat manik biru Tallulah menjadi sangat cerah bak langit di bulan Agustus.


Model belia itu mengangguk dengan antusias “Terima kasih atas tumpangannya, Mr. Alstrom.” Ucapnya yang penuh keberanian.


Jace mengulum senyuman dan mengangguk sekali dan memberi kode agar Tallulah meneruskan langkah kakinya. Keduanya kembali berjalan dalam diam, ketika memasuki bandara pun juga masih terdiam dalam langkah kaki yang


selaras, sesekali Tallulah kedapatan menatap Jace namun gadis itu sontak membuang pandangannya ke arah yang lain.


“Apakah kau selalu seperti ini, Mr. Asltrom?” Tallulah bertanya kepada pria yang berdiri di sebelahnya. Alih-alih menunggu di coffee


shop bandara, Jace malah menemani Tallulah menunggu bagasi barangnya.


Jace melirik dengan alis berkerut dan tetap tampan “Seperti apa?”


Gadis belia itu terlihat canggung, terbukti dia menggigit bibir bawahnya.


“Tidak memiliki bagasi.”


Jace mendengus geli lalu menaikkan bahu “Aku memiliki apartemen di Paris dan di New York, jadi tidak perlu membawa pakaian yang banyak.”


Tallulah tertunduk dan menatap bootnya yang bersanding dengan sepatu casual Jace. Kembali mengingatkan jika mereka berdiri berdampingan,


seolah keduanya adalah pasangan yang habis berliburan di kota Paris dan sedang menanti bagasi. Hal kecil seperti itu membuat hati Tallulah meletup-letup bahagia.


“Aku mengatakan hal bodoh. Kau adalah CEO Alstrom. Tentu saja tidak perlu membawa pakaian banyak. Kau bisa mengambilnya di tokomu, kau


memiliki asisten yang menyiapkan segalanya.”


Mau tidak mau Jace tergelak tawa ringan, iapun kemudian mengangguk akan perkataan berani dari Tallulah. Sang model yang mulai terbuka


dan sedikit lebih santai mengatakan isi pikirannya.


“Tidak sombong, tapi itulah yang terjadi, Tallulah.” Singkat Jace menganggukkan kepala kepada kurir yang membawa koper dan tas sang model. Dengan sigap ia mengambil alih barang bawaan Tallulah, gadis di sebelahnya pun tidak bisa melayangkan protes ketika Jace menyelipkan selembar 100 dollar pada tangan si kurir.


“Kau sangat baik, Mr. Asltrom.” Ucap Tallulah yang semakin melambung tinggi ke angkasa dengan perasaan bahagianya.


Jace pria idolanya, pria yang disanjung-sanjungnya sepenuh hati sedang membawa kopernya. Mereka kembali berjalan bersisian, bak pasangan yang usai bertamasya di luar negeri.


Sekilas pria bergigi kelinci itu menoleh dengan senyuman lebar “Apakah kau ingin makan bersama, aku melihatmu tidak makan banyak tadi di pesawat.” Ucap Jace penuh perhatian.


Batin Tallullah terpekik riang.


Pria yang menjadi cinta pertamanya sedang mengajak makan malam bersama.


Mimpi apa ia semalam? Setelah 48 jam Tallulah meratapi kebodohannya yang muntah di depan seorang Jace Von Asltrom. Kini pria itu


membawakan barangnya dan menawarkan sebuah makan bersama.


Apakah ini kencan pertama? Harap Tallulah.


Tallulah menarik napas yang sangat panjang untuk mengisi paru-parunya yang sesak karena perasaan bahagia yang membuncah, ia kemudian


mengangguk kecil berkali-kali sambil menggigit bibir bawahnya.


“Aku mau!” seru Tallulah riang.


Jace sampai menghentikan langkah karena kaget akan seruan Tallulah yang sedetik kemudian membuatnya tergelak tawa.


Beberapa saat kemudian Tallulah kembali hampir kehilangan kesadaran ketika pria yang menjadi


cinta pertamanya itu mengacak surai berwarna coklat miliknya.


###





alo kesayangan 💕,


hei apa kabar kalian dan weekendnya pada ngapain?


di novel Kai aku ngomong panjang lebar karena Kai pas di chapter 20


aku merayakannya dengan berbicara banyak..


maaf jika banyak yang aku blom balas komentnya 🙏🏻


hahahahaa...


btw, semangat kerja buat kalian yang besok harus kerja 👏🏻👏🏻👏🏻💪🏻


love,


D 😘