
"Mr. Alstrom." Tallulah bergumam sambil menutup bibirnya. Manik biru mengerjap sekaligus menahan air matanya. Ia tidak ingin nampak lemah di depan pria tampan tersebut.
"Aku tadi mengatakan rumahmu sangat indah, Sweety Pie. Dan aku merindukanmu." Ujar Jace sambil mengacak surai Tallulah.
Tallulah tertunduk sejenak, menoleh ke arah dinding bangunan bercat putih.
"Tapi tidak ada lautnya tidak seperti rumahmu, Mr. Alstrom. Oh ya, bagaimana bisa kau tahu tempat ini?" Tanya Tallulah dengan pelan sedikit canggung.
Jace tersenyum manis. "Dari Ellis, sahabat karibmu. Dia sendiri yang menelepon dan menceritakan tentang rumahmu ini. Lihat, aku mengendarai sendiri mobilku dari The Hamptons."
"Aku bisa melihat debu jalanan yang menempel di mobilmu." Tallulah mengiyakan.
"Apakah aku hanya sampai di sini? Sebagai tamu?"
Tallulah gugup. "Maafkan aku, silahkan masuk." Sahutnya bergerak lebih dahulu menuju pintu.
"Bagus." Jace bersorak pelan ketika memasuki ruang tamu. "Aku suka segalanya."
"Terima kasih." Tallulah menyahut.
Jace mendudukkan tubuh di kursi berwarna pandora red. Manik abunya bergerak ke kanan dan ke kiri memerhatikan design ruang tamu sang supermodel.
"Nyaman." kembali Jace menyanjung.
Napas Tallulah semakin berat, ia meletakkan gelasnya di atas meja untuk mengalihkan pikiran dari pesona pria yang tengah duduk sangat santai. Pria itu adalah tamu pertama yang Tallulah terima di kediaman barunya.
"Kopi atau jus? Kau pasti kelelahan di jalan, Mr. Alstrom." cetus Tallulah.
Jace tersenyum sambil menggeleng. "Sama sekali tidak, Sweety Pie. Aku sempat beristirahat di Davenport kemudian melanjutkan perjalanan. Cukup ini." sahutnya sambil mengambil gelas berisi coklat panas milik Tallulah seraya menghabiskannya.
Tallulah melebarkan mata melihat tingkah Jace. "Aku bisa membuatkanmu yang baru, Mr. Alstrom."
"Berapa kamar?" Jace mengalihkan pembicaraan.
"Empat kamar tidur. Tidak banyak karena hanya aku sendiri." jawab Tallulah dengan polosnya.
"Kau tidak sendiri, Nona Bluebells. Aku akan menemanimu. Ya, selama aku di sini. Bukan hal yang besar, bukan?" todong Jace.
"Eh." Hanya itu yang keluar dari bibir Tallulah. Kini ia ikut beranjak dari kursi ketika Jace menjelajahi tiap bagian rumahnya.
"Jika kau keberatan aku bisa memesan hotel di dekat sini." Jace menoleh menatap wajah Tallulah yang bersemu merah. Ia sedang berusaha memancing empati gadis cantik itu.
"Di sini banyak kamar kosong." Tallulah membalas perkataan Jace dengan tergagap.
Berhasil ! pekik kegirangan pemilik The Alstrom tersebut.
"Terima kasih, berkatmu aku bisa menghemat beberapa dollar." selorohnya.
"Seujung kuku pun tidak..." sanggah Tallulah namun ia tidak berani meneruskan perkataanya. Sepasang bola mata menatapnya intens beserta raut wajah yang demikian menarik seluruh konsentrasi Tallulah.
"Tidak apa?" Jace menarik sudut bibirnya ke atas sementara tangannya menarik kenop pintu yang berada di sisi kanan.
Tallulah menggelengkan kepala lalu menunduk. Jantungnya semakin tak karuan, seakan coklat panas yang diteguknya beberapa saat lalu ikut berperan membakar se-isi tubuhnya.
"Rupanya kamar ini memiliki akses ke kolam renang. Aku tidak salah dalam menentukan pilihan." gumam Jace yang mengabaikan design kamar yang didominasi dengan warna putih dan coklat.
"Hanya dua kamar yang memiliki akses ke kolam." sahut Tallulah bersamaan dengan ia melewati ambang pintu berdesign melengkung, salah satu ide brilliannya.
"Aku tidak tahu jika gadis yang pernah kukencani memiliki selera se- sempurna ini. Sepertinya aku akan betah selama di Nebraska." Jace berdiri di atas lantai kayu yang menutupi semua bagian pinggir kolam. Terdapat tiga kursi untuk berjemur dan lagi bantal-bantalnya berwarna putih dilengkapi handuk halus berwarna coklat.
Jace bergerak sedikit ke samping, tepat di sebelah tubuh Tallulah.
Manik biru indah mengerjap ketika kepala Tallulah menengadah. "Pernah kau kencani." bisiknya.
Sedetik kemudian lengan Jace mengalun di leher Tallulah. Sebuah perbuatan sederhana yang meruntuhkan hati si gadis berambut ikal. Keduanya saling menatap, dan Jace-lah pertama kali tersenyum dengan manik abu menatap tanpa kepalsuan.
"Pernah... Dan sedang aku upayakan untuk didapatkan kembali. Tolong berikan aku kesempatan untuk mendapatkanmu, Sweety Pie."
...
Tallulah pikir keesokan paginya ia bisa lebih tenang. Sayang, ia sangat salah. Sengaja alarm jam di atas meja nakas ia matikan setelah menenggak pil penenang pada pukul dua dini hari. Bukan kebiasaan Tallulah mengkomsumsi pil seperti itu, mungkin dahulu ketika masa-masa patah hatinya. Namun semalam ia harus menyerah dengan pil tersebut oleh sebab yang sama. Ya, siapa lagi jika bukan pria yang menempati kamar tidur di sebelahnya.
Jace pula-lah yang menjadi alarm paginya. Suara kecipak air dari kolam membuat Tallulah membuka mata. Kesadarannya seketika kembali, sambil berendap-endap Tallulah berjalan ke arah jendela kaca. Ia mengintip dari tirai gorden, hanya sedikit disingkapnya dan seluruh dunianya telah terpampang jelas di mata.
Lengan berotot bergerak bergantian secara dinamis, kepala Jace bergerak searah dengan gerakan tubuh. Tallulah menelan saliva dengan kasar, jam baru menunjukkan pukul 9 pagi, dada Tallulah telah di uji kekuatannya. Ia`masih bersembunyi di balik gorden namun muncul bulir keringat di setiap pori-pori kulit.
Bunyi denting penanda pesan masuk membuat Tallulah tersentak kaget. Dengan bersungut pelan ia mengambil ponselnya yang berada di atas meja rias, salah satu benda yang terabaikan sejak kedatangan Jace.
Bagaimana persiapan housewarming party-mu, Nona Cantik? Aku sedang menunggu diriku dibutuhkan.
Aaron.
Tallulah terduduk di tepian tempat tidur. Ia melupakan Aaron, seketika memorinya mencoba mengingat apakah ia pernah memberikan kesempatan kepada pria tersebut termasuk membantunya untuk mempersiapkan acara pesta pindah rumahnya yang hanya akan`di gelar secara sederhana.
"Bagaimana ini?" gumamnya sembari melihat ke arah jendela. Tallulah menegang ketika melihat kelebatan sosok Jace berjalan mendekati pintu kamarnya.
Tok Tok!
Ketukan pelan di pintu kaca, spontanTallulh berdiri sambil merapikan surainya yang masih berantakan.
"Tallulah Bluebells, bangunlah dan temani aku sarapan di tepi kolam." pinta Jace dari depan pintu.
Si gadis cantik mendekat dan menyingkap tirai gorden lebih lebar dibandingkan ketika ia mengintip beberapa saat lalu. Kini dengan jelas sosok tubuh Jace terbalut handuk dan bagian tubuh atasnya terbuka memamerkan otot-otot terbentuk dengan sempurna.
Pria yang terkenal dengan senyuman manisnya menebarkan pesona sepagi itu di depan Tallulah.
"Maafkan aku mengacak dapurmu, Sweety Pie. Lihat, sebelum berenang aku membuat dua porsi avocado sandwich." kata Jace sambil menunjuk ke arah meja di samping kursi untuk berjemur.
"Aku cuci muka dulu."
Jace mengangguk. "Baiklah aku akan menunggumu."
Dengan secepat kilat Tallulah berlari menuju kamar mandi, membasuh muka, menggosok gigi dan bahkan sempat mengoleskan sunscreen di wajah. Talllulah mengganti pakaian tidurnya dengan pakaian yang lebih kasual.
Tallulah mendesah seraya tertawa kecil ketika melihat Jace masih di tempat yang sama. Pria itu benar-benar menunggunya, sedikitpun tidak beranjak dari tempatnya.
"Sekian lama kita tidak bersama rupanya jam tidurmu sekarang telah berubah." ujar Jace ketika mereka berjalan bersisian.
"Hanya tadi malam, aku tidak bisa tidur." kilah Tallulah.
Tanpa jeda Tallulah mengiyakan perkataan Jace. "Kau adalah tamu pertamaku."
Jace melebarkan senyuman dan tangannya mengacak surai Tallulah. "Selalu menjadi pertama, dan aku ingin menjadi yang terakhir di hidupmu."
Tallulah menunduk dengan wajah memerah namun kehilangan kata untuk menjawab perkataan Jace.
"Aku sungguh menyukai rumah ini." Jace menyodorkan segelas jus orange ke Tallulah. "Kebanyakan orang menyukai musim semi, termasuk aku dan dirimu."
Tallulah terdiam sambil mengesap pelan jusnya. Ia mencari cara agar dirinya tetap tenang di depan pria yang selalu berhasil membuatnya jatuh cinta. Ia telah melupakan luka yang terjadi di masa lalu. Waktu-lah yang menyembuhkannya dan pertemuan mereka beberapa kali sebelum ini berhasil menghadirkan rasa yang sama. Bahkan lebih kuat dari sebelumnya.
"Mungkin kau bosan dengan suasana pantai, Mr. Alstrom." ucap Tallulah.
Jace menggeleng kemudian mengusap pipi Tallulah dengan perlahan. "Aku bukan orang yang gampang bosan, Sweety Pie. Terlebih itu sebuah tempat tinggal, aku cukup setia."
Tallulah menatap wajah Jace. "Semoga seterusnya kau seperti itu, Mr. Alstrom."
"Biarkan waktu menjawabnya, aku tidak ingin berlebihan menonjolkan diriku." Jace menyeringai dan Tallulah tertawa kecil.
"Aku tahu dirimu, Mr. Alstrom." angguk Tallulah.
Kembali Jace mengacak surai Tallulah dan tersenyum penuh arti. "Makanlah sandwichmu, setelah itu kita bicara lebih banyak."
Manik Tallulah membulat. "Tentang apa?"
Jace tersenyum geli. "Tentang dirimu selama kita tidak bersama."
"Kenapa harus aku? Ini tidak seimbang." sungut Tallulah mengundang tawa dari Jace.
"Ada yang kau ketahui tentang diriku?" tanya Jace santai. Ia ikut memakan sandwich buatannya.
Tallulah sejenak terdiam dan berpikir keras. "Apakah kau pernah berkencan selama kita berpisah?"
"Aku?" Jace bertanya lalu terbahak tawa.
"Ya, kamu Mr. Alstrom."
"Tidak pernah sekalipun. Aku terlalu hancur dengan perpisahan kita hingga aku meninggalkan apartemen itu. Hidup menyendiri."
"Tidak. Kau tidak sendiri, buktinya kau bersama wanita seksi itu." sanggah Tallulah kemudian merenggut.
"Dan kau bersama dengan supermodel itu. Kalian bahkan muncul di beberapa majalah dan diberitakan berpacaran." balas Jace dengan lembut. Tidak ada kemarahan di perkataannya, pun cemburu.
"Teman, kami hanya berteman." jelas Tallulah.
Jace menarik napas panjang kemudian meraih jemari tangan Tallulah, menarik gadis cantik itu hingga mereka saling berdekatan.
"Sepertinya tidak ada kata nanti untuk berbicara lebih banyak, aku bahkan tidak mengenakan baju." Jace memandang dadanya sendiri, Tallulah ikut menatap kemudian berhenti di tempat yang sama.
Jace mencubit pipi gadis cantik itu. "Melihatmu seperti ini aku sangat senang."
"Ada apa?" Tallulah berupaya mengalihkan tatapannya.
"Tidak apa-apa, cukup peluk aku." Tanpa ragu Jace menarik kemudian mengangkat tubuh Tallulah duduk di pangkuannya.
Tangan Tallulah gemetar menyentuh pipi Jace, kemudian menjatuhkan kepala di bahu pria itu tanpa segan.
Jace mendesah ketika merasakan air mata Tallulah menitik di kulitnya. "Tidak pernah dalam hidupku, aku merasakan cinta yang seperti ini, Sweety Pie. Dulu aku berpikir ketika Sky Navarro menikah diriku tidak akan sembuh, rupanya tidak butuh waktu lama aku bisa melanjutkan hidup dan berkencan dengan berbagai wanita. Sungguh berbeda ketika bersamamu, kemudian kau meninggalkanku. Melihatmu bersama pria lain tidak membuatku gentar, aku cemburu melihatmu bahagia dengannya di majalah. Tapi aku bisa menguasai diri, dan mencari waktu yang tepat. Kita saling mengetahui, tatapanmu masih sama ketika kita bersama, itu yang tidak berubah dari dirimu. Tatapan itu tidak pernah kau berikan kepada supermodel itu, tubuhmu tidak bisa berbohong."
Tallulah menaikkan kepala dengan wajah memerah, Jace tersenyum mendapati kelemahannya. "Kau sangat percaya diri, Mr. Alstrom."
"Tidak juga, Sweety Pie. Tapi aku tahu dengan jelas wanita yang pernah aku pacari dulu. Tentang wanita seksi yang kau sebut tadi Aubrey namanya, sama halnya dengan Anthony Pine. Kami hanya berteman, walau dengan jelas Aubrey menyukaiku. Dia memiliki seorang putri cantik dan sangat menyukaimu. Sunday Rose mengatakan jika kita sangat serasi, aku harus mendapatkanmu kembali katanya. Sekalipun aku tidak pernah tertarik dengan Aubrey, mamanya."
Tallulah mendengus. "Kenapa kau menjelaskan ini, Mr. Alstrom?"
Jace mengeratkan tangannya di pinggang Tallulah. "Agar kau tidak cemburu lagi. Aku ingin kita memulai dengan saling terbuka berbagai macam hal."
Tallulah melipat bibir sensual miliknya sembari memandang manik abu Jace. "Kenapa aku tidak pernah bisa berhenti menyukaimu bahkan ketika kau berjarak ribuan kilometer dari tempatku berada."
...
Tidak susah bagi Aaron Watkins untuk menemukan kediaman Tallulah Bluebells. Supermodel cantik yang sejak dua hari terakhir mengabaikan pesan-pesannya. Maka hari itu ia menyempatkan diri untuk mendatangi kediaman Tallulah, bahkan tanpa sebuah undangan resmi. Ya sekadar singgah untuk bertamu walau jarak rumah mereka sama sekali tidak di arah yang sama.
Aaron baru saja ingin turun dari mobilnya dan menekan bel di pagar besi namun sepertinya si pemilik rumah bernuansa putih itu mengetahui kedatangannya. Gerbang pintu terbuka secara otomatis. Dengan hari riang dan sambil bersiul, Aaron mengemudikan mobilnya masuk melewati pekarangan cukup luas dan tertata rapi.
Tak lupa Aaron mengambil buket bunga tulip berwarna orange beserta sebotol wine mahal, khusus untuk Tallulah. Siulan bahagia dari pria pemilik jejaring Watkins ketika menaiki tangga.
Betapa kagetnya Aaron ketika pintu kediaman Tallulah terbuka dan bukan sosok supermodel itu yang muncul melainkan seorang pria dari masa lalu Tallulah.
"Hai, selamat datang. Saya Jace Von Alstrom." pria bertubuh seperti seorang model mengulurkan tangannya dengan ramah.
"Aaron Watkins." sahut Aaron menutupi rasa kagetnya dengan bersikap tenang.
Pria tampan itu tersenyum. "Mr. Watkins pasti adalah teman Tallulah, dia sekarang menerima telepon dari agensinya di samping kolam."
Aaron mengangguk kebingungan. "Apakah Lula sibuk?"
"Tidak juga, selebihnya dia bersantai dan menikmati hari liburnya. Silahkan masuk." Jace melihat buket bunga di bawa Aaron. Ia memikirkan nama belakang pria yang berjalan masuk sambil melihat-lihat isi ruangan tamu. Tallulah tidak pernah berbohong termasuk ketika mengatakan bahwa Jace adalah pria pertama menjadi tamunya.
Aaron menatap Jace lekat-lekat, ia ingin menanyakan suatu hal yang sangat mengganggu hatinya sejak melihat pria itu. "Apakah kau juga hanya berkunjung di sini, Mr. Alstrom?"
Jace menggeleng. "Sepertinya tidak. Mungkin Mr. Watkins adalah orang pertama yang tahu jika kami kembali bersama. Ya, saya dan Tallulah."
###
alo kesayangan💕,
aku menulis 4 paragraf pertama di pesawat tanggal 19 June, sekarang sudah tanggal 7 August baru sempat diselesaikan.
maafkan aku, ini karena masih di luar Jawa.. susah menemukan waktu tepat untuk menulis.
tetap sehat, Ladies..
selamat malam minggu kalian, berbahagialah.
love,
D😘