JACE

JACE
Mr. Alstrom




Pria pemilik senyum indah itu tak hentinya tertawa


mendengarkan celotehan seorang pria dan wanita ketika menikmati siang hari di Monterey, California.


Jace Von Alstrom sedang menikmati travelling singkatnya di kota yang sangat terkenal dengan kesegaran makanan lautnya. Sebenarnya pengalaman pertama bagi Jace menginjakkan kaki di Monterey, jika bukan karena menghadiri pesta pernikahan pegawai kepercayaannya di Alstrom tentu saja California bagian timur tidak pernah terpikirkan olehnya.


Jacob Westberg, adalah kepala divisi keuangan di Alstrom. Pria berusia 3 tahun di atas Jace itu akhirnya mengakhiri masa lajangnya. Sebagai pimpinan sekaligus teman, Jace meluangkan akhir pekannya terbang dari New York ke Monterey.


Sedikit bercerita masa lalu. Sejak berpisah dengan Sky Navarro sebagai manager supermodel


itu. Jace menekuni usaha pakaiannya, yakni Alstrom.


Alstrom sendiri bukan hanya berspealisasi


dalam haute couture namun juga pakaian siap pakai pria dan wanita, pernak pernik perhiasan hingga merambah ke tas.


Semenjak Jace mengambil alih Alstrom, perusahaan tersebut berkembang sangat pesat. Saat ini Alstrom telah memiliki pengawai sebanyak 335 orang, dengan dua kantor yang terletak di New York dan Paris dan berpuluh gerai


tersebar di kota besar dunia.


Jace bekerja giat selama 6 tahun belakangan, fokusnya pada pengembangan brand dan menguatkan posisi Alstrom di dunia fashion. Pria berusia 32 tahun itupun tidak menetap di salah satu kota tersebut, posisinya sebagai designer


utama Alstrom yang mewajibkan Jace untuk hadir diberbagai acara fashion show.


Hubungan Jace dan Sky pun terjalin baik, selama 2 tahun terakhir supermodel papan atas itu menjadi brand ambassador Alstrom. Berkat nama


besar Sky Navarro juga yang membuat Alstrom laris di pasaran, pakaian yang diperagakan di catwalk untuk satu season telah full booked.


“Bagaimana menurutmu anak muda, maksudku Monterey?” tanya Tanisha Grant, wanita berkulit hitam berusia 77 tahun. Anaknya Trayyon Grant


hanya menaikkan bahunya mendengar pertanyaan sang ibu.


“Indah dan seafood di Fish Hopper sangat enak. Temanku yang merekomendasikan restoran ini.” Jace menjawab sambil mengukir senyuman tipis.


“Sayang kau hanya dua hari di kota ini, pria muda yang tampan.” Sanjung Tanisha membuat Jace tergelak tawa.


“Ya, hanya selama akhir pekan. Senin pagi harus terbang ke Paris.” Terang pria mengenakan jaket berwarna coklat dipadu dengan t-shirt berwarna navy.


“Oh darling, lain kali harus lebih lama di Monterey, banyak hal yang bisa didatangi. Termasuk rumahku.”


Ucapan Tanisha membuat Jace kembali tertawa, Trayyon hanya menggelengkan kepalanya.


“Maafkan ibuku, Jace. Dia memang suka merayu pria muda dan berkulit putih.” Trayyon bergerak dan merangkul bahu Tanisha.


“Ibu, kita harus pulang. Cucu-cucumu menunggu di rumah.” Bujuk Trayyon. Tanisha pun melayangkan tatapan sendu ke arah Jace.


“Apakah aku boleh meminta alamatmu, Madam Tanisha ? Lain kali aku berjanji akan mengunjungimu ketika kembali ke kota ini.” Jace meraih tangan tak tak lagi muda Tanisha, batinnya trenyuh melihat sosok wanita itu. Mengingatkan Jace kepada mendiang neneknya, Sophia Von Alstrom.


Senyum merekah di bibir Tanisha mendengar permintaan Jace, ia pun menyebutkan alamat rumahnya lengkap dengan nomer telepon.


“Aku akan menunggu kehadiranmu, jangan terlalu lama karena usiaku tidak muda lagi.” Tanisha memeluk Jace.


“Ya semoga, Tanisha.”Sahutnya membalas pelukan sambil menepuk pelan punggung wanita tua itu.


“Kau sangat baik kepada semua orang, Jace.” Trayyan menjabat tangan Jace.


“Punya banyak teman sangat mengasyikkan, Tray. Semoga aku bisa berkunjung dalam waktu dekat. Dan Tanisha, kau akan hidup lebih lama agar


aku sering ke kota ini.” Hibur Jace memberikan kecupan ringan di pipi wanita tua yang menatapnya penuh kasih.


“Sampai bertemu lagi, cucuku yang tampan.”seru Tanisha berbalik melambaikan tangan, Jace pun membalas dengan perbuatan serupa. Ketika mobil


yang ditumpangi Tanisha beranjak, Jace kembali berjalan masuk ke dalam restoran The Fish Hopper, sepertinya ia akan memesan bir dingin sembari menunggu senja di Monterey.



Pesta pernikahan Jacob berlangsung sangat meriah di InterContinental Hotel, tempat Jace menginap. Jacob yang menyiapkan semua fasilitas Jace selama di Monterey, sebagai pengawai di Alstrom tentu saja menginginkan pimpinannya tidak bersusah payah selama di kota itu. kedatangan Jace Von Alstrom di pesta pernikahan yang harus menempuh waktu selama 8 jam penerbangan dari New York adalah sebuah kehormatan besar bagi Jacob dan keluarga besarnya.


Jace ditempatkan di meja bersama sahabat-sahabat Jacob, dari teman sekolah hingga teman kuliah sang mempelai pria. Suasana di meja bundar itu dipenuhi perbincangan yang mengasyikkan, semua ikut berpartisipasi membahas hal selain pekerjaan. sebanyak 7 pria dengan status berbeda di meja itu, Jace, Anthon, dan Julian yang belum memiliki pasangan. James, Connor, Gavin dan Isaac sudah menikah dan bertunangan.


“Kau mengenal istri Jacob ?” tanya Anthon yang mengarahkan pandangannya kepada Jace.


“Aku ?” Jace balik bertanya dengan alis bertautan.


Gavin, Anthon dan James adalah teman kuliah Jacob di San Fransisco, sebelum akhirnya mereka berpisah. Jacob bekerja di Alstrom selama 4 tahun terakhir sebelumnya mempelai pria yang sedang berdansa dengan istrinya itu bekerja di perusahaan manufaktur dengan posisi yang sama.


“Ya, dirimu Mr. Alstrom.” Gavin memperjelas pertanyaan temannya.


“Lainey ?” Jace mengedarkan pandangan pada para pria mengenakan suit terbaiknya. Pria-pria yang menggeluti pekerjaan berbeda-beda itu


menganggukkan kepala.


“Ya, Lainey alias si pirang.” Sahut Connor menatap kedua mempelai yang sedang berbahagia.


Jace tersenyum simpul “Tidak akrab, hanya beberapa kali aku melihatnya di pesta dan menunggu Jacob di ruang tunggu kantor kami di New York. Oh ya, pesta tahun lalu kami pernah berbincang sebentar, selebihnya tidak ada.”


Anthon menyeringai memandang ke arah Gavin lalu ke Jace.


“Wanita itu tidak tahu malu, tidak bisa melepaskan Jacob, padahal 3 pria di meja ini pernah berkencan dengannya. Termasuk aku sendiri.”


“Apa ?” seru Jace kaget ia pun melebarkan manik abunya, teman barunya itu tertawa ringan dan serempak menganggukkan kepala.


Gavin yang duduk di samping Jace menepuk punggungnya.


“Jacob itu pintar dalam hitungan, tapi bodoh soal asmara. Dia sangat mengetahui semua perselingkuhan Lainey tapi tetap memaafkan wanita itu. Tadi kita melihat video perjalanan cinta mereka, bukan ? Sejak bangku kuliah.” Ucap


Gavin, pria tampan yang menumbuhkan cambangnya.


Jace menggelengkan kepala tidak percaya “Hanya ketika berkuliah ?”


“Lainey berselingkuh ?” tangkap Anthon diikuti gelak tawa yang lain.


Connor menggeleng dengan cebikan di bibirnya “Tidak, Mr. Alstrom. 5 bulan lalu, Lainey tidur bersamaku. Mereka hanya bertengkar kecil, Lainey


kemudian menghubungiku. Kami pun berakhir di kamar hotel di kawasan Broadway Plaza.”


Jace menganga yang lalu menangkup bibirnya, ia kembali menggeleng tidak percaya “Bukannya kau sudah bertunangan ?” tanyanya kepada Connor.


Pria itu mengedikkan bahu lalu terbahak tawa “Ya, kita perlu sesekali mencoba salad, bosan kan makan daging terus.”


“Sialan.” Gerutu kecil Jace diikuti gelak tawa dari


teman-teman barunya.


Banyak hal yang membuat Jace takut melangkah ke dunia itu, menjalin hubungan asmara yang serius. Fakta jika hidupnya tidak pernah


merasakan sepi, ada pekerjaan yang tiada henti dan wanita yang silih berganti menghangatkan tempat tidurnya. Jace menyukai kebebasan, ia bisa terbang kesana kemari tanpa memikirkan seseorang menantinya, seseorang yang harus dihubungi untuk menjelaskan posisi terbaru dirinya.


“Aku ingin mengenalkanmu dengan seseorang.” Jacob merangkul Jace ketika acara di ruangan itu menjadi lebih santai. Rombongan meja Jace pun


telah berpisah, beberapa teman barunya terlihat berbincang dengan wanita-wanita cantik di pesta itu.


“Aku sudah berkenalan dengan orang tuamu.” Jace menimpali menatap binar bahagia teman sekaligus bawahannya di kantor. Sungguh ia tidak


menyangka jika Jacob menyimpan banyak hal, cerita Lainey. Jace bingung, apakah ia harus mengatakan Jacob pria bodoh atau pemaaf yang penuh cinta dengan menikah wanita yang telah tidur dengan teman-temannya.


“Bukan, Jace. Ini sepupuku.” Jacob menghentikan langkah dan memegang kedua bahu Jace. Pria mengenakan tuksedo hitam itu menatap lurus


pimpinannya di Alstrom.


“Jangan katakan itu wanita, aku kesini untuk menghadiri pernikahanmu bukan berkencan.” tolak Jace


Jacon menelengkan kepalanya “Aku sangat mengenalmu, boss. Sudah lama terpikirkan olehku, jika mungkin bukan wanita single yang cocok denganmu. Tapi wanita yang pernah menikah.”


“Hei !” Seru Jace sambil mendengus kasar.


Jacob tertawa kecil “Sky Navarro buktinya, kau sangat menyukainya. Dan kami semua tahu jika kau pernah menaruh hati kepada brand


tenang, mereka juga tinggal di New York.”


Jace sangat ingin menolak, namun enggan dilakukannya. Ia hanya pasrah dalam rangkulan Jacob menuju meja yang berada di ujung barat. Mata Jace langsung terpaku pada wanita yang mengenakan dress hijau bermotif floral dengan tali spaggeti.


“Cantik bukan ?” bisik Jacob dibalas tatapan tidak percaya Jace.


“Apakah dia sepupumu ? Kalian tidak mirip.”


Tawa keras Jacob membuat wanita yang sibuk dengan ponselnya menaikkan pandangan.


“Jacob.” Seru wanita cantik itu berdiri dan bergerak menghampiri dua pria mengenakan suit berbeda warna. Jacob dengan tuksedo hitam


dan Jace mengenakan rancangannya, suit berwarna navy dipadu turtleneck berwarna


hitam.


“Hai sepupu cantikku.” Jacob memeluk ringan Aubrey lalu menatap ke arah Jace.


“Kenalkan bossku, Jace Von Alstrom.”


Senyuman dari bibir penuh dan sensual itu merekah sangat indah, manik tak kalah sempurnanya mengerjap menatap Jace.


“Aubrey Camomile.” Ucap wanita berbadan indah itu mengulurkan tangan ke depan.


“Jace.” singkatnya. Jace tersenyum tipis berusaha untuk tidak bersikap berlebihan termasuk memuji kecantikan eksoktik wanita di depannya.


“Aku mengenalmu, Mr. Alstrom. Kau adalah designer hebat, aku memiliki beberapa potong pakaian Alstrom.”


Jacob berdeham sambil menepuk punggung Jace “Sepertinya kalian sangat cocok. Designer dan customer.” ucapnya lalu tertawa ringan


“Terima kasih telah mengenakan pakaian dari toko kami. Sungguh sebuah kehormatan bagi Alstrom mempunyai pelanggan wanita secantik Nona


Camomile.” Jace sopan dengan senyuman tak lepas dari bibirnya.


“Bossmu sangat sopan, Jack.” Tawa renyah dari Aubrey sambil memandang Jacob, sepupunya itupun menaikkan bahu dengan seringaian di bibirnya.


“Dia memang seperti itu pada pertemuan pertama. Sebenarnya bossku ini pria yang sangat asyik, kami sering berolahraga bersama dan menghabiskan waktu di kafe setelah jam pulang kantor.”


“Aku tahu.” Aubrey tersipu menatap Jace.


“Dari mana ?” tanya Jace mengulum senyuman


Aubrey terkekeh “Sepupuku Jack sering mengunggah kebersamaan kalian di sosial media. Aku pun salah satu pengikutmu di sosial media, Mr. Alstrom.”


“Oh yah ? Nanti aku akan mencari dan mengikuti akunmu.” Jawab Jace sembari melebarkan manik abunya.


Aubrey menggigit bibir sensualnya, Jace menelan ludah berharap ia –lah yang melakukan perbuatan itu.


“Oh yah boss, Aubrey ini bekerja sebagai manager penjualan di Quens Center.” Ucap Jacob membuat pikiran kotor di kepala Jace menghilang seketika.


“Departemen store itu, bukan ?”


Aubrey mengangguk “Ya benar, Mr. Alstrom. Kau pun memiliki gerai di mall kami.”


“Aku tidak pernah ke Quens, hanya melewatinya setiap pagi menuju ke kantor.” Terang Jace.


“Mungkin kita perlu mengunjungi Quens sekaligus bertemu dengan Aubrey.” Saran Jacob yang membuat wanita seksi itu semakin menggigit


bibirnya, sekaligus menatap ke arah Jace.


Pria bersurai coklat bermanik abu hanya bisa mengangguk kuat.


“Tentu saja.” Sahutnya memandang lekat wajah wanita cantik di depannya.



Paris, Perancis.


Setelah menempuh waktu terbang selama 30 jam dari Monterey, California akhirnya Jace menginjakkan kaki di Paris-Charles de Gaulle Airport. Perjalanannya kali ini agak lama di kota mode dunia itu, selain melihat rumah produksinya,


Jace berencana akan menetap selama 3 bulan.


Paris Fashion Week yang akan digelar di bulan September yang membuat fokus Jace tercurah kepada event tersebut, Alstrom berencana akan


memamerkan 2 season koleksinya. Dan tidak sedikit, sangat banyak walau semuanya tinggal tahap pengerjaan. Semua design telah disetujui Jace, menuju tahap proofing.


“Mr. Alstrom.” Panggil seseorang dari belakang.


Jace yang sedang membalas email di ponselnya menoleh, sepatu boot beledu hitam menjadi hal pertama ditatap Jace, hingga naik ke arah wajah


wanita yang memanggilnya.


“Ya, ada apa ?” sahut Jace menautkan alis menatap wajah dan rambut acak-acakan wanita di depannya.


Kedua tangan wanita itu di dada menahan tubuhnya yang terlihat terengah-engah.


“Maaf, aku mengejarmu.” Ucapnya melemparkan senyuman canggung.


Jace tersenyum lalu mengantongi ponselnya di saku celananya “Bernapaslah, aku menunggu.”


Tangan wanita muda itu menangkup bibirnya dengan manik menyipit riang.


“Maafkan aku, Mr Alstrom mengganggu perjalananmu. Perkenalkan saya Iris Coppole, berusia 25 tahun sedang kuliah fashion di kota ini. Saya adalah penggemarmu, sangat mengagumi semua karya-karyamu.”


“Penggemar ?” tanya Jace lalu terkekeh


Iris mengangguk kuat memegang tangan Jace yang kokoh dengan kedua jemarinya “Ya, penggemar berat.”


###


Aubrey



Iris



Jace



alo kesayangan 💕,


senin 24 agustus 2020, novel Jace rilis 😊


kenapa aku kasih judul "Jace"


karena ini perjalanan hidupnya..


mungkin tidak banyak chapter


dan janji


tidak akan ada sekuel..


i wish g bikin novel bersambung kayak Girindrawardhana Family.


wkwkkwk.


btw, semoga kalian suka novel terbaruku..


love,


D 😘