
Entah dari mana kekuatan dan keberanian Tallulah dapatkan malam itu juga. Matanya tak lepas dari pria yang kini berdiri di depannya yang menguarkan aroma parfum maskulin yang manis, itu pula menjadi ciri khas seorang Jace Von Alstrom.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Jace sambil tersenyum tipis.
Dada Tallulah bertalu kencang, perutnya kacau dengan ribuan kupu-kupu berkepakan di dalam sana. Sekian lama ia tidak bertemu dengan Jace, tetap saja hanya pria itu yang bisa membuatnya jatuh cinta dalam seketika.
"Seperti kau lihat, Mr. Alstrom." Tallulah mengangkat bahunya sambil membalas senyuman Jace, bukan senyuman tipis melainkan senyuman bak remaja yang baru pertama kali bertemu dengan idolanya. Malu-malu, Tallulah sang supermodel itu kembali berusia 16 tahun di depan Jace.
"Cantik." sanjung Jace memerhatikan wajah Tallulah intens.
"Ahhh.." desah panjang Tallulah kehilangan sendi kaki.
"Apakah kau baik-baik saja?" tangan kokoh Jace memegang lengan Tallulah.
"Tidak, aku belum menyantap makanan apapun sejak berada di pesta." kilahnya namun membiarkan cengkeraman tangan Jace menguasai tubuhnya.
"Ini tidak boleh dibiarkan." tangan Jace menarik lengan Tallulah dengan lembut, dengan mudahnya sang supermodel berjalan mengikuti keinginan mantan tunangannya. "Makanlah sesuatu yang berat, bukan kue."
Tallulah menatap meja penuh berbagai macam makanan tanpa selera, mungkin saat ini perutnya bergemuruh keras namun tidak terdengar oleh siapapun karena alunan musik klasik dari band orkestra yang terkenal se-antero dunia terus memainkan lagu-lagu terbaik pilihan si tuan rumah.
"Coba ini." Jace menyodorkan seafood pasta ke arah Tallulah. Sebenarnya banyak makanan enak di meja, namun Jace tahu kesukaan wanita cantik itu. Tallulah menyukai makanan dari gandum, termasuk pasta dan segala macam roti.
Tallulah menatap ragu, sementara Jace mengambil wine dari nampan pelayan berpakaian rapi berwarna merah dan hitam. "Kenapa?" tanya Jace penuh perhatian melihat Tallulah belum menggerakkan alat makannya.
"Risih." Tallulah terus beralasan, ia sebenarnya tak bisa menyantap pasta tersebut di depan Jace. Andai saja ia berada di rumah dengan kondisi perut bergemuruh, sedari tadi piring itu telah kosong.
Dengan senyuman penuh makna dan sukses membuat selera makan Tallulah hilang sepenuhnya, Jace kembali menariknya ke sudut ballroom megah di mana beberapa kursi beledu emas berderetan tanpa ada orang lain berpikir untuk menyepi di tempat itu. Pesta terlalu meriah untuk dihabiskan dengan menyendiri dan semua tamu berasal dari kalangan atas hingga sungguh disayangkan jika dilewatkan begitu saja.
"Mau di suap?" tawar Jace ketika ia dan Tallulah telah mendudukkan tubuh mereka di kursi empuk tersebut.
"Tidak. Aku bukan anak kecil, Mr. Alstrom." Tallulah akhirnya menggerakkan garpunya dengan pelan. "Kau tidak makan?"
"Tidak. Aku kenyang, hanya haus." jawab Jace sambil menyesap pelan-pelan winenya. Matanya mengembara kepada tamu-tamu dengan pakaian mewahnya, orang-orang penting dan hebat itu terlihat sibuk berbincang basa-basi tak penting. Tidak ada yang teman sejati di tempat ini, semua memiliki ambisi akan gengsi dan uang.
"Aku tidak tahu jika kau berteman dengan Russel Wilson. Maksudku, dulu kau tidak pernah menghadiri pestanya." cetus Tallulah sambil mengunyah pelan pastanya. Jace menoleh dan menatap Tallulah tetap dengan senyuman tipisnya.
"Kami baru berkenalan sekitar 7 bulan yang lalu di sebuah pesta di Hamptons, Oh yah, aku kini menetap di Hamptons, Nona Bluebells." ungkap Jace tentang hal yang sebenarnya telah diketahui oleh Tallulah. Walau hunian indah pemilik The Alstrom tersebut belum pernah diulas dalam majalah home design, namun beberapa kali Tallulah melihat Jace mengambil foto beberapa sudut tempat tinggalnya. Walau mereka telah berpisah, keduanya masih saling mengikuti di sosial media, hanya saja Tallulah jarang memberikan apresiasi berupa tanda suka kepada unggahan Jace.
"Sepertinya menyenangkan." Tallulah bergumam sambil melirik sekilas pria di sebelahnya.
"Apa yang menyenangkan?" tanya Jace memperjelas perkataan Tallulah yang sangat menawan malam itu. Tidak ada yang menandingi pesona mantan tunangannya di pesta Russell Wilson.
"Tempat tinggalmu, Mr. Alstrom. Aku melihatnya di akun sosial mediamu, hanya sebagian kecil."
"Rumah itu tidak terlalu besar, cukup untukku yang tinggal sendiri dan mengadakan pesta kecil. Apakah kau ingin menengoknya?" Jace melancarkan serangan untuk meluluhkan sang mantan.
Kini giliran Tallulah mengembangkan senyuman namun disertai gelengan kepala. "Tidak." tolaknya dengan penyesalan menyesaki hati. Tallulah tidak ingin jatuh dengan mudah ke pelukan Jace, ia ingin belajar banyak kali ini. Tidak seperti pertama kali mereka menjalani hubungan percintaan, di mana semua atas inisiatif Jace.
"Kapan?"
Tallulah hampir saja menyemburkan makanan di mulutnya ketika mendengar pertanyaan Jace yang singkat namun menuntut. "Kapan aku ke rumahmu, Mr. Alstrom?"
Pria bermanik abu itu hanya mengangguk dengan wajah penuh harap.
"Tidak tahu, Mr. Alstrom." Tallulah menyahut lirih. Apa yang keluar dari bibirnya selalu bertolak belakang dengan isi hatinya.
Jace kemudian terlihat mengangguk pasrah. "Apakah nomer ponselmu ganti?"
"Tidak, masih nomer yang sama." sahut Tallulah cepat.
"Apakah kau akan mengangkat panggilan teleponku, Nona Bluebells?"
"Aku tidak tahu, jika tidak sedang sibuk mungkin aku akan mengangkatnya." Kini Tallulah semakin membenci bibirnya sendiri. Setiap kali menanggapi perkataan Jace, ia justru membuat jurang di antara mereka semakin melebar.
"Aku tahu jika seorang Tallulah Bluebells sangat sibuk dengan pekerjaan yang begitu banyak, hingga tidak punya waktu untuk menerima sebuah panggilan telepon. Apakah kau sudah mendapatkan cita-citamu, Sweety Pie?"
DEG!
Jantung Tallulah berhenti berdetak dengan tubuh menegang sejenak. Panggilan itu, salah satu hal yang sangat dirindukan oleh Tallulah.
"Aku tidak sesibuk dulu, Nona Bluebells. Aku perlahan mulai mempercayakan segalanya kepada Jacob, dia kini adalah Direktur The Alstrom, jika kau ingin tahu. Hanya sekali atau dua kali aku ke kantor, dan lebih banyak di rumah. Mungkin akan lebih sering ketika ada project design hasil pikiranku yang ingin ditampilkan pada event fashion week terdekat. Cita-citamu adalah menjadi seorang supermodel terkemuka, mengumpulkan uang sendiri dan membuka sebuah restoran. Apakah kau telah mewujudkannya?" tutur Jace panjang dan lembut. Tallulah sempat terbuai ketika mendengar perkataan mantan tunangannya dengan suara bijaksana, berbeda dengan beberapa pria yang ia kenal. Umumnya, pria sepantaran dengannya lebih lugas dan meledak ketika berbicara. Tentu saja Jace memiliki pergaulan dengan para kalangan atas, kalangan yang sama dengannya.
"Aku belum memikirkan lagi tentang itu, sebuah restoran. Aku sedang..." Tallulah baru saja akan menuturkan rumah yang sedang ia bangun namun terdengar suara Russel Wilson memanggil Jace lewat pengeras suara.
"Jace.... My lovely bestfriend Jace Von Alstrom. Naiklah kesini dan nyanyikan lagu ulang tahun untukku." panggil Russel membuat semua orang saling berpandangan dan mencari sosok yang di cari si tuan rumah.
Tallulah tertawa sambil menyikut pria di sebelahnya. "Russel membutuhkanmu."
Jace menghela napas panjang, dengan malas ia berdiri kemudian berhenti untuk mengamati wajah wanita yang selalu mengisi setiap relung hatinya. "Tapi aku masih ingin berbicara denganmu."
"Mungkin lain kali, Mr. Alstrom. Terima kasih telah menemaniku makan." kata Tallulah yang juga berat hati melepaskan kepergian Jace. Ia sangat yakin mereka tidak akan bertemu lagi malam itu.
Dan benar itulah yang terjadi...
...
Iris mendekap posesif Verona, sejak wanita cantik itu kembali ke Turin sekalipun tidak pernah melepaskan putrinya. Verona yang semula sedikit kebingungan kini mulai bisa mengenali sang mama dan tanpa segan menjadikan Iris tempatnya untuk bermanja dan merajuk. Hanya ada satu orang di dalam kediaman mewah itu dilanda kebingungan besar, yakni Giulio.
Giulio sudah kehilangan minat untuk mempertahankan Iris, segala upaya sudah pernah ia jalani untuk membuat hati istrinya bergerak, melembutkan hati dan keras kepala namun semuanya nihil. Di saat ia belajar melanjutkan hidup dengan Franca, di saat itu pula Iris kembali masuk ke kehidupannya. Giulio sedang dalam misi mengenalkan Franca kepada Verona, mendekatkan keduanya agar keinginannya untuk memiliki wanita muda itu tercapai. Yang terjadi justru bukan itu, melainkan kini Iris memilih menetap di kediamannya walau bukan secara permanen. Namun Giulio tidak bisa lagi membawa Franca ke rumah dan bermain dengan Verona.
Franca hanya seorang gadis sederhana, berusia 24 tahun. Gadis muda itu bekerja di sebuah restoran di Kota Turin sebagai kasir. Berbeda dengan Iris yang memiliki impian yang tinggi, Franca hanya ingin hidup berkecukupan dan memiliki sebuah keluarga yang harmonis. Sangat cocok dengan konsep Giulio tentang rumah tangga yang sebenarnya, ia tidak membutuhkan lagi seorang wanita yang memiliki ambisi tinggi tentang karier. Melainkan seorang pendamping yang selalu menemaninya di setiap saat. Franca hanya gadis sederhana, berbeda dengan Iris yang glamour, setidaknya seperti itulah Giulio menilai sang istri dari sosial media yang kerap berpesta dengan teman-temannya. Pun wajah mereka berbeda jauh, Iris cantik dan memukau. Namun Franca yang sederhana tak perlu memakai alat perias wajah dan telah membuat Giulio sepenuhnya jatuh hati. Ya, hanya saja ia masih memiliki istri ketika ia merasakan hal tersebut. Sangat wajar, ketika Iris acapkali mengungkit perasaan Giulio kepada Franca.
Giulio malas berdebat dengan istrinya, jika saja ia ingin melawan Iris dengan mengungkit hal yang membuat pernikahan mereka retak. Tentu saja Giulio akan menjadi pemenangnya.
"Kau sudah pulang? Aku tidak mendengarkan apapun." ujar Iris sambil membetulkan rambutnya yang nampak acak-acakan.
"Kau tidur." balas Giulio datar. Tadinya ia ingin mengecup pipi anaknya, namun rupanya Iris sedang tidur bersama dengan putri cantiknya itu.
"Apakah kau sudah makan? Aku lapar." celoteh Iris berjalan keluar dari kamar tidur Verona. Merasa Giulio mengikutinya dari belakang, Iris pun menoleh. "Tadi aku sempat meminta pelayan untuk membawakan makan malamku ke kamar. Verona tadi sore memakan banyak pizza. Aku menawarkan untuk makan malam namun dia menolak."
"Aku sudah makan tadi, di luar." jawab Giulio.
Iris mendengkus kemudian tersenyum mengejek. "Dengan kekasih kecilmu, bukan? Apakah kau sempat menidurinya setelah kalian makan bersama."
"Iris Coppole! Kalaupun iya, itu tidak perlu kau tahu."
Sejenak Iris menatap tajam pria tampan dengan senyum memabukkan itu. "Tidak ada perceraian dalam agama kita, Mr. Celi. Tapi jika kau ingin mengurusnya, silahkan. Tapi bukan aku. Segeralah mencari informasi tentang pembatalan pernikahan kita, syaratnya hanya gampang... Verona ikut denganku. Dia akan kembali ke Paris. Tenang saja, aku telah memiliki sebuah hunian walau tidak sebesar tempatmu, aku bisa bekerja sekaligus mengurus Verona. Silahkan jika kau ingin menikah dengan kekasihmu itu, kau boleh membuat banyak anak tapi jangan jadikan anakku Verona berada di bawah atap yang sama dengan ibu tirinya. Bagaimanapun aku masih hidup, Mr. Celi. Aku masih punya hak untuk mengurus Verona hingga dia cukup umur untuk menentukan pilihan." tubuh Iris gemetar dengan bola mata yang berkaca-kaca.
"Iris." Giulio membeku melihat sisi lemah seorang Iris yang selama ini terlihat selalu angkuh dan tegar.
"Selamat malam, Mr. Celi. Aku akan makan di kamarku." Iris membalikkan badan dan di saat itu juga air matanya meluruh membasahi pipinya yang telah memerah karena cemburu, sakit hati dan rindu kepada lawan bicaranya yang semakin jauh untuk di gapai.
...
Jace berdiri di ambang pintu rumahnya sembari menatap sang surya yang memerah perlahan tenggelam di ufuk barat. Pemandangan indah tersebut menjadi daya tarik utama setelah laut biru yang kapan saja ia bisa nikmati. Entah kenapa, setiap melihat matahari tenggelam ingatan Jace selalu tertuju kepada satu orang, yaitu Tallulah Bluebells. Pertemuan singkat mereka di pesta Russel 4 hari lalu melambungkan keinginannya untuk mendapatkan kembali wanita cantik itu.
Manik abunya kini terpaku pada kontak telepon di ponselnya.
Tallulah Bluebells. Begitu dua kata yang membuat jantungnya blingsatan dan napasnya mendadak berat. Setelah mereka berpisah, Jace mengubah nama sang supermodel dari Sweety Pie ke nama asli. Walau sekalipun mereka tidak pernah saling menghubungi, setidaknya Jace tidak pernah sedikitpun melupakan sosok mantan tunangannya.
"Telepon atau mengirimkan pesan." monolog Jace yang sedang bimbang.
Ia meragu kemudian menatap ke depan, pada langit jingga yang indah. "Apakah dia akan mengangkat teleponku? Melihatnya malam itu, Tallulah terlihat masih menjaga jarak." gumamnya tidak percaya diri.
Jace menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala dengan lemah. "Ahh.. mungkin belum saatnya."
###
alo kesayangan💕,
Mersia besok atau Sabtu saja? 😂
love,
D😘