JACE

JACE
Hiduplah Penuh Cinta



Giulio tersenyum sedih. Ia diacuhkan oleh dua wanita dalam waktu bersamaan. Itu adalah Iris dan Verona saling berpelukan melepas rindu. Putri kecilnya melompat masuk ke dalam dekapan Iris sesaat mereka sampai di kantor sekaligus butik kelas atas milik Iris. Ya, Giulio berhasil tiba di Paris membawa serta Verona, putrinya tidak berpikir dua kali ketika mendengar ide keberangkatan ke Paris. Verona melompat-lompat kegirangan, tertawa penuh sukacita, itu terjadi seminggu yang lalu.


Giulio sengaja tidak memberitahukan rencana kedatangannya ke Paris kepada Iris, bukan karena ingin memberikan kejutan kepada wanita cantik itu. Hanya saja Giulio tidak ingin mengganggu konsentrasi Iris yang ia kenal sangat mengutamakan pekerjaan dibandingkan perkara keluarga.


"Terima kasih." ucap Iris tulus sambil menatap lembut ke arah Giulio. Seketika itu juga segala penat Giulio terangkat. Ia murahan, aku Giulio dalam hati.


Ketika di Turin, Giulio terluka ketika harus melepaskan Franca. Gadis muda yang penurut, berbeda dengan Iris yang semaunya. Franca bisa menjadi pendamping sesuai keinginannya, bisa diarahkan mengikuti kehendak Giulio. Tapi bukan masa depan seperti itu yang Giulio pilih. Ia melepaskan semua ego demi Verona.


"Kalian pasti lapar." ujar Iris sambil menggendong Verona. Putri cantik bersurai coklat itu tenggelam di dalam cerukan leher sang mama, tangan mungil memeluk dengan sangat posesif.


"Tidak, kami sempat makan di bandara sebelum ke sini. Verona butuh tidur, dia kurang istirahat karena terlalu senang akan ke Paris. Dia sendiri yang memilih pakaian-pakaian yang ingin dibawanya." sahut Giulio sambil mendongak. Ia masih betah pada kursi di depan meja kerja Iris.


Verona mendelik dengan mata terkantuk-kantuk ketika mendengar penjelasan Giulio, putri kecil itu mengulas senyuman simpul dan kembali terbenam di leher Iris.


"Kau memakai baju buatan mama, Sayang." kata Iris sangat lembut kepada Verona. Itu membuat sang putri kecil menguap lebar. Iris terkekeh kecil kemudian mengangguk. "Baiklah kita naik ke atas untuk beristirahat."


"Bagaimana dengan rumahmu?" tanya Giulio yang kini mengekori Iris yang berjalan menuju pintu.


Iris menoleh setelah berhasil membuka pintu ruangannya. "Anakku butuh tidur, Tuan. Dan itu sekarang."


Giulio menggeleng tidak setuju. "Berikan kunci mobilmu."


Iris mendesah kasar namun kepalanya menatap ke arah meja kerjanya. Saat itu pula Giulio berjalan mengambil kunci berlogo empat cincin.


"Aku tidak bisa membiarkan idemu ini berjalan, Iris. Anakku tidur di kantor." celoteh Giulio menuju lift.


"Apartemenku di lantai atas setara dengan president suite, Tuan Celi." bantah Iris.


"Aku tahu kualitasmu, Iris. Tapi tetap saja aku tidak mau Verona tidur di kantor. Ketika bangun Verona suka bermain di luar." balas Giulio tidak mau mengalah. Ia melihat Verona telah tertidur.


"Aku tahu." Iris melemah. Ia memperbaiki gendongannya tanpa berinisiatif melanjutkan perdebatan mereka. Selanjutnya Iris patuh mengikuti Giulio, juga tidak mengeluarkan kata-kata ketika Marie bagian Customer Service membantu menaikkan koper ke bagasi mobil.


"Hati-hati di jalan, Mr. Celi." Marie si gadis berambut merah menundukkan kepala pada jendela mobil bagian depan, sementara di bangku belakang Iris meringis menatap kelakuan pegawainya.


"Merci, Marie. Selamat bekerja." Giulio tersenyum kepada gadis muda itu.


Iris berdeham keras, saat itu pula Giulio menginjak pedal gas mobil meninggalkan Marie yang terlihat melambaikan tangan dengan setianya.


"Kau cukup populer di kalangan gadis-gadis seusia Marie." kata Iris seraya menghela napas panjang.


Giulio memandang penumpang cantik yang sedang merengkuh Verona lewat kaca tengah. "Jangan katakan kalau kau cemburu, Iris."


Iris memutar matanya sambil meringis. "Aku bisa memecatnya, tidak peduli jika Marie baru saja tanda tangan kontrak dengan Verona. Aku bisa memberikannya tunjangan PHK yang tinggi."


"Jangan lakukan itu, Marie hanya menjalankan tugasnya. Bukankah itu baik memiliki Customer Service yang cantik sekaligus ramah?


"Jadi kau mengakui kalau Marie itu cantik, Tuan?" sindir Iris dengan intonasi sepelan mungkin, ia tidak ingin mengganggu tidur putrinya yang lelap.


Giulio membuang napas panjang sambil menggelengkan kepala. Matanya tertuju ke depan, sambil mendengarkan instruksi dari map assistant mobil Iris. "Aku membawa Verona ke Paris tidak untuk bertengkar, Nyonya Iris. Aku melepaskan Franca." Giulio berhenti, ia kembali mengambil napas sembari menyusun kata di kepala.


"Dan itu berat." lanjutnya.


Iris melihat bahu Giulio naik turun. Jelas jika pria itu meredam amarah dengan mengucapkan kata demi kata sepelan mungkin.


"Aku ke sini demi kebahagiaan Verona bukan tentang diriku. Kau terlalu keras untuk ditaklukkan, walau ada keinginanku untuk memulai kembali denganmu. Tapi entahlah, aku tidak mau berjudi mengadu perasaan kepada seorang wanita yang sedang memuja pria lain."


Iris tertunduk menatap wajah cantik putrinya, perlahan maniknya mengeluarkan kristal cair.


Tidak ada pembicaraan lanjut di antara keduanya hingga tiba di kediaman Iris. Giulio mengambil alih Verona hingga putrinya berpindah di tempat tidur.


"Aku akan mengambil taksi dari sini menuju hotel." Giulio berusaha tersenyum walau samar. Hatinya belum bisa berdamai ketika melihat raut wajah istrinya itu. Mereka selalu bertengkar, tidak pernah sekalipun ada kesempatan untuk duduk dan tenang membicarakan permasalahan secara baik-baik.


Iris memandang wajah Giulio yang terlihat lelah tak memiliki semangat. "Verona akan mencarimu ketika bangun nanti, tolong jangan tinggalkan rumah ini."


...


Jace geram, bibirnya komat-kamit melapalkan sumpah serapah yang hanya didengar oleh dirinya sendiri. Di saat ia telah merasakan ketenangan jiwa berada di Nebraska, namun selalu saja ada pengganggu yang hadir tanpa sopan santun.


"Sial." Jace mencoba tenang dari balik jendela sembari menatap sengit ke arah Aaron Watkins. Pria itu selalu saja ada alasan untuk menghubungi Tallulah, kali ini Aaron membawakan 1 pot anggrek langka dari Cina.


Samar-samar Jace mendengarkan celotehan Aaron tentang tanaman yang ia bawa. Mulai bagaimana merawat, pestisida yang cocok untuk anggrek tersebut. Jace muak namun enggan meninggalkan Tallulah yang serius mendengarkan perkataan Aaron.


Pandangan mata Jace melembut ketika melihat wajah Tallulah. Gerak-gerik gadis cantik itu menggoyahkan hati, terlebih ketika Tallulah tersenyum. Setidaknya ada dua pasang mata terpukau melihat momen itu. Jace meremas kemejanya di bagian dada, jantungnya melompat-lompat bak remaja yang sedang jatuh cinta. Tanpa sadar tangannya meraih kenop pintu, membukanya lebar-lebar. Bunyi pintu membuat Tallulah menoleh diikuti dengan sikap malas oleh Aaron.


Jace hanya perlu berdiri seraya memberikan senyum terbaiknya kepada Tallulah, tanpa mempedulikan ekspresi Aaron. Kedua pria itu berada di medan perang, mereka musuh satu sama lain. Setidaknya itu di pikiran Jace. Ia meyakini jika Aaron sengaja mencari masalah dengannya.


"Jace." panggil Tallulah.


Jace hanya mengangguk sekali. "Apakah masih lama?" tanyanya posesif. Sikapnya sungguh kekanak-kanakan. Jace tidak peduli, cemburu menguasai hatinya.


Tallulah menoleh menatap Aaron. "Aku sudah paham, Mr. Watkins. Jika ada yang ingin kutanyakan tentang anggrek ini, aku akan menghubungimu lewat telepon." katanya formal. Tallulah jelas melihat senyuman masam Aaron akan perkataannya barusan.


"Kami akan bersiap untuk menghadiri makan malam di rumah daddy, Mr. Watkins." lanjut Tallulah menerangkan. Tak lupa ia menyunggingkan senyuman tulus. Aaron terlihat mendesah panjang ketika menatap lekat.


"Baik." Aaron melirik jam tangannya. Kemudian lagi ia memandang wajah cantik berlesung pipi dengan manik biru menenggelamkan. "Sebenarnya aku berharap mengajakmu keluar makan malam, Lula. Namun sepertinya hari ini tidak bisa, kau telah memiliki janji."


Jace yang mendengarkan perkataan Aaron spontan mengepalkan tangan di belakang pahanya. Jika saja pria itu bukan teman Tallulah, sedari tadi telah ia habisi.


"Kau bisa mengajak Lucy." Tallulah sekilas melirik menatap Jace yang wajahnya memerah karena kesal. Tallulah paham akan situasi yang terjadi.


"Syukurnya dia pergi." Jace memegang pinggang Tallulah. Sengaja serapat mungkin agar itu menjadi pemandangan terakhir yang Aaron lihat sebelum membelokkan kendaraannya.


Tallulah memandang wajah tenang milik Jace. Ketenangan yang bisa mengartikan banyak hal.


"Aku berulangkali menolaknya, Boo." rajuk Tallulah.


"Aku tahu, Sweety Pie. Ada yang salah dengan temanmu itu." terka Jace.


"Entahlah, awalnya Aaron adalah teman yang baik namun entah belakangan ini terkesan memaksa. Dia bersikeras mengantar bunga anggrek ini. Kau tahu berapa harganya bunga ini, Boo?" Tallulah menatap pot anggrek di samping mereka.


"Mahal, ini tidak cocok berada di luar rumah."


Tallulah menghela napas sambil berpikir. "Bunga seharga ratusan ribu dollar."


"Kembalikan jika kau tidak bisa mengurusnya." sahut Jace sambil menatap wajah Tallulah yang khawatir.


"Bukan hanya tidak bisa mengurusnya, namun bunga semahal ini seharusnya memiliki asuransi. Aku tidak mau rumah kita dibobol maling hanya perkara satu pot bunga anggrek."


"Apakah kita bawa ke rumah daddy dan mom?" saran Jace yang terdengar cemerlang untuk sesaat.


Tallulah menggeleng kuat. "Jika dititipkan sementara aku setuju namun diserahkan sepenuhnya ke daddy sangat besar resikonya. Tidak baik kita menambah beban kepada mereka. Aku akan mencari jasa pengiriman yang terpercaya untuk mengirimkannya kembali. Aku tidak mungkin membawanya ke kediaman Aaron. Bunga ini kembali dan sepucuk surat sebagai permintaan maaf sepertinya lebih masuk akal. Ini terlalu besar untukku, Boo."


Jace merunduk dan membawa pot bunga anggrek ke dalam dekapannya. "Aku akan membantumu menulis surat itu." katanya sambil tersenyum ke arah gadisnya.


"Terima kasih, Mr. Alstrom. Aku tidak ada apa-apanya tanpa kehadiranmu." balasnya dengan hati dipenuhi kepakan kupu-kupu.



...


Nampak jelas jika kecantikan Tallulah menurun dari wanita paruh baya yang duduk berseberangan meja dengan Jace. Sayangnya sisi humoris Sadie Getty tidak menurun kepada Tallulah. Kekasih Jace cenderung lebih pendiam dan pemalu, entah sifat itu menurun dari mana. Jelas bukan dari kedua orang tuanya.


Kini kedua orang tua Tallulah saling berpegangan tangan sambil menatap Jace. Sekilas Jace melirik Tallulah yang masih berkutat dengan menu dessertnya.


"Dad, Mom." Jace berucap lambat-lambat.


Wajah Sadie terlihat tegang sementara Craig tetap tenang, malah sempat menyikut istrinya.


Jace mengukir senyuman tipis, ia meraih jemari tangan Tallulah. Sontak bola mata biru itu melebar akan interupsi kekasihnya. "Ada apa?" protes Tallulah sambil berbisik.


"Sesuatu yang penting ingin kukatakan, Nona Bluebells." kata Jace sopan mendadak resmi. Ia menegakkan bahunya, sorot manik abu-abunya menatap ke arah ke depan.


"Tuan Getty dan Nyonya, atau Dad dan Mom. Kalian tahu jika dua hari lagi kami akan ke New York. Tallulah memiliki pekerjaan dan saya akan menemaninya. Ya, saya akan selalu menemani dan memastikan keselamatannya. Bukan hanya dalam jangka waktu yang pendek namun seterusnya. Ya, saya Jace Von Alstrom ingin menikahi anak kalian Tallulah Bluebells. Kalian orang tua hebat dalam membesarkan wanita muda di sampingku. Tallulah adalah wanita satu-satunya membuatku jatuh cinta ketika melihatnya pertama kali, jatuh cinta dengan segala perhatiannya, ketika kami harus berpisah... hal itu membuat saya makin mengerti arti cinta yang harus diperjuangkan dan wanita yang akan menemaniku menua. Ya, itu adalah putri kalian. Saya sangat mencintainya." tiga kata terakhir Jace ucapkan dengan terbata-bata. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menjatuhkan air mata. Semua orang di ruangan makan menitikkan air mata.


Tallulah terisak sambil menunduk. Tangan satunya meremas kain gaunnya.


"Tallulah Bluebells, dirimu tidak keberatan jika aku mengganti cincin pertunangan kita. Milik grandma yang dulu telah aku simpan, sepertinya tidak cocok dengan kita. Berbeda dengan cincin ini tidak memiliki sejarah, brand new keluar dari toko perhiasan. Di tanganmu mari membuat sejarah hidup kita berdua." Jace membuka kotak beludru berwarna hitam berisikan cincin berlian yang sangat berkilau. Ia pun menyematkan cincin di jemari tangan Tallulah yang gemetar.


"Tuhan, terima kasih!" Pekik Sadie berdiri dari kursinya, begitupun dengan Craig.


"Aku menantikan hal ini, Sayang! Terima kasih telah memilih anak kami yang banyak kekurangan ini." Sadie memeluk erat Jace.


"Tallulah sangat sempurna, Mom." balas Jace.


Sementara Craig memegang jemari tangan Tallulah yang berhiaskan cincin berlian.


"Indah." Craig berkaca-kaca menatap putri satu-satunya.


"Dad." Tallulah berhambur di pelukan Craig, ia menumpahkan rasa bahagia yang sakral memenuhi hatinya. Ia tidak pernah menyangka jika acara makan malam dengan orang tuanya akan berubah menjadi lamaran pribadi dari Jace Von Alstrom. Pria yang sama melamarnya berapa tahun yang lalu.


Sadie menarik suaminya, hingga keempatnya berpelukan erat.


"Berbahagialah, Sayang. Hiduplah penuh cinta." Kata Sadie, satu-satunya yang bisa mengeluarkan suara jelas tanpa isakan tangis bahagia.


###






alo kesayangan💕,


aku sudah kembali ke Jogja, finally aku menulis dengan lepiku.. dan sinyal tumpah ruah di sini, dan rumah yang tenang tanpa gangguan keponakan-keponakan yang penuh drama.


apa kabar kalian?


masihkah di sini?


love,


D😘


1.750 km apart from U