JACE

JACE
I Love You Better Than Her



“Selamat pagi.” sapa Jace dengan riang ketika memasuki ruang kerjanya.


“Selamat pagi, Jace.” balas Iris seadanya. Setelah peragaan The Asltrom yang sangat sukses di Paris Fashion Week, pria itu tidak muncul di kantor selama 5 hari. Berbekal rasa penasaran, Iris mengecek sosial media Jace yang memperlihatkan foto momen liburannya. Dari sana Iris tahu jika Jace dan Tallulah pergi berlibur ke Belgia. Yang semula ia pikir pemilik The Asltrom itu butuh waktu untuk beristirahat setelah PFW.


“Kau sudah sarapan? Sepertinya belum. Ini untukmu, Gadis Pizza.” Jace menaruh sebuah kotak persegi berwarna gold brown di depan Iris.



Jace tersenyum sambil meraih gagang telepon di atas meja. Iris sejenak membaca tulisan di atas kotak pipih itu, ia tahu jika bossnya memberikan hadiah berupa coklat Belgia yang terkenal dengan rasanya yang sangat enak.


Iris mengambil satu coklat dan memakannya dengan pelan sambil mendengarkan pembicaraan Jace di telepon. Rupanya pria tampan dan baik hati itu memberikan hadiah coklat ke semua bagian di kantor. Sebuah hal kecil bagi


Jace Von Alstrom, mengingat pakaian yang di peragakan minggu lalu telah habis terjual dan menunggu untuk produksi selanjutnya dengan skala lebih besar.


“Enak, bukan?” tanya Jace kepada Iris sambil tersenyum. Ekspresi wanita cantik itu seperti seorang bintang iklan di televisi, sungguh menikmati setiap sensasi coklat Belgia yang lumer di lidah.


Iris mengangguk “Aku belum pernah ke Belgia tapi coklatnya benar adanya jika lebih berbeda dengan cita rasa coklat Perancis.”


“Kau belum pernah ke Belgia? Come on, kau hanya perlu naik kereta selama 2 jam lebih dan sudah sampai di Brussel. Tadinya aku pikir berlibur ke Cannes, tapi berkunjung ke negara terdekat dari Paris suatu ide yang sangat brillian. Kami bersenang-senang selama di sana, kau harus mencobanya juga.” Kata Jace panjang lebar berakhir mengusulkan perjalanan wisata kepada Iris.


“Aku.. maksudku, kami belum pernah pergi berlibur bersama.” Cicit Iris hampir berbisik. Ia menunduk menatap coklat pemberian bossnya.


Jace tertawa “Berarti kita sama, aku dan Tallulah tidak pernah liburan sebelum ini.”


Hati Iris sakit mendengar Jace menyebut nama model cantik sekaligus kekasihnya. Padahal sebelum ini, Jace tidak pernah membahas Tallulah di depan Iris.


Apakah Iris melewatkan sesuatu?


Iris mengembuskan napas lewat mulut, dan tetap menatap ke arah Jace tentunya.


“Apakah kau melamarnya?” tanya Iris dengan hati-hati bersamaan hatinya menguak oleh luka.


Jawaban berupa gelengan kepala membuat Iris melega dengan sangat.


“Belum, aku berharap Tallulah memikirkan sebuah pernikahan. Tapi dia memiliki jadwal yang sangat padat, dalam tahun ini saja 60 peragaan berhasil Tallulah jalani. Dia sangat sibuk.” Desah Jace memikirkan kekasihnya yang saat ini berada di Jepang.


Iris mendengar perkataan Jace seakan ingin bersorak gembira saat itu juga, namun di sisi lain ia kecewa. Jace mempunyai keinginan untuk menikahi Tallulah, bukannya Tallulah masih muda.


“Aku tidak menyangka jika pria sesibuk dirimu  memikirkan sebuah pernikahan, Jace.” kata Iris ingin menggali banyak informasi tentang hubungan asamara pria idamannya. Ya, selagi Jace ingin berbincang tentang hal itu, sebuah momen yang sangat langka terjadi.


Jace kembali tertawa “Jadi kami berdua adalah pasangan yang sibuk?” tanyanya dengan suara yang sungguh membuat jantung Iris berdebar kencang. Semakin lama ia bekerja bersama dengan Jace, semakin besar harapan


yang tumbuh di hati Iris.


“Sepertinya.” Jawab Iris singkat. Tak disangka selama mereka berbicara, Iris telah menghabiskan 5 coklat dan itu membuatnya lebih bersemangat.


“Seharusnya aku kembali ke New York setelah Paris Fashion, tapi Tallulah harus terbang ke sana dan kemari yang membuatku malas. Aku kesepian tanpanya di sana.” Ujar Jace ringan.


Iris mendengus sangat pelan sambil menutup kotak coklatnya.


“Bukannya kau juga sendiri di sini, Jace?” tanyanya sedikit berharap Jace akan menjawab “Aku bertahan karenamu”.


“Ya sama, sendiri juga.” Singkat Jace seraya menatap pada sketsa design di depannya.


Iris berusaha untuk tidak meringis. Kembali otaknya menyusun kata-kata yang hendak ia dilontarkan.


“Apakah kau tidak berminat untuk pindah seterusnya di Paris,  secara posisinya sama New York dan Paris. Fashion Weeknya sama-sama penting, namun Paris adalah kota mode.” Kata Iris. Sebuah kalimat hasutan pun keluar dari bibir Iris.


Jace menatap ke arah Iris, alisnya sedikit berkerut seolah berpikir.


“Kau tidak ingat jika banyak model memilih tinggal di New York, Gadis Pizza. Itu sangat memudahkan bagiku untuk menentukan model-model yang akan bekerja sama dengan kita, jika menetap di New York. Terlebih aku lahir di Eropa, dan bagiku itu sama saja. Swedia dan Perancis. Aku lebih menyukai Amerika yang keras dan hei, itu adalah tanah harapan. The Alstrom memulai perjalanannya dari apartemen berkamar satu di Queens, hingga bisa menyewa sebuah bangunan berlantai dua. Sekarang, New York dan Paris. Bagiku, tidak mudah untuk meninggalkan Amerika, Gadis Pizza. Bahkan sekarang aku sedang berpikir untuk mencari hunian baru di tepi pantai, tidak terlalu menepi dan tidak juga ramai.” Ujar Jace tidak secara gamblang menyebut Hamptoms kepada Iris, karena ia sendiri masih dalam proses memilah tawaran dari beberapa agen properti.


Iris terdiam sambil berpikir keras letak hunian masa depan pria pujaannya.


“Kau sangat menyukai Paris, betul tidak? Kota cinta.” Gumam pelan Jace sambil melanjutkan pekerjaannya.


Kemudian Iris memutuskan untuk tidak mengganggu Jace lagi, kali ini ia harus membiarkan pria tampan itu dengan dunianya.


Aku lebih menyukaimu, Jace. Dari semua kota di dunia bahkan kampung halamanku. Aku lebih menyukaimu.



Tallulah menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, Ellis Wilder terkekeh melihat kelakuan temannya.


“Aku capek!” teriak Tallulah menggema seisi kamar hotel.


Ellis tergelak tawa seraya ikut membaringkan tubuh di sebelah Tallulah.


“Patut disyukuri jika pekerjaan kita sudah selesai hari ini.” ucap Ellis menatap langit-langit kamar yang berwarna putih.


“Syukurnya aku bersamamu di sini.” Tallulah tertawa ringan, ia meraih satu bantal dan memeluknya.


“Ya. Beruntung mereka menyukai paket Tallulah dapat Ellis.” Gurau Ellis mendekatkan kepalanya pada tubuh Tallulah.


“Ahhhh… Terima kasih sudah menerima pekerjaan ini, Love.” kata Tallulah.


“Apa kau bercanda, Tallulah Bluebells? Agensiku pasti melompat riang ketika mendapat tawaran ini, akupun langsung mengirimkan pesan untuk berbagi tempat tidur denganmu. Jika membandingkan dirimu setahun yang lalu


dengan hari ini, sungguh sangat berbeda, Love. Dulu kita berada di level yang sama, model muda yang sedang merintis karier, hingga kau berpacaran dengan designer hebat Mr. Jace Von Alstrom.”


“Berhentilah berbual, Nona Wilder.” Tallulah menggerang lembut sambil menikmati pelukan bantalnya yang tidak bisa disamakan dengan kenyamanan tubuh kekasihnya.


“Aku tidak berbual. Kenyataannya seperti itu. Berbicara tentang Mr. Alstrom, bagaimana kabarnya? Bagaimana perkembangan hubungan kalian, Love?”


Tallulah mengulum bibir sambil mengingat pria yang ditanyakan temannya.


“Baik, seperti yang kau lihat di sosial mediaku. Kami habis berlibur di Belgia. Dia sangat baik dan sehat, aku pikir Jace sedang sibuk dengan pekerjaannya di Paris. Kami berjalan-jalan di Brussel, dan menonton Tomorrowland di Antwerp. Sungguh mengasyikkan. Sayangnya aku tidak memiliki waktu banyak. Kenapa kau baru membahasnya sekarang, Love?”


“Karena sekarang kita memiliki waktu banyak untuk membahas kehidupan percintaanmu. Daripada aku menonton acara gosip di televisi lebih bertanya langsung kepada sumbernya. So, bagaimana?” tanya Ellis seraya menarik kimono jaket bermotif abstrak milik Tallulah.


“Bagaimana apanya?” gerutu Tallulah seraya tertawa.


“Katakan sejauh apa hubungan kalian, maksudku apakah kalian sudah saling mengenalkan kepada keluarga masing-masing. Setahun lebih sudah cukup untuk ke tahap itu, Love.” Ujar Ellis mengambil peran sebagai teman yang baik.


“Apa!” teriak Ellis sambil terduduk. Bola matanya membesar seperti telur ayam, bibirnya menganga lebar.


Tallulah terbahak tawa melihat mimik temannya. Ia kemudian melemparkan bantal ke dada Ellis.


“Apa aku tidak salah dengar, Love? Seorang Jace Von Alstrom mengajakmu menikah? Ini sungguh gila, tolong ulangi perkataanmu tadi!” seru Ellis yang mendadak heboh sendiri. Kini kedua tangannya menarik-narik kimono jaket Tallulah.


Tallulah merenggut sambil menggelengkan kepala.


“Tidak mau, cukup sekali aku mengatakan hal itu kepadamu.” balasnya seraya bangun dan duduk berhadap-hadapan dengan Ellis.


“Baiklah.” Sahut Ellis mengalah.


“Terus apa yang kau katakan kepadanya? Kalau aku pastinya tidak berpikir langsung mengiyakan. Tapi melihatmu tanpa cincin berlian, aku bisa menebak jika kau masih berkeras hati. Ckckck, Love. Apa yang kau pikirkan? Apa kurangnya seorang Jace Von Alstrom. Tidak ada, Love!” kata Ellis sangat antusias bertanya dan ia sendiri menjawabnya.


Tallulah terdiam dan mencerna perkataan temannya.


“Ya, Mr. Alstrom sangat sempurna.” Cicit Tallulah lemah.


“Apa yang terjadi? Kenapa kau tidak semangat, Love? Apa kau tidak yakin dengan pria sehebat itu?” Ellis memberondong pertanyaan sambil menggenggam tangan Tallulah.


“Aku yang tidak yakin dengan diriku sendiri. Aku mencintainya, sangat. Tapi sebatas itu, hanya hidup bersama tanpa berpikir sebuah pernikahan akan menyatukan kami lebih kokoh. Jace sangat sibuk, akupun lebih sibuk. Jika kami menikah dan tetap seperti ini, rumah tangga apa yang kami jalani dengan pekerjaan yang menyita waktu, Love? Kami hanya bertemu di altar kemudian masing-masing hidup terpisah. Aku tidak mungkin melepaskan karierku, belum saatnya.”


“Tunggu sebentar, Love.” Ellis menaikkan tangan menginterupsi perkataan Tallulah.


“Kenapa?” tanya Tallulah membulatkan manik birunya.


Ellis mendengus seperti seekor banteng yang diusik makan siangnya.


“Kau tahu kekayaan kekasihmu yang tampan itu? Dia sangat kaya, Love. Aku ingatkan sekali lagi. Dia hanya duduk di meja kerjanya dan jutaan dollar masuk ke rekening The Alstrom setiap hari. Kau tidak perlu terbang kesana-kemari untuk mendapatkan uang. Kau hanya perlu satu kartu platinum Mr. Alstrom menunjang hidupmu hingga tua.” Kata Ellis terdengar seperti hasutan dan itu sangat menggoda.


“Aku juga punya cita-cita, Nona Wilder temanku. Jace sendiri yang mengetahui impian itu. Ya, aku ingin memiliki sebuah restoran di suatu kota. Aku suka memasak, aku suka orang memakan masakanku dan memuji karena rasanya yang enak.”


Ellis terbahak tawa yang keras seraya memeluk Tallulah.


“Tuhan, kau sangat polos, Love. Cara berpikirmu itu sangat lucu. Bukannya gampang meminta Tuan Jace Yang Kaya itu untuk membelikanmu sebuah bangunan besar untuk dijadikan restoran di pusat kota New York. Kau tidak perlu turun ke dapur memasak, tapi pekerjakan koki handal yang menunya darimu. Hidup di buat simpel, Love.” Hasut Ellis dengan lancarnya.


“Aku tidak yakin jika Mr. Alstrom bisa mencintaiku lebih lama dari lima tahun.” Ujar Tallulah seraya berdiri dan meraih handbagnya yang tadi diletakkan di atas loveseat sofa.”


Ellis melihat temannya mengambil ponsel dan kembali duduk di tempat tidur.


“Itu berarti kau tidak mempercayainya, kau meragukan Jace Von Alstrom. Jadi untuk apa kalian bersama jika ada satu pihak yang tidak percaya? Atau kau ingin bertahan hingga 5 tahun dengannya, kemudian berpisah dan saling melupakan. Tuhan, isi otak apa yang Kau berikan kepada temanku ini?” sindir Ellis dan tak henti berdecak menggelengkan kepalanya.


Tallulah mendesah sambil menggigit bibirnya, manik biru itu berkabut.


“Jace memiliki semuanya, aku tidak percaya bahwa cinta akan kekal di hatinya. Siapa aku di antara orang-orang sekitarnya? Tak lebih dari seorang gadis kuper yang berasal dari Nebraska. Aku ingin mengenalkan Jace kepada orang tuaku karena mama mendesak hal itu. Walau Mr. Alstrom juga ingin melakukan hal yang sama, tapi aku sama sekali tidak memikirkan dia akan menikah denganku. Menikah adalah sebuah keputusan yang terburu-buru, bukan itu yang aku butuhkan dari Jace. Aku hanya ingin menjalani hidup seperti ini dulu, Love.”


“Hingga ada seorang wanita mengambilnya dari tanganmu!” ucap Ellis dengan sengit dan sedikit emosi.


“Jika itu terjadi, aku hanya bisa melepasnya pergi.” Gumam Tallulah lemah.


“Bodoh! Sini ponselmu.” Ellis merampas benda persegi itu dari tangan Tallullah.


“Apa yang kau lakukan, Love?”


“Kita telepon kekasihmu, dan berhentilah bimbang seperti itu.” balas Ellis sambil mencari nomer kontak Jace.


Tallulah terlambat menghentikan temannya yang sangat cekatan melakukan panggilan video kepada Jace.


“Jace sedang bekerja. Demi Tuhan, hentikan panggilan teleponnya, Love.” Pinta Tallulah dengan nada lemah.


Ellis melirik beserta seringaian iblis di bibirnya.


Butuh dua kali Ellis melakukan sambungan panggilan video hingga wajah tampan Jace terpampang di layar ponsel Tallulah.


Hai Ellis, hai Sweety Pie. Bagaimana Tokyo? Tanya Jace dengan riang.


“Hai, Mr. Alstrom. Tokyo sedikit dingin hari ini dan ya jika kau tahu dengan pekerjaan kami, semua berjalan dengan baik. By the way, sepertinya kami mengganggu acara makan siangmu, Mr Alstrom?” Kata Ellis tak mau kalah riang sambil menyikut Tallulah yang memilih diam dan menggigit bibirnya.


Alis Jace terangkat, bibirnya tersenyum lebar dan memamerkan gigi indah miliknya.


Iya, kami sedang makan siang di luar.


Ellis dan Tallulah berpandangan dengan rasa penasaran yang tiba-tiba memuncak.


“Kami?” tanya Ellis dengan cepat.


Jace tersenyum sebelum mengarahkan ponselnya ke depannya.


Yang kalian lihat adalah Iris Coppole, dia mengajakku makan siang bersama. Apakah kalian sudah makan malam, gadis-gadis cantik?


Ellis meringis, Tallulah meremas paha temannya ketika melihat sosok wanita bersurai hitam yang sedang tersenyum di layar ponsel. Keduanya tahu jika senyuman indah itu bukan untuk mereka, melainkan untuk Jace Von Alstrom.


###



alo kesayangan💕,


kini saatnya beranjak ke novel lain..


besok sepertinya Kai dulu yah😁


tanggal 27 Desember 2020, counting days menuju 2021..


1 tahun yang gak berasa..


semoga tahun depan kita lebih baik lagi dalam segala hal🙏🏻


love,


D😘