
"Aku tidak menyangka pakaian bisa sebanyak ini," kata Tallulah sambil memasukkan baju-baju miliknya ke dalam koper.
Jace tersenyum mendengar keluhan Tallulah. "Padahal kita bisa meminta orang untuk membenahi semua ini," sahut Jace seraya meletakkan pakaian di atas bed. Pakaian yang diletakkannya didominasi oleh kemeja berbagai warna, beberapa celana bahan.
"Tidak boleh manja terbiasa dengan fasilitas seperti itu," sahut Tallulah tanpa menatap Jace, suaminya. "Sementara kita bisa," sambungnya.
"Ya, kita bisa. Tapi pakaian ini tidak akan dipakai untuk sementara, Sayang. Di sana cuacanya berbeda dengan Harleem," timpal Jace sambil melipat kemejanya dengan rapi. Ia terbiasa dengan pekerjaan berkaitan dengan kain, segala jenis kain akrab dengan sentuhan tangannya.
Tallulah menghentikan pekerjaannya, ia mengarahkan pandangan ke sosok Jace, pria yang mengenakan celana pendek berwana abu dengan atasan putih tanpa lengan. "Kau masih ingat Lucy Harrington, wanita yang memiliki peternakan besar di Nebraska. Dia juga hadir ketika kita mengadakan homecoming house,"
"Ya, aku ingat. Ada apa dengan Lucy?" tanya Jace terkesan datar. Ia tidak begitu tertarik dengan orang-orang berada di Nebraska kecuali orang tua istrinya.
"Hmm.. Lucy mengabarkan lewat direct message, berita tak disangka adalah dia dan Aaron menjalin hubungan,"
Jace mengerutkan alis, ia memandang Tallulah, "Mereka?" ucapnya sambil menyatukan dua jari telunjuk.
Tallulah tersenyum sambil mengangguk keras. "Ya, Aaron dan Lucy berpacaran. Lucy belum pernah pulang ke peternakan sejak mendatangi rumah Aaron seminggu yang lalu,"
Jace berdecih. "Dia pria yang tidak bisa ditebak, maksudku Aaron. Bulan lalu dia masih mengejarmu, sekarang sudah mengencani temannya sendiri. Apakah dia menjadikan Lucy sebagai pelarian?"
Tallulah mengedikkan bahu. "Sepertinya Lucy terlanjur berbunga-bunga, dia hanya menceritakan bagaimana Aaron memberikan perhatian dan kasih sayang. Aku hanya mendengarkan dan memberikan ucapan selamat kepadanya. Setidaknya jika mereka benar-benar serius, aku tidak perlu memikirkan Aaron di masa depan,"
"Seharusnya kita menikah dengan persiapan yang matang. Wedding Organizer itu mengajukan ide-ide brillian, aku sampai kebingungan memilih salah satu dari mereka," kata Jace sembari menatap wanita cantik yang sedang terdiam.
Tallulah menggeleng lalu melemparkan senyuman. "Pernikahan kita terbaik, Boo. Aku sangat menyukainya, momen kejutannya dan yang paling penting keluarga kita berada di sana," ucapnya tulus.
"Benarkah?" Jace melebarkan manik abunya.
Supermodel itu mengangguk riang. "Setidaknya kau tidak menikahiku di Las Vegas dalam keadaan setengah mabuk,"
Jace tertawa, ia tidak tahan untuk tidak menghampiri istrinya. Jace memeluk erat dan menghujaninya dengan kecupan di wajah. "Aku tidak segila itu, Sweety Pie,"
"Iya, aku tahu," Tallulah tertawa bahagia dan menerima semua kecupan manis dari Jace. "Sekarang kita bisa memikirkan sebuah kota yang akan menjadi tempat untuk hidup dengan tenang,"
Jace menggeleng. "Tidak, aku belum mau memikirkannya. Belum sekarang, kita nikmati dulu masa bulan madu, berliburan ke kota-kota indah. Apalagi kita sudah memiliki rumah di US, apartemen di Paris, jika kau tidak menyukainya maka akan kukembalikan dirimu ke Alaska," ujarnya membalas candaan Tallulah.
"Tidak," seru Tallulah cemberut dan menggelengkan kepalanya berulang kali. "Aku tidak membenci tempatku lahir, tapi di sana sangat dingin dan matahari bersinar sepanjang hari bahkan seharusnya hari sudah malam. Aku menyukai senja, Mr. Alstrom,"
"Kau tidak ingin mengajakku ke sana?" Jace lanjut mencandai istrinya.
"Sepertinya tidak, rumah dan segalanya telah Papa jual sebelum pindah ke Nebraska. Cuaca di sana sangat keras, mungkin kau juga tidak betah selama dua hari di Alaska. Aku yakin itu,"
"Kau meremehkanku, Sweety Pie," Jace mencubit kedua pipi Tallulah. Wanita cantik itu mengerucutkan bibirnya.
"Setahuku Jace Von Alstrom pecinta udara hangat, bukan yang dingin di bawah derajat kecuali New York saat musim dingin. Suamiku menyukai pantai, olahraga air dan bekerja,"
"Istriku menyukai pekerjaan rumah, memasak, membuat kue, tapi dia memiliki pengikut puluhan juta di sosial media. Mereka terpukau dengan dirimu yang sempurna," balas Jace memuji dan mengecup ringan pipi Tallulah.
Ia pun menyampung perkataannya "Sepanjang tahun aku mengejar The Alstrom untuk berada di atas, aku bekerja 24/7 hingga aku mengenalmu. Ya, kaulah yang menyadarkan jika aku sebenarnya butuh seorang wanita. Aku butuh tempat untuk pulang,"
Tallula tersenyum bahagia menanggapi perkataan Jace. "Aku pun begitu, Boo. Kau adalah tempatku pulang, satu-satunya pria yang bisa membuatku jatuh cinta hingga perasaanku tak bersisa. Aku tidak memilikinya lagi ketika kita berpisah, aku mencoba untuk jatuh cinta. Tapi aku tidak bisa," Tallulah menggeleng sendu mengingat masa tanpa ada Jace di hidupnya.
"Aku mencintaimu, Tallulah Bluebells. Kita tidak akan pernah berpisah lagi. Tidak perlu memikirkan tempat tinggal jika kau dan aku adalah tempat pulang masing-masing. Kita bisa tinggal di mana saja. Aku bisa bekerja dari mana pun, ketika kamu bekerja aku akan menemanimu,"
Manik biru Tallulah berpijar indah, sorot biru membentuk kilauan berlian. "Serius? Apa aku tidak salah dengar, Tuan Alstrom?"
"Kau tidak salah dengar, Love. Ini kesempatan kedua bagiku, kau tahu bukan?" tatap Jace menyerap semua kilauan Tallulah yang terpancar dari sorot matanya.
"Kesempatan kedua untuk kita," kata Tallulah.
"Ya, karena itu kita harus berjuang untuk tetap bersama. Jangan pernah bosan denganku," kata Jace tersenyum kecil, alisnya dikedutkan dua kali. Ia sedang merayu sosok wanita secantik bidadari.
"Kau adalah cinta pertamaku, Tuan. Sepertinya aku sangat beruntung mendapatkan cinta pertama dan juga yang terakhir. Kau tidak perlu merisaukan hal itu, aku yakin sebaik apapun orang lain memperlakukanku, tidak akan pernah bisa menyamai semua hal yang aku rasakan pertama kali bersamamu. Kau ada cinta matiku, rumahku, perisaiku, hmmm.. juga pemodalku." Tallulah mengakhiri kalimat panjang dengan tawa.
"Dasar," Jace ikut tertawa sambil mengacak surai Tallulah. "Aku mencintaimu, Tallulah. Ayo kita lanjutkan berkemas, pakaian-pakaian ini harus di kirim ke New York," Jace mengecup ringan bibir Tallulah kemudian beranjak kembali ke pekerjaannya semula.
"Oh yah, Boo. Perjalanan kita ke Asia biar aku yang bayar," celetuk Tallulah, Jace mengangkat alisnya.
"Kau sungguh berbaik hati, tapi lebih baik kau menyimpan uangmu, Nyonya," saran Jace sambil menyipitkan matanya. Ia sangat mampu membiayai perjalanan mereka, walau ia tahu pendapatan Tallulah tidak sedikit dari pekerjaan yang digelutinya.
Tallulah menggeleng keras. "Aku bersikeras, Boo. Ini juga bukan uangku,"
"Terus? Apakah ada sponsor membiayai bulan madu kita?" tanya Jace.
Tallulah berdiri, berjalan menuju tempat Jace berada. Melompati pria yang memiliki hatinya, Jace berseru akan tindakan spontan Tallulah. Kini Tallulah duduk di atas paha Jace.
"Dulu ketika aku muda, aku bertemu dengan seorang pria yang sempurna. Dia memberiku tempat tinggal yang nyaman di pusat kota New York dan dia juga memberikan uang jajan yang tidak sedikit. Aku tidak pernah membelanjakannya, tapi menabung uang itu. Jumlahnya mencapai dua ratus ribu Dollar, sangat banyak bukan? Pria itu sangat royal dan kaya. Aku sungguh beruntung mengenalnya," tutur Tallulah sambil menangkup pipi Jace hingga wajah tampannya berubah seperti roti yang empuk. Tallulah terkekeh.
"Pria itu aku, bukan?" Jace memajukan bibirnya. Tallulah semakin tertawa melihat bentuk wajah Jace.
"Iya, kau. Tuan Jace Von Alstrom. Kau orangnya,"
...
5 bulan kemudian mereka kembali ke Paris, setelah mengunjungi berbagai negara di Asia dan terakhir mereka menetap di Selandia Baru selama 2 bulan. Tepatnya di Lake Tekapo, di sana keduanya menyewa sebuah rumah yang berhadapan langsung dengan danau itu sendiri.
Ketika memasuki bulan kedua perjalanan mereka, Tallulah mengetahui jika dirinya sedang mengandung anak pertama, namun kondisi itu tidak menyurutkan keduanya untuk terus menikmati kota-kota indah dengan suasana yang berbeda.
Jangan tanyakan Jace tentang perasaannya yang akan menjadi seorang ayah. Ia sangat bahagia hingga di sela waktu senggangnya Jace menyempatkan diri untuk merancang pakaian untuk anaknya. Ide tersebut semakin besar sampai berada pada keputusan untuk melebarkan The Alstrom untuk mengeluarkan produk pakaian untuk baby and kids.
Team Jace yang solid di New York dan Paris mewujudkan keinginan CEO sekaligus designer The Alstrom. Tepat seminggu yang lalu Alstrom Baby and Kids membuka store di pusat kota Paris dan satu lagi di New York. Sebuah brand yang telah dikenal oleh banyak orang kemudian meluncurkan produk yang dikhususkan untuk balita, tentu saja pada hari pertama orang sudah mengantri di depan toko hingga menginjak hari ketiga.
"Boss," pekik Emmanuelle Dale, salah satu orang kepercayaan Jace ketika menyambut sang pemimpin The Alstrom di depan toko. "Wah, kau terlihat hebat,"
Emma berdecak seraya memberikan pelukan hangat ke Jace dan berpindah kepada wanita cantik di sebelahnya.
"Bukti nyata seorang supermodel tidak menunjukkan perut membesar ketika hamil," Emma mengusap perut Tallulah setelah memberikan pelukan dan kecupan di pipi.
Emma menegakkan tubuh memandang Tallulah dan Jace. "Anak kalian pasti akan sangat tampan dan cantik, orang tuanya seperti kalian. Hmmmm... sudahlah, aku tidak ingin bermimpi dengan rumah tangga. Hidupku sudah sangat bahagia dan standar kebahagiaan orang berbeda-beda. Mari masuk, sudah banyak pengunjung walau baru jam 11,"
Selama 20 menit kemudkan dengan semangat Emma menjelaskan setiap detil Alstrom Baby and Kids kepada Jace dan Tallulah
"Ada yang kau sukai?" tanya Jace ketika Emma telah meninggalkan mereka untuk rapat dengan kepala toko dan staff tertentu di lantai dua.
"Belum. Aku menunggu produk selanjutnya. Aku lihat di atas meja, design terbaru," Tallulah tersenyum lebar, sebuah strategi agar Jace tidak melayangkan protes karena tingkahnya.
"Dasar penguntit. Tapi pakaian bayi sebenarnya memiliki design hampir sama dengan brand lain. Yang membedakan adalah motif dan bahannya," jelas Jace sambil memegang jumpsuit berwarna biru dengan motif kartun.
"Iya, berbeda dengan gaun-gaun rancanganmu, Boo. Hmm.. Terima kasih telah membuatkan pakaian untuk anak kita kelak," Tallulah mengalunkan tangan di perut Jace, ia sangat manja akhir-akhir ini.
"Sudah jadi tugasku, di samping aku memiliki kemampuan untuk itu," dalih Jace.
"Boo," bisik Tallulah ketika melihat sepasang suami istri sedang asyik memilah pakaian bayi.
"Hmm," Jace menatap ke arah yang dimaksud Tallulah.
"Bukankah itu Iris dan suaminya? Mr. Celi... Aku pernah bekerja sama dengan pria itu," kata Tallulah memerhatikan gerak-gerik pasangan yang membawa serta anak-anaknya. Yang besar sekitar usia 5 tahun dan satunya masih bayi berada di dalam stroller.
"Iya, itu mereka," Jace mengiyakan menepuk tangan istrinya. "Lebih baik kita naik ke atas, sambil beristirahat sebentar sebelum pergi untuk makan siang,"
Tallulah paham maksud suaminya. Jace bukan tipe orang yang suka berbasa-basi, terlebih ada trauma akibat dekat dengan wanita bernama Iris Coppole.
Ketika hendak beranjak, Iris menatap ke arah Tallulah, rupanya keberadaan mereka disadari oleh wanita itu. Iris-lah yang pertama kali melempar senyuman, Tallulah membalasnya tanpa sepengetahuan Jace.
"Mereka sudah bahagia," celetuk Tallulah sambil berjalan di dalam genggaman tangan Jace.
Pria pemilik manik berwarna abu itu mengangguk. "Dia telah menemukan rumahnya, Love. Walau butuh proses panjang dan melibatkan orang lain. Ya, orang lain itu adalah kita. Tapi ada banyak hikmah di balik kejadian itu,"
Tallulah berdeham dan mengangguk. "Aku juga menemukan rumahku, sama seperti dia. Semoga dia bahagia sama seperti diriku. Mr. Celi orang yang baik, sayang dia telah memiliki anak dan aku masih muda saat dia menggodaku,"
"Hei!" Jace berseru. Ia menoleh ke belakang. "Sungguh berani,"
Tallulah menarik tangan Jace masuk ke dalam lift. "Itu masa lalu, Boo. Bahkan jika kalian berdiri berdampingan dalam keadaan mata tertutup pun aku akan tetap memilihmu. Kau berbeda, wangimu berbeda. Aku suka pria yang berwajah mulus bukan bercambang seperti Mr. Celi. Kau lebih menarik,"
"Teruslah merayu dan memuja hingga saham The Alstrom 90 persen jadi milikmu, Nyonya Tallulah,"
Tallulah tergelak dan memeluk lengan Jace. "Baru 30 persen, entah apalagi yang akan kuserahkan untuk mencapai 90 persen itu,"
Jace menunduk, menatap sepasang bola mata indah yang selalu berpijar indah ketika menatapnya. "Hiduplah denganku hingga seratus tahun lagi,"
FIN.
###
[tenang author belum punya celana pink, tapi kalau orange dan merah.. ada sayang adaaaa 😅]
Alo Kesayangan💕,
finally novel ini tamat, pyuhhhhhhh...
pasti banyak yang senang karena perhatianku akan terfokus ke Mersia😂
tenang, bulan puasa nih. jadi kudu bagi waktu untuk ibadah ma nulis, dan real jobnya
bahahahaahaa..
[ada saja alasan]
Aku merusak lepiku lagi, hufff.... jadi agak ribet nulis di PC, di hape gak betah..
gara2 balasin WAG, chapter ini sempat hilang 300 kata..
[hebat yah kalian - ini buat pasukan mau putih kek orang korea]
akhir kata,
thanks banyak banyak buat kalian yang menyempatkan waktu untuk baca Jace.
novel yang berkembang karena kasihan cinta Jace bertepuk sebelah tangan kepada Sky Navarro.
Terima kasih, Ladies yang cantik-cantik
[cantik karena aku yang bilang, coba deh tanya author lain] 🤭😂
tanpa kalian, novel ini hanya sekadar kata-kata.
kalian-lah yang membuatnya hidup, ya kalian semua..
domo arigatouuuu ❤️❤️❤️
love,
D😘