JACE

JACE
Devil's Whisper




“Aku tidak mengetahui jika kau magang di sini.” Kata Jace ketika berada di ruang kantornya. Sementara lawan bicaranya kini duduk di kursi di depan meja. Iris sempat memerhatikan ruangan kerja Jace yang cukup luas, berwarna charhoal dengan design minimalis elegan. Ini merupakan kali pertama ia masuk ke dalam ruangan tersebut, tadi Iris diminta bertemu dengan Direktur Pelaksana The Alstrom, Mr. Francois Baer.


“Saya sudah sebulan di sini, Mr. Alstrom.” Balas Iris dengan jantung berdegup kencang. Pria yang paling sering ia bahas dengan Millie dan Loana kini sudah di depan mata, sangat dekat bahkan ia bisa memeluknya. Jika Itu terjadi Iris ingin dilemparkan dari lantai 11 oleh Jace, mungkin juga tidak karena pria itu sangat baik.


“Oh yah? Sepertinya Emma lupa memberikan informasi penting ini kepadaku. Jadi bagaimana kesanmu dengan The Alstrom, Gadis Pizza?”


Iris merona, ia tidak pernah bermimpi jika Jace akan mengingat panggilan manis itu.


“Aku sangat menyukainya, mencintai segala hal yang ada di sini. Semua bekerja dengan detil, dan sangat banyak yang aku dapatkan bahkan baru sebulan, sebetulnya belum lama. Tapi sungguh, aku sangat beruntung bisa magang di tempat sehebat ini, Mr. Alstrom.” Ujar Iris penuh semangat, maniknya bersinar sangat terang.


Jace tergelak tawa keras, suaranya membuat hati Iris bermekaran bak bunga lily di tengah taman kota.


“Kau menyanjung kami, Gadis Pizza. Tapi apa yang kau lihat nyata adanya, mereka punya kecintaan yang tinggi kepada The Alstrom. Kau masuk di bagian couture, bukan?”


Iris mengangguk. The Alstrom sendiri memiliki dua bagian, yaitu couture dan pengerjaan dengan menggunakan mesin pabrikan. Tentu saja hasil dan harganya pun berbeda sangat jauh. Selembar gaun pesta The Alstrom bisa mencapai harga puluhan ribu, normalnya di kisaran 5000 hingga 8000 Euro.


“Bagus. Jika di bagian itu kau bisa bergabung di ruanganku, apakah Emma pernah menunjukkan tempatku bekerja?” tanya Jace dengan senyuman sangat manis di bibirnya.


Iris salah tingkah, ia mengambil napas dan dihembuskannya secara pelan-pelan.


“Lantai 6, di ruangan khusus. Aku hanya bisa menengok sekali ke tempat itu, tapi para pekerja profesional juga berada di lantai yang sama. Apa daya, diriku hanya berada di lantai 5, Mr. Alstrom.” Sahutnya dengan se feminim mungkin.


Jace terkekeh ringan dan lembut “Mulai hari ini kau bisa naik ke lantai 6, masuklah di dalam ruanganku. Nanti aku akan meminta Emma untuk mengatur segalanya.”


Iris bersorak dalam hati, dan iapun paham jika wanita lesbian si Direktur Perencanaan, Mrs Emmanuelle Dale dipanggil "Emma" oleh Jace. Sebuah panggilan yang sangat feminim, mengingat Mrs. Dale sangat tomboy hampir berpenampilan seperti seoranv laki-laki kecuali dadanyaa yang berukuran 36A dan menjadi bahan pembicaraan Millie dan Loana.


“Serius?” Iris berseru sambil menggenggam tangan kursi dengan erat. Ia menahan diri untuk tidak melompat ke seberang meja dan menciumi pipi Jace.


“Tentu saja aku serius, Iris. Mungkin kau bisa membantuku pada persiapan Paris Fashion Week, walau sebagian besar telah selesai. Atau mungkin aku bisa melihat beberapa designmu dan mendiskusikannya. Bagaimana?”


Iris mendapatkan bulan purnama di tangannya, ia melonjak dari kursi dan berdiri. Tubuhnya megap-megap kekurangan oksigen karena perasaan bahagia.


“Aku mau! Terima kasih, Mr. Alstrom. Terima kasih.” Ucap Iris penuh sukacita. Ia bahkan berkeringat karena lonjakan endorphin yang dilepaskan oleh tubuhnya.


“Semoga kau banyak mendapatkan ilmu selama di tempat ini, Gadis Pizza. Apakah kau sudah memiliki rencana setelah lulus kuliah? Aku sedikit mengenalmu, kau bukan tipe designer yang ingin bekerja di sebuah perusahaan seperti kami. Betul tidak?” kata Jace sambil tersenyum, tangannya saling menyilang di dada.


“Kau benar, Mr. Alstrom. Aku ingin memiliki brand sendiri.” Jawab Iris tersipu. Wajahnya memerah, tangannya berkeringat, ia belum bisa mengendalikan diri di depan Jace.


Iris menanti Jace, tapi rupanya pria itu sibuk dengan ponselnya.


“Maafkan aku, Iris. Aku harus menelepon.” Jace menatap Iris sesaat kemudian berdiri.


Jace berjalan ke bagian sisi jendela kaca, sejenak ia menatap taman bunga di luar balkonnya kemudian menekan nomer si pengirim pesan.


“Siang, Sweety Pie.” Jace tertawa ringan yang sangat lembut.


Jantung Iris berdetak menyakitkan. Hampir 30 menit ia berada di ruangan Jace, pria itu berbincang dengannya sangat akrab. Tapi ketika menyapa orang di telepon, Jace berubah lembut dan terdengar sangat perhatian.


Jace tertawa mendengar suara di ponselnya.


“Jadi kau baru bangun? Ya, pasti sangat lelah. Apa jadwalmu hari ini, Sweety Pie? Lihat ini sudah jam 10 lewat 20 menit. Kau harus memesan makanan untuk sarapan yang kesiangan.” Ujarnya sambil melihat angka yang tertera di jam tangannya.


Senyum tidak pernah lepas dari bibir Jace mendengarkan suara kekasihnya berceloteh panjang.


“Pemotretan jam 3 sore? Jangan buat mereka menunggu. Sekarang bangun dan telepon hotelmu untuk mengantarkan makanan ke kamar.”


Jace menganggukkan kepala sambil berjalan kiri dan kanan di depan jendela. Iris memerhatikan dengan rahang mengetat.


“Mau sekalian keluar dan makan di restoran saja? Baiklah, Sweety Pie. Aku pikir itu yang terbaik, aku akan menelepon nanti malam.”


Jace kembali tertawa mendengarkan banyak nasehat kekasihnya.


“Iya, Nona Bluebellsku. Aku ingat semua pesanmu. Ya, aku juga merindukanmu, Mon Amour.” Ucap Jace mengakhiri panggilan telepon, ia tertawa mendengar suara kecupan kekasihnya.


Sementara itu Iris yang mendengar semua pembicaraan sepihak Jace kini meradang oleh rasa cemburu. Hatinya patah, terbelah menjadi tiga bagian. Bukankah Iris membagi tiga perasaannya, ada Verona, Giulio dan Jace


melengkapi segalanya. Sebuah kekaguman yang terpendam, kemudian menjadi perasaan cinta setelah mengenal lebih jauh pria yang sangat gagah dalam balutan suitnya.


Namun sesaat tadi ia mendengar bentuk cinta Jace kepada Tallulah Bluebells. Supermodel cantik itu, rupanya telah mengambil hati Jace, berita yang dibaca Iris sungguh benar adanya. Ia menjadi saksi nyata akan hal tersebut.


“Sampai di mana pembicaraan kita?” Jace bergerak kembali ke kursinya yang empuk.


Iris tidak membalas senyuman Jace, malah ia memasang wajah datarnya.


“Oh ya, kita membahas brandmu. Tapi seingatku kau memiliki butik, bukan? Aku pikir itu lebih mudah jika kau mengembangkannya. Semua brand besar memulai perjuangan dari angka nol, terkadang ada yang dari minus. Tapi jangan menyerah dan terus belajar untuk berkembang, Gadis Pizza.”


Perkataan Jace tidak ditanggapi Iris seantusias sebelum adegan telepon mesra pria itu dengan kekasihnya. Iris hanya mengangguk pelan dan menarik bibirnya ke dalam.


Wanita cantik bertubuh tinggi dan berisi itu kemudian beranjak dari kursi dengan hati yang terluka. Iris menarik napas panjang sambil menatap wajah Jace yang tidak mengetahui tentang perasaannya saat itu.


“Sebaiknya aku kembali ke tempatku, Mr. Alstrom. Tentunya kau juga akan bekerja.” Ucapnya yang sedari tadi memerhatikan beberapa map di atas meja Jace, Iris sangat tahu jika isinya adalah hasil design dari lantai 6.


Jace hanya mengangguk, Iris kesal melihat gerakan kepala pria tampan itu.


“Selamat bekerja, Gadis Pizza.” Ujar Jace dengan ringan.


Iris tersenyum tipis dan buru-buru membalikkan badan sebelum air matanya jatuh. Sekian lama ia hidup, bisa dikatakan ini kali pertama Iris merasakan yang namanya patah hati disebabkan oleh rasa cinta bertepuk sebelah tangan. Sungguh sebuah perasaan yang sangat tidak mengenakkan, ia bahkan tidak mempunyai semangat untuk melanjutkan pekerjaannya.



Jace mengakui kehebatan Iris dalam merancang busana, sepertinya ia mendapatkan asisten dadakan yang bisa di ajak bertukar pikiran selama di Paris. Dan ia juga menyukai ketika Iris dimintai pendapat tentang rancangannya, wanita cantik itu tidak segan mengoreksi letak kesalahannya. Berdua segala pekerjaan lebih cepat selesai, begitupun dengan pembicaraan ringan sering mengisi hari-hari mereka selama seminggu belakangan.


Jace mengetuk pelan pintu sebelum masuk, sebuah senyuman lebar menyambutnya.


“Bagaimana pekerjaanmu?” tanya Jace kepada Iris. Ia singgah memerhatikan design wanita cantik itu seraya mengangguk.


“So far aku lihat bagus.” Sambungnya.


“Terima kasih, Jace.” balas Iris. Setelah beberapa kali di tegur, Iris akhirnya terbiasa memanggil nama depan pemilik The Alstrom.


“Anytime, Iris.” ujarnya sambil berjalan menuju kursinya. Ia melihat Iris mengikuti pergerakan tubuhnya.


“Apakah rapatku berlangsung lama?” tanya Jace kalem sambil tersenyum. Kini perhatiannya tercurah kepada lembaran kertas di depan.


Iris menelan ludah.


“Oh ya?” kepala Jace naik dan menatap lurus ke arah depan. Senyum Iris memudar seiring tatapan Jace semakin tajam dan menggoda ke arahnya.


Pria bersurai coklat dan rapi dengan jelnya kemudian tertawa ringan “Lain kali aku tidak akan lama, Gadis Pizza jika ternyata kau merindukanku.” Balas Jace menanggapi candaan pegawai magangnya yang sangat menawan. Dan juga berbakat, tambahnya.


Kemudian keduanya disibukkan dengan pekerjaan masing-masing. Itu hanya bertahan selama 45 menit hingga Jace mendengar tarikan napas Iris yang berat.


“Kau terlihat gelisah.” Tegur Jace melihat Iris yang terus memerhatikan ponselnya.


“Verona demam, mama baru saja mengabarkan lewat pesan.” Balas Iris lemah dan khawatir.


“Aku baru ingat jika suamimu sedang ke Italy. Tidak apa-apa jika kau ingin pulang lebih awal.” Saran Jace seraya meletakkan pensil gambarnya.


Di dalam ruang kerja khusus milik Jace terdapat meja panjang berdiameter 8 meter persegi, berwarna  hitam sama persis dengan meja yang berada di lantai 11. Beberapa manekin terpajang mengenakan rancangan yang sedang Iris kerjakan. Ia penuh harap jika designnya bisa digunakan oleh The Alstrom, jika itu terjadi Iris akan membanggakan diri kepada semua orang bahwa designnya mendapatkan kontrak yang tentu saja tidak bernilai sedikit.


“Ya, dia masih di Milan.” Sahut Iris singkat. Sejak kedekatannya dengan Jace, ia tidak begitu suka membahas Giulio di depan sang boss. Iris lebih suka menceritakan hal lucu tentang perkembangan Verona yang sangat menghibur hati.


“Hentikan pekerjaanmu, Iris dan berkemaslah.” Perintah Jace dengan tegas.


“Tapi.” Sahut Iris dengan ragu.


Jace melebarkan manik abunya “Verona membutuhkanmu, pulanglah.”


Iris terlihat bingung, ia  tidak tahu harus melakukan sesuatu hingga Jace berdiri dari tempat duduk dan menepuk bahunya.


“Hei, Gadiz Pizza. Kemasi barangmu.” Matanya melembut dan Iris sedikit salah tingkah.


“Baiklah.” Cicitnya sambil berdiri dan merapikan kertas berisi gambar gaun yang kemudian ia masukkan ke dalam map plastik dengan sangat hati-hati.


“Aku akan menemanimu turun ke bawah, sebentar lagi jam makan siang.” Ungkap Jace sambil memerhatikan Iris yang terlihat sangat lamban dam meragu untuk meninggalkan ruangan tersebut.


Iris hanya tersenyum tipis, andai saja Verona tidak demam, harusnya hari itu ia mengajak Jace untuk makan siang bersama. Tentu saja di luar, karena beberapa hari terakhir pria tampan itu mentraktirnya dengan berbagai makanan pesan antar.


Jujur, selama dua hari terakhir Iris bermaksud membawakan bekal makan siang ke kantor untuk Jace. Namun mengurungkan niat tersebut karena rasa tidak percaya diri.


“Apakah kau akan makan siang di luar?” tanya Iris penasaran.


“Ya.” Singkat pria itu berjalan ke tempatnya hanya untuk mengambil ponsel di atas meja.


Iris ingin bertanya lebih banyak namun ponselnya sendiri tidak berhenti bergetar. Pesan dari mamanya yang sengaja datang ke Paris untuk berlibur. Karena kedatangan mamanya -lah, ia sengaja meliburkan maid dan babysitter Verona. Tak dinyana malah anak satu-satunya demam yang membuat mamanya panik di pesan.


Ya.. ku akan pulang ke apartemen. Aku memiliki boss yang sangat baik hati, Darling. Jace mengijinkanku untuk pulang lebih awal.


Usai mengetik balasan pesan untuk suaminya, Iris mengembuskan napas panjang. Seandainya Giulio ada di Paris, ia tidak perlu terburu-buru pulang dengan hati yang tidak tenang. Berbanding terbaik dengan Jace sepertinya tidak memiliki beban hidup. Pria itu justru tersenyum sambil menekan dengan lincah layar ponselnya.


“Selama Verona masih butuh dirimu, kau lebih baik di rumah dulu.” Kata Jace saat mereka berada di dalam lift. Iris menoleh sementara Jace masih asyik dengan ponselnya.


“Semoga Verona membaik. Dia tidak pernah demam selama dua bulan terakhir.” Iris bergumam lirih.


Jace menepuk bahu Iris dengan pelan “Kalau begitu mungkin saja dia hanya rindu dengan papanya.” Sahutnya dengan tulus.


Iris memijit kepalanya dengan kuat, ia tidak menyukai kalimat Jace yang sama sekali tidak mengandung rasa cemburu. Sangat berbeda ketika pria itu menerima telepon kekasihnya yang masih berada di Milan, tak perlu ditanyakan efek dari hal kecil tersebut terhadap hati Iris.


“Hei, Gadis Pizza. Bertahanlah.” Usapan di punggung dari Jace membuat kegusaran hati Iris karena pria itu pun kemudian luntur dengan seketika.


Andai saja Jace tahu isi hati Iris, Jace tidak mungkin dengan asal memberikan ucapan semangat. Kebaikan hati pria itu membuat sosok Giulio mengecil dalam benak Iris. Bahkan mimpi terliarnya sebentar lagi akan bersekutu dengan setan yang menguasai isi kepala.


Bunyi lift berdenting sekali dan pintu baja itu terbuka secara otomatis dan Jace kembali menepuk punggung Iris untuk memintanya keluar terlebih dahulu. Iris melihat Loana dan Millie melambaikan tangan ketika melewati meja reseipsionis The Alstrom.


“Kau akan naik taksi, bukan?” tanya Jace melirik Iris.


“Iya.” Balas Iris mencoba membalas senyuman Jace.


“Waktu yang tepat.” Jace mengedipkan mata abunya, terlihat jahil dan ceria. Kembali setan berbisik, ada perasaan yang berkurang ada pula yang bertambah namun Iris tidak mempedulikan jika hal yang terjadi pada dirinya adalah sesuatu yang tidak benar dan tidak boleh terjadi.


Ketika mencapai lobby, sebuah taksi berhenti di depannya.


“Kau boleh menggunakan taksi ini, Gadis Pizza.”


Iris baru saja akan mengucapkan kata terima kasih namun sesosok wanita yang sangat cantik keluar dari kendaraan berwarna hitam metalik itu.


“Sweety Pie.” Jace berseru ketika melihat Tallulah tersenyum sangat lebar dan berjalan dengan anggun tanpa terburu menghampirinya.


“Oh Tuhan, matamu kembali berkantung. Sepertinya kau tidak banyak tidur selama di sini.” Erang Tallulah lemah seraya menangkup wajah Jace dan memerhatikan setiap inchi.


“Aku hanya terfokus dengan..”


“Pekerjaan. Tahu tidak, Boo. Kau akan menua lebih cepat jika kau menguras tenaga dan pikirianmu untuk bekerja.”


Iris berdecih menyaksikan kemesraan yang membuat hatinya sangat kesal. Tak tahan berlama-lama di tempat itu, pun ia kemudian naik ke dalam taksi. Sekilas ia melirik bagaimana Jace mengecup pipi model itu dengan lembut, hatinya terbakar hingga menghitam.


Harusnya kau yang berada di posisi itu..


Lagi-lagi setan itu berbisik lalu tertawa melengking hingga menyakiti hati Iris. Di saat yang sama sebuah harapan tumbuh walau itu salah.


###





alo kesayangan💕,


di penghujung akhir tahun, otakku sedikit melemah semangatnya untuk menulis. dan yah, aku tergoda untuk menonton beberapa serial luar, jangan berpikir aku nonton serial korea😅..


tentu saja bukan.


oh yah, besok masih Jace walau ini masih kurang readersnya, tapi tidak apa-apa, aku akan mengejar ketertinggalan chapternya.


thank you yang masih di sini.


love,


D😘