JACE

JACE
Cinta Yang Baik



Giulio mengusap surai Iris dengan perlahan, bibirnya mengatup dan bergetar samar, bola matanya yang biru berkabut hampir menjatuhkan rinai. Kepala Giulio mengeleng lemah bersamaan airmatanya jatuh, buru-buru ia menghapusnya. Ia memandang ke layar monitor, kinerja jantung Iris terbilang cukup normal walau istrinya masih dalam kondisi kritis.


Betapa kagetnya Giulio semalam mendapati Iris terjatuh ke lantai tak sadarkan diri dengan rembesan darah segar mengalir di sela paha. Panik, tentu saja namun di sisi lain ia harus menghubungi emergency dan menenangkan Verona yang menangis melihat kondisi mamanya.


Verona menjadi pengecualian dari pihak rumah sakit ketika Giulio harus membawa serta anaknya sementara Iris harus menjalani prosedur operasi untuk menyelamatkan bayi yang dikandungnya. Untungnya tiga jam kemudian para orang tua dan keluarga besar mereka tiba di Paris dari Italia menggunakan pesawat sewaan.


Giulio sangat bahagia dengan kelahiran Verona empat tahun yang lalu, namun berbanding terbalik dengan kelahiran anaknya yang kedua. Putranya lahir sebelum waktunya, bayi mungil yang belum sempat Giulio lihat masih berada di ruang perawatan intensif neonatal. Perhatiannya terfokus kepada Iris yang masih belum sadar sejak pertama kali Giulio temukan.


Sekali lagi Giulio mengecup jemari Iris, memandang wajah wanita yang telah memberikannya dua anak yang lucu dan sehat. Iris terlihat terlelap bahkan wanita cantik itu tidak tahu jika kandungan telah berhasil diangkat dengat selamat.


"Beristirahatlah, Son," tepukan di punggung Giulio membuatnya menoleh. Pria paruh baya yang merupakan sahabat papanya sedang tersenyum penuh makna. Paolo Coppole, ayah Iris mengangguk, sebuah isyarat bujukan agar Giulio menuruti permintaannya.


"Saya akan menunggu, Pa. Di luar," tolak Giulio. Ia tahu jika Paolo menginginkannya pulang ke rumah dan beristirahat penuh di mana semua keluarganya juga tengah berada.


"Papa temani," Paolo mengikuti Giulio yang berjalan keluar dari ruangan ICU.


"Ahhh," desah Giulio saat merebahkan punggungnya pada sandaran kursi. Paolo tersenyum dan menepuk lengan Giulio.


"Papa bisa menjaga Iris, pulanglah dan beristirahat," Paolo masih berusaha membujuk. Ia sangat tahu jika Giulio belum pernah memejamkan mata sebentar pun sejak semalam. Bahkan hari ini sudah menjelang sore.


"Tidak, Pa," Giulio menggelengkan kepala dengan mata terpejam.


Paolo menghela napas berat. Ia menyerah dengan keras hati Giulio, ia pun menyandarkan punggung, tangannya mendekap di atas perut.


"Iris pernah mengatakan ingin menyudahi pernikahan kalian," celetuk Paolo membuat Giulio membuka mata. Ia mengerling kemudian kembali menutup matanya, mencoba melemaskan tubuh yang terus tegang sepanjang hari.


"Papa terkejut ketika mendengarkan berita jika kalian kembali bersama di Paris, apalagi setelah tahu jika Iris kembali mengandung. Papa tidak banyak bicara ketika Iris memberikan informasi tentang itu. Bagaimana pun itu rumah tangga kalian, Son," lanjut Paolo.


"Maafkan kami, Pa. Seharusnya tidak melibatkan Papa dan Mama dengan masalah ini. Tapi kami telah melaluinya," elak Giulio berusaha menyembunyikan rahasia pernikahannya.


"Apakah kalian kembali bersama karena Iris hamil, karena sebelum kejadian itu terjadi dia terbilang sangat teguh mengatakan akan mendaftarkan perceraian. Mamanya sangat sedih mendengarkan itu, semua orang jadi tahu. Papamu dan aku selalu membicarakan ini, ya karena keegoisan kami sebagai orang tua yang menginginkan kalian menikah, menyatukan dua keluarga hingga mengorbankan impian mungkin juga cinta kalian berdua," terang Paolo dengan suaranya memberat.


"Tidak ada yang perlu disesali, Pa. Kami sudah memiliki Verona dan adiknya," sahut Giulio dengan tenang.


"Maafkan kami, Son," Paolo terdengar penuh sesal. "Papa mengingat ketika kalian akan menikah. Iris terlihat murung sebelum keluar berjalan menuju altar. Kemudian ketika kalian berpisah, Iris di Paris sementara kau di Turin bersama dengan Verona. Bukan sekali kami menanyakan hal itu kepada Iris dan dia bersikeras hanya berusaha mengambil Verona bukan mempertahankan pernikahan kalian,"


Giulio terdiam, ia bisa memahami perkataan Paolo.


"Apakah Iris memiliki pria selain dirimu? Sebelum kalian menikah, mungkin saja pria itu masih mengejarnya sampai sekarang," terka Paolo yang sepenuhnya salah.


"Tidak ada, Pa. Kalaupun ada yang salah dalam pernikahan kami itu adalah saya, Pa. Saya-lah yang mengejar Iris hingga ke Paris, saya juga yang berharap Iris mencintai sama besar seperti perasaanku kepadanya. Saya yang arogan memaksakan Iris menjalani pernikahan, mengesampingkan jika dia memiliki impian yang hebat,"


"Iris mencapainya tapi mengorbankan pernikahan kalian dan Verona kekurangan kasih sayang ibunya," ujar Paolo. "Papa tahu jika ada yang kau tutupi, Son. Bagaimanapun Iris adalah anak kandungku, Papa tahu perangainya luar dalam. Anak kami itu tidak pantas mendapatkan dirimu yang luar biasa seperti ini,"


Giulio tertawa miris seraya menggelengkan kepala. "Tidak, Pa. Iris hebat, ia bisa melahirkan Verona sambil mengejar cita-citanya. Walau sempat terpisah tapi hubungan Iris dan Verona sangat kuat. Verona tak berhenti menangis melihat Iris tak sadarkan diri. Saya percaya Iris bisa melalui masa kritis namun kejadian semalam merupakan tragedi yang tidak akan kami lupakan,"


"Jadi apa berikutnya? Maksud Papa kehidupan kalian, apakah terus seperti kemarin ataukah ada perubahan? Kita adalah orang Italia di mana keluarga selalu menjadi nomer satu. Tapi jangan sampai kalian berusaha tetap bersama namun mengorbankan kebahagiaan masing-masing," tutur Paolo berusaha memberikan masukan.


"Saya akan berusaha memperbaikinya, Pa. Jujur ada masa saya ingin menyerah, itu dulu. Tapi saya melihat Verona yang membutuhkan kami berdua. Sekarang ada adiknya yang bahkan belum sempat kami berikan nama. Kami akan bertahan, hanya butuh waktu lebih lama. Saya sangat yakin Iris akan berjuang sama halnya yang saya lakukan, Pa,"


 "Terima kasih, Son. Kami berutang banyak dengan segala kemurahan hatimu. Keluarga Coppole tidak bisa membalas kebaikan keluarga Celi. Tapi Papa tidak akan melakukan hal sama lagi, menjodohkan anak-anak demi kokohnya sebuah persahabatan. Begitupun kamu, biarkan Verona dan adiknya menemukan cinta sejati dalam hidup,"


"Tentu, Pa. Mereka akan tumbuh dengan penuh kasih sayang dari kami, mereka akan mengerti cinta yang baik, cinta yang sesungguhnya," kata Giulio optimis.


"Terima kasih, Giulio Celi anakku," Paolo merangkul bahu Giulio.


Kedua pria itu saling melempar senyuman hangat bersamaan seorang perawat berjalan mendekat. "Tuan Celi dan Tuan Coppole, Nyonya Iris telah sadar walau kondisinya masih lemah,"


Serempak keduanya berdiri penuh rasa gembira meluap di dalam dada.


"Terima kasih, Tuhan," ucap Giulio dengan tulus.


...


Aaron tidak habis pikir, sejak pertemuannya dengan Lucy Harrington ia terus mengulang-ulang perkataan wanita itu. Lucy pernah menyukainya, mencintainya. Dan kini wanita itu telah melepaskan semua perasaannya, hal itu yang membuat isi kepala dan hati terisi oleh seorang Lucy yang selama ini selalu ada untuknya. Di saat yang sama ia bertingkah sebagai baj1ngan sekaligus pemuja berbagai macam wanita. Ia sama sekali tidak pernah menduga jika Lucy memiliki perasaan yang terpendam kepadanya.


Tapi jika mengulang beberapa momen kebersamaan mereka, Lucy tidak pernah sekali pun menolak ajakan Aaron, bahkan sesibuk appaun wanita itu. Sama seperti minggu lalu, Lucy mengundangnya ke peternakan hanya untuk mendengar keluhan Aaron.


Mungkin Lucy sudah teramat lelah menghadapi Aaron, bukan hanya sekali wanita itu menenangkan, pula menjadi penyemangatnya. Berulang kali dan tak terhitung. Andai saja Aaron berada di posisi Lucy, tentu saja akan mengorbankan pertemanan mereka dengan berusaha mengoda Lucy untuk tidur bersama ketika mereka sedang minum-minum. Tidak sekali pun Lucy melakukan itu, walau dia memiliki banyak kesempatan.


"Tuhan," erang Aaron memijat kepalanya. Ia berjalan menuju lemari pendingin dan mengambil sekaleng soda. Terdengar desisan bunyi soda ketika tuas pembuka ditarik Aarron ke atas. Ia menenggak isi kaleng hingga setengah ketika bunyi bel pintu ditekan berulang kali.


"Siapa?" Aaron berdecak kesal sambil berjalan menuju pintu depan. Ia terkadang menyesal memiliki hunian yang begitu besar dan tinggal seorang sendiri. Ya, kadang ia ditemani wanita yang menjadi teman kencannya dan juga jasa tukang pembersih yang rutin datang 4 kali dalam seminggu. Aaron juga sering mengadakan berbagai macam pesta liar demi menjalin hubungan baik dengan teman-temannya. Hal itu tidak pernah ia lakukan lagi sejak mengejar Tallulah hingga ke kota New York.


"Hei," sapa Aaron ketika melihat sosok tamunya. "Aku baru saja ingin menghubungimu,"


Lucy menaikkan tangan kanannya. "Hai, aku datang tanpa di undang,"


"Boleh tapi aku ambil sendiri," Lucy berjalan masuk sementara Aaron menutup pintu. Sejenak ia berdiri sambil berpikir tentang kedatangan Lucy. Ia merasakan debar jantungnya meningkat, sebelum ini ia tidak pernah berdegup kencang ketika berada di dekat wanita itu.


Aaron mengelengkan kepala cepat, ia mengusir pikiran aneh yang tidak ingin menjadi beban terlebih Lucy berada di sini.


"Maafkan aku," Lucy terkekeh memamerkan kaleng sodanya. Wanita cantik itu bersandar di samping lemari pendingin.


Aaron terpaku, untuk pertama kali ia melihat Lucy terlihat menyatu dengan suasana rumahnya. Kembali Aaron menggeleng dan mengusir pikiran aneh yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.


"Cheers," Aaron mengadu kaleng sodanya dengan milik Lucy. "Kau dari peternakan?"


Lucy mengangguk sambil tersenyum. "Tadinya aku ingin menelepon terlebih dahulu, tapi ini akhir pekan dan aku masih melihat story sosial mediamu tadi pagi. Kau sedang bersantai di kolam renang. Jadi aku simpulkan jika kau masih di Nebraska,"


Aaron duduk di atas island table dan terlihat mengangguk, bibirnya terkulum sambil mengamati penampilan Lucy yang feminim. Wanita bersurai pendek itu mengenakan dress selutut dengan sandal bertali.


"Kemana juga aku pergi, Sayang. Nebraska adalah rumahku, di sini aku memiliki segalanya," dalih Aaron kemudian menghabiskan isi kaleng sodanya sebelum sensasi dinginnya menghilang.


Lucy mencebik lalu mengambil napas. Ia memandang Aaron dengan serba salah. "Apa aku mengganggumu? Maksudku kedatanganku,"


"Tidak sama sekali," geleng Aaron mengarahkan pandangannya ke sekeliling. "Aku merasakan kesepian,"


Lucy tertawa keras mendengar keluhan Aaron. "Biasanya kau membuat pesta, walau hanya untuk beberapa teman kita,"


"Aku sedang tidak mood," sahut Aaron sambil membuang napas panjang.


"Karena Lula?" tebak Lucy sambil tersenyum kecut.


Aaron mendengus. "Kemarin iya, sekarang bukan lagi," ucapnya lalu mengatur napas. Ia menatap Lucy lekat-lekat. "Kamu penyebabnya,"


"Aku?" Lucy terbelalak. Tangannya gemetar akan perkataan Aaron yang tiba-tiba.


Ini saatnya, cetus batin Aaron. Ia bergerak turun dari meja, berjalan hingga tubuhnya berdiri tepat di depan Lucy. "Kau membuatku terus berpikir, Lucy Harrington. Bagaimana bisa kau memendam perasaanmu selama itu, juga tidak memperlihatkan kepadaku?"


Lucy yang tomboy, Lucy yang selalu percaya diri, kini terlihat gelagapan dengan perkataan Aaron terlebih ia bisa mencium wangi tubuh pria itu. "Aku..." Lucy terbata dan tak berani membalas pandangan Aaron.


Aaron mengusap pipi Lucy, wanita itu memejamkan matanya menikmati sentuhan. Bahasa tubuh Lucy mengisyaratkan tak ada penolakan. "Bagaimana dengan pemilik peternakan yang menjadi teman kencanmu?"


Bola mata Lucy terbuka, ia memandang Aaron. "Kami telah memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan. Tiga hari yang lalu adalah terakhir kali kami bertemu sebagai pasangan," jelas Lucy dengan napas memberat, matanya sayu. Ada gairah juga perasaan yang berusaha ia pendam kini membuncah dan sedikit lagi meledak.


"Oh ya?" Aaron tersenyum miring dan tampak di rautnya jika ia memenangkan sesuatu. Aaron semakin merapat tubuh, juga kepalanya semakin dekat wajah Lucy.


"Hmm," deham Lucy menikmati sentuhan Aaron sudah mencapai telinganya. Bagian paling sensitif yang bisa memicu gairah yang tidak akan pernah lagi bisa surut.


Aaron mengambil udara mengisi paru-parunya dengan oksigen. Ia sedikit lagi menyelesaikan misi yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Semua yang terjadi sore itu adalah naluri. "Setelah hari ini kau tidak boleh berkencan dengan siapapun lagi, Lucy Harrington,"


Lucy mendongak, matanya melebar. "Kenapa?"


Aaron tersenyum lalu menarik Lucy merapat dengan tubuhnya. "Karena kau milikku, hanya aku yang berhak atas dirimu," ucapnya kemudian mencium bibir Lucy lembut lalu lebih panas. Aaron tidak pernah menyangka jika Lucy terasa sangat manis dan juga membara, dadanya terbakar meletup seperti kembang api yang tak berkesudahan.


###


Giu



Lucy Harrington



Aaron Watkins



alo kesayangan💕,


maaf part ini khusus untuk mereka.. aku pikir ini adalah chapter terakhir tapi aku memutuskan untuk memisahkan bagian Tallulah dgn Jace.


jadi next chapter adalah yang terakhir..


maaf yah, baru update sekarang.


love,


D😘