
“Mr. Celi.” Sapa seorang wanita sepantaran Iris ketika Giulio memasuki butik dengan plang nama “Verona” yang terletak di ujung Rue Lecourbe, Paris. Butik yang mengambil nama dari anak Giulio merupakan sebuah bangunan bertingkat tiga, bercat warna cream serasi dengan keseluruhan bangunan yang berada di jalan sama.
Giulio mengeryit kepada wanita berambut merah tersebut.
“Marie.” Wanita itu mengulurkan tangannya sambil mengulas senyuman terbaiknya.
“Giulio Celi. Maaf apakah aku mengenalmu?” tanya Giulio menjabat tangan Marie.
“Tidak, justru saya yang mengenalmu, Mr. Celi. Saya bekerja di Verona. Masih magang tepatnya sebagai Customer Service.
Giulio memandang ke arah meja yang berada di ujung, di lantai tersebut terdapat berbagai macam pakaian terpajang dari setelan formal hingga gaun pesta yang indah.
“Aku tidak melihat ada pengunjung.” Ujar Giulio kembali menatap Marie. Rue Lecourbe termasuk jalanan yang cukup ramai dengan berbagai macam toko dan butik. Sepertinya hanya Verona yang tidak memiliki satu pun pengunjung di waktu siang hari dan langit sebiru bendera Perancis.
“Oh itu. Di Verona kami hanya menerima klien yang telah mendaftarkan kunjungannya melalui email. Dan kami juga mengutamakan pembelian secara online, Mr. Celi.” Marie menjelaskan.
Giulio yang tidak paham akan perkembangan usaha Iris, akhirnya bisa mengerti dari penjelasan orang lain. Mungkin beberapa bulan terakhir ia terlalu sibuk mengurus perusahaannya hingga Iris berjuang sendiri. Itu bukan berarti Giulio serta merta melupakan janjinya untuk memberi modal usaha kepada Iris. Giulio mengirimkan uang sejumlah pembicaraan mereka ketika semuanya masih berjalan baik, namun entah mengapa sampai sekarang uang tersebut itu masih utuh. Tentu saja Giulio mengeceknya dan ajaib saldonya tidak berkurang satu Euro pun sementara Iris bisa memiliki sebuah gedung di kawasan elit.
“Maafkan aku tadi, Mr. Celi. Aku melihatmu berdiri lama di depan Verona hingga aku menyambutmu. Miss Iris ada di lantai dua.” Marie mengarahkan pandangan pada tangga yang berada di bagian kiri ruangan.
“Lantai tiga sebagai gudang?” tanya Giulio yang masih berstatuskan sebagai suami sang pemilik Verona namun ia bertingkah layaknya seorang yang tersesat.
Marie tampak mengerti dengan permasalahan pribadi bossnya dan Giulio, wanita itu mengangguk sekali dan tersenyum. “Lantai tiga adalah tempat tinggal Miss Iris. Silahkan jika ingin bertemu dengannya.” Ujarnya dengan sopan dan tidak bertanya hal lebih detil lagi.
“Terima kasih dan selamat bekerja, Marie.” Kata Giulio tersenyum dan berjalan menuju tangga. Perhatian Giulio mengarah kepada quotes tentang fashion yang dibingkai indah terpasang di dinding.
Ketika Giulio tiba di lantai dua, yang merupakan ruangan tanpa sekat, kecuali satu ruangan yang berdinding kaca. Giulio asumsikan tempat itu adalah ruangan kerja istrinya. Hampir semua pengawai Verona yang tadinya terlihat sibuk dengan pekerjaan masing-masing, spontan memandang ke arah Giulio. Tepatnya saling berbisik, namun peduli setan. Giulio memantapkan hati menuju ruangan kerja wanita yang telah meninggalkan dirinya dan Verona 7 bulan yang lalu.
Belum sempat Giulio mengetuk pintu, Iris mendongak dan tatapannya menembus dinding kaca. Raut Iris menegang dan sontak berdiri.
“Selamat siang.” Giulio menyapa sambil menutup kembali daun pintu. Giulio sekalian menurunkan tirai, agar semua orang menjadi saksi akan pertemuan sepasang suami istri tersebut. Ada banyak hal yang ingin Giulio sampaikan termasuk beberapa perkataan Iris yang terus berulang lewat panggilan telepon. Wanita itu ingin berpisah!
“Kau datang sendiri?” tanya Iris memandang lekat Giulio.
“Kau mengharapkan siapa?” Giulio balik bertanya dengan nada sama dinginnya dengan Iris. Segala panggilan kesayangan telah hilang dengan oleh waktu. Pun Giulio yang semula masih memanggil Iris dengan sebutan “Amore” lewat telepon, telah menghentikan kebiasaan itu sejak 4 bulan yang lalu.
“Anakku.” Singkat Iris melayangkan tatapan tajam kepada Giulio.
“Verona di Italia, tepatnya di Turin. Sekarang aku menitipkannya di rumah papa dan mama, bukan kepada orang tuamu. Demi Tuhan, Iris. Terbuat apa hatimu itu hingga ulang tahun anak kita yang kedua pun kau tidak pulang ke Turin. Jujur, kado darimu untuk Verona aku taruh di gudang.” Giulio mulai melayangkan konfrontasi secara terbuka. Ia sudah lelah berdebat dan mengemis kepada Iris untuk memberikan perhatian kepada Verona. Bukannya terbang kembali ke Turin, Iris justru meminta kedua orang tuanya untuk membawa Verona dan ia akan berbicara dengan anak mereka lewat panggilan video.
Tangan Iris mengepal di atas meja. “Aku ingin kita bercerai.”
Giulio berdecih dan menggeleng. “Aku sudah bosan dengan kalimat itu, Iris. Kalaupun kita berpisah, kau tidak akan pernah bisa mendapatkan hak asuh Verona. Kau yang meninggalkannya di Turin, itu berarti Verona dalam pengasuhanku. Ini sudah berjalan 7 bulan, Verona sudah melupakan seperti apa pelukan seorang ibunya. Tapi tidak, Iris. Aku tidak akan pernah menceraikanmu.”
“Kau mau menang sendiri.” Iris membelalak, wajah cantiknya dikuasai emosi.
Giulio menggeleng sambil mengulum senyuman. “Tidak, Iris Coppole. Aku tidak ingin menang sendiri, aku hanya ingin kau kembali kepada diriku dan Verona. Ikutlah denganku ke Turin, aku telah membeli sebuah rumah yang sangat nyaman dengan halaman luas.”
“Aku tahu. Tidak usah memamerkannya kepadaku. Dunia kita berbeda, aku sangat mencintai Paris.”
Giulio menarik kursi di depan meja Iris dan duduk tanpa dipersilahkan oleh pemilik ruangan. “Dari mana kau mendapatkan uang untuk memililki sebuah bangunan sebesar ini di Kota Paris? Uang dariku tidak kau sentuh, dan aku berani bertaruh jika tabunganmu tidak bisa membayar tempat ini.”
Iris mendengus dan bola matanya berputar. “Seseorang membelikan tempat ini.”
“Wow.” Giulio bertepuk tangan sambil mengelengkan kepalanya. “Bravo, Iris.”
…
Ellis melirik sahabatnya yang sedang terpaku pada iklan property di ponselnya.
“Ada yang kau sukai, Love?” tanya Ellis.
Tallulah mengerucutkan bibirnya kemudian menggelengkan kepala. “Aku tidak tahu yang mana tepat untukku. Satu-satunya apartemen yang membuatku nyaman telah berpindah pemilik.” Ujarnya menatap sendu kepada Ellis, sahabatnya yang berbaik hati memberikan tempat tinggal bersama secara cuma-cuma selama beberapa bulan terakhir.
“Aku tidak mengusirmu, Love. Kau boleh tinggal selama kapanpun di apartemen ini, namun kau memiliki banyak uang. Kau bisa membeli sebuah hunian yang tenang, jauh dari hiruk pikuk kota. Kau bisa memiliki sebuah kolam renang besar di halaman belakang rumahmu, dikelilingi pepohonan hijau dan rumputnya yang tebal ketika diinjak. Jika kau telah menemukannya, aku dengan senang hati berkunjung dan membawa bikini terbaikku.” Kata Ellis dengan riang dan penuh semangat.
“Terlalu banyak pilihan dan semuanya memiliki kategori yang kau katakan, Nona Wilder. Tapi bukannya aku akan kesepian dengan rumah berkamar minimal 4 dan hanya aku sendiri di tempat itu. Tidak mungkin aku menyewa pembantu, sementara hidupku masih belum menetap di satu kota.” Keluh Tallulah sementara telunjuknya terus menggeser layar ponsel.
“Kau bisa berkencan, Love. Dengan Anthon, dia pria yang baik dan mapan. Seorang supermodel sepertimu, kalian sejajar di dunia ini.”
Tallulah memicingkan matanya sambil mencebikkan bibir. “Anthon hanya teman biasa.” Sanggahnya tanpa menatap Ellis.
“Tidak ada teman biasa yang hampir dua bulan terakhir selalu menyempatkan diri untuk saling bertemu. Sebentar lagi dia juga akan menjemputmu, bukan?” tutur Ellis melihat dandanan Tallulah yang mengenakan gaun berwarna beige.
“Hanya satu makan malam merayakan ulang tahun Anthon.” Jawab Tallulah lalu melayangkan pandangan ke arah jam di dinding. Ia pun berdiri dan meraih coat panjang berwarna hitam beserta handbag berlogo “G” yang senada dengan gaunnya.
“Kau akan turun? Tidak menunggunya naik menjemputmu? Love, kau sepertinya menyembunyikan hubunganmu dengan Anthon dariku.” Protes Ellis mengantar Tallulah hingga ke pintu.
Sang supermodel memegang pegangan pintu dan berbalik menatap sahabatnya. “Demi Tuhan, aku tidak menyembunyikan apapun kepadamu, Love. Aku tidak pernah melakukan itu. Ya jujur, jika Anthon beberapa kali menggoda dan mengajakku berpacaran. Tapi aku belum bisa, Ellis. Aku tidak bisa membagi hatiku kepada pria lain, dia masih ada di sini. Tidak beranjak sedikitpun.”
…
Bola mata Anthony melebar ketika membuka kotak hadiah ulang tahunnya dari Tallulah. “Oh Babe, kau sangat tahu dengan seleraku. Cincin ini sudah aku incar beberapa minggu terakhir. Hanya aku belum sempat ke store-nya. Thanks.” Ujarnya dengan berseri-seri.
“Syukurlah kau menyukainya.” Tallulah tersenyum.
Anthony berdiri dari duduknya. “Berikan aku pelukan.” Pintanya sambil mengembangkan tangan.
Tallulah terkekeh dan menerima pelukan yang dibarengi kecupan singkat di pipinya. “Aku malu, Anthon.”
“Kau adalah teman terbaik, Babe. Pasti kau akan menjadi seorang kekasih yang hebat.” Ucapnya sambil mengurai pelukan. Anthony mendesah sambil menatap penuh kekaguman yang mendalam kepada Tallulah.
“Aku pernah menjadi kekasih yang hebat.” Aku Tallulah sambil meraih gelas berisi wine.
“Aku tidak ingin menyombongkan diriku namun selama tiga tahun bersamanya, kami tidak pernah bertengkar karena aku memulainya. Dengan menjadi seorang kekasih yang hebat kemudian berakhir dicampakkan, apakah kita perlu menjadi jahat untuk terus dicintai?”
Tallulah tertawa, ia menggelengkan kepala akan ucapan konyol Anthony. “Menjadi baik saja kita dicampakkan apalagi menjadi kekasih yang jahat. Dia tidak akan melirikku jika aku seorang wanita yang buruk.”
“Aha! Akhirnya kau mengakui jika kau dicampakkan, Babe. Jadi seperti apa seorang Jace mencampakkan supermodel seperti dirimu. Pastinya sangat sakit hingga keberadaanku tidak pernah kau tanggapi. Tahukah jika kehadiranmu selama dua bulan terakhir mengobati lukaku, Babe?”
Tallulah tertegun dengan keterusterangan Anthony. Tangannya gemetar ketika menaruh gelas wine kembali ke meja. “Tidak. Dia tidak mencampakkanku.” Ucapnya parau kemudian berdiri. “Maaf, aku mau ke toilet.”
Tanpa mendengar persetujuan Anthony, Tallulah bergegas berjalan menuju toilet. Ia melewati meja-meja tanpa mempedulikan tatapan para pengunjung restoran mewah dan paling terkenal di Kota New York.
“Ahhh.” Desah lega Tallulah ketika usai membasuh wajahnya. Ia tidak mempedulikan jika make up-nya luntur. Ia perlu menenangkan diri dan terapi air yang merupakan satu-satunya jalan keluar dari masalahnya. Sama seperti pengalaman berbulan-bulan lalu ketika ia mengingat Jace, Tallulah akan berendam air hangat atau cukup dengan menggosok wajahnya dengan air secara berulangkali. Air adalah kesadarannya.
Tallulah memandang pantulan dirinya di cermin. “Bertahan, Sweety Pie. Kau pasti bisa melaluinya.” Ucapnya kepada dirinya sendiri dengan mata berkaca-kaca.
Ketika pintu toilet terbuka, dengan buru-buru Tallulah kembali membasuh wajahnya.
“Ini bukan tempatnya.” Tallulah bergumam meraih sapu tangan dari handbag-nya. Ia menyeka sisa air di wajah lalu merapikan dandanannya.
Tallulah menetralkan perasaan kacau yang mendera selama 20 menit di toilet hingga akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke meja. Tallulah yakin Anthony risau dengan sikapnya yang terkesan tidak dewasa.
Langkah Tallulah terhenti selayaknya sebuah mobil yang di rem mendadak. Tubuhnya menegang, namun ia tak kuasa untuk menoleh. Aroma parfum maskulin itu mendekat, jantung Tallulah memburu berkejaran.
“Apa kabarmu?” Jace kini berdiri di sisi Tallulah.
Tangan Tallulah memegang kuat-kuat tasnya. Ia tidak kuasa menjawab pun melirik. Ia tidak bisa menatap wajah pria yang bisa meruntuhkan bendungan air matanya secepat kilat.
“Aku melihatmu ke sini, aku menunggumu keluar. Apa yang kau lakukan di dalam sana, Sweety Pie? Apakah kau baik-baik saja? Apakah kau sakit?” Jace memberondong dengan pertanyaan.
Tidak! Tuhan, jangan hukum aku sekarang! Pekik Tallulah mengeraskan pijakan kakinya pada keramik. Ia berharap bumi terbelah saat itu juga kemudian memisahkannya dengan Jace yang terus memberikan perhatian.
Demi Tuhan, betapa ia merindukan segala hal dari pria itu.
“Apakah kau masih membenciku, Nona Bluebells? Apakah ini belum waktunya untuk bertemu kembali denganmu? Tolong jawab aku, Sweety Pie. Tolong lihat aku.” Suara Jace gemetar sekaligus melembut.
Tallulah mengeraskan rahangnya, dan menguatkan seluruh hati untuk memandang wajah Jace.
Dua pasang mata saling menatap, mata yang masing-masing terselaputkan oleh kaca tebal dan berembun.
“Babe! Kenapa kau lama sekali?” Anthony berseru sambil berderap menghampiri Tallulah yang masih saling menatap dengan pria yang merupakan mantan kekasihnya.
“Kita harus pulang.” Anthony mengambil kendali dan meraih jemari tangan Tallulah.
Gadis bergaun beige dengan surai ikalnya terkesan pasrah dalam genggaman Anthony yang sama sekali tidak menggubris keberadaan Jace.
Anthony tetap berjalan dengan sang putri, ia berada dalam misi menyelamatkan gadisnya dari pria yang menancapkan duri teramat tajam di dalam hati.
Jace tidak menyerah, ia mengikuti Tallulah hingga mencapai parkiran. Jace tidak peduli dengan sakit yang menghujam hati melihat Tallulah bersama dengan model pria yang memang digosipkan dekat dengan gadis cantik itu.
“Jace!” teriakan membuat Jace sadar dan berhenti. Ia menoleh melihat Aubrey cemberut dengan bibir sensualnya.
Aubrey menarik gaun panjang dan berjalan mendekat. “Kau melupakanku karena dia.” Sungutnya seraya menggamit tangan Jace.
Tallulah melihat kejadian itu lewat kaca spion dengan tubuh bergetar, tak lama kemudian setelah mobil dikendarai Anthony bergerak, air matanya pun menyeruak keluar dengan panas, sangat panas membasahi pipi.
Anthony berdeham keras dan menoleh kepada gadis cantik yang meringkuk memeluk tubuhnya tersengal hebat oleh tangisan perih. Setelah menjauh dari restoran tersebut, Anthony menepikan mobilnya.
“Babe, berapa lama lagi kau akan menangis sendirian seperti itu? Sementara aku bisa menjadi tempatmu untuk bersandar. Kemarilah, menangislah di bahuku.” Anthony menarik tubuh Tallulah masuk ke dalam dekapannya.
Tidak ada jawaban kecuali tangisan Tallulah yang semakin keras.
~~
O mondo,
soltanto adesso io ti guardo,
nel tuo silenzio io mi perdo
e sono niente accanto a te.
Il mondo
non si é fermato mai un momento,
la notte insegue sempre il giorno
ed il giorno verrà.
O mondo,
__
O world
only now I look at you,
in your silence I disappear
and I am nothing next to you
The world
has not stopped even for a time
The night always follows the day
and the day will come
O world
- Il Mondo, Jimmy Fontana
###
alo kesayangan💕,
sampai bertemu minggu depan 🤭
di cerita Jace..
sabar yah dengan dramanya.
dua chapter Jace aku ditemani lagunya Il Mondo, sangat cocok dengan kondisi mengenaskan Mr. Alstrom..
wkwkwkk..
love,
D😘