JACE

JACE
My Boo



“Dia kembali menendang.” Ucap Giulio dengan lembut mengusap perut buncit Iris.


Wanita cantik bersurai hitam dan bergelombang itu seraya tersenyum bahagia.


“Dia sangat aktif.” Sahut Iris menyenderkan tubuh pada kepala tempat tidur. Sementara Giulio tak henti mengusap perutnya dengan wajah


berseri-seri. Hal itu merupakan kegiatan favorit Giulio ketika usai bekerja.


Mereka masih di Paris, belum kemana-mana kecuali Giulio yang mondar mandir antara Paris dan Italia. Sebenarnya Iris sangat ingin kembali ke kota kelahirannya, namun Giulio memberikan sebuah pilihan, pindah seterusnya di Turin atau bertahan di Paris.


Tentu saja Iris memilih tinggal di Paris, demi pendidikannya walau ia harus berhenti mengajar balet. Setidaknya satu impian tetap dijalaninya, dan balet menunggu bayi mereka lahir dengan selamat. Sesuai janji Giulio yang akan memberikan kebebasan kepada Iris tak kurang 2 bulan ke depan.


Kehamilan Iris menginjak bulan ke delapan, ia sedang mengandung bayi perempuan, pun namanya telah disiapkan oleh pasangan suami istri tersebut.


“Apa yang kau lihat, Amore?” tanya Giulio menengok ponsel istrinya yang tak henti di tatap dengan sorot mata khawatir.


Iris melirik, melipat bibirnya.


“Aku menunggu email balasan permohonan magang kerja.”


Giulio bergerak menyamai tubuh Iris dan merangkul tubuh istrinya dengan perlahan. Sejenak ia menarik napas panjang.


“Magangnya masih 6 bulan lagi, Amore. Menurutku ini terlalu dini.”


“The Alstrom, darling. Di kelasku ada 7 orang yang ingin mengirimkan proposal magang ke sana. Dan aku tidak tahu apakah The Alstrom menerima mahasiswa magang untuk tahun ino. Seharusnya minimal tiga bulan lagi kami mengajukan permohonan magang, tapi aku mencuri start.” Ujar Iris kembali menatap layar ponselnya.


“Licik.” Jenaka Giulio seraya mencubit pipi istrinya yang ikut membesar seiring kehamilan yang menginjak bulan terakhir.


“Ini cita-citaku sejak dulu, mengenyam ilmu di The Alstrom.”


Pria di sebelah Iris berdeham pelan, iapun menoleh memandang wajah tampan Giulio.


“Aku mengerti, Amore. Daripada kau menunggu tidak jelas seperti itu, ada baiknya mengirimkan pesan kepada Jace, bukankah kalian saling


mengenal?” Giulio membelai pipi Iris. Wanitanya terlihat memejamkan mata menikmati sapuan jemari yang lembut menyusuri wajah.


Iris menggeleng lemah. Ia berhasil menghilangkan sebagian perasaannya terhadap pria itu, dan berpusat kepada rumah tangganya. Walau di


sudut hatinya ikut teriris melihat kebersamaan Jace dengan Tallulah di sosial media bahkan berita infotainment.


Ya, Jace dan Tallulah masih bersama.


Iris menggunakan kata”masih” membuatnya masuk ke golongan Anti Tallulah, sebuah fan base yang tidak merestui Jace berhubungan dengan supermodel tersebut. Ya, gadis belia itu tersebut dalam kurun waktu kurang setahun naik kelas menjadi seorang supermodel dunia. Semua berkat hubungannya dengan salah satu designer yang berpengaruh di dunia fashion.


Tallulah ada di mana-mana, seluruh fashion week menjadikannya model utama bahkan model pembuka acara. Wajahnya yang imut dengan senyuman polos dan indah memikat brand-brand terkenal. Hal sangat tidak disukai oleh anggota


Anti Tallulah yang berjumlah 2000an orang. Hampir setiap hari mereka membahas


keberhasilan supermodel tersebut, terlebih jika Tallulah mengunggah kebersamaannya dengan Jace. Para anti fans tersebut ibarat cacing kepanasan, mengeluarkan sumpah serapah dan doa-doa jelek menimpa Tallulah.


Sebenarnya Iris tidak ingin masuk ke situs terselubung itu, namun temannya mengajaknya. Dan sekarang sedikit banyak ia terpengaruh dengan percakapan sambung menyambung membahas seorang Tallulah. Sungguh, tiada


habisnya.


Iris yang notabene memiliki seorang suami, dan sedang mengandung memiliki harapan besar akan perpisahan Jace dengan Tallulah. Ya, Iris


terpengaruh kepada teman-temannya. Terkadang Iris ingin berhenti membaca pembicaraan teman-temannya, namun pemberitahuan notifikasi yang membuatnya terburu menekan layar ponsel.


Ia tahu ini sangat salah dengan perbuatannya, tapi di sisi lain hatinya patah melihat Jace dengan Tallulah. Walau terkadang sang designer tersebut


memberikan “love” di setiap postingan Iris. Dan itu berlaku tidak sebaliknya.


“Amore.” Panggil Giulio menyadarkan Iris dari lamunan singkatnya.


“Ya.” Singkat Iris.


“Kau tidak menjawab perkataanku yang tadi. Kenapa kau tidak menghubungi Jace? Katakan padanya jika kau mengirimkan permohonan magang, agardia bisa menyetujuinya dengan langsung, Amore.” Saran Giulio ditanggapi gelengan lemah dari Iris.


“Tidak, aku tidak mau menggunakan jalur seperti itu. Darling, aku akan sangat malu andai Jace tidak mengubris permintaanku. Kami tidak


seakrab dulu lagi, mungkin dia telah melupakan diriku.” Iris mendesah lemah. Ingatannya


melayang pada pertemuan-pertemuan hangat mereka.


“Tentu saja dia mengingatmu, Amore.” Hibur Giulio melepaskan dekapan tangannya. Ia membaringkan kepala pada bantal, membiarkan Iris yang sepertinya masih betah dengan ponselnya.


Iris menoleh memerhatikan wajah suaminya yang ditumbuhi bulu maskulin, tampan bak dewa, penuh pengertian dan perhatian. Karena semua itu, Iris jatuh cinta kepada Giulio. Tapi di dunia mana ada seorang anak manusia yang puas


dengan kehidupannya. Karena sudah sifatnya seorang manusia memiliki rasa ketamakan, selalu menginginkan sesuatu yang lebih. Sesuatu yang tidak bisa digapai, sesuatu diharapkan secara


berlebihan yang terkadang merusak konsentrasi bahkan tatanan hati.


“Menurutmu begitu?” erang Iris tidak percaya diri.


Giulio mengangguk dan masih memejamkan matanya yang berwarna biru tersebut.


“Kau susah untuk dilupakan, Amore. Kau sangat cantik, riang dan ramah. Aku terpesona pada pertemuan pertama kita, aku masih mengingat jelas raut wajahmu yang bersahabat bahkan tahu jika kita dijodohkan secara paksa. Kau


mengajakku mengobrol banyak, kau memiliki wawasan yang luas, cara penyampaianmu sangat menarik terhadap sebuah cerita. Aku betah berbincang denganmu, tahu tidak jika 4 dari 10 pria menyukai wanita yang bisa di ajak berbicara panjang lebar.”


Iris ikut berbaring di sebelah Giulio. Spontan sang pria merengkuhnya dengan lembut.


“Terus yang 6 lainnya menyukai wanita seperti apa?” tanya Iris.


Giulio menahan tawa “Mereka yang menyukai wanita bertubuh seksi, memiliki tungkai panjang, dada yang berisi, pinggang ramping, dan sorot


mata yang menggoda. Seperti para angel di Victoria.” Sahutnya tanpa beban.


Iris menggeram, perkataan suaminya seakan menjurus kepada satu sosok yang tidak disukainya, yakni Tallulah Bluebells.



“Booooo.” Teriak Tallulah dari dapur. Sorot matanya mengarah ke atas, lantai dua apartemen yang menjadi tempat tinggal Tallulah selama


delapan bulan terakhir.


Tallulah meletakkan gelas berisi minuman berkalsium di atas meja makan dan bergegas naik ke kamar tidur. Gadis cantik menggeleng saat


melihat tubuh kekasihnya masih betah bergelung di atas tempat tidur.


“Booo.” Tallulah menggoyangkan tubuh Jace dengan pelan.


Pria bersurai coklat itu menggeram.


“Booo.” Panggil Tallulah sekali lagi.


Jace membuka matanya sedikit diiringi senyuman manis “Ya, Sweety Pie.”sahutnya mengambil jemari tangan Tallulah.


Bibir penuh dan seksi itu cemberut “Katanya ingin melihatku membuat sarapan, sampai makanannya di meja dan orang itu tidak turun ke bawah.” Rajuk manja Tallulah.


Senyuman Jace semakin lebar, ia menarik tangan Tallulah untuk duduk di tempat tidur. Tallulah melawan, jangan salah dibalik tubuh indah


gadis itu, dia memiliki kekuatan yang besar. Mungkin karena terbiasa menyeret Jace untuk bangun atau beranjak dari ruangan kerja.


Pemilik surai coklat berantakan tergelak tawa bahagia melihat mimik Tallulah yang cemberut. Kepala Jace menggeleng mengumpulkan


fokus, tubuhnya telah berdiri walau tidak sempurna. Ada dua tangan memeluknya,


menahan dan menunggu kesadaran Jace kembali dengan sepenuhnya.


Sepasang mata indah memandang Jace, lesung pipinya berbekas sangat dalam saat mengurai senyuman. Jace terpukau, ia kemudian membalas


pelukan kekasihnya.


“Maafkan aku, Sweety Pie.” Ucap Jace mencium puncak kepala Tallulah, supermodel yang diidolakan banyak orang kini wanginya bercampur


dengan wangi dapur. Jace sangat menyukainya.


Di luar sana banyak yang tergila pada sosok indah raga Tallulah, tapi bukan itu yang membuat Jace semakin menyayangi kekasihnya. UsiaTallulah terbilang masih belia, namun kenyataannya ia gadis yang sangat dewasa dalam pola pikir.


Jace berusia 33 tahun, jarak umur 9 tahun di atas Tallulah tapi tidak membuat gadis itu tidak bertumpu kepadanya.


Tallulah menolak kartu platinum pemberian Jace, kata gadis itu jika dia belum membutuhkan bantuan dana. Tapi kebiasaan Tallulah yang lebih


menyukai transaksi dengan kartu, membuat Jace mengambil kesempatan tersebut dengan sering mengisi dompet kekasihnya dengan uang tunai. Jace menjadikan Tallulah sebagai orang pertama yang memakai setiap koleksi terbaru The Alstrom, yah mungkin sebuah tanda balasan atas kasih sayang gadis itu kepadanya.


Tallulah mengurus Jace, segala macamnya. Dari hal besar hingga terkecil yang terlupakan oleh Jace. Bahkan ketika Tallulah berada di luar


negeri, kekasihnya tetap setia mengingatkan jadwal rutin Jace.


“Boo, ayo sarapan.” Tallulah menangkup rahang Jace. Kekasihnya mengangguk.


“Setelah itu kita keluar berkencan.” Ujar Jace seraya mengurai pelukan dan menggenggam jemari Tallulah.


Senyum Tallulah mengembang dengan wajah merona.


“Aku ingin makan di One if by Land, Two if by Sea.” Pinta Tallulah dengan suara pelan.


Jace melirik semari tersenyum.


“Kemanapun kau inginkan, Sweety Pie.”


Tallulah menggigit bibir bawahnya, hatinya acapkali meledak akan perkataan indah dari bibir Jace. Termasuk saat mengiyakan permintaan Tallulah. Perlu di catat, jika semua yang ada pada diri Jace adalah anugerah bagi hidup Tallulah. Tak terkecuali.


“Nonton?” Tallulah meminta, berhubung keduanya sedang libur. Dan momen kebersamaan mereka menjadi sedikit berkurang karena masing-masing


memiliki kesibukan yang padat.


“Ide yang bagus. Kita menonton film terus makan di restoran One Two by Sea.” Jawab Jace sambil


menapaki tangga apartemennya.


Tallulah tertawa “One if by Land, Two if by Sea Restaurant, Boo.” Ralatnya.


Bibir Jace dimajukan dan mengerling pada Tallulah yang berjalan di sampingnya.


“Nama mereka susah untuk di ingat, walau terdengar sangat romantis.”


Jace menghadiahkan sebuah kecupan di pipi Tallulah sesaat sampai di meja makan. Satu lagi yang disukai Jace, yaitu Tallulah sangat pintar


memasak. Awalnya, Jace pikir Tallulah layaknya gadis seusianya yang tidak mengenal hal masak memasak. Rupanya ia salah, gadis Alaska itu bahkan bisa diajak untuk berkemah di hutan dan mengandalkan segalanya di pundak Tallulah tanpa perlu membawa bekal.


“Apa kita akan menggunakan mobil atau grab?” tanya Tallulah duduk pada kursi yang ditarik oleh Jace untuknya.


Jace meneguk susu yang disiapkan Tallulah hingga habis, senyuman puas bertengger di bibir si gadis. Jace menggigit muffin hingga separuh, ia menoleh menatap Tallulah.


“Grab saja biar bisa memelukmu selama di jalan. Dan terima kasih atas sarapan enaknya, Sweety Pie.”


Tallulah mengangguk dan menunduk pada piringnya. Jace mengacak surai coklat Tallulah, kekasihnya kembali menaikkan kepala dan memulai menyantap ham and eggs cup -nya. Khusus pagi ini, Tallulah menyiapkan tiga menu untuk mereka. Muffin kayu manis kesukaan Jace, ham and eggs cup kesukaan Tallullah dan satu lagi smoked almond kesukaan keduanya.


“Kau selalu membuat makanan banyak.” Sambung Jace sambil mengunyah muffinnya.


“Bukan hal yang besar. Cuma mengaduk, menguleni, memotong, berdiri menunggu hingga semuanya matang. Dan kau sangat menyukai masakanku. Itu membuatku semakin bersemangat untuk memasak.” Kata Tallulah dengan riang.


Satu cup ham and eggs telah habis di piring kecilnya, Tallulah meraih gelasnya yang berisi jus strawberry milk.


Jace tersenyum simpul “Nanti ketika kau berhenti di dunia model, kita bisa memikirkan untuk membuka restoran atau mungkin sebuah bakery.” Saran Jace dengan santai. Tallulah terdiam dalam tolehan kepala menatap dalam pria di sebelahnya.


Jace menggambarkan sebuah masa depan kepada Tallulah, dan itu adalah cita-citanya ketika masih berusia lima tahun. Tatkala Tallulah mulai


belajar memasak di dapur mamanya, ia telah bermimpi setinggi langit yaitu ingin memiliki sebuah restoran di Alaska. Sementara pada saat itu, ia baru bisa membuat omelet sederhana itupun dengan bantuan mamanya.


“Aku akan berhenti di dunia model pada usia 29 tahun, Boo. Mungkin lebih, selama mereka masih membutuhkanku. Jangan ada kita, karena aku akan berusaha sendiri. Mempunyai restoran adalah cita-citaku, jadi biarkan aku


mewujudkannya.”


Jace memijat keningnya yang tidak sakit, ia membalikkan badan sedikit menatap Tallullah.


“My Sweety Pie, seharusnya kau tidak terus menerus menolakku. Aku sanggup saat ini membuatkan restoran di pusat kota New York. Atau di manapun kau mau.”


Tallulah menarik napas panjang dan membalas tatapan Jace.


“Boo, itu masih lama. Aku baru 23 tahun, masih ada enam tahun untuk mewujudkan cita-cita itu. Aku tidak tahu apakah kita masih bersama enam


tahun kemudian dari hari ini. Aku tidak bisa mengiyakan bantuanmu, karena itu akan membuatmu berjanji pada sesuatu yang tak pasti. Bagaimana seandainya kita berpisah bulan depan, atau bulan berikutnya, atau tahun depan. Kemungkinan besar kau melupakan janjimu, sementara aku tetap mengingat semua yang pernah kau janjikan. Aku ingin menagih kepada siapa? Enam tahun ke depan, kau sudah berusia 39 tahun, Boo. Kau pastinya telah menikah dan memiliki keluarga yang perlu kau prioritaskan. Dan aku tidak pernah berani bermimpi setinggi itu, menemanimu di usia itu.” tutur Tallullah dengan suara serak.


Jace meraih tubuh Tallulah dan mengecup puncak kepalanya.


“Ingatkan aku pada usia itu. Mungkin aku telah lupa karena banyak janji akan kuucapkan kepadamu.”


Tallulah menggeleng dalam dekapan. Ia mendongak menatap setiap inchi ketampanan wajah Jace yang menghangatkan hatinya.


“Jangan, Boo. Aku tidak mau. Biarkan kita nikmati masa-masa ini dengan baik, dan jika semua telah berakhir hanya indah yang dikenang, bukan banyaknya janji yang diingkari.”


###





alo kesayangan💕,


ak Up nih Senin sore


gak tau apakah sistem MT dh bagus


or masih lemot..


terima kasih tetap setia menanti❤


Love,


D😘