
Tallulah terlihat kebingungan di etalase bagian kran wastafel. Ia menatap satu persatu namun tidak menemukan hal yang dicarinya selama 20 menit di Watkins Store, bisa dikatakan ini ketiga kalinya Tallulah bergerak dari ujung ke ujung. Tallulah mendesah panjang, ia kecewa karena perkataan mandor yang mengerjakan rumahnya tidaklah benar. Ya, Mr. Smith mengatakan jika Tallulah menginginkan sebuah kran klasik berwarna kuningan, ia bisa menemukannya di Watkins. Sebenarnya dapur impian Tallulah telah selesai, namun tiba-tiba saja ia mendapatkan ide untuk mengganti kran silver dengan kran bermodel klasik setelah menonton acara renovasi rumah di channel HGTV.
Seharusnya Tallulah mencari kran tersebut di situs online shop dibandingkan harus ke pusat kota tanpa pengawalan papanya. Beberapa orang terlihat mengenali Tallulah dan sedang mencuri-curi pandang, syukurlah hanya sebatas itu. Kejadian akan berbeda jika Tallulah ke suatu tempat di kota New York yang tak lepas dari kamera para paparazzi dan orang yang memujanya. Di Nebraska, Tallulah lebih leluasa kemana-mana walau sebenarnya ia lebih menyukai segala sesuatunya telah disiapkan oleh kedua orang tuanya. Di hitung satu jemari ia keluar hanya untuk makan bersama dengan keluarganya di sebuah restoran di kota tersebut. Tallulah lebih senang menghabiskan waktu di kediaman barunya.
"Apa yang kau cari, Miss Bluebells?" tegur seorang pria bersuara bariton.
Tallulah tersentak kaget menatap pria berwajah rupawan, rambutnya ikal, alis hitam tebal, matanya indah menatap teduh. "Oh.. aku mencari kran berbahan kuningan untuk dapur." jawab Tallulah gagap. Sangat jelas Tallulah terlihat salah tingkah, ia hampir menjatuhkan satu kran yang berada di pajangan.
"Kedatanganmu di store membuat pegawai ramai." tukas pria bermata teduh itu, suaranya bariton dalam dan bijaksana, pun ramah.
"Pegawai." gumam Tallulah sambil memandang wajah pria di depannya yang terlihat tersenyum tipis.
"Ya, para pegawai di kantor, mereka melihatmu lewat CCTV. Perkenalkan saya Ethan."
"Tallulah Bluebells." singkat Tallulah menjabat tangan kokoh itu. "Ethan?" tanyanya ingin mengetahui nama belakang pria yang mengenakan polo shirt berwarna putih dan celana bahan berwarna hitam.
Ethan tersenyum kali ini lebih lebar dari sebelumnya. "Ethan Zane Watkins." jawabnya penuh percaya diri.
"Watkins? Kau memiliki seluruh Watkins?" ujar Tallulah yang polos dengan ekspresi takjub.
"Tidak. Hanya beberapa di bawah pengawasanku. Aku tidak sendiri, kami berlima bersaudara." jelas Ethan datar, ia sama sekali tidak bermaksud untuk memamerkan dirinya. "Apakah kau punya foto kran kuningan itu? Beberapa model masih berada di gudang, baru tiba tadi pagi."
Pengalihan pembicaraan Ethan berhasil. Tallulah sontak membuka ponsel canggihnya, dan menunjukkan barang yang dicarinya. "Ini. Apakah kalian memilikinya?"
Ethan ber 'oh' panjang kemudian menganggukkan kepala. "Tunggu sebentar." jemari telunjuknya teracung ke udara beserta seringaian manis terpampang dari bibirnya.
Tallulah menggigit bibir ketika Ethan telah berbalik. Pria itu terlihat berjalan ke arah karyawannya dan kemudian berbincang singkat.
"Tunggu, barang yang kau inginkan sedang diambilkan." kata Ethan ketika kembali ke tempatnya semula.
"Kau punya?" pekik bahagia sang supermodel. Ia seperti mendapatkan harta karun yang sangat berharga di tengah Watkins Store.
"Ya. Apakah adalagi yang kau butuhkan, Miss Bluebells?" tawar Ethan dengan ramah. "Selagi kau ada di sini."
Tallulah menghela napas panjang kemudian menatap kembali wajah dewa penolongnya. "Tidak ada, hanya itu. Kebetulan papa pergi memancing dengan teman-temannya, jadi harus aku yang pergi ke kota mencari hal seperti ini."
"Aku mendengar berita jika supermodel Tallulah Bluebells sedang membangun sebuah rumah di pinggiran kota. Dan beberapa kali kami mendapatkan orderan barang dari Mr. Smith. Dia sangat terkenal di Watkins, jadi kami tahu jika seorabg pesohor akan menjadi warga Nebraska." celoteh Ethan akrab.
"Apakah kau tinggal di kota ini? Nebraska? Kenapa harus kota ini?" tanya Tallulah.
"Kau sendiri kenapa memilih Nebraska?" tanya balik Ethan sambil terkekeh ringan. "Mari kita berbincang di ruang tunggu." sambungnya mengarahkan Tallulah untuk berjalan ke depan.
"Orang tuaku tinggal di sini. Aku pernah menghabiskan masa sekolah di Nebraska. Berbeda denganmu yang memiliki empat saudara, aku adalah anak tunggal. Aku ingin tinggal dekat dengan orang tuaku." jelas Tallulah.
"Aku sangat suka dengan mendaki, dan di Nebraska ini banyak tempat untuk itu. Aku tidak begitu cocok tinggal di kota besar seperti New York, sangat bising dan padat." terang Ethan seraya membukakan pintu ruang tunggu VIP.
Tallulah menerima tawaran pria rupawan dan baik hati tersebut, ia melenggang santai ketika memasuki ruangan yang seperti sebuah kafe eksklusif. Di dalam ruangan 40 meter persegi tersebut terdapat sebuah mini bar dan dua orang pegawai yang menyambut Ethan dengan senyuman sangat manis.
Tallulah sangat tahu makna senyuman pegawai wanita tersebut, tentu saja memuja sang pimpinan Watkins. Jika dipikirkan, wanita siapa yang tidak bergerak hatinya melihat sosok seorang Ethan yang sempurna, terlebih pria itu tidak mengenakan sebuah cincin di jemari tangannya. Sepertinya pria itu masih bujang.
"Apakah kau menyukai berolahraga di luar, Miss Bluebells?" tanya Ethan setelah memberi kode kepada pegawai wanita itu untuk membawakan minuman.
"Kesibukan membuatku harus berolahraga di gym, aku tidak memiliki kesempatan untuk melakukan olahraga di luar ruangan seperti mendaki atau hal lainnya. Oh iya, berenang, aku menyukainya karena tidak perlu jauh, terkadang di hotel dan sekarang aku memiliki sebuah kolam renang di Nebraska. Kau sendiri sudah berapa lama menetap di kota ini, Mr. Watkins?"
"Please panggil aku Ethan."
Tallulah tergelak tawa singkat. "Kau sendiri memanggilku dengan Miss Bluebells."
Bola mata biru Ethan melebar, alis hitamnya terangkat. "Jadi aku harus memanggilmu dengan apa, Nona Cantik? Ya, agar kita lebih akrab. Aku berharap kita bisa mengenal lebih jauh atau mungkin kau akan menerima ajakan untuk menemaniku ke beberapa pesta di kota ini. Hanya berharap, tidak ada yang salah dengan itu, bukan?"
Pesona Ethan tidak bisa ditolak. Dia adalah pria dewasa, sopan dan sangat ramah. Tallulah sekilas menunduk kemudian mengembangkan senyuman manis. "Lula. Keluargaku memanggilku dengan sebutan nama itu."
...
Senyuman mengembang indah dari wanita bersurai putih ketika melihat sosok Jace, pun kemudian wanita itu berlari menyambut kehadirannya. "Jace Von Alstrom!"
"My Baby Sky." Jace membalas sorakan wanita yang berhambur ke dalam pelukannya.
"Terima kasih sudah datang." sepasang manik berwarna biru langit berkaca-kaca ketika memandang wajah Jace.
"Waktu cepat berlalu, Nada kini berusia 9 tahun." Jace mengarahkan pandangan kepada gadis cantik mengenakan gaun mengembang berwarna biru.
"Ya. Dia sudah sebesar itu, Jace." Sky tersenyum menatap anak sulungnya yang berdiri di samping adik-adiknya. "Aku sudah katakan jika kau tidak perlu memberikannya kado."
"Ini hal kecil, Nyonya Yu. Setelah sekian lama akhirnya aku bisa menghadiri ulang tahun Nada." sanggahnya menyerahkan bungkusan persegi di tangannya kepada Sky.
"Nanti. Serahkan langsung kepadanya. Pasti Nada akan sangat senang bertemu dengan Uncle Jace. Lihat dia sibuk dengan teman-temannya. Kita mengobrol saja." Sky menarik tangan Jace menuju meja kosong.
"Rumah ini sangat nyaman." sanjung Jace mengerahkan pandangan ke halaman luas bernuansa hijau oleh pepohonan dan rumput terpotong rapi.
"Astaga, Jace. Kau bertingkah seperti pertama kali kesini. Bukankah dulu kau pernah berkunjung." seru Sky memukul pelan lengan designer top tersebut.
Jace tergelak tawa ringan. "Maksudku belum seperti ini."
Sky mengangguk mengiyakan perkataan sahabatnya. "Ya, jika dibandingkan dengan 6 tahun lalu." gumamnya. "Aku merasa tersanjung dengan kehadiranmu di Hollywood. Apakah kau berkeinginan untuk bergabung dengan orang-orang ternama dengan tinggal di kota ini, Jace?"
Pria tampan bergigi kelinci itu tertawa tanpa suara seraya menggelengkan kepala. "Hanya mengecek store kami, sekaligus berkunjung ke sini."
"Sendiri?" selidik Sky sambil menyipitkan manik birunya.
"Iya." jawab Jace menautkan alis. "Ada apa?"
Sky memberenggut kemudian mengeluarkan desahan panjang. "Kau masih sendiri? Bagaimana hubunganmu dengan Tallulah? Apakah benar kalian tidak bisa kembali bersama? Dia gadis yang sangat cantik, Jace. Kau menyia-yiakan. Apa yang terjadi sebenarnya, tolong ceritakan kepadaku."
Jace membelalak karena berondong pertanyaan wanita cantik yang merupakan sahabatnya. "Tuhan, Babe. Apa yang harus aku jelaskan kepadamu."
"Semuanya!" desak Sky yang kini terlihat sangat serius. Ia mendekap kedua tangannya di dada.
"Mulai dari mana?" Jace menyerah. Ia menghela napas pasrah.
"Aku tahu kalian bertunangan kemudian berpisah. Apa yang menyebabkan perpisahan itu? Terus setelah kalian berpisah kau sama sekali tidak berkencan lagi. Kau terlihat masih berharap kepada Tallulah, Jace."
"Tuhan, Babe." Jace mengerang lirih sambil menggeleng.
Kedua manik abu Jace membola. "Baiklah, hanya sekali ini saja."
Selama 40 menit kemudian Jace tak henti berbicara, Sky mendengarkan setiap perkataan designer terkenal itu. Curahan hati Jace diiringi lagu klasik yang merupakan kesukaan Serenade, beberapa kali terdengar pekikan riang dan bahagia dari sekumpulan gadis dan anak lelaki sebaya dengan si gadis cantik yang sedang berulang tahun.
"Kau sangat mencintainya." Sky menimpali ketika curahan hati Jace telah berakhir.
"Ya, aku sangat mencintainya. Aku sangat bodoh, Babe. Selama bersama aku sangat jarang mengatakan 'aku mencintainya'. Sementara Tallulah memberikan segalanya tanpa pamrih." cetus Jace.
"Berusahalah untuk mendapatkannya lagi, dia masih sendiri bukan?"
"Sepertinya. Tapi entah mengapa meluluhkan hatinya kembali lebih susah dibandingkan yang pertama." jawab Jace.
"Usahamu belum maksimal, Jace. Dan biasanya wanita lebih susah dimenangkan hatinya setelah dia terluka. Rasa tidak percaya membuka hati itu sangat besar, kami takut terluka lagi."
"Mungkin hanya aku yang masih mencintainya, sementara Tallulah menunggu pria yang tepat." desah Jace kehilangan rasa percaya diri. Ya, hanya berkaitan dengan hati ia merasakan hal tersebut. Tidak percaya diri.
Sky meninju pelan lengan berlatih Jace. "Ini bukan pria yang kukenal belasan tahun lalu. Kau adalah pria pertamanya, Jace. Tidak semudah itu melupakan cinta dan sentuhan pertama bagi seorang wanita. Jika perasaan Tallulah tidak seperti saat kalian bersama, buat dia jatuh cinta lagi. Buat Tallulah merasakan ketulusan hatimu."
Jace menangkup wajahnya sekaligus memijat matanya yang lelah. "Harus mulai dari mana, Babe? Aku sama sekali buta arah mengenai Tallulah. Dia dikelilingi banyak pria yang sebaya dengannya, model-model itu."
"Bukankah kau juga dikelilingi para pemujamu, Tuan Alstrom? Semua gadis ingin berkencan dengan pemilik The Alstrom yang sempurna. Bahkan wanita yang telah bersuami mengejarmu, terbukti dengan kenekatan seorang Iris. Tidak, aku tidak akan pernah bekerja sama dengannya." tandas Sky dengan wajah sengit.
Jace mendengus geli, ia tersenyum miring. "Aku juga telah memutus hubungan dengannya, Babe. Aku tidak peduli dengan kabarnya yang seringkali Jacob jabarkan. Aku sungguh tidak peduli."
"Lupakan wanita seperti itu, tidak ada gunanya. Sekarang fokusmu kepada Tallulah. Menangkan dia, Jace. Apakah kalian saling berkabar lewat pesan atau telepon?" Sky berbicara dengan menggebu-gebu. Ia sangat bersemangat menjodohkan Jace dengan Tallulah.
"Tidak, aku takut."
"Astaga, Tuan Jace Von Alstrom! Kemarikan ponselmu!" Sky menghardik sahabatnya. Pria yang memiliki perusahaan beromzet ratusan juta dollar setahun itu hanya pasrah mengulurkan ponselnya.
Sky serta merta mencari nama Tallulah di kontak ponsel Jace. Hanya sebuah kerlingan sekilas ke arah Jace kemudian Sky menekan layar dan menyambungkan panggilan suara kepada gadis yang menjadi bahan perbincangan mereka.
"Bicaralah." Sky menyodorkan ponsel tersebut kembali ke pemiliknya.
Jace sontak berdiri, menjauh dari tempat Sky duduk. Jace menatap sejenak layar ponselnya yang masih menyambungkan panggilan suara ke Tallulah.
Pria tampan bertubuh jangkung mengenakan pakaian buatannya sendiri terlihat merapatkan benda canggih berwarna hitam di telinga. Jantung Jace berdegup kencang, mulutnya mendadak kering.
Halo.. suara lembut menyapa Jace.
"Tallulah, apa kabar?" tanya Jace dengan dada yang mendadak sesak. Ia seperti remaja berusia 16 tahun yang sedang menelepon gadis yang paling cantik di sekolah, gadis yang merupakan incaran se-antero sekolah.
Ada jeda panjang di ujung panggilan, suara musik bersaing dengan pesta Serenade dan di tempat Tallulah.
Aku baik, Mr. Alstrom. Jawaban singkat dan datar membuat Jace menghela napas kecewa. Bukan itu yang diinginkannya.
"Kau di mana? Paris? Milan?" Jace berusaha mencari bahan pembicaraan sementara sahabatnya sedang memandang penuh harap terjadi sebuah keajaiban lewat satu panggilan telepon.
Nebraska. Saat kita bertemu di pesta Russel, aku tidak sempat mengatakan jika sedang merenovasi sebuah rumah untuk menjadi tempat tinggalku, Mr. Alstrom.
"Ohh.. aku tidak pernah tahu di mana kau tinggal, Tallulah." Jace mengerang bersamaan dengan penyesalan sangat mendalam menerpa hatinya.
Tidak apa-apa, Mr. Alstrom. Tidak ada kewajiban untukmu tahu keadaanku. Tapi, sekarang kau sudah mengetahuinya. Itu sudah cukup.
Jace menarik napas dengan cepat, perkataan Tallulah seperti sembilu menyayat dadanya. "Oh, aku tidak.." suaranya bahkan sekarang hilang.
Lula, ini minumanmu. Cantik, kau sedang menelepon siapa?
Suara bariton lembut terdengar jelas di telepon. Bibir Jace menganga, bola matanya berkedip seiring lonjakan debaran jantungnya lebih kencang. "Siapa itu, Tallulah?"
Oh ini Ethan.
Jace menjatuhkan tangan yang memegang ponsel usai mendengar jawaban Tallulah, kepalanya menggeleng ketika menatap Sky. Bibirnya yang kering menyunggingkan sebuah senyuman getir. Hatinya sakit, begitupun dengan kepalanya.
Tak lama kemudian ia tertawa miris. "Jadi seperti ini rasanya mencintai seseorang yang telah melanjutkan hidupnya."
###
alo kesayangan💕,
aku kembali setelah didera pertanyaan "Jace kapan update? kapan author balik nulis, eksis lagi?".
kalian menunggu yah?
aku selalu tidak percaya diri jika ada yang menunggu update novel,, wkwkwk..
kalian mgkn sudah lupa jalan cerita novel2ku..
d baca ulang yah, Ladies..
janji, aku akan konsisten menulis🥰.
terakhir, buat kalian yang sedang unwell.. cepet sembuh, khususnya yang sedang isoman Tama, kuat dan strong, Tam!
Kakakku juga di Sidoarjo yang nano2 sakitnya.
Nisaul, Uji..
semuanya sehat yakk..
love,
D😘