JACE

JACE
Haarlem City



"Aku tidak tahu jika kau menyukai Tallulah." celetuk Aubrey ketika mereka di dalam mobil, ia kesal ketika Aaron menariknya keluar dari pesta dengan cara paksa. Sementara saat itu ia sedang berbicara dengan Nico Comer bersama teman Jace yang lain.


Aaron menyilangkan tangan di dada, beberapa kali terdengar helaan napas berat keluar dari hidungnya yang mancung.


"Apakah ini berarti kencan kita juga berakhir?" Aubrey terus bersuara. Ia tidak menyukai sifat pendiam Aaron berbanding terbalik ketika mereka bersiap diri untuk ke pesta. Aaron masih sempat menciumnya, kembali memancing gairah primitif yang dimiliki oleh Aubrey.


Aaron menoleh dan menatap Aubrey. "Aku ingin kembali ke New York malam ini." putusnya.


Aubrey berdecih sambil memutar matanya. "Rupanya kau kecewa." ledek wanita bersurai hitam lurus sambil memalingkan kepala. Kini Aubrey hanya memandang lurus ke depan, punggung sopir yang mendengar pembicaraan mereka dengan cuma-cuma.


"Ya. aku kecewa!" nada suara Aaron naik hingga membuat Aubrey tersentak kaget.


"Hei, redakan emosimu. Aku bukan Tallulah, aku tidak punya salah apapun di sini. Harusnya kau berterima kasih kepadaku karena memberimu kesempatan ke pesta mereka." Aubrey membela diri.


"Aku tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan seperti itu dari Lula. Dia bukan seperti yang aku kenal di Nebraska. Semua berubah sejak pria itu datang." gerutu Aaron.


"Jadi seperti itu? Tadinya aku berpikir kau adalah teman dari Mr. Alstrom, aku lupa jika Tallulah berasal dari Nebraska." timpal Aubrey sekenanya. Aubrey kehilangan minat untuk berhubungan lebih jauh dengan Aaron. Sudah cukup dengan percintaan mereka yang terjadi kemarin malam hingga tadi siang. Mengingat hal tersebut, Aubrey menelan saliva bersamaan dengan dengusan kasar keluar dari hidungnya.


"Ya, karena temanmu itu. Sebelum dia datang Lula bersikap lembut kepadaku, bahkan menerima undangan pesta dari teman-teman kami. Sedikit lagi aku bisa mengajaknya berkencan." Aaron lanjut menggerutu.


Aubrey merutuki kesialannya dalam hati. Ia tidak menyangka jika Aaron memanfaatkan undangan pesta tersebut untuk bertemu dengan Tallulah Bluebells. Kemarin ketika menerima permintaan Aaron, Aubrey hanya berpikir jika pria itu tertarik dengan pesonanya. Terlebih Aaron bermulut manis menyanjung kemolekan tubuh Aubrey selama sesi percintaan mereka yang penuh gairah.


"Jace adalah temanku, aku pernah menyukainya sekarang pun masih memujanya. Kami pernah sangat dekat, dia sering berkunjung ke rumah bertemu dengan Sunday Rose, anakku. Kegilaan kita hampir sama kepada satu orang, itu dulu. Tapi, kau tidak mengenal Jace Von Alstrom. Kau merendahkannya karena menghalangi jalanmu untuk dekat dengan Tallulah." Aubrey mendengus lalu menyeringai. Kepalanya menggeleng.


"Bukan sombong, tapi aku mengenal berbagai macam pria dan Jace adalah pria terbaik yang pernah aku temui. Dia bukan tipe pria yang suka memanfaatkan kesempatan. Dia bisa dijadikan teman baik, teman bercerita berbagai hal tanpa melibatkan perasaan. Ketika mengenalnya lebih dalam, Jace adalah pribadi yang menakjubkan. Dia berbeda dengan kalian. Sangat berbeda." Aubrey membela pria pujaannya.


"Kau terdengar seperti penggemar beratnya." cemooh Aaron sembari membuka dasinya, ia kepanasan di dalam mobil bersuhu musim gugur.


Aubrey menatap Aaron dengan seksama, seakan menilai sekaligus membandingkan pria tersebut dengan Jace Von Alstrom. Fisik keduanya di angka sempurna, cara memperlakukan wanita yang berbeda.


"Ya, aku adalah fans beratnya, tepatnya tergila-gila kepada Mr. Alstrom. Semua ada waktunya, hingga aku sadar bahwa kami tidak bisa bersama, sekuat apapun aku menggodanya. Jace tidak menyukai wanita seperti diriku. Lihat, apa kurangnya? Tidak ada, bukan?" Aubrey terkekeh sementara Aaron menatap sekilas kemudian menghela napas berat.


"Kau adalah pemimpin perusahaan, Mr. Watkins. Tidak mungkin seorang yang memiliki pemahaman rendah menduduki sebuah jabatan penting, kau pasti mengerti apa yang kubicarakan. Sekarang kembali kepada dirimu, apakah ingin meneruskan kegilaanmu itu kepada Tallulah. Hanya satu pesanku, hal yang dipaksakan tidak akan pernah baik hasilnya." saran Aubrey lalu tersenyum.


"Kau boleh mengemasi pakaianmu." tambah Aubrey sambil membuka pintu mobil ketika mereka telah sampai di kediaman Aubrey.


Wanita bersurai hitam panjang itu berjalan dengan lengak-lenggok terlatih, bukan bermaksud menggoda Aaron lagi. Ia hanya ingin meninggalkan pria tersebut dengan cara yang elegan, tidak ada sedikit pun tercetus di dalam hatinya untuk mengulang kemesraan bersama dengan Aaron.


Aubrey mengembuskan napas panjang ketika mencapai pintu rumah, ia lalu melangkahkan kaki dengan gontai masuk ke dalam bukan menuju kamar tidurnya melainkan kamar Sunday Rose. Ia merindukan anak semata wayangnya, yang bisa dipastikan jika saat itu Sunday telah terlelap di dalam pelukan Simon.


Aubrey terduduk di atas tempat tidur Sunday, sambil melepaskan perhiasan di telinga dan lehernya, kemudian menaruhnya di atas meja nakas. Ia bisa mendengar suara pintu kamar tidurnya terbuka, sepertinya Aaron akan mengemasi pakaiannya.


Sekali lagi Aubrey menghela napas panjang. Ia merasa rendah dan lelah dengan hidup yang selama ini dijalaninya.


"Ini harus berakhir." gumamnya sembari membaringkan tubuh.


...


Tallulah membalikkan badan ke belakang ketika telapak kakinya menginjak di atas pasir putih nan halus. "Ini sungguh menyenangkan, Boo!" teriaknya senang.


Jace tersenyum menanggapi teriakan tunangannya yang bertingkah seperti anak kecil, Talulah berlari menuju ombak kecil yang menyapu bibir pantai. Jace merasa bersalah kepada Tallulah karena ia mengundang Aubrey ke pesta pertunangan mereka. Tallulah bersikap aneh setelah pesta hingga dua hari berikutnya.


Selama itu, yang Jace lihat tunangan cantiknya berubah menjadi wanita pendiam dan tertutup. Tallulah enggan membahas cenderung menyimpan masalah yang sedang dipikirkannya. Maka dengan itu Jace berinisiatif mengajak Tallulah ke Belanda, tepatnya ke Kota Haarlem, kota di mana kakek dan neneknya berasal. Walau kedua orang tua Jace menetap di Florida, Amerika Serikat, namun Jace tidak bisa melupakan akar yang tertanam di dalam tubuhnya.


Keputusan mengajak Tallulah menjauh dari Amerika adalah yang terbaik, wanita itu telah kembali menjadi dirinya semula. Riang dan penuh tawa.


"Boo, kemarilah." panggil Tallulah melambaikan tangannya.


Jace mendekat, Tallulah menarik tangannya hingga kaki Jace ikut basah dengan air laut. Syukur sebelum turun dari mobil, ia mengikuti saran Tallulah untuk ikut bertelanjang kaki.


Cup! Tallulah mendaratkan kecupan di pipi Jace.


"Aku sangat bahagia, Boo. Kota ini indah, tidak panas, tidak terlalu lembab." ujar Tallulah sambil menendang ombak hingga menciprati mini dressnya.


"Aku senang melihatmu seperti ini, Sweety Pie." Jace meremas pelan bahu Tallulah. Ia lagi-lagi tersenyum melihat kekasihnya bahagia. Bisa dikatakan sejak mereka tiba di Haarlem, perlahan mood Tallulah membaik.


"Sudah lama aku menginginkan pergi liburan seperti ini. Kau tahu jika kita sangat jarang berlibur selama bersama. Dulu kita sama-sama sibuk dengan pekerjaan." kata wanita cantik berambut coklat kemerahan itu.


"Mulai sekarang kita akan berlibur kemana saja yang kau inginkan, Sweety Pie." cetus Jace.


"Kau menghiburku." canda Tallulah berdiri di depan Jace dengan wajah memelas seperti anak remaja yang merajuk.


"Aku mencintaimu, Tallulah." Jace yang terpukau melihat ekspresi supermodel itu. Perkataan indah itu spontan keluar dari bibirnya. Raut wajah Talulah memerah.


Tallulah bergerak memeluk Jace dengan cepat. Pria tenang tersebut selalu sukses membuatnya berdebar kencang. "Aku ingin kemanapun tapi bersama denganmu."


Jace membalas pelukan Tallulah, mencium puncak kepala wanita cantik di dalam dekapan. "Ya, kita bisa hidup seperti itu. Bagaimana dengan rumah di Nebraska dan memiliki peternakan?"


Tallulah menengadah sambil menggelengkan kepala. "Aku sudah berbicara dengan daddy, rumah itu bisa disewakan. Ketika di Nebraska kita menginap di rumah mum dan daddy. Aku malas berlama-lama di sana, aku tidak menyukai tinggal kota yang sama dengan penguntit seperti Aaron Watkins." papar Tallulah.


Manik abu Jace melebar. "Kau mengatakan dia penguntit." Jace tertawa.


Bibir Tallulah meruncing seksi, Jace langsung menyambarnya. Sebuah ciuman berhasil labuh di bibir Tallulah. "Boo!" rengek Tallulah manja.


"Ya, kenapa?"


"Aku serius, Aaron Watkins seorang penguntit. Aku ketakutan selama tinggal di Hamptons, apalagi mengetahui jika rumah di sebelah kita masih kosong. Walau jaraknya 300 meter tapi bisa saja si gila itu melihat gerak-gerik kita dari sana."


Jace menangkup kedua pipi Tallulah. "Kau parahnoid, Sweety Pie."


Tallulah menggeleng. "Malam itu bukan pertama kali aku bertemu dengan Aaron, sebelumnya juga pernah. Aku terpaksa memblokir nomer ponselnya karena terus-terusan mengirimkan pesan yang tidak penting. Namun tetap saja tiap hari ada panggilan tidak terjawab atau pesan dari nomer yang tidak dikenal."


"Sweety Pie!" Nada suara Jace meningkat. "Kenapa kau baru mengatakan ini?"


"Aku takut, Boo. Aku pikir bisa menanganinya dengan sendiri. Saat di pesta malam itu, aku sudah banyak mengatakan hal tidak sopan kepadanya, kau tahu jika aku bukan seorang wanita yang gampang mengeluarkan kata-kata seperti itu."


"Ya, aku tahu." Jace mengangguk dengan sorot mata yang lembut. Ia sedikit terpukul mendengar penurutan Tallulah. "Maafkan aku, tidak berada di saat itu. Aku tidak bisa melindungimu."


"Kita bisa mengganti nomer ponselmu." saran Jace.


"Ya, aku mau menggantinya. Tapi untuk sementara waktu aku lebih baik tidak mengaktifkan ponselku, semua orang seperti daddy, mom bisa menanyakan kabarku lewat dirimu, Mr, Alstrom." lirih Tallulah terdengar pasrah.


"Br*ngsek! Aku ingin memukulnya, dia membuatmu seperti ini." emosi Jace mulai naik.


Tallulah mendekap Jace, dada pria itu naik turun tidak teratur. "Boo, kita sudah ada di Haarlem. Jauh dari Amerika, aku tidak mengunggah apapun lagi di media sosialku, tidak mengabari siapapun tentang kepergian kita ke sini kecuali mom dan dad. Kita bisa menuntutnya jika mengikuti hingga ke Belanda."


"Ya, aku akan melakukan itu." sahut Jace dengan tegas. "Aku bisa memberinya pelajaran jika berani mendekati dengan milikku."


"Milikku." suara Tallulah melemah di dalam pelukan Jace. Cukup dengan perkataan sederhana Jace mampu meredakan semua kerisauannya.



...


Tallulah mengulum senyuman ketika melihat Jace berpenampilan formal di tengah masa liburan mereka di kota Haarlem.


"Kau sangat tampan, Mr. Alstrom." puji Tallulah sambil mengamati penampilan Jace yang mengenakan jaket kulit berwarna hitam dipadu dengan celana sama, kemeja putih terkancing rapi hingga ke atas membuat Jace tampak sangat mengagumkan.


"Aku seperti dayang-dayangmu." seloroh Tallulah yang kini berdiri di belakang Jace, membandingkan gaya mereka. Tallulah mengenakan coat sepaha, di dalamnya mini dress ketat berwarna sephia membalut tubuhnya.


"Kau cantik mengenakan apapun." Jace berbalik dam menatap Tallulah lekat.


"Tapi tidak sebanding dirimu, apa aku perlu mengganti pakaianku?" Tallulah merenggut.


"Tidak perlu, boot-mu juga sempurna. Ayo!" Jace tersenyum sambil menarik tangan Tallulah untuk meninggalkan kamar hotel mereka.


"Boo, yang benar saja?"


"Iya, kau tampil sempurna. Dari satu hingga sepuluh, kau mendapatkan nilai sebelas." Jace masih menghibur Tallulah bahkan ketika mereka berada di dalam lift.


"Baiklah." Tallulah menengadah menatap wajah Jace yang tenang.


"Kita hanya keluar makan malam, Sweety Pie." hibur Jace sambil melihat jam tangannya menunjukkan pukul lima sore.


"Baiklah." sahut Tallulah dengan lantang. Kepercayaan dirinya meningkat seiring Jace mengeratkan gamitan tangannya.


"Aku tidak memanggil taksi, kita akan berjalan menuju restoran." kata Jace ketika mereka berdiri di depan hotel.


"Tidak masalah, restorannya ada di sana." Tallulah menunjuk ke depan. Mereka yang menyepakati akan makan malam di Willy's Vis, seberang Jalan Leidsevaart. Selama tiga hari di Haarlem, Willy's Vis merupakan restoran terbaik yang berada tidak jauh dari hotel mereka menginap.


"Seperti biasa, kita berolahraga sebelum menyantap banyak makanan." seloroh Jace mulai melangkah. Tentu saja Tallulah berada di sampingnya. Jace menggenggam jemari Tallulah dengan erat.


Sepanjang jalan mereka berdebat kecil tentang menu makanan yang akan di pesan. Jace sengaja tidak menyetujui saran Tallulah hanya ingin mendengar celotehan wanitanya.


"Kau tidak ingin masuk?" Jace berhenti di depan bangunan tinggi berdinding bata berwarna coklat. Ia melirik Tallulah yang terpaku dengan obyek yang sama.


"Apakah terbuka?" Tallulah bertanya dengan memelankan suaranya.


Jace mengedikkan bahu. "Tidak tahu, tidak ada salahnya kita mencoba, bukan?"


Tallulah menggigit bibirnya dan menganggukkan kepala dengan ragu. "Baiklah, sebentar saja. Aku mulai lapar."


"Ayo." Jace berjalan sembari melirik Tallulah yang tersenyum bahagia. Beberapa kali tunangannya bertanya tentang bangunan coklat yang berada di jalan yang sama dengan hotel mereka menginap.



Kriet! bunyi pintu depan bergema se-antero bangunan tua tersebut ketika Jace membukanya.


"Wah, terbuka!" Tallulah berseru senang. Ia menyempatkan diri untuk mengusap keringat di pelipis Jace. "Ada orang." sambungnya ketika menyadari mereka tidak sendiri.


Tallulah memandang ke depan, barisan kursi-kursi kosong di belakang dan hanya dua baris depan yang terisi dengan orang-orang yang berpakaian rapi.


Tallulah mengerutkan alisnya ketika mengamati orang-orang yang tidak asing menurutnya. "Boo!" pekiknya dengan menatap Jace.


"Kenapa kedua orang tua kita ada di sini?" sentak Tallulah meremas lengan Jace dengan kuat. Manik birunya semakin melebar ketika melihat pendeta mengenakan jubah putih berjalan menuju altar.


"Tuhan! beri aku jawaban, Boo." manik biru Tallulah kini berkaca-kaca. Ia menatap penuh harap kepada sang pria pemilik wajah tenang.


Jace tersenyum tipis dan mengangguk sekali. "Pertama-tama maafkan aku dengan acara mendadak ini, Tallulah. Aku tidak bisa menahan diri lebih lama." jeda Jace memegang kedua bahu Tallulah.


Ia berdeham pendek lalu mengambil udara dan mengembuskannya dengan cepat. "Ya, kita akan menikah sore ini, Nona Tallulah Bluebells."


###




alo kesayangan💕,


masih setia dengan Jace?


novel ini perlahan banyak yang baca.. thank you, guys🥳


oh yah, jangan lupa yang pengen follow di instagram di @summerrindu


aku akan sering mengunggah cast novel, atau kehidupan aku yang tersamarkan.


hahaha.


love,


D😘