
“Ya, Daddy. Ini warna yang cocok untuk dapur.” Kata Tallulah kepada papanya, Craig Getty.
Pria memiliki warna mata seperti Tallulah mengedikkan bahu sambil mengangguk. “Intinya rumahmu adalah berwarna putih bersih, Princess.” Sahut Craig tergelak tawa.
Tallulah cemberut sambil mendengus ringan, tak ayal sang papa gemas untuk menjawil pipi anak satu-satunya. “Memang kenyataannya seperti itu, kau selalu menyodorkan pilihan warna ke daddy, namun ujung-ujungnya kembali ke warna putih yang menurut daddy gampang pudar, mungkin juga kotor.”
“Tipe cat pilihan Lula adalah cat yang bisa dibersihkan, Dad. Tadinya aku ingin warna dapur berbeda, namun sepertinya akan terlihat ramai dan membosankan.” Balas Tallulah melempar tubuhnya ke sandaran sofa.
Craig terkekeh kemudian menutup buku panduan warna cat. “Ini rumahmu, Princess. Kau bebas menentukan apa yang menjadi keinginanmu, daddy dan mommy mendukung sepenuhnya apapun itu.”
Tallulah tersenyum sambil merebahkan kepala di bahu papanya. “Akhirnya aku kembali tinggal di kota ini, Dad.”
“Daddy dan mommy tidak percaya ketika kau mengatakan di telepon jika ingin mencari rumah di Nebraska. Sebuah rumah berhalaman luas agar kau bisa membuat kolam renang yang besar. Dan lihat, para pekerja di luar sedang menggali kolam renang impianmu. Princess.”
“Lula bisa bekerja sebagai model kemanapun namun nanti ketika waktu libur seperti ini, Lula akan menetap di Nebraska. Beberapa model aku lihat seperti itu, Dad. Ketika mendapatkan pekerjaan di satu kota, mereka menginap di hotel, yah dari hotel ke hotel di berbagai kota dunia. Mereka tidak menetap di New York atau di Hollywood melainkan di kota kelahiran masing-masing. So, kenapa aku tidak hidup seperti itu juga? Kehidupan kota membuatku tidak betah, Dad.”
Craig menepuk tangan anaknya pelan. “Mungkin jiwamu lebih menyukai alam bebas, Princess. Dan kami juga sangat bahagia jika kau tinggal tidak jauh dari rumah.”
“Tapi daddy dan mommy tidak ingin tinggal di sini.” Rajuk Tallulah menggoyangkan lengan papanya.
“Tidak, Princess. Daddy dan mommy-mu sangat menyukai rumah itu, kami memiliki tetangga yang hebat dan coba lihat di sini, suasananya sungguh berbeda jauh, kau tidak memiliki tetangga dekat. Maksud papa, rumah Mr. dan Mrs James berjarak 300 meter dari rumahmu. Belajarlah hidup sendiri, kau sudah 25 tahun, Princess.” Craig menghentikan perkataannya dan menatap wajah Tallulah.
Gadis berlesung pipi indah itu menggeleng berkali-kali. “No, daddy. Lula tahu arti tatapan itu. sebaiknya Daddy tidak membahasnya. Mom kemarin membahas hal yang sama.” sergah Tallulah menaikkan bibirnya sebelah berpura-pura jikalau ia sedang kesal.
Craig tidak mempedulikan permintaan anaknya. Pun pria paruh baya itu menarik napas dan mengeluarkan isi hatinya. “Sudah hampir dua tahun, Princess.”
“Aku tahu, Daddy.” Lirih Tallulah memejamkan mata.
“Bagaimana dengan Anthon? Dia baik, Princess. Beberapa kali pria muda itu menelepon dan berbicara dengan daddy. Terdengar sopan dan ya, dia mencintaimu.”
“Anthon adalah temanku, Dad. Selamanya akan begitu, jangan berpikir jika Lula tidak pernah berusaha untuk membuka hati untuknya. Aku sudah mencobanya, Daddy. Tapi tidak sama, perasaanku sangat berbeda ketika bersama dengan Jace Von Alstrom. Saat berada di dekat Jace, Lula tidak bisa mengendalikan diri, jantungku berdegup kencang, bahkan ketika melihatnya tertidur. Upss..” spontan Tallulah menutup bibirnya.
Pria dewasa di samping Tallulah seketika mengerutkan alis dan berlagak marah. “Apa? Sejauh itu kalian? Gadis kecilku sudah tidur dengan pria dewasa.”
“Maafkan aku, Daddy.”
“Tidak apa-apa, Princess. Semua sudah berlalu, yang penting kau melepaskannya atas suka sama suka. Daddy marah sekarang pun tidak akan ada gunanya, hal itu tidak akan kembali. Daddy lebih memikirkan masa depanmu, Princess.”
“Ada apa dengan masa depanku, Dad? Lula punya pekerjaan, sekarang punya rumah seperti ini. Apalagi yang kubutuhkan, pria? Seorang kekasih?”
Craig menjawab pertanyaan anak satu-satunya dengan anggukan kepala. “Kamu masih muda, Princess. Nikmati usia mudamu dengan berkencan, berbuat hal naif. Kau adalah anak satu-satu kami, kebahagiaanmu adalah yang terpenting.”
Tallulah menegakkan tubuh dan menatap lekat sang papa. Ia tersenyum manis dengan binar mata yang indah. “Lula bahagia, Dad. Sungguh! Menjalin sebuah hubungan romantis dengan Anthon atau siapapun itu bukan jalan untuk membuatku bahagia. Dan sepertinya Lula bukan seorang gadis yang naif. Lula pernah berada di berbagai pesta gila para selebriti, dan sama sekali tidak ingin melakukan hal salah yang membuat Lula bangun keesokan harinya dengan sebuah penyesalan besar. Bahkan sekadar berciuman dengan Anthon, aku tidak mau.”
“Kau masih mencintainya, pria itu.” pungkas Craig.
Tallulah sejenak terdiam lalu dengan manik sayu ia mengangguk. “Ya, Lula masih mencintainya. Dan mungkin hanya dia satu-satunya pria yang bisa membuatku seperti ini. Apapun kesalahan Jace tidak bisa membuatku membencinya. Jace terlalu sempurna, hanya satu kesalahan yang membuat Lula gelap mata dan membuat sebuah keputusan salah yaitu meninggalkannya.”
“Kejar dia kembali, Princess. Menangkan hatinya.” Bujuk Craig menyakinkan Tallulah yang sedang berkaca-kaca.
“Aku malu, Dad. Kami pernah bertemu dan dia bersama seorang wanita yang sangat seksi.”
“Apakah mereka bersama? Maksud daddy, apakah wanita itu pacar barunya? Tapi setahu papa Mr. Alstrom tidak memiliki seorang wanita setelah dirimu.” Kata Craig.
Alis indah Tallulah saling bertautan. “Apakah daddy mengikuti acara gosip?” terkanya diiringi gelak tawa yang ringan.
Craig mengangkat bahu. “Tentu saja acara gosip ditonton mamamu, dan papa berada di sampingnya. Tidak ada salahnya untuk menghubunginya lagi, ajaklah untuk bertemu ketika kau berada di New York.”
“Akan Lula pikirkan, Dad. Tapi fokus Lula sekarang adalah melihat rumah ini selesai dan beban besarku akan berkurang.”
“Apakah pernah berpikir untuk berpacaran dengan pemuda di sekitar ini, beberapa pria ada sepantaranmu dan mempunyai usaha yang bagus, wajahnya cukup tampan, Princess.” Kelakar Craig dibalas gerutuan tidak jelas oleh Tallulah.
“Come on, Dad. Tidak akan ada yang bisa menyamai Jace, sedikitpun.”
…
Mata Iris nanar ketika mendapati rumah mewah Giulio yang sepi, ia telah berdiri di depan pintu sejak tadi namun tidak ada satupun orang datang membukakan pintu untuknya. Sengaja kedatangan Iris ke Italy tanpa menghubungi suaminya, ia berpikir jika Giulio selalu berada di Turin. Terlebih, pria itu beberapa kali mengatakan jika ingin bertemu dengan Verona, Iris harus kembali ke kota kelahirannya.
Tapi lihat, Giulio berbohong. Pria itu tidak ada di mansion besarnya, pun dengan Verona.
Adalah rindu yang membuncah kepada Verona yang membuat Iris meninggalkan pekerjaannya. Ia terbangun dengan isak tangis keras menjelang pagi dua malam lalu di Paris karena Iris memimpikan Verona. Segala keras hati yang selama ini ia tekan sangat kuat, bobol dalam satu malam.
Naluri seorang ibu-nya muncul, Iris merindukan Verona yang semakin pintar dan juga makin menjauh darinya. Verona kini tidak terlalu memperhatikan Iris saat mereka terhubung panggilan video. Verona tumbuh pintar dan mengerti jika Iris adalah ibu kandungnya namun hal sebatas itu saja. Tidak ada sorot cinta di mata Verona untuk Iris, itu membuat hatinya sakit.
Seketika perkataan semua orang menjadi benar adanya, perkataan-perkataan yang selama ini Iris abaikan. Ya, ia mengesampingkan Verona demi cita-citanya, dan kini Iris sudah mendapatkan impiannya. Walau levelnya masih jauh dari The Alstrom, setidaknya brand Verona sudah bisa menggelar sebuah acara fashion show tunggal untuk kalangan tersendiri. Terang saja untuk masuk di jajaran Paris Fashion Week, Verona masih membutuhkan waktu yang lebih lama.
Sekitar 10 menit kemudian ponsel Iris berdering. Dengan bibir meringis wanita cantik itu menerima panggilan suara dari si pemilik rumah.
Kau di Turin? Kalimat pertama dari Giulio bukan sebuah kata sapa yang sopan. Pria itu terdengar kaget membuat Iris berpikir keras.
“Ya, aku di teras mansionmu yang berpekarangan luas ini. Dan hebatnya tidak ada satupun pekerja atau pelayan yang menjaga kediamanmu.” Sungut Iris sambil berdiri dari kursi empuk di beranda milik Giulio.
Para pelayan dan pekerja mengambil hari liburnya bersamaan, Eloisa bagian dapur sedang berulang tahun dan mereka semua ke kota menghabiskan hari dengan bersenang-senang.
“Di mana Verona?” tanya Iris dengan nada datar, ia berusaha menutupi perasaan rindunya kepada putri kecilnya.
Bersama dengan Franca. Giulio menyahut dengan cepat.
“Uh! Siapa Franca?” perkataan Iris lebih terdengar pekikan.
Giulio menghela napas panjang dan tenang, berbeda dengan Iris yang kini mendadak resah gelisah.
Iris.. sekarang aku dekat dengan Franca Bertini. Dia hanya seorang gadis biasa, aku mengenalnya di sebuah pesta teman sekolah.
Dada Iris mendidih mendengar penuturan tenang Giulio. “Kalian berpacaran? Apakah sudah sampai bercinta? Kau gila, Tuan Celi! Aku masih istrimu!” teriak wanita bersurai hitam melengking bersamaan ia menendang pot bunga yang berada di beranda hingga isinya terburai.
Giulio terkekeh keras yang membuat amarah Iris mencapai ubun-ubun.
Secara hukum pernikahan kita masih terdaftar, Iris. Namun peranmu sebagai istri tidak ada sedikitpun selama hampir 2 tahun belakangan. Aku baru dekat dengan Franca 3 bulan terakhir, urusan **** sebaiknya tidak kita bicarakan lewat telepon. Aku akan pulang, kami sedang di restoran makan bertiga. Franca sedang menemani Verona ke kamar kecil.
Tangan kiri Iris mengepal dan rahangnya mengeras. “Aku tidak ingin anakku diurus oleh kekasihmu!”
…
Tallulah meremas jemari tangan Ellis ketika melihat sosok tinggi berpakaian sangat rapi dan tubuh tinggi sempurna berjalan masuk ke dalam ruangan pesta. Untungnya Jace tidak serta merta mendapati kehadiran Tallulah yang menepi di pinggir ruangan. Tempatnya cukup remang-remang, dan Jace terlihat asyik berbincang dengan si penyelenggara pesta. Pria berusia 50an tahun tersebut adalah kalangan atas yang suka menggelar pesta megah dan mengundang para koleganya, termasuk model-model cantik papan atas.
“Aku tidak percaya jika Mr. Alstrom menghadiri pesta seorang Russel Wilson.” Bisik Ellis memerhatikan obyek yang sama.
“Bagaimana ini?” tanya Tallulah yang berdebar kencang melihat pria yang teramat sangat ia rindukan.
“Bagaimana apanya, Love? Bukannya kau masih menyukai Mr. Alstrom. Mendekatlah ke sana dan sapa dia sebelum wanita lain mengambilnya di depan matamu. Coba lihat wanita-wanita itu, bahkan teman kita pun memiliki ketertarikan kepada Mr. Alstrom.” kata Ellis melirik teman sesama modelnya, Tallulah mengikuti arah pandangan temannya.
Ellis benar, para gadis bertubuh tinggi dengan wajah menarik tidak menutupi ketertarikannya pada sosok Jace.
“Itu hak mereka untuk tertarik.” Ujar Tallulah pasrah. Ia sadar jika Jace bukan miliknya lagi, pria itu bebas diburu dan dikencani oleh siapapun.
Ellis menggeram tepat di telinga Tallulah. “Pria itu pernah menjadi tunanganmu, My Love. Jangan berkecil hati seperti itu. Walau Mr. Alstrom pernah kedapatan oleh paparazzi jalan bersama dengan wanita lain, tapi mantan tunanganmu tidak menjalin hubungan dengan wanita manapun. So, besar peluang dirimu bisa kembali dengan Mr. Alstrom.”
Tallulah mendesah sambil menatap Jace yang sangat tampan dan berwibawa. Sosoknya yang tenang sesekali terlihat tertawa dan menampakkan barisan giginya.
Dag dig deg, jantung Tallulah berdebar keras. Ia merindu dan berharap menghampiri Jace namun di saat yang sama, Tallulah juga tidak percaya diri untuk memulai sebuah sapaan sederhana kepada pria yang pernah tinggal bersama dengannya selama lebih satu tahun.
Kembali Ellis menggoyangkan tubuh Tallulah dengan sikutan kuat. “Ayohlah.” Suara teman Tallulah agak besar sedikit lebih tinggi daripada alunan musik pop kekinian yang mengalun memenuhi ballroom pesta. Pada saat itu
juga Jace menolehkan kepalanya.
Jantung Tallulah berhenti berdetak sepersekian detik. Mereka saling berpandangan dan waktu membeku namun tidak dengan gerakan tubuh Jace yang perlahan berjalan mendekati Tallulah.
“Hai, Nona Bluebells. Senang melihatmu di sini.”
###
alo kesayangan💕,
aku kembali yahh. maaf ak baru menulis Jace, dan sudah ada minta Mersia lagi
padahal Kai blom d sentuh,
terus novel di WP jg baru 1 chapter.
hahahahaa
semoga ak bisa konsisten yah.
love,
D😘