JACE

JACE
Eiffel I'm in



“Aku lebih menyukai dirimu tanpa itu semua.” Ujar Jace memandang kekasihnya yang sedang merias diri.


Tallulah tertawa renyah dan menoleh kepada Jace yang masih betah dengan pakaian tidurnya. Pria bersurai coklat sedang duduk bersila di atas tempat tidur.


“Aku tidak mungkin keluar dari apartemen tanpa make up, Boo.”


Jace beringsut turun dan berdiri di belakang tubuh Tallulah dan menyisir surai kekasihnya dengan tangan.


“Ya, aku tahu.” Gumam pelan Jace, kini mengalungkan tangan di leher Tallulah. Ia memandang wajah kekasihnya yang berseri dan masih tersipu dengan kemesraan mereka.


“Boo, aku ingat janjimu setelah Paris Fashion Week, kita akan berliburan.” Ucap Tallulah kembali teringat pembicaraan mereka ketika di New York. Tallulah mendongak menatap Jace yang menganggukkan kepala.


“Bukannya kau yang selalu tidak bisa." celetuk Jace.


Tallulah mengembuskan napas panjang “Cuma empat hari.”


“Tidak apa-apa, Sweety Pie. Kita bisa berwisata di negara ini, nanti aku tentukan tempatnya. Kau hanya perlu membawa tubuhmu yang indah ini bersamaku, bukan?” gurau Jace mengecup pipi kekasihnya dengan perlahan. Ia tentu dia mau merusak dandanan Tallulah.


“Dan kau juga hanya perlu membawa satu badan ini bersamamu, wangimu beserta matamu yang indah.” Kata Tallulah seraya berdiri dan memeluk Jace. Pria bertubuh tinggi, padat dengan otot itu terkekeh mendengar puja-pujinya.


“Jadi cuma itu itu yang kau sukai dari diriku? Tanya Jace mencandai kekasihnya yang masih muda dan telah menjadi seorang model yang sangat laris. Tallulah hampir setiap bulannya tidak pernah absen menjadi sampul majalah fashion.


“Hmmm.. Apa yah? Yang jelas aku menyukai dirimu yang pekerja keras, kau membuat pakaian indah dan bagus untuk orang banyak. Kau memiliki wawasan yang luas, dulu aku seorang remaja yang tidak memiliki kepercayaan diri. Hingga aku melihat wawancaramu di televisi dan kau berhasil memecahkan cangkang sifat buruk itu. Dan lihat diriku sekarang.” Kata Tallullah bijak namun sosok polosnya tetap muncul ketika berbicara di depan Jace.


Tallulah memiliki image berbeda ketika berjalan di atas catwalk, kadang terlihat kaku seperti model pada umumnya dan kadang ia menggoda ketika berbicara. Ya, hanya ketika berada di rumah Tallulah menjadi diri sendiri.


“Tidak percaya diri itu bukan sifat buruk, Sweety Pie. Kau  lahir dan tumbuh di Alaska. Ketika pindah ke Nebraska, kau butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan teman-temanmu.” Terang Jace namun Tallulah terlihat tidak setuju dengan penuturannya.


“Aku punya teman di Nebraska, tapi sebelum melihat wawancaramu aku tidak pernah berpikir akan menjadi seorang model. Kau mengubahku.” Tukas Tallulah dengan yakin.


“Aku tidak bisa menang berdebat denganmu, Nona Bluebells.” Jace mengalah, terlebih perdebatan kecil di pagi hari akan merubah suasana hatinya hingga sore. Jace tipikal orang yang tidak bisa tenang jika ada masalah, atau ada yang terpikirkan olehnya.


Tallulah hanya tertawa ringan kemudian berjalan sambil bergenggaman tangan dengan Jace.


“Sampai bertemu nanti sore, atau mungkin kita bisa bertemu saat makan siang.” Kata Tallulah tetap cantik walau mengenakan pakaian casual, rambutnya diikat dengan model ponytail.


“Baiknya sore saja, setelah pekerjaan kita semua selesai. Ada berapa brand yang harus fitting hari ini denganmu, Sweety Pie?” tanya Jace ketika mencapai pintu apartemennya. Selama di Paris ia menempati bangunan berkamar 2 yang berada tepat di pusat kota.


“Hanya dua, tapi sebenarnya teman-temanku mengajak untuk makan siang bersama. Aku belum mengiyakan ajakan mereka karena tadinya ingin makan siang bersama denganmu. Maksudku, kapan lagi kita di Paris.” Gerutu Tallulah disertai desahan kecewa.


“Tallulah Bluebells, kita masih punya banyak waktu di Paris. Kita memiliki apartemen ini, kau boleh tinggal selama apapun itu, asalkan jadwal pekerjaanmu tidak padat.”


Tallulah menaikkan bahu dan tidak pula menyanggah. Model cantik itu kemudian memeluk Jace dan menikmati sisa wangi parfum bermalam milik kekasihnya.


“Selamat bekerja, Sweety Pie.” Ujar Jace mengecup puncak kepala kekasihnya.


“Kau juga, Mr. Alstrom.” Tallulah membalas kecupan di pipi Jace, sedikit bekas lipstik tertinggal pipi pria itu membuatnya terkikik.


“Dasar jahil.” Gerutu Jace seraya mencubit pipi Tallulah.


Jace menyaksikan Tallulah berjalan dan kemudian menoleh dengan wajahnya yang berseri mengirimkan sebuah ciuman jarak jauh. Jace tertawa dan membalas ciuman kekasihnya. Tallulah yang muda melompat girang kemudian


berpose menggoda sebelum akhirnya turun menggunakan tangga manual.


Jace membeli apartemen di Paris sekitar 4 tahun yang lalu, itu ia lakukan ketika bosan dengan tinggal di hotel. Awalnya, ia sempat berpikir untuk mencari hunian di pinggiran kota Paris, namun niat itu diurungkan ketika melihat view Menara Eiffel dari setiap sudut ruangan apartemen. Mungkin semua orang memiliki kecintaan tersendiri pada kota itu, terlebih pada menara yang selesai di bangun pada tahun 1889. Dari pembicaraan Iris, pun Jace akhirnya tahu jika wanita yang berstatuskan pegawai magang di kantornya juga menempati apartemen dengan pemandangan menara Eiffel. Bedanya hanya pada letak tempat tinggal mereka, Jace di sisi Timur dan Iris di sisi Utara kota Paris.



“Bagaimana?” tanya Giulio dengan sorot khawatir kepada Iris yang sedang menggendong Verona.


“Dia hanya manja pagi ini.” sahutnya sambil tersenyum.


“Biar aku gendong.” Giulio mendekat dan langsung memegang tubuh anaknya yang terkantuk-kantuk dalam pelukan sang mama.


“Sama papa, Princess.” Kata Giulio lembut mengambil alih Verona dalam dekapannya. Gadis kecil yang berada dam fase belajar berjalan itu tidak berontak malah langsung memeluk leher Giulio dengan erat.


Ketika mendengar putrinya sedang demam, Giulio tidak berpikir banyak dan langsung membatalkan semua janji kerjanya kemudian terbang dengan penerbangan tercepat ke Paris dari kota Milan. Syukurnya ketika tadi malam ia sampai di apartemen, Verona sudah mulai membaik. Tetapi Giulio tidak pernah menyesali keputusannya untuk kembali demi putri satu-satunya itu.


“Aku akan ke kantor.” Kata Iris sambil tersenyum kaku ke arah Giulio.


“Pergilah, Amore. Verona aman bersamaku dengan mama.” sahutnya sambil berjalan menuju dapur. Wangi masakan mama mertuanya membuat Giulio bergerak seiring perutnya bergemuruh karena rasa lapar.


“Verona, cucuku yang tercantik.” Seru wanita paruh baya yang sedang membagi makanan di atas piring. Clara mencoba mendapatkan perhatian dari cucunya, sayang sekali Verona terlihat betah dalam dekapan sang papa.


“Sarapan pagi ini sungguh enak, Clara.” Kata Giulio memandang menu masakan wanita yang tidak ingin dipanggil dengan sebutan mama.


“Berikan Verona kepadaku dan makanlah dengan Iris. Kau pasti lelah terbang dengan perasaan khawatir dan berjaga semalaman di kamar putri cantik ini.”


Verona yang seakan mengerti akan di ambil oleh Clara justru enggan lepas dari Giulio. Wanita berdarah separuh Asia tersebut hanya mendesah kecil sambil menggelengkan kepala dengan pasrah.


“Aku akan sarapan dan ke kantor.” Ucap Iris dengan riang.


Mata Clara menajam mendengarkan perkataan putrinya. Tanpa pikir panjang ia menarik tangan Iris menuju kamar tidur miliknya.


“Apa katamu tadi, Amor?” tanya Clara dengan sengit ketika berada di dalam kamar.


Alis Iris mengeryit dengan sikap mamanya.


“Apa maksud mama?” tanyanya penuh kebingungan.


Clara mendengus bak banteng dan matanya menyipit “Kau bilang akan ke kantor. Iris Coppole, Nyonya Celi yang terindah, putrimu sedang sakit dan kau masih berpikir untuk ke kantor? Demi Tuhan, Amor!” nada suara Clara bisa mencincang daging hingga halus namun itu tidak berlaku kepada Iris.


Clara terdiam tapi tetap memandang anaknya dengan sorot tajam “Apa yang membuatmu begitu menyukai perusahaan itu? dengar-dengar pemiliknya masih lajang dan sangat tampan.” sindirnya sambil mencari tahu jawaban dari wajah Iris.


“Mr. Jace Von Alstrom, nama pemimpin perusahan tempatku magang, ma. Dia pria yang baik dan sangat pintar. Aku belajar banyak darinya, dan aku tidak mungkin bolos bekerja sementara perusahaan sedang sibuk-sibuknya menyiapkan peragaan Paris Fashion Week.” tandas Iris dengan tegas.


Clara menggeleng tidak percaya “Anakku, sadar tidak jika dirimu hanya pegawai magang di tempat itu. mereka bahkan tidak memberimu gaji. Ingat ada Giu dan Verona membutuhkanmu.”


“Mereka menggajiku, ma. Hanya saja aku meminta gaji dalam bentuk pakaian, lumayan potongannya sangat tinggi. Ayo kita keluar dan silahkan bertanya langsung kepada Giu, dia pasti mengatakan hal yang sama. Sejak awal Giu telah berjanji mendukung kecintaanku terhadap dunia fashion, ma. Verona malah lebih senang bersama dengan Giu dibandingkan diriku.” Ujarnya sambil merangkul bahu Clara.


“Iris, berhati-hatilah dengan kenyamanan sikap suamimu. Giu seorang pria yang sangat tampan dan sukses, jika kau terlalu sering meninggalkannya demi pekerjaanmu itu, mama khawatir dia akan direbut oleh wanita lain.” Bisik Clara setajam pisau di telinga anaknya.


“Jika itu terjadi, aku akan mengejar seseorang yang aku cintai dengan sepenuh hati.” Sanggah Iris dengan ringan.


“Tutup mulutmu, Amor. Jangan pernah mengucapkan hal tabu seperti itu. Hati-hati dengan perkataanmu, bisa saja Tuhan mengabulkannya. Sekarang ada Verona, jangan ada perpisahan demi putri cantik itu.” kata Clara memelankan suaranya.


Iris kesal dan memilih diam. Sebenarnya ia masih ingin mengeluarkan pendapatnya, tapi Iris sadar jika mamanya tidak bisa di bantah. Clara memiliki segudang kata-kata sengit dan itu pula yang membuat papanya bertekuk lutut dan memilih lebih banyak diam ketika berada di rumah.


“Ingat pesan mama, setampan apapun pria yang kau temui di luar sana, Amor. Tidak akan ada yang bisa seperti Giu, belajarlah untuk lebih menghargainya dan berperan banyak sebagai istri sekaligus mama untuk Verona.” Ujar Clara yang sepertinya tidak bisa melepaskan begitu saja Iris tanpa semburan petuah-petuah yang panjang.


Iris memegang kenop pintu dan mengerling ke arah Clara “Apakah mama sangat mencintai papa?”


Kening Clara berkerut seraya menggelengkan kepala “Tuhan Yang Agung. Jangan mengungkit perjodohanmu dengan Giu, Iris. Itu akan menyakiti hati Giu, dia benar-benar tulus mencintaimu. Coba pikirkan, pria mana yang rela meninggalkan rumah mewahnya di Turin dan tinggal di apartemen kecil seperti ini? Tolong pikirkan ulang untuk kembali tinggal di negara kita, Amor. Seindah-indahnya Paris, tetap saja Turin lebih nyaman di hati.”


“Tapi mama masih saja datang berlibur ke sini.” Sergah Iris lalu memajukan bibirnya.


“Itu karena mama merindukan cucuku dan Giu mengatakan kepada mama jika dia akan ke Milan. Maka dengan itu mama berinisiatif terbang ke Paris dan menemanimu. Jika kau tidak suka, mama bisa pulang hari ini juga.” Sahut Clara tak kalah sengit dan tajam.


Iris hanya bisa mendesah pendek sambil membukakan pintu untuk mamanya.



Entah apa yang mengubah pemikiran Tallulah hingga membatalkan janji makan malam dengan Jace yang sejak tadi siang mereka bicarakan lewat pesan. Mungkin karena Jace mengatakan kepada Tallulah jika ia harus lembur hingga pukul 7 malam. Setelah memastikan semua persiapan peragaan sudah rampung hingga 100 persen secara teknis, iapun meninggalkan bangunan kantornya dengan perasaan lega.


Jace menyugar surai ke belakang sambil menghela napas ketika berada di depan pintu apartemen. Tangannya menggenggam sebuket bunga yang ia beli sebagai tanda permintaan maaf kepada kekasihnya.


Jace tahu jika Tallulah bukan tipe wanita yang gampang marah bahkan kecewa hanya karena satu janji yang ia ingkari. Tapi kali ini Jace merasa ia perlu memberikan sebuah hadiah kepada Tallulah, mengingat kesabaran dan kedewasaan kekasihnya dalam bersikap.



Jace berdecak sambil menggelengkan kepala ketika ia membuka pintu apartemen, wangi masakan menyambutnya seketika itu juga.


“Sweety Pie.” Panggil Jace separuh berteriak. Ia pun bergegas menuju dapur namun langkah kakinya berhenti ketika melewati sofa ruang tengah. Pintu balkon terbuka dan Jace melihat sosok Tallulah mengenakan gaun maxy berwarna orange.


“Selamat datang.” Tallulah berbalik dengan wajah semringah dan kemudian manik indahnya melebar ketika melihat buket bunga di tangan Jace.


“Untukku?” tanya Tallulah bergerak menghampiri pria tampan yang masih rapi dengan suitnya. Ia langsung mengambil buket bunga mawar merah dari tangan Jace.


“Untuk gadis cantik bergaun orange, yang kilaunya mengalahkan lampu Menara Eiffel. Seorang gadis yang menolak ajakan makan malamku dan rupanya pulang ke apartemen memasak untuk kita berdua. Ah Tallulah Bluebells, kau sangat sempurna. Apa jadinya hidupku tanpa dirimu?” kesah Jace sambil menarik tubuh indah kekasihnya dalam dekapan yang erat.


“Jika aku tidak ada, kau tetap pemilik The Alstrom, Boo. Kau tetap pria hebat di dunia fashion, kau tetap jadi pria terbaik yang pernah hadir di hidupku.” balas Tallulah dengan sikap tenang


yang luar biasa.


Jace malah mengeratkan dekapannya sambil melayangkan pandangan kepada menara indah yang berdiri dengan kokohnya.


“Berhentilah bersikap gamang seperti itu, Sweety Pie. Aku tidak mungkin melepaskanmu dengan mudah. Aku tidak pernah menjalani hidup seperti ini sebelumnya, terlebih banyak hal yang telah kau berikan kepadaku. Itu tidak mungkin aku sia-siakan, sehebat apapun The Alstrom di dunia. Aku akan menunggu dan terus menunggu hingga kau mengatakan iya, dan siap menemaniku di altar.”


Bibir Tallulah saling terkatup dan bergetar, matanya memburam.


“Aku mencintaimu, Jace. Maafkan aku dengan sikapku yang sangat kekanakan ini.” katanya sendu.


Jace tertawa kecil dan mengecup kening Tallulah.


“Aku selalu memaafkanmu, apapun kesalahan yang kau perbuat. Semoga saja kau bisa melakukan hal yang sama.”


Tallulah menaikkan kepala dan menatap wajah rupawan dan teduh kekasihnya.


“Iya. Aku akan selalu memaafkanmu, Mr. Alstrom yang malam ini akan makan banyak.” Gurau Tallulah seraya mengecup pipi Jace.


“Baiklah, kita mulai saja makan malam romantis kita di Paris. Semoga kita akan terus mengulangnya hingga berpuluh tahun ke depan, janji?”


###






alo kesayangan💕,


saya D ingin mengucapkan "Selamat Natal buat para readersku yang merayakan, buat Fina di Bakauheni, Lampung juga, Happy Holidays☃⛄🎄


tetap jaga kesehatan y'all❤.


love,


D😘