JACE

JACE
You May Kiss The Bride



"Ya, saya mau," Tallulah terisak mengikrarkan diri sehidup semati dengan pria yang sedang menggenggam  jemarinya dengan erat. Keduanya saling berpandangan dengan bola mata berkaca-kaca. Tallulah tidak pernah melihat manik abu Jace menjatuhkan air mata terus-menerus seperti saat ini. Bibir tipis Jace bergetar, entah berapa kali pria tampan itu berdeham pelan.


Terdengar suara pemimpin upacara melanjutkan acara pemasangan cincin. Kalimat bijak sekaligus  menyejukkan orang-orang yang berada di dalam bangunan tersebut.


"Tallulah Bluebells, terimalah cincin ini sebagai lambang kesetiaan dan cinta kasihku," ucap Jace dengan suaranya yang serak.


"Aku mencintaimu," bibir Tallulah bergerak tanpa suara dengan kepala menggeleng lemah dan tatapan terkesima.


Kadar cinta yang dirasakan Tallulah kemarin dan hari ini bertambahnya berjuta kali lipat kepada Jace. Di tengah masa liburan mereka yang Tallulah pikir hanya untuk melupakan aksi penggemar gilanya, Aaron Watkins, rupanya Jace menyiapkan sebuah kejutan yang luar biasa. Sebuah pesta pernikahan dadakan yang terencana. Semua telah disiapkan Jace tanpa ada yang tertinggal, semuanya pas tidak ada yang kurang atau lebih. Bahkan cincin yang baru dipasangkan oleh pria yang akan menemani sisa hidupnya, sesuai dengan ukurannya. Tentu saja Tallulah tidak mengenakan pakaian dari apartemen mereka ketika berada dalam gamitan sang daddy berjalan menuju altar.


Jace menyiapkan sebuah gaun putih yang sangat indah, berbahan brokat tile menutupi tangan hingga kaki. Ia harus memuji Jace setinggi langit, yang sangat tahu dengan selera Tallulah. Dari dulu ia menginginkan sebuah gaun konservatif untuk pernikahannya.


"You may kiss the bride," kata pendeta dengan lembut.


Tallulah menyaksikan dengan matanya bagaimana tatapan Jace penuh cinta, begitupun dirinya memandang pria itu. Detik berikutnya sebuah kecupan ringan mendarat di bibir Tallulah. Bukan ciuman yang penuh hasrat seperti yang sering Tallulah temukan di pesta pernikahan teman atau keluarganya. Namun jujur jika efek dari penyatuan bibir selama sedetik itu lebih hebat dibandingkan ciuman pertamanya dengan Jace.


"Kau sempurna," kata Tallulah ketika Jace mendekapnya dengan hangat. Hatinya membuncah penuh kebahagiaan, suka cita, juga terselip haru.


"Kau adalah pengantin tercantik yang pernah aku temui, dan betapa bersyukurnya aku bahwa wanita ini adalah milikku. Aku sangat mencintaimu, Tallulah Bluebells," Jace balas memuji dengan suaranya yang indah menentramkan dada.


"Jace, Tallulah," panggil orang-orang yang mengabadikan prosesi penyatuan dua insan di depan Tuhan. Keempat orang tua, beberapa keluarga, teman dekat dan Jace rupanya tak lu?a mengabari Ellis Wilder sahabat Tallulah.


"Banyak hal yang ingin kukatakan kepadamu, Tuan. Tapi nanti setelah ini," Tallulah mengulas senyuman merekah bak bunga teratai di musim hujan. Indah, mewah dan tidak terjangkau.


"Sekarang kau memilikiku dengan utuh, Sweety Pie. Seluruh waktuku adalah untukmu," Jace tersenyum lalu mengecup punggung jemari tangan Tallulah.


Kini pasangan berbahagia itu berjalan menuju keluarga mereka, pelukan hangat dan ucapan-ucapan selamat menghujani melengkapi senja indah di Haarlem City.


Satu kesempatan Tallulah bisa berduaan dengan Sadie Getty, sang mama. Keduanya bergenggaman tangan sembari duduk di barisan kursi bagian depan di dalam gereja. Sementara lainnya juga berbincang sambil berdiri, masih enggan meninggalkan tempat suci tersebut.


"Kau sangat cantik, Sayang. Melihatmu berdiri di atas altar membuatku tidak percaya jika putri kecilku telah beranjak dewasa. Jace..." potong Sadie sambil menggelengkan kepala, manik biru itu berkabut. "Dia, Jace... suamimu, sangat mencintaimu. Mama melihat sendiri bagaimana Jace memandangmu, penuh cinta. Kalian akan hidup bersama lama, seperti mum dengan daddy-mu,"


"Mum," Tallulah memeluk Sadie. "Lula tidak menyangka jika hari ini kami akan menikah. Jace hanya membicarakan hal itu saat di Hamptons. Tidak terpikirkan, kami tadinya hanya akan makan malam bersama, walau Lula sempat melihat Jace gugup. Dia bukan pria seperti itu,"


"Itu karena ini adalah momen yang sangat berarti dalam hidup Jace. Menikahi wanita yang sangat dicintainya," imbuh Sadie seakan bersorak bahagia. Ia mengarahkan pandangan ke arah Jace yang sedang berbincang dengan kedua orang tuanya, Craig sang suami juga ikut serta di dalam kelompok kecil itu.


"Lula juga sangat mencintainya, Mum," ucap Tallulah menatap ke obyek yang sama dengan Sadie. Pria yang digilai semua wanita itu kini adalah miliknya.


"Jace mengabarkan mama sekitar seminggu yang lalu, dia mengatakan tidak perlu menyiapkan apapun kecuali waktu. Lihat, gaun mama dari The Alstrom, semua orang di sini mengenakan merek yang sama. Kami ditempatkan di hotel berbintang lima. Mama dan Daddy-mu harus bersandiwara ketika kau menelepon menanyakan kabar kami," Sadie tertawa seraya mengusap lembut pipi Tallulah yang berseri-seri.


"Sebuah keberuntungan memiliki suami yang cerdik," bulu kuduk Tallulah meremang ketika menyebut kata "suami" untuk pertama kalinya. Rasa haru bahagia itu tercekat di tenggorokannya.


"Kita juga tidak memiliki banyak keluarga, Sayang. Tidak masalah melakukan pernikahan sederhana seperti ini,"


"Tidak akan pernah bisa kulupakan, Mom. Orang-orang yang hadir pun tak akan kulewatkan, semua ucapan mereka tersimpan di kepala,"


Sadie membelai surai Tallulah di sisi kanan, wanita cantik yang baru saja mendapatkan nama belakang Jace kini menjatuhkan kepala di tangan sang mama.


"Sejatinya pernikahan akan menjadi ingatan indah bagi seorang wanita. Tidak selamanya sebuah pernikahan berjalan dengan mulus, akan ada riak menggoyangkan perahu rumah tangga kalian. Jika itu terjadi, ingatlah apa yang terjadi hari ini. Maka rasa kesal akan hilang dengan sendirinya," Sadie memberikan nasehat kepada putri satu-satunya.


Tallulah menggeleng lalu mengangguk. "Lula ragu itu terjadi, Mom. Lula tidak pernah bisa kesal kepada Jace. Sesalah apapun dia, Lula tidak pernah bisa membencinya, bahkan marah pun tidak bisa,"


Sadie tersenyum hingga kelopak matanya menyipit. "Anakku, kau menemukan pria-mu. Hiduplah kalian dengan saling mempercayai, saling memahami dan saling menguatkan dalam menjalani hidup,"


"Tentu, Mom. Lula berada di tangan pria yang tepat."


...


Giulio memerhatikan Iris sedang menjalani pemeriksaan kandungan. Wanita cantik itu terlihat mengangguk mendengarkan penjelasan Dokter Jean. Kehamilan kedua membuat Iris sangat berbeda ketika Verona di kandungan. Sekarang Iris lebih gampang lelah, hingga Giulio harus mengantar istrinya menemui Dokter Jean dua kali dalam kurun waktu 10 hari terakhir.


"Sebenarnya tidak ada masalah," kata Dokter Jean. "Tolong kurangi aktifitas anda, Nyonya Celi,"


Iris menoleh menatap sedikit sengit kepada Giulio, hal itu tidak luput dari perhatian Dokter Jean. Pria paruh baya berusia 50 tahun itu tersenyum bijak.


"Memiliki anak adalah hal yang indah, bukan begitu Tuan Celi?" tanya Dokter Jean sambil berjalan kembali ke mejanya sementara Iris dibantu oleh perawat untuk turun dari hospital bed.


"Tentu saja, Dok. Verona adalah anak yang hebat melihatnya tumbuh dengan pesat dan masa-masa yang kami lewati bersama seakan terbang. Banyak hal indah dan menakjubkan melihatnya tumbuh, sekarang kami sedang menunggu adiknya, kebahagiaan kami akan berlipat ganda," jawab Giulio, ia hendak berdiri membantu istrinya namun yang ia dapatkan justru tatapan tidak bersahabat dari Iris, Giulio pun mengurungkan niatnya.


"Makanya dengan itu yang pokok dari kehidupan seorang anak yaitu memiliki orang tua yang saling mencintai. Seorang ayah dan ibu saling mengasihi, bukan saling membenci. Anak-anak tidak bisa dibohongi, mereka bisa mengerti jika orang tuanya bersandiwara. Saya yang membantu kelahiran Verona, kelak juga adiknya. Anak kalian sangat cantik, pastikan masa depannya terjamin. Saya tahu kalian sangat mampu memberikannya materi yang melimpah, tapi bukan itu yang mereka butuhkan. Perkataanku ini bisa dipahami?"


Giulio mengangguk, sementara raut wajah Iris melembut. Saat itu pula Giulio meraih jemari tangan sang istri. "Kami mengerti, kami akan berikan yang terbaik untuk Verona dan adiknya. Saya berjanji, Dok," Giulio tersenyum dan kembali menganggukkan kepala dengan penuh keyakinan.


"Nyonya Celi?" tanya Dokter Jean. Usia dan pengalaman berhadapan dengan banyak pasangan selama puluhan tahun, membuatnya paham kondisi hubungan kedua orang di depannya. Terlebih beberapa kali pemeriksaan kandungan Iris Coppole, sangat nampak jika pasangan tersebut sedang ada masalah besar.


Iris mengulum bibirnya lalu mengangguk sangat pelan "Ya, Dok," Terpaksa, Iris melakukan itu di depan Dokter Jean.


"Saya punya anak tiga, Tuan dan Nyonya Celi. Yang pertama berusia 24 tahun, kedua 20 tahun dan yang terakhir 17 tahun. Semuanya perempuan, dan sebagai orang tua kami bangga, ketiganya tumbuh dengan sangat baik. Saya tidak mungkin menceritakan prestasi mereka, tapi ingat semua kembali pada didikan dan kasih sayang orang tua,"


Nasehat Dokter Jean hanya sampai di situ, berapa menit kemudian pria paruh baya itu menjelaskan kondisi Iris dan hal yang perlu dilakukan termasuk dosis vitamin yang harus dikomsumsi oleh Iris.


"Dia menikah," tiba-tiba saja Iris bersuara, tangannya lunglai bersamaan dengan ponselnya jatuh ke bawah. Giulio panik, dengan spontan ia menepikan kendaraan di bahu jalan.


"Ada apa?" tanya Giulio sambil memegang bahu Iris.


Wanita yang lebih banyak mengajaknya adu saraf selama merek serumah kini terlihat terisak pelan, tangannya menangkup bibirnya dan tubuh tersengal. Giulio mengerutkan alis sejenak sebelum akhirnya ia mengambil ponsel Iris. Antara ingin tersenyum namun segan, Giulio hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala.


Pria pujaan istrinya menikah, dan pasangan di foto itu tampak sangat bahagia. Wajar jika Iris mendadak seperti orang kesakitan, bukan tubuh melainkan hati. Efeknya luar biasa.


Walau tahu jika Iris masih memendam rasa cinta kepada Jace Von alstrom, Giulio tetap saja meraih tubuh istrinya dan mendekapnya penuh kasih sayang.


"Ada aku, Amore. Kau punya aku," hiburnya.


...


Jace terbangun dini hari, ia tidak mendapati istrinya di sebelah. Suasana sunyi, tidak ada sosok Tallulah di dalam kamar, ia pun bergegas keluar kamar mencari wanita yang dinikahinya kemarin sore. Jace bernapas lega ketika mendapati Tallulah sedang duduk di kursi bar, supermodel itu sedang makan.


"Hei," sapa Tallulah ketika melihat Jace berjalan mendekat. "Bangun?"


"Ya, aku tidak mendapatimu di tempat tidur. Lapar?" Tanya Jace menarik kursi dan duduk di samping Tallulah.


"Iya, aku sangat lapar dan juga kehausan." jawabnya sambil mengerucutkan bibir. Tallulah luluh ketika Jace mengecup pipinya. "Padahal kita sudah lama tinggal bersama, namun kegiatan "itu" justru makin banyak setelah menikah,"


Jace tersenyum sambil menopang dagunya. Ia memandang penuh cinta wanita bersurai ikal yang sangat cantik. "Kemarin tunangan sekarang adalah istri. Di hati itu beda, rasa cintanya makin bertambah," tukas pria bermanik abu dengan tenang.


Tallulah menoleh dan memandang seksama wajah suaminya. Jantungnya berdebar memecahkan sunyi Kota Haarlem yang damai. "Aku mencintaimu, Mr. Alstrom. Kau mengabulkan semua keinginanku. Sebuah pernikahan impian dan hidup yang tenang di sini. Aku sangat senang kita menghabiskan masa bulan madu di apartemen bukan di hotel. Aku bisa bangun memasak ketika aku lapar,"


Jace tertawa kemudian mengusap surai Tallulah. "Kemarin aku katakan jika kita akan berbulan madu, tapi untuk sementara kita akan menghabiskan beberapa hari di sini. Banyak tempat belum kita datangi bersama,"


"Iya, sangat banyak. Dan aku tidak mau ke kota besar, apalagi kota yang pernah aku datangi, Boo," kata Tallulah sambil mencubit pipi Jace dengan gemas.


"Iya, tentu saja. Besok kita ke toko buku dan membeli map," kata Jace lalu tergelak. Ia mengambil potongan sandwich Tallulah dan memakannya. "Bagaimana jika kita Asia, beberapa negara belum pernah aku kunjungi,"


Tallulah mengangkat bahu. "Asal bukan Tokyo dan Seoul, aku sudah pernah kesana," Tallulah mengingatkan.


"Aku bisa kemana saja denganmu," kata Jace.


"Ihhh, itu kan kata-kataku, Mr. Alstrom. Kau akan kena pasal plagiat, aku akan menggugatmu!" canda Tallulah lalu tertawa. Pipinya ditangkup oleh Jace, ia semakin merona.


"Kau butuh berapa? Hmmm?.. Sebutkan berapa hargamu, Nona Cantik?" Jace menggoyangkan wajah Tallulah dengan gemas. Ia ikut tertawa-tawa.


Tallulah membulatkan matanya dengan senang. "Nyonya! Aku bukan nona,Tuan. Nanti suamiku akan marah jika orang  menganggapku masih single. Lihat ini cincinku!" pekiknya riang.


Jace menatap cincin pertunangan yang tersusun dengan cincin pernikahan melingkar di jemari manis Tallulah. "Indah, sangat indah. Sesuai dengan yang memakainya. Cantik. Sebutkan namamu, Nyonya?"


Tallulah mendengus lucu. "Nyonya Von Alstrom! Saya istri dari Jace Von Alstrom, pemilik The Alstrom," sahutnya menyombongkan suaminya yang kini tertawa keras hingga wajahnya memerah karena bahagia.


"Wow, seorang pengusaha hebat, kau tidak akan kekurangan pakaian, Nyonya Cantik. Tapi sepertinya kau lebih indah jika tidak mengenakan apa-apa," seloroh Jace sembari menangkap tubuh Tallulah dan menggendongnya. Tallulah terpekik dan tertawa-tawa.


"Curang!" teriaknya tanpa peduli jika suara Tallulah menembus tembok apartemen hingga mengganggu tidur para tetangganya.


"Perkenalkan, aku adalah pemilik The Alstrom, Nyonya Cantik. Berarti kau adalah istriku, biasakanlah itu," kata Jace lalu tertawa tanpa mempedulikan pukulan-pukulan ringan jatuh di punggungnya. Ia justru semakin bersemangat untuk menaklukkan wanitanya. Tanpa ada rasa lelah dan bosan.





[kasih yang topless biar yang ngantuk bisa nyala matanya, maaf dia suami orang]


alo kesayangan💕,


sepertinya aku harus rajin menulis yah,


grade dr gold turun ke silver author karena malas update..


tapi gpp juga,


sebentar lagi dua novel akan tamat.


kalian jaga kesehatan, trus yang sakit byk makan, minum air putih, dan istirahat.


love,


D😘