JACE

JACE
Aku Merindukanmu



Dua bulan berlalu sejak Jace resmi berpisah dengan Tallulah. Pemilik The Alstrom tampak melayangkan pandangan ke sekeliling apartemennya. Ia belum beranjak dari luka dan penyesalan atas perpisahannya dengan Tallulah. Selama dua bulan terakhir bayang-bayang Tallulah melekat kuat di setiap sudut tempat tinggalnya. Jace, berkali-kali terbangun hanya karena ilusi mendengarkan suara Tallulah yang memanggilnya.


Boo..


Boo, bangun. Saatnya sarapan.


Boo, berhentilah bekerja kau butuh istirahat.


Boo, apakah kita hari ini akan berkencan di luar?


Sesak. Berkali-kali lipat mendera hati Jace. Ia dihantui oleh setumpuk perasaan bersalah yang tidak bisa dimaafkan oleh Tallulah. Semua terjadi karena Jace membalas ciuman Iris, wanita yang menjadi pegawai magang di The Alstrom Paris. Pasca kejadian hari itu, Iris berkali-kali menghubungi Jace, bahkan kini wanita itu telah berhasil membuka sebuah rumah mode sendiri. Berita tersebut Jace dapatkan dari Jacob, sahabatnya. Jace sendiri sudah tidak mau peduli tentang Iris, walau ia kerap mendapatkan pesan dan panggilan tak terjawab dari wanita itu.


Lupakan tentang Iris, Jace masih susah payah untuk memaafkan perbuatan wanita itu apalagi jika ia harus bertegur sapa lewat telepon membahas hal yang menyebabkan Tallulah pergi.


Tidak! Jace tidak ingin membicarakan hal tersebut kepada Iris, ia hanya membahasnya sekali dengan Jacob. Dan kedua orang tuanya.


Seminggu setelah Jace resmi berpisah dengan Tallulah, berita pertunangan mereka yang kandas hadir di berbagai media infotainment. Tentu saja bukan Jace yang membocorkannya ke media, namun para awak media terlebih paparazzi sangat cerdas ketika melihat hilangnya cincin pertunangan di jemari Tallulah.


Jace mengikuti berita tentang supermodel tersebut, jangan katakan berapa kali ia membuka akun sosial media Tallulah hanya karena sebongkah perasaan rindu yang tak berkesudahan. Tallulah cukup bijak dengan tidak menghapus foto kebersamaannya dengan Jace, begitupun sebaliknya. Jace masih mencintai Tallulah, dan justru perasaan itu semakin membesar setelah mereka berpisah.


Apakah Jace pernah menghubungi Tallulah? Hmm.. jawabnya tidak pernah. Jace setengah mati meredam keinginan besarnya itu. Jace sangat merindukan suara manja Tallulah, wajahnya yang polos dengan manik biru dan lentiknya bulu mata mengerjap-ngerjap indah ketika mendengar Jace berbicara.


Sesak! Jace belum bisa melepaskan perasaannya.


“Bagaimana, Mate? Yakin kau tidak ingin mengepak beberapa pakaian?” suara Jacob memecah sepi di apartemen mewah tersebut. Hunian Jace beberapa tahun terakhir di Kota New York, dan semakin berwarna setelah Tallulah tinggal bersama dengannya.


Jace menoleh dan tersenyum hambar. “Tidak ada. Biarkan semua seperti ini.” sahutnya datar seraya menghembuskan napas panjang.


Jacob berdiri di sisi Jace dan menatap sahabatnya yang terlihat kehilangan semangat hidup selama dua bulan terakhir. “Jadi kedatangan kita ke sini hanya untuk mengucapkan salam perpisahan.” Gumamnya sambil menepuk punggung Jace.


Jace termenung memikirkan kata-kata Jacob yang sangat benar adanya. Jace telah pindah dua hari terakhir rumah barunya yang berada di kawasan the Hamptons. Sebuah mansion tepatnya di Southampton Village, di mana semua teman jetsetter -nya menetap. Jace menentukan hunian terbarunya yang berada di tepi laut, tidak terlalu besar seperti mansion kebanyakan teman-temannya yang memiliki lapangan rumput lebih luas daripada sebuah lapangan football.


“Kau tidak menjual apartemen ini, Mate?” suara Jacob membuat Jace menoleh dengan alisnya berkerut.


“Tidak.” Singkatnya datar.


Jacob mendengus geli sambil menggelengkan kepala. “Kau belum move on, Boss. Ini sudah terlalu lama, coba lihat aku.”


“Ada apa dengan dirimu?” tukas Jace berjalan menuju dapur tempat Tallulah berkreasi dengan berbagai masakan dan kue. Ia masih bisa memutar ulang semua ingatan tentang mantan kekasihnya di setiap ruangan, terlebih di tempat favorit Tallulah.


“Aku yang telah bercerai, well... belum resmi tapi kami sudah mendaftarkan. Hanya tinggal menunggu keputusan hakim, kami telah sepakat tentang pembagian harta walau kau tahu jika aku membeli apartemen dan sebagainya. Tapi semua ada harganya, terlebih sebuah kebebasan. Aku sudah mulai berkencan..”


“One night stand, bukan berkencan serius.” Putus Jace lemah.


Jacob terkekeh seraya meninju pelan lengan sahabatnya. “Yeah, aku tahu itu. Tapi setidaknya aku tidak terpuruk seperti dirimu, Mate. Bagaimana jika kau mulai keluar ke pub dan menjadi elang pemangsa di sana. Atau hanya memamerkan dirimu, bukan terus-terusan menghabiskan waktu hanya untuk bekerja dan berolahraga di gym. Kita para pria membutuhkan teman tidur, kau tahu itu bukan?”


Jace mendengus kasar dan menatap sahabatnya yang tertawa meledek.


“Aku tidak semudah itu menggantikan seseorang yang aku cintai dengan wanita biasa terlebih kutemui di pub. Seorang Tallulah yang indah seperti bunga bluebells dibandingkan dengan wanita pencari pria-pria mapan di pub. Kau tahu jika aku cukup trauma untuk berkenalan dengan seorang wanita. Aku membuka jalan bagi Iris, dan dia pula wanita yang menghancurkan hubunganku. Seharusnya setelah New York Fashion Week, aku dan Tallulah membahas lebih lanjut tentang rencana pernikahan dan lihat sekarang apa yang terjadi. Aku harus mengubur semuanya di saat kisah kami sedang indah-indahnya. Kami hanya bertunangan selama 7 minggu.” Ungkap Jace penuh penyesalan.


Jacob mendesah pelan dan kembali menepuk punggung pimpinan The Alstrom. “Baiklah. Mungkin belum sekarang, tapi suatu hari kau harus beranjak dari lukamu, Mate. Tallulah pun makin bersinar setelah perpisahan kalian, dia tersenyum bahagia di sampul majalah bulan ini.”


Jace terdiam sejenak sembari mengingat wajah cantik Tallulah di sampul Harp*er’s Baz*r. Sangat cantik, dengan lesung pipi yang manis.


“Aku merindukannya.”



Tallulah bergerak pelan setiap kali berpindah dari lukisan ke lukisan satunya. Hatinya menghangat dan damai, walau luka itu masih belum sepenuhnya sembuh. Rindu kerap hadir menyesakkan dada dan berulang terus menerus setiap harinya.


Alunan musik klasik mengalun lembut membuai telinga namun memerihkan kalbu Tallulah. Ia pun mendesah lemah menguatkan diri untuk tidak berkaca-kaca di tengah galeri. Tallulah berada di Venice, Italia. Seperti biasa pekerjaan -lah yang membuat Tallulah terbang keliling dunia, dan untuk berapa hari ke depan ia akan berada di Venice, kota kanal yang romantis. Ketika gesekan cello menyayat hati bukannya menghibur, Tallulah berderap keluar meninggalkan galeri tersebut.


Ia tidak kuasa untuk bertahan lebih lama, mendengarkan musik klasik, lukisan indah dari abad pertengahan dengan hati masih terluka dan merindu. Tallulah menarik napas dan membuangnya dengan tidak sabaran. Matanya nyalang memandang bangunan di dekat galeri dan orang-orang yang berpapasan dengannya.


Setelah berjalan sejauh 300 meter hingga mencapai ujung blok, langkah kaki Tallulah berhenti di depan sebuah coffee shop. Sebuah bangunan tua berdinding bata dengan jendela kaca yang tinggi di setiap sisinya.


Bunyi gemerincing bel pintu ketika Tallulah membuka pintu, beberapa pengunjung menatapnya kemudian kembali kepada teman bicara dan minuman di atas meja. Tallulah menunjuk meja kosong di bagian kiri kepada pelayan berseragam hitam dan putih.


“Caramel mocca frappe dan peanut butter banana waffle.” Kata Tallulah menyebutkan pesanannya. Pelayan wanita itu tersenyum simpul sambil menuliskan pesanan di kertas kecil.


Sang pelayan berlalu setelah meminta Tallulah untuk menunggu dengan Bahasa Inggris khas penduduk lokal Italia. Sebuah buku tentang lukisan berhasil dikeluarkan Tallulah dari tasnya, ia memilih tidak mendengarkan lagu dari ponsel, coffee shop tersebut memutar musik top 40 yang dikuasai oleh lagu-lagu RnB riang.


Sesekali Tallulah melirik ke arah luar ketika mendengar suara tawa dari rombongan wisatawan yang bahagia menikmati masa liburannya. Tallulah tersenyum pedih, ia hanya sekali berwisata dengan Jace. Belgia yang indah dan kekasih yang tampan, masa itu adalah hari-hari terindah bagi Tallulah.


Kita akan berlibur di Bora-Bora. Suara manis Jace terngiang-ngiang di telinga Tallulah. Indah, sebuah janji surga yang membuatnya melayang dan kemudian kandas.


“Permisi. Hai, halo.” Suara bariton lembut menginterupsi lamunan Tallulah.


Ia pun mendongak memandang pria yang berdiri dengan memegang cangkir di tangannya. Pria itu tampan dan senyuman manis menghiasi bibirnya yang merah seperti buah plum.


Tallulah melebarkan manik birunya, pria itu semakin mengembangkan senyuman. “Ya?”


“Bisakah aku duduk denganmu?” pinta pria itu sambil meletakkan cangkir kopinya di atas meja, Tallulah membelalakkan bola mata indahnya.


“Di sana masih ada meja kosong.” Tolak Tallulah sambil menunjuk meja yang ia maksud.


Pria tampan itu menggeleng sembari menarik kursinya. “Tapi aku ingin duduk denganmu, Nona Bluebells. Kau sendirian, begitupun aku. By the way, aku Giulio Celi.” Ujarnya seraya mengulurkan jemari tangannya.


Tallulah hendak menolak kedatangan pria bernama Giulio tersebut, namun hati kecilnya justru berkhianat dan menyambut uluran tangan kokoh si pemilik senyuman manis.


“Tallulah Bluebells.”


Giulio terkekeh ringan sembari menatap gadis cantik yang salah tingkah.


“Apakah aku mengenalmu?” tambah Tallulah memandang pria tak diundang tersebut yang kini terlihat sangat santai di depannya.


“Tentu saja aku mengenalmu. Kau adalah supermodel yang hampir ada di setiap majalah mode, Nona Bluebells.”


Tallulah menggelengkan kepala, ia mendesah pelan sambil menopang dahunya. “Spesifik. Aku yakin kau mengenalku lebih dari itu, Tuan Celi.” Selidiknya mencari jawaban dari manik biru Giulio.


“Ya. aku mengenalmu lebih dari sekadar melihat dari majalah mode. Kau adalah mantan tunangan Jace Von Alstrom. Dan sepertinya istriku –lah yang membuat kalian berpisah.” Ungkap Giulio dengan blak-blakan.


Tallulah terkesiap dan hendak berdiri menarik tasnya.


“Tidak. Tolong duduklah kembali.” Giulio tanpa permisi menyentuh pergelangan tangan Tallulah dan memintanya untuk kembali ke kursinya.


Wajah Tallulah memerah dan bibirnya mengeluarkan suara geraman yang tertahan. “Kenapa?”


Giulio berdeham pendek dan membulatkan bola matanya. “Kenapa apa, Nona Bluebells?” tanyanya sambil tertawa kecil.


Tallulah cemberut kemudian menyesap minumannya. Ia kehilangan minat untuk menjamah waffle hangat pilihannya. “Kenapa kau menyapaku? Kenapa harus bertemu denganmu di sini? Dan kenapa kau bisa tahu jika istrimu yang membuat kami berpisah?” Tallulah mengeluarkan rentetan pertanyaan kepada pria yang baru saja ia kenal.


Giulio terbahak tawa hingga suaranya membuat beberapa orang memandang pria tampan itu. Di saat orang-orang terkesima oleh Giulio, Talulah justru meringis dan kembali membuang muka.


“Iris Coppole. Itu nama istriku, Nona Bluebells. Aku sepertinya tidak perlu menjabarkan bagaimana Jace bisa mengenal Iris, kau pasti tahu bukan?”


Tallulah mengangguk dengan malas, bola mata indahnya sayu namun indah. Giulio tersenyum melihat kecantikan sang supermodel yang sangat nyata di depannya, bahkan lebih memukau dengan melihatnya secara langsung.


“Setelah berita pertunangan kalian berakhir muncul di berbagai media, Iris mengatakan sesuatu yang selama seminggu dia pendam. Iris mengatakan jika setelah NYFW dia berhasil mencium bossnya, yang tak lain Jace Von Alstrom. Kau ada di situ, dan selang berapa hari kemudian kalian berpisah...”


“Apakah kau marah saat istrimu jujur tentang perselingkuhannya?” Potong Tallulah.


Giulio mengangguk ragu sambil mengulum senyuman. “Ya, tentu saja aku marah saat itu. Hari itu pula Iris jujur tentang perasaannya kepada Jace. Aku sangat kecewa, Nona Bluebells. Namun bukan itu yang membuatku lebih sakit hati.”


“Apa yang membuatmu sakit hati?” tanya Tallulah yang sangat ingin tahu.


Giulio mendesah pendek dan menatap wajah cantik dan polos Tallulah. Sungguh seorang gadis yang sangat cantik dengan kedipan mata yang membuatmu terjatuh. “Aku berusaha menyelamatkan pernikahan kami. Aku memaafkan


kesalahan Iris, dan membujuknya untuk kembali ke Italia. Yeah, kami berdua adalah orang Italia. Pada saat itu Iris mengiyakan, mungkin karena aku berhasil menenangkannya yang sedikit histeris hingga anak kami, Verona ikut menangis melihat ibunya.”


“Terus?” Tallulah terus bertanya seakan Giulio adalah teman lamanya yang ia kenal sejak remaja.


“Ya kami pulang ke Turin, aku pikir Iris bersungguh-sungguh dengan kesempatan yang diberikan kepadanya. Aku salah, Nona Bluebells. Iris kembali ke Paris sebulan yang lalu, sendirian. Dia meninggalkan Verona di rumah orang tuanya. Aku berusaha menelepon dan dia menjelaskan jika tidak ingin menyerah terhadap cita-citanya. Aku bisa apa, selain membiarkan Iris menggapai impiannya.”


“Kalian bercerai?” tanya Tallulah.


Giulio menjawab dengan senyuman disertai gelengan kepala yang ringan. “Belum, Nona Bluebells. Tapi bisa dikatakan pernikahan kami berada di ujung tanduk. Aku juga tidak tahu kemana arah pernikahan ini, tapi sekarang Verona berada di bawah pengasuhanku. Aku sedang ada pekerjaan di kota ini, hingga meninggalkannya di Turin.” Jelasnya tanpa dimintai pertanyaan terlebih dahulu.


Tallulah mengembuskan napas lewat bibir sensualnya, hal itu diamati dengan seksama oleh Giulio.


“Kau sendiri apakah tidak ingin kembali kepada Jace, Nona Bluebells?” tanyanya dengan terang-terangan bahwa ia terkesima dengan sang supermodel tersebut.


Tallulah mengerang lirih sekilas menundukkan kepala. “Aku belum memikirkan hal itu. Sekarang kami menempuh jalan yang berbeda.”


“Seorang pacar baru? Mungkin seorang pria Italia yang mengagumimu?” cerocos Giulio yang tidak bisa menahan diri untuk menggoda gadis cantik itu.


Sontak manik biru Tallulah menatap ke arah Giulio yang mengumbar senyuman manisnya. “Aku tidak pernah tertarik dengan suami orang.” Tandasnya kemudian berdecak sebal. Giulio malah justru tertawa terpingkal-pingkal.



Jace terpaku pada wanita yang berjalan dalam gamitan tangan Jacob. Sosok indah dan sangat menggoda dengan gaun ketat memamerkan setiap lekuk tubuhnya yang indah.


“Permisi.” Pamit Jace kepada tamu-tamu yang hadir di pesta yang ia gelar di kediaman barunya di The Hamptons. Sebenarnya Jace tidak menginginkan menggelar sebuah pesta, namun para teman-teman jetset –nya yang mendesak untuk berkumpul dan mengundang beberapa model cantik yang bekerja di bawah naungan The Alstrom.


“Sebuah pesta yang semarak, Mr. Alstrom.” sanjung Aubrey ketika menjabat tangan Jace, tak ayal kemudian pipi sang designer dikecup wanita seksi tersebut.


Jacob mengedipkan mata ke arah bossnya. “Aku mengundang tetanggamu, Mate.” Katanya lalu terkekeh.


“Tetangga?” tanya Jace lebih terdengar sebuah racauan pelan.


Aubrey bergerak mundur dan memandang wajah pria yang tak lekang pikirannya. “Saya tinggal di The Hamptons juga, Mr. Alstrom. Kediaman kita hanya berjarak satu kilometer, mungkin sekali atau berkali-kali kau bisa berkunjung. Asal kau tahu jika pintu rumahku selalu terbuka untukmu.”


###




alo kesayangan💕,


finally aku mengupdate sebuah chapter..


Jace ini tidak akan panjang, jika kalian ingin tahu.. selama kalian tidak memintaku untuk membuat cerita anak-anaknya.. hal yang sama terjadi pada Radit Rinjani, Hugo Kila, hingga kini ada Orion [fave kalian, hmmm... Ada Philip]


I'm done dengan kisah anak beranak.. seperti keknya aku penulis berada di satu rantai keluarga..


bosen gak kalian?


balik ke Jace, dia akan happy ending.. mungkin dengan Aubrey ato ma Iris.. dan Tallulah mungkin jadi mama sambungnya Verona..


gimana kalau kisahnya kek gitu? setuju?


ah.. selamat bermalam minggu semua❤..


love,


D😘