
“Wow, kita bertemu kembali.” Sapa seorang wanita yang mengenakan bra sport berwarna hitam dan legging purple bercorak abstrak. Sepasang dada yang menarik para kaum Jace, dalam hitungan detik takluk dengan pemandangan indah tersebut. Terlebih wajah dan postur tubuhnya mendapatkan nilai 8 dari 10 angka sempurna.
Jace berdiri tegak setelah meletakkan barbell mesin kemudian membalas senyuman Aubrey. “Hai, apa kabar?” ucapnya menaikkan tangan dengan singkat.
Penampilan Aubrey yang rapi tanpa ada bulir keringat menandakan jika wanita cantik dan seksi tersebut baru saja tiba, berbeda dengan Jace yang lebih sejam lamanya berkutat dengan berbagai alat berat favoritnya.
“Seperti yang kau lihat, Jace. Bahagia dan sehat, The Hamptons sangat cocok dengan diriku. Bagaimana denganmu?”
Jace yang mengambil air minumnya di bench dan Aubrey setia mengikuti. “Sejauh ini sangat menenangkan, Miss Cammomile.” jawabnya mengakui.
Aubrey mengibaskan tangan. “Tolong panggil dengan Aubrey, atau dengan Cam seperti teman sekolahku. Sebuah keputusan tepat untuk pindah ke sini, dan berhenti bekerja.”
Manik abu Jace melebar sambil tersenyum simpul. “Kau berhenti bekerja? Bagaimana dengan hmm.. apa yah?” terdengar ragu, Jace tidak berani untuk meneruskan perkataannya.
Aubrey terkekeh ringan tetap dengan mimik sensualnya. “Maksudmu biaya hidup?” terkanya tanpa merasa keberatan apalagi tersinggung dengan kalimat Jace sebelumnya.
Jace mengangguk dan menatap Aubrey. Wanita cantik itu sungguh cantik bahkan hanya dengan polesan make up tipis, berbeda ketika pesta yang di gelar Jace dua minggu yang lalu. Malam itu Aubrey tampil dengan dandanan berlebihan, Jace pun tidak bisa berlama-lama meladeni perkataan wanita tersebut.
“Aku menyisihkan gajiku, Jace. Well, memang tidak seberapa dibandingkan biaya hidup di wilayah ini. Rumah di New York aku jual dan syukurnya bisa membeli sebuah kediaman yang cukup bagus di Southamptons Village walau tanpa pemandangan sehebat mansionmu. Aku bisa menyisihkan sisanya untuk biaya hidup kami berdua. Ayah Sunday Rose masih tetap mengirimkan biaya hidup untuk aku dan anaknya, dan mungkin beberapa bulan ke depan aku akan mencari pekerjaan yang cocok. Sekarang aku masih menikmati suasana baru yang sangat berbeda dengan New York City. Oh ya, aku dengar dari Jacob jika kau memutuskan untuk istirahat dari The Alstrom.”
Jace menghela napas, seolah ia yang sesak mendengarkan celotehan Aubrey yang panjang dan tanpa jeda. Wanita itu sangat lancar mengutarakan kondisi hidupnya. “Ya, berita itu benar.” Jawabnya singkat.
“Kenapa? Oh biar aku tebak. Apa karena perpisahanmu dengan Nona Bluebells?” kata Aubrey kemudian menggigit bibir bawahnya disertai kedipan mata yang menggoda.
Jace menggeleng lemah, dalam hati ia mengakui jika Aubrey secara terang-terangan merayunya. “Apakah hal itu juga kau dapatkan dari Jacob? Kalian bersaudara, tidak ada rahasia umum yang tidak dibagi oleh baj*ngan kecil itu.” umpat Jace kepada Kepala Keuangannya.
Aubrey tertawa dan mengangguk. “Tolong jangan pecat dia karena persoalan ini. Sepenuhnya aku yang salah karena terus menerus menanyakan hal tentang dirimu. Kalau boleh jujur, informasi tentang gym ini juga aku dapatkan dari Jacob. Aku baru saja mendaftar menjadi member selama setahun.” Ujarnya jujur dan mencoba setenang mungkin menjelaskan yang disambut gedikan bahu oleh Jace.
“Aku tidak mungkin memecat orang kepercayaanku di The Alstrom, Cam. Jacob-lah yang mengetahui posisi keuangan The Alstrom, dia otak di belakang otakku.” Sanjung Jace kepada sahabat yang sekaligus perusuh hal pribadinya. Seperti sekarang, Jace dibayang-bayangi oleh adik sepupu dari Jacob sendiri.
Aubrey menghela napas kemudia terkekeh. “Sangat kaya dan kau semakin kaya. Sayangnya gagal dalam hubungan percintaan.”
Jace mendengus akan sindiran wanita cantik itu yang sepertinya telah melupakan tujuan utamanya mendatangi sebuah pusat kebugaran. “Aku akui seperti itulah yang terjadi, tapi aku belum mengatakan gagal. Peluang untuk berbaikan
sepertinya masih ada jalan.” Timpalnya kemudian duduk di bench yang dilapisi dengan bahan kulit berwarna hitam yang empuk. Aubrey duduk di sebelah Jace dan mengabaikan beberapa orang yang sedang berlatih.
“Kau belum move on. Aku paling tidak menyukai pria seperti ini. Seharusnya kau mulai berkencan, Jace. Jangan terlalu lama menyendiri, itu tidak baik.”
Jace menoleh dan memiringkan kepala menatap Aubrey yang bersemangat memberikan nasehat yang sepenuhnya ia hindari. Kakak dan adik sama saja, tidak bisa memberikan masukan untuk menikmati keputusannya untuk tetap bertahan dalam kesendirian. “Kau juga tidak move on dari Simon. Masih single. Maksudku berdua dengan Sunday Rose.”
Aubrey mendesah panjang sambil menggeleng. “Siapa bilang aku tidak berkencan, Jace. Beberapa pria pernah datang dan pergi, namun aku tidak mencintainya. Bukankah pernah aku mengatakan jika aku tertarik kepadamu, Jace. Andai saja sejak awal kau yang datang, tentu saja aku tidak akan membiarkanmu pergi. Aku yang mengikatmu sekuat tenaga agar tetap terus berada di sampingku.”
Jace bergidik ngeri, namun kemudian ia terbahak tawa. Aubrey menoleh mengerutkan alisnya. “Ada apa? Apakah ada yang lucu dari perkataanku?”
“Tidak, selalu saja ada cinta yang salah datang kepada seseorang, Cam. Dan ada pula cinta yang indah lepas dari genggaman.”
Aubrey mencebikkan bibirnya yang sensual. Kembali ia mendesah panjang. “Kenapa kau tidak mengejarnya saja daripada terus-terusan menyesali perpisahan kalian. Melihatmu seperti ini membuatku jengkel. Namun tidak mengurangi perasaan sukaku kepadamu, Jace.”
Jace tertawa sambil menatap Aubrey. “Sepertinya kita bisa berteman, Cam. Teman wanita yang berada tak jauh dari rumahku, bukankah kita hanya berjarak satu kilometer saja? Bagaimana? Teman?” tawarnya sambil menyodorkan telapak tangan. Manik Jace berkedip kepada Aubrey.
Wanita cantik dan sensual itu berdecih dan menyambut uluran tangan Jace. “Baiklah. Setidaknya seorang teman bisa saling mengunjungi, bukan?”
…
Klik klik!
Bunyi shutter kamera sang photografer dibarengi oleh kilatan speedlight kit, berulang kali pula Tallulah merubah posisinya sesuai arahan sang photografer, dimana kali ini ia tidak sendiri. Anthony Pine, model pria yang terlebih dahulu berkutat di dunia yang sama, menjadi rekannya hari itu dalam rangka mempromosikan sebuah produk jam tangan mewah. Keduanya didapuk menjadi brand ambassador dengan bayaran yang tidak sedikit.
“Apa rencanamu setelah ini?” bisik Anthony tanpa merubah posisinya.
Tallulah tak mengindahkan pertanyaan pria yang berusia tiga tahun di atasnya. Ia hanya ingin agar pemotretannya cepat selesai.
Sejam kemudian ketika Tallulah usai berganti pakaian dan berpamitan dengan semua kru pemotretan, ia pun berjalan gontai menyusuri lorong yang mengantarkannya ke arah lift. Ia menunduk mengutak-atik ponselnya mencari lagu yang tepat sebagai pengusir kebosanan menuju kembali ke hotel.
“Tallulah.” Suara lantang menegur Tallulah kemudian sebuah tepukan di bahu membuatnya menoleh.
“Hei, aku tidak melihatmu di dalam saat berpamitan.” Kata Tallulah ramah kepada Anthony.
Anthony meraba perutnya kemudian berjalan di samping Tallulah. “Perutku sedang bermasalah. Aku berada di toilet dan menyelesaikan semuanya.”
Tallulah tertawa. “Tuhan, kau masih bisa berpose sebagus tadi sambil menahan sakit perutmu. Kau sungguh seorang model hebat, Anthon.” Pujinya dengan tulus.
“Menurutmu seperti itu?”
Tallulah mengulum senyuman dan mengangguk. “Tentu saja. Jujur aku belum pernah mengalaminya. Semoga saja tidak akan terjadi, namun percayalah jika aku dalam posisimu, aku tidak mungkin bisa kuat bahkan tetap tampan di depan kamera.”
Anthony menggigit sebelah bibir bawahnya akan sanjungan Tallulah. “Kau baru saja mengatakan jika aku tampan, Babe. Kau harus menerima hukumanku.”
Manik biru Tallulah membulat dan menggemaskan. Anthony tak kuasa untuk tidak merangkul bahu gadis cantik itu. “Hukuman apa?” tanya Tallulah terbata. Mukanya memerah akan perbuatan spontan Anthony.
“Menemaniku makan siang. Aku akan membawamu ke restoran paling enak di Kota London. Kemarin sore aku bertemu dengan Ueda, dan dia mentraktirku makan makanan Jepang. Kau kenal dengan Ueda, bukan?”
Sesampai di lantai bawah, tepat di ambang pintu Anthony melepaskan rangkulan tangannya. “Seperti itulah. Itu karena aku juga yang nekat untuk memakan makanan mentah. Kau tahu jika aku adalah orang Swedia, tidak familiar dengan makanan seperti itu.”
Tallulah tertegun dan menatap lekat-lekat Anthony.
“Hei.” Seru Anthony mencubit pipi Tallulah.
“Apa?” Tallulah terpekik kaget.
Anthony tertawa riang. “Swedia itu luas, dan tidak semua pria di sana jahat. Misalnya diriku.”
Tallulah menunduk sambil mengembuskan napas pendek. “Baiklah, tunjukkan kepadaku restoran yang terkenal dengan makanannya yang enak.” Katanya mengalihkan pembicaraan.
Anthony tak permisi menggenggam jemari Tallulah keluar dari bangunan berlantai empat tersebut. Sebuah tindakan nekat justru tidak di protes oleh Tallulah. Malah terlihat nyaman ketika Anthony mengajaknya berdiri di tepi jalan dan melambaikan tangan kepada taksi untuk berhenti.
“Sebenarnya bukan sebuah restoran mewah seperti tempatmu selalu makan, Babe. Restoran itu berdiri sejak tahun 1968.” ujar Anthony ketika taksi mulai membelah jalanan.
Tallulah mendengarkan sepenuhnya penjelasan Anthony dan ia sangat tertarik mengenai hal klasik pun tentang makanan. Bukankah Tallulah memiliki sebuah cita-cita menjadi seorang pemilik sebuah restoran, walau konsepnya masih tersusun rapi di dalam kepala.
“Aku tidak seperti itu, Anthon. Selama makanannya enak, aku akan mencoba dan tidak peduli dengan bentuk tempatnya.” ucap Tallulah merendah.
“Maafkan aku, Babe. Aku pikir supermodel sepertimu menentukan hal seperti itu juga. Kau tahu, bukan? Kalian para wanita selalu ingin berada di tempat indah dan mewah.” Celetuk Anthony sambil mengulas sebuah senyuman yang mematikan. Tallulah tersipu.
Anthony Pine adalah pria super tampan dengan rahang persegi seperti milik Brad Pitt, maniknya pun biru dan bibir tipis berwarna merah pucat yang sangat gampang dalam mengeluarkan pendapat sepihaknya.
“Aku tahu maksudmu, Anthon. Yeah, aku tidak seperti teman-temanku. Ketika aku berada di suatu kota, aku akan mencoba berbagai macam makanan, baik yang dijual di pinggir jalan ataupun restoran mewah. Semua kembali pada suasana hati dan perut.” Terang Tallulah.
“Kau akan menyukai St. Patrick. Mereka memiliki steak paling enak di sepanjang hidup dan pengembaraanku. Bahkan lebih enak dibandingkan dari buatan my lovely grandma.” Kicau Anthony mewakili juru bicara dari tempat yang mereka tuju.
“Aku berusaha mempercayaimu.” Sahut Tallulah sambil membuka ponselnya. Anthony melakukan hal yang sama, beberapa pesan harus dijawabnya, termasuk agensi tempatnya bernaung.
Sekilas Anthony melirik pesan Tallulah, sepertinya gadis cantik itu hanya membalas pesan dari orang tuanya. “Aku pikir kau memberi kabar kepada kekasihmu.”
Tallulah menoleh sambil mengulum senyuman. “Aku tidak berpacaran.” Singkatnya tanpa bosan menjelaskan status percintaannya kepada setiap orang yang bertanya.
Anthony tersenyum lebar. “Tidak ada pacar setelah Dia-Yang-Maha-Hebat di industri fashion?”
Kali ini senyuman Tallulah menghilang. Rautnya mendadak sedih. Jace terlalu hebat untuk digantikan dalam hitungan bulan, semua kepingan kenangan hidup bersama dengan pria itu masih tersimpan rapi di dalam hatinya.
“Jika kau membutuhkan pelukan, lihat ini.” tawar Anthony menunjuk ke arah dadanya yang bidang.
“Pacarmu akan marah.” Tolak Tallulah sambil membuang muka ke arah luar jendela.
Bola mata Anthony melebar kemudian ia mencubit pipi kiri gadis yang sendu itu. “Hei, posisi kita sama. aku dicampakkan wanita itu, 6 bulan yang lalu. Kau pasti tahu siapa dia.”
Tallulah kembali mengarahkan tatapannya kepada pria yang terus menerus berbicara tanpa henti. Matanya bersirobok dengan pupil Anthony yang melebar. “Kau bercanda?”
Anthony menggeleng. “Tidak, Babe. Aku tidak pernah bercanda tentang cinta, beberapa bulan terakhir kau hanya sibuk merawat lukamu hingga tidak peduli dengan berita orang lain. Mungkin banyak hal kau lewatkan hanya karena sibuk mengulang kenangan kalian, terus menerus ketika kau sedang tidak melakukan apapun.”
Tallulah tertegun. “Kenapa kau bisa tahu?” gumamnya melirih.
Anthony menghela napas panjang. “Aku tahu karena aku pernah melaluinya. Aku sangat tahu bagaimana rasanya ditinggalkan ketika cinta masih tumbuh subur di dalam hati, aku bahkan telah menyiapkan sebuah cincin tunangan yang indah untuknya. Namun, tidak semua hal yang kau inginkan bisa didapatkan, bukan? Termasuk cita-cita menghabiskan hidup bersama dengan wanita yang kau cintai. Apakah kau pernah berpikir hidup seperti apa yang kau jalani dengan seorang yang sangat hebat seperti Jace Von Alstrom? Apakah kau mendengar berita jika dia baru saja membeli sebuah mansion di pesisir The Hamptons?”
Tallulah tercekat dan dengan lemah ia menggelengkan kepala. “Aku tidak tahu itu.”
###
Tallulah dan Anthony
Mr. Alstrom
alo kesayangan💕,
aku sampai membaca CLB 2 untuk ingat seluk beluk seorang Jace Von Alstrom.
besok masih Jace yah..
beberapa dari kalian sepertinya menunggu sang designer untuk di update.
love,
D😘