JACE

JACE
Insecure



“Iris Coppole?” sapa reseipsionis The Alstrom Paris menyambut kedatangan Iris.


“Ya, benar.” Jawab Iris riang sembari tersenyum lebar.


Iris memerhatikan gerak-gerik dua wanita muda yang tersenyum simpul, satunya terlihat menelepon mengabarkan kedatangannya dan satunya mengetik sesuatu pada keyboard komputer.


“Dia sudah datang.” Kata reseipsionis dengan papan nama Millie di dadanya. Iris menebak jika Millie berusia 20an akhir, rambut berwarna coklat gelap sebahu, tubuhnya yang bisa dikatakan sempurna terbalut seragam berwarna navy sama halnya dengan milik Loana, gadis satunya. Tentu saja mereka mengenakan seragam brand The Alstrom, Iris melihat tekstur kain yang sama dengan beberapa koleksi pakaiannya.


“Naiklah ke lantai 5 dan temui Mrs. Dale. Emmanuelle Dale adalah kepala divisi Design The Alstrom Paris. Mrs. Dale sendiri telah menunggu kedatanganmu, Nona atau Nyonya Coppole?” tanya Millie dengan sopan dan lembut.


Iris sejenak berpikir sebelum menjawab “Kalian bisa memanggilku dengan keduanya.”


Loana menatap Iris dengan pandangan menilai “Kau sudah menikah?” tanyanya heran.


“Shhh, suaramu terlalu tinggi, Loana. Orang-orang yang lewat bisa mendengarkan teriakanmu tadi.” Tegur Millie setengah bercanda, ia menahan senyuman dan berusaha bersikap profesional mungkin di depan pegawai magang, tak lain Iris sendiri.


“Ya, aku sudah menikah dan memiliki anak satu.” Jawab Iris jujur. Walau terbersit di hatinya untuk berbohong dengan statusnya. Untuk ukuran Eropa, Iris tergolong cepat menikah. Di usianya hampir 27 tahun ia telah memiliki Verona yang sekarang sedang aktif merangkak mengelilingi apartemen mereka.


“Maaf kami belum mengenalkan diri, aku Millie 28 tahun dan dia Loana 24 tahun. Kami berdua belum menikah, juga tidak memiliki pacar.” Terangnya langsung tertawa ringan sambil menutup bibirnya yang di pulas lipstik berwarna maroon, sangat cantik dan kontras dengan kulitnya yang putih pucat.


“Iris Coppole, menuju 27 tahun.” Ujar Iris mencoba akrab dengan kedua wanita cantik tersebut.


“Setahun di bawah Millie.” Loana berseru.


Iris tersenyum ketika Millie menyikut temannya.


“Maafkan dia, Miss Coppole. Loana terkadang bersifat seperti ini, tidak bisa mengontrol lengkingannya.” Gerutu Millie di sahuti gelak tawa oleh Loana.


“Itu tidak benar, Miss Coppole.” Loana ikut-ikutan memanggil Iris dengan sebutan Millie.


“Aku hanya bahagia dengan kedatangan Miss Coppole, semoga kita bisa berteman baik dan membagi model-model pria yang berdatangan di kantor ini.” sambung Loana dengan riang.


Iris terperanjat dan antusias dengan perkataan gadis berusia 24 tahun itu.


“Model pria?”


Loana dan Millie kompak mengangguk dengan kuat seraya tersenyum merekah.


“Dalam seminggu kami jamin kau akan melihat pria-pria bertubuh bagus di kantor ini, Miss Coppole.” Balas Loana riang.


“Juga model wanita.” Tukas Millie lalu menyeringai.


Iris terdiam membiarkan kedua wanita itu bersahutan, pikirannya sedikit melayang kepada pemilik bangunan bertingkat 11 yang berada di pusat kota Paris.


“Loana, aku akan mengantarkan Miss Coppole menemui Mrs. Dale. Jangan tinggalkan meja sebelum aku kembali, bahkan jika ada bom jatuh tetaplah berada di tempatmu.” Kata Millie yang mengagetkan Iris, ia berhenti melamun sementara Loana menganggukkan kepala.


“Terima kasih, Miss Millie.” Ucap Iris yang terbantu akan kesiapan Millie untuk menemaninya hingga ke lantai lima. Walau ia memiliki rasa percaya diri yang tinggi namun bangunan The Alstrom terlalu canggih membuat semua tekad dan mental yang dipersiapkan dari apartemen menguap dengan sendirinya.


“Mari.” Millie menunjukkan jalan menuju lift.


“Sampai nanti, Miss Coppole.” Loana melambaikan tangan dengan riang. Iris membalas dengan lambaian tangan sambil tersenyum.


Iris mengikuti langkah kaki Millie, wanita itu berjalan layaknya seorang peragawati. Seolah The Alstrom melatih reseipsionistnya untuk berjalan seperti para model yang direkrutnya.


“Soal model tadi, kami tidak berbohong. Itu juga membuat aku dan Loana memilih tetap single. Beberapa model pernah berkencan…”


“Dengan kalian?” potong Iris dengan manik mata yang membulat takjub.


“Ya, dengan kami.” Balas Millie buru-buru memencet tombol tutup pintu lift. Ia ingin melanjutkan ceritanya tanpa ingin terdengar oleh orang lain.


“Wow.” Iris kembali terpana.


Millie mengedutkan alisnya sambil mengulum senyuman “Begitulah, Miss Coppole. Kami biasa berkencan selama mereka di Paris, setelah itu saling melupakan.” Ujarnya seraya tertawa.


“Kau sangat bahagia bahkan membahas hal seperti itu. Maksudku, kenapa tidak mencoba untuk berpacaran dengan salah satu di antara model itu.” ujar Iris menaruh simpati, mengingat Millie lebih tua setahun darinya dan tanpa kekasih.


“Mereka model, Miss Coppole. Saingan kami juga adalah model wanita yang bertubuh sangat indah. Memiliki kesempatan berkencan selama semalam dengan pria-pria itu adalah sebuah bintang jatuh di pangkuan. Mereka umumnya tidak tertarik dengan hubungan permanen, hanya singgah sesaat dan berlalu. Ya, aku mengikuti ritmenya. Jujur, sejak bekerja di The Alstrom pola pikirku berubah. Dulu, aku ingin menikah di usia 25 tahun dengan pria yang mencintaiku sepenuh jiwa. Namun, semua berubah ketika melihat orang-orang yang bekerja di sini yang tetap have fun dengan status sendiri di usia 30an akhir. Bahkan Mr. Alstrom sendiri belum menikah.”


Deg! Jantung Iris berhenti saat Millie menyebut nama Jace, pria yang masih menjadi sosok idolanya. Orang yang membuatnya nekat mengajukan lamaran magang di kantor itu.


“Apa kau mengenal boss kita, Miss Coppole? Aku bisa melihat perubahan wajahmu ketika menyebut namanya.” Tegur Millie.


Iris terkesiap, iapun menggeleng ragu “Iya, tapi itu sudah lama.” katanya beralasan.


Millie berdecak “Kami semua mengakui kehebatan Mr. Alstrom, Miss Coppole. Tampan, memiliki tubuh tinggi bak para model yang datang ke kantor ini, sangat royal kepada pegawai, baik hati dan dia juga memiliki Tallulah Bluebells yang sangat cantik.” Ucapnya penuh rasa kagum.


Iris menelan ludah dengan hati yang sakit “Mereka masih bersama, bukan?” sebuah pertanyaan sederhana namun punya maksud untuk menyelidiki. Berpura-pura tidak tahu lebih baik bagi Iris daripada ia terkesan sebagai penguntit Jace dengan masuk sebagai pegawai magang di The Alstrom, Paris.


“Ya, mereka masih berpacaran dan tinggal bersama di New York. Walau pasangan itu tidak memajang foto mesra di dalam apartemen, namun Mr. Alstrom sendiri yang mengatakan hal tersebut kepada beberapa orang di kantor. Ini hanya pembicaraan di antara kita, selebihnya aku tidak tahu.”


Tadi ketika Iris melihat bangunan The Alstrom, hatinya membuncah oleh rasa bahagia. Perlahan ciut mendengarkan perkataan Millie, kini blus dipakainya mendadak sesak dan udara di lift tidak cukup untuk paru-parunya.


“Tapi kau sudah menikah, Miss Coppole. Aku bisa menebak pria yang berhasil mendapatkanmu. Tentu dia pria yang tampan dan memiliki segalanya untuk wanita secantik dirimu.” Puji Millie tulus sambil tersenyum. Bersamaan dengan itu lift berdenting dan terbuka.


“Sekedar infomasi buatmu, Mrs. Dale seorang penyuka sesama. Saat ini dia sedang berpisah dengan pasangannya. Jadi berhati-hatilah selama bersama dengan Mrs. Dale, kita tidak tahu apakah kau adalah korban berikutnya.” bisik Millie seraya terkikik pelan. Di ujung ruangan yang tersekat, seorang wanita berusia 30an dengan penampilan ala rocker, rambut diwarnai biru scotlight terlihat melambaikan tangan kepadanya. Sekilas Iris bergidik namun ia tetap berjalan bersisian dengan Millie yang menatap dengan mimik wajah yang membuatnya sedikit kesal.



Jace meremas lembut pundak Tallulah yang sedang sibuk mengisi koper sambil bersenandung ala kadarnya.


“Kembali kau akan meninggalkanku, Sweety Pie.” Gumam Jace terdengar melirih.


“Kita akan bertemu lagi, Boo. Aku hanya berangkat terlebih dahulu ke Milan sebelum kita bertemu di Paris.” Sahut Tallulah menoleh dan memerhatikan manik abu yang sendu menatapnya. Iapun menghentikan pekerjaannya dan memundurkan tubuh untuk duduk sejajar dengan Jace .


Jace menatap wajah polos kekasihnya, sedikit banyak perubahan Tallulah selama hidup seatap dengannya. Mimik ketakutan dan gugup tidak pernah lagi muncul, Tallulah menjadi wanita yang dewasa sebelum waktunya. Mungkin Tallulah mengikuti ritme usia Jace, pembahasan mereka pun bukan hanya melulu tentang cinta dan seks.


“Semoga di Paris kita bisa memiliki waktu untuk berliburan, Sweety Pie. Sadar tidak, jika selama kita bersama sekalipun tidak pernah berwisata ke suatu tempat. Sungguh, aku merasa berdosa dengan melalaikan dirimu.”


“Justru aku yang lebih sering meninggalkanmu dan sok sibuk dengan pekerjaan di luar sana. Ini bukan salahmu, Boo. Tapi kita berdua. Mungkin setelah akhir tahun, aku harus mengambil cuti dan pergi berwisata kemanapun kau mau. Bahkan aku tidak punya waktu untuk merayakan Thanksgiving dengan papa dan mama tahun ini padahal aku ingin mengajakmu bertemu dengan orang tuaku.” Tallulah mendesah, kini mata indah itu mengerjap dengan pelan.


“Aku tidak mendengarkan rencanamu ini sebelumnya, Sweety Pie. Justru aku belum mengiyakan permintaan mama yang mengajak kita ikut acara Thanksgiving di Swedia.”


“Hah?” Tallulah menarik tubuhnya ke belakang menatap dalam Jace.


“Kenapa kau kaget?” tanya Jace sambil mencubit pipi kekasihnya yang memerah dan menggemaskan.


Tallulah menunduk sekilas lalu menggeleng “Aku pikir kau tidak berpikir sejauh itu, Boo.” Gumamnya lemah namun debaran jantung justru menguat dan lebih kencang berpacu.


Bola mata abu-abu itu menyipit, bibir tipis menukik turun dan cemberut “Sejauh apa?”


“Tidak. Lupakan saja, Mr. Alstrom.” Kilah Tallulah sambil menggeleng dua kali yang kuat. Ia kemudian memegang jemari tangan Jace dan menggenggamnya erat.


“Tidak boleh seperti itu, Sweety Pie. Apakah ini berkaitan dengan keinginan mengajakmu untuk bertemu dengan kedua orang tuaku?” tanya Jace dengan hati-hati. Ia tidak ingin membuat Tallulah menarik diri.


“Iya. Aku pikir kau sangat sibuk hingga tidak punya waktu untuk memikirkan hari Thanksgiving. Aku tidak berani mengajakmu karena mungkin kau sudah memiliki jadwal tersendiri.” Sergah Tallulah dengan lemah.


“Tuhan, Sweety Pie. Kita sudah bersama hampir dua tahun. Aku pikir sudah waktunya atau mungkin ini terlambat mengenalkanmu kepada papa dan mama. Jujur aku sedikit tersinggung ketika tiga bulan yang lalu orang tuamu datang ke New York dan kau memilih kembali ke apartemenmu, tidak sekalipun aku mendengar permintaan kekasihku untuk bertemu dengan mereka. Ya, orang tuamu. Aku ingin berkenalan dengannya.” Ujar Jace panjang dan hangat.


Tallulah justru menangkap binar lain di mata Jace “Kau terlihat kesal, Boo.” Ujarnya sambil mengulum senyuman.


Kini Jace cemberut dan itu sangat seksi. Demi Tuhan, Tallulah sedikit lagi kehilangan akal sehat untuk tidak mendorong kekasihnya ke belakang hingga jatuh di atas karpet halus dan tebal itu.


“Tentu saja aku kesal. Saat itu aku berusaha menyibukkan diri di kantor, karena Nona Bluebells mengabaikan keberadaanku di hidupnya.” Ucap Jace sambil menarik tubuh Tallulah masuk ke dalam pelukannya.


“Ah, tubuhmu sungguh sempurna dalam pelukanku, Sweety Pie.” Sambung Jace cepat, nada suaranya terdengar serius dan pelan.


Tallulah terdiam dan mengamini perkataan Jace. Wangi tubuh Jace memabukkan, ia sangat betah berada di dalam sana.


Si gadis bersurai coklat kemudian mendesah panjang sambil memejamkan mata “Aku tidak berani mengajakmu untuk bertemu dengan kedua orang tuaku. Soal Thanksgiving tahun inipun karena papa dan mama mendorongku untuk mengajakmu. Sayangnya, aku memiliki jadwal pemotretan pada hari itu juga.”


“Tallulah.” Gumam Jace kini menangkup kedua pipi kekasihnya. Dua manik berbeda warna itu saling menatap dengan sorot yang sama. Rasa saling sayang dan memiliki.


“Hmmm.” Balas Tallulah bergumam rendah.


Jace tersenyum, gigi indah yang menjadi pesona tak tertandingi kini meruntuhkan hati Tallulah dengan indah. Ia sungguh memiliki pria yang sangat sempurna.


“Sweety Pie, sudah saatnya kita berpikir serius dengan hubungan ini. Aku sebagai pria tidak mungkin membiarkan orang tuamu hanya melihat kebersamaan kita lewat media. Mereka nantinya akan berpikir aku hanya mempermainkan anak tunggalnya. Aku sudah cukup dewasa untuk memikirkan sebuah pernikahan dan kehidupan berumah tangga, Nona Bluebells.”


Dalam sekejap wajah Tallulah semakin memerah, jantungnya berdebar menyakitkan sekaligus bahagia. Ia tidak menyangka jika Jace bisa mengatakan hal serius itu dengan sangat gampangnya.


“Pernikahan?” cicit Tallulah dengan suara yang bergetar. Telapak tangannya mendadak berkeringat karena gugup dan rasa bermacam-macam memenuhi dadanya.


Jace mengangguk “Ya, pernikahan.”


“Aku…” Tallulah mendongak dan menatap wajah Jace.


“Kau kenapa? Jangan katakan kau ingin tetap hidup seatap hingga puluhan tahun tanpa ikatan pernikahan, Sweety Pie. Dalam keluargaku tidak ada yang menganut gaya hidup seperti itu.”


Tallulah menelan ludah. “Apakah ini tidak terlalu cepat, Boo? Tolong tahan pembicaraan ini hingga kepulangan kita dari Paris. Aku tidak memikirkan pernikahan akan menghambat karierku sebagai model. Hanya saja, aku belum merasakan dirimu menuju ke arah itu. Jangan memikirkan tentang lamanya waktu 17 bulan kebersamaan kita dan langsung memutuskan sebuah pernikahan. Sungguh aku tidak percaya mendengar sebuah rencana pernikahan tercetus dari bibirmu, Mr. Alstrom.”


“Tallulah!” seru Jace dengan suara sedikit meninggi.


Tubuh Tallulah menyentak kaget.


“Sadar tidak jika dirimu yang selalu melangkah mundur dan menarik diri. Tadinya aku senang mendengarkan rencana merayakan hari Thanksgiving bersama dengan orang tuamu. Kini justru kau terdengar menghakimi diriku yang menurutmu tidak memikirkan rencana untuk menikah. Sejak awal aku mengajakmu untuk tinggal bersama karena ini mendalami karaktermu. Sejauh ini kau sempurna, Sweety Pie.” Suara Jace memelan yang sebelumnya volume suaranya naik setengah oktaf.


“Maafkan aku, Mr. Alstrom.” Ucap Tallulah terisak. Selama 17 bulan mereka bersama, ini merupakan kali pertama ia mendengar Jace membentaknya.


“Sweety Pie, maafkan aku. Kita sudahi saja pembicaraan malam ini. Mungkin belum saatnya hal serius dibicarakan ketika ingin bepergian. Ya, usai dari Paris kita akan membahasnya lagi.” bujuk Jace kembali merengkuh tubuh


kekasihnya.


Tallulah mengangguk lemah seraya menghapus jejak air mata di pipi dan menarik masuk kembali kristal yang menggenang di pelupuknya.



Jace berjalan gontai keluar dari ruangan persegi yang hanya menampung 12 orang di dalamnya, kebetulan hanya dirinya yang memiliki tujuan hingga lantai teratas bangunan milik The Alstrom.


“Tahan!” suara memerintah membuat Jace menoleh dengan cepat.


“Hei!” Jace tak kala kaget melihat sosok yang memintahnya untuk menahan pintu lift.


“Mr. Alstrom.” Kicau Iris dengan jantung berdetak dengan kencang.


“Wah, apa yang terjadi? Bagaimana bisa kau ada di sini, Iris?” tanya Jace dengan lambat-lambat dan sedikit kaku.


###





alo kesayangan💕,


kemungkinan mulai hari minggu aku akan mengupdate Jace tiap hari, so yang demen pemilik The Alstrom di pantengin yak..


love,


D😘