JACE

JACE
Pretty Hurts



“Tallulah!” Jace mengejar kilatan tubuh Tallulah yang menerobos melewati orang-orang yang memadati jalan keluar. Sekalipun Tallulah tidak menoleh, teriakan Jace diabaikan.


“Demi Tuhan, Tallulah!” teriakannya memelan ketika orang-orang mulai menatap Jace dengan pandangan penuh tanda tanya.


“Hei boss.” Rangkulan di bahu menghentikan langkah Jace. Rupanya Jacob tidak tahu tentang drama gila yang baru terjadi, Jacob pula berhasil menyelamatkannya dari tatapan orang-orang. Dan ya, Tallulah tidak terkejar, Jace bisa melihat supermodel cantik itu naik ke atas mobil yang telah disediakan agensinya.


“Tuhan!” Jace memijat keningnya sementara napasnya masih memburu, dadanya berdebar kencang.


“Boss.” Jacob menatap Jace sambil mengeryitkan alis. “Mr. Alan menunggumu.”


Jace menggelengkan kepala sembari mengembuskan napas berkali-kali. Ia sedikit menoleh memandang wajah Jacob dengan sendu. “Apakah bisa dibatalkan?”


Jacob dengan mantap menggelengkan kepala seraya menarik Jace kembali masuk ke dalam. “Tidak bisa, Mate. Dia sudah menunggu di meja. Kau harus menandatangani kontrak kerjasama dengannya.”


“Tunggu sebentar. Aku harus menelepon.” Jace melepaskan rangkulan Jacob dan menepi sebelum sang manager keuangan mengambil kuasa atas tubuhnya.


Badan Jace menggigil. Ia di sergap perasaan bersalah. Ia tidak bisa membayangkan perasaan Tallulah saat ini. Gadis belia itu terluka dan pergi.


Tut tut … nada panggilan ke nomer Tallulah.


Hingga panggilan Jace dialihkan ke kotak suara, ia kembali berusaha menghubungi kekasihnya. Respon yang sama hingga percobaan ketiga.


Sweety Pie, maafkan aku. Bisakah kau mengangkat teleponku? Atau tunggu aku di apartemen dan kita bicarakan ini dengan baik-baik. Please..


“Sudah?” tepukan di punggung Jace bak alarm yang memanggilnya untuk kembali ke dunia yang sesungguhnya. Seorang koleganya yang berasal dari Asia, Alan Ye. Pria berusia 40 tahun akhir, seorang pengusaha sukses yang nantinya akan menguasai pemasaran The Alstrom di wilayah Asia.


“Buat semua ini cepat selesai.” Jace memutar matanya dengan malas. Wajahnya tegang sambil melangkahkan kaki menuju ruangan yang berbeda dengan tempat kejadian ciumannya dengan Iris.


“Sepertinya tidak, boss. Setelah ini kita akan menghadiri after party. Apakah kau melupakannya?” Jacob berusaha mengingatkan Jace yang terlihat linglung dan tidak fokus. “Sebenarnya apa yang telah terjadi?” tuntutnya menangkap ada hal yang tidak beres telah terjadi.


Jace berhenti dan menoleh menatap lekat sahabatnya. “Apakah semua model akan datang?”


“Seharusnya. Apakah ada orang yang kau tunggu?”


Hati Jace sedikit tenang, ia akan  bertemu dengan Tallulah di acara after party The Alstrom. Bagaimana ia bisa melupakan hal penting tersebut.


“Jace.” panggil pelan dari Iris berjalan mendekat.


Sontak Jace menaikkan tangannya seakan mengisyaratkan agar Iris berhenti. Matanya mengatup sejenak sambil mengisi paru-parunya dengan oksigen.


“Tidak sekarang, Iris.” tolak Jace kemudian berjalan dan melewati wajah bersalah milik Iris.


Jacob semakin penasaran, ia mengejar Jace hingga berjalan di sisi pemilik The Alstrom yang terlihat semakin tegang.


“Iris menciumku, dan Tallulah melihatnya.” Ujar Jace sebelum mencapai pintu ruangan yang sengaja di pesan untuk sebuah rapat tertutup dengan beberapa orang berwenang.


“Gila!” umpat Jacob kemudian berbalik melihat Iris. Wanita cantik itu masih berdiri di tempatnya, dan memandang  ke arah mereka. Jacob menggeleng dan sepintas ia melihat sebuah senyuman tipis tersungging di bibir Iris.



Pandangan mata Jace mengembara, ia mencari sosok kekasihnya keremangan restoran hotel berbintang lima yang disulap menjadi tempat berpesta untuk kalangan khusus yang turut mensukseskan peragaan The Alstrom. Syukurnya, jauh sebelum hari ini terjadi, Iris telah mengatakan jika tidak bisa menghadiri pesta dikarenakan ia telah memiliki janji dengan suaminya.


Jace tidak bisa membayangkan jika harus melihat kedua wanita itu dalam waktu bersamaan. Hingga malam tiba Tallulah tidak membalas pesannya, bahkan sekarang nomer telepon supermodel itu sudah tidak aktif. Salah Jace sendiri yang tidak memaksa Tallulah untuk menginap di hotel yang sama dengannya. Tallulah memilih bergabung dengan teman-teman modelnya, sebuah kebiasaan bagi mereka untuk berkumpul di satu tempat apalagi dipertemukan pada sebuah event sebesar New York Fashion Week.


Musik yang menghentak membuat beberapa orang bergoyang di tempatnya berdiri, tidak ada yang berlebihan. Semua tampak menjaga image, Jace hanya berasumsi jika orang-orang itu belum dikuasai oleh cairan memabukkan. Tunggu saja tiga menit kemudian dan semuanya tidak beraturan.


Langkah Jace mengarah kepada rombongan model-model yang dikenalinya sebagai teman-teman Tallulah.


“Ellis.” Sapa Jace agak menaikkan volume suaranya. Jelas-jelas suaranya kalah bersaing dengan musik DJ yang menghentak dan membuat kepalanya pusing.


“Mr. Alstrom.” Ellis sepertinya tahu seraya memisahkan diri dari kawanan teman-temannya.


Jace menarik napas panjang menatap penuh harap kepada Ellis. “Apakah kau tahu di mana Tallulah berada? Dia seharusnya ada di pesta ini, Nona Wilder.”


Ellis mengatupkan giginya dan meringis. Seketika ia sadar jika sikapnya sangat tidak sopan di depan orang sekelas Jace, Ellis pun buru-buru menutup bibir. “Maafkan aku, Mr. Alstrom.” Ucapnya gelalapan.


“Tidak apa-apa, Nona Wilder. Jika melihat ekspresimu aku bisa menebak bahwa kau sudah tahu apa yang telah terjadi. Maafkan aku, mungkin Tallulah telah merepotkanmu hari ini.” kata Jace.


Ellis menggelengkan kepala, tangannya pun ikut terkibas. “Tidak. Tidak. Tallulah sama sekali tidak merepotkanku, Mr. Alstrom. Ia akan datang, hanya terlambat.” Sahutnya sambil memandang wajah risau Jace.


Ellis melipat bibirnya dan menghela panjang dalam. “Bicaralah dengannya. Ya, aku pikir memang seharusnya kalian harus berbicara. Semua orang pernah melakukan kesalahan, Mr. Alstrom. Kembali lagi kepada Tallulah. Well, aku hanya berusaha yang terbaik.”


Jace tersenyum tipis sambil mengangguk. “Terima kasih, Nona Wilder.”


“You welcome, Mr. Alstrom. Omong-omong sepertinya Jacob mencarimu.” Model yang menjadi teman baik Tallulah menunjuk ke arah belakang Jace. Mau tidak mau Jace membalikkan tubuh dan melihat Jacob berjalan dengan langkah tergesa-gesa.


“Sekali lagi maafkan aku, Nona Wilder.” Kata Jace mengakhiri perbincangannya dengan Ellis. Ia kini harus menghadapi Jacob.


“Aku mencarimu dimana-mana, boss. Semua orang di dekat bar menunggu. Pesta sampanye akan dimulai.” Seru Jacob dengan riang. Pria itu sepertinya penuh semangat untuk berpesta habis-habisan malam ini. Berbanding terbalik dengan Jace yang hatinya penuh kebimbangan dan sesak. Ia hanya menunggu satu orang yang belum menunjukkan dirinya, bahkan pesta telah berjalan separuh waktu.




Jace membatasi dirinya untuk tidak larut dalam pesta minuman yang bisa membuat kesadarannya menghilang. Ia memilih minuman ringan dan berbincang dengan orang-orang yang memiliki gaya hidup jauh dari minumam beralkohol.


Lihat aku, arah jam 9. Dan ikuti.


Tidak pernah dalam hidup Jace menyembah benda pipih di tangannya, hingga belasan jam terakhir ia sama sekali tidak pernah melepaskan ponselnya. Dan ketika melihat layar ponselnya menyala, Jace dengan kecepatan kilat membaca pesan yang sangat ditunggunya.


Manik abunya menyala ketika menatap sosok Tallulah. Tangan Jace meraba dadanya yang bergemuruh. Ia terkesima melihat Tallulah yang mengenakan jumsuit glitter hitam dan memamerkan bahunya yang indah. Bibir penuhnya dipoles merah menyala, gadis yang sangat cantik. Sambil merutuk dalam hati Jace berjalan cepat mengikuti Tallulah yang terlebih dulu melangkahkan tungkainya.


Jace mengikuti Tallulah yang berdiri merapat tembok balkon. Bola matanya terpaku pada sosok wanita cantik yang terlihat misterius dengan balutan pakaian berwarna hitam.


“Sweety Pie.” Jace mengerang seraya memegang jemari tangan kanan Tallulah.


Jace mengecup jemari tangan Tallulah berkali-kali. Si gadis cantik hanya tersenyum dengan manik birunya yang berkaca-kaca. Tallulah menyandarkan kepala di bahu Jace sambil menatap cahaya lampu dari bangunan lain termasuk Rockfeller christmas tree yang pucuknya tampak sangat jelas dari tempat mereka berdiri.


“Mr. Alstrom.” Panggil Tallulah pelan.


Jantung Jace berdetak aneh, pun perasaan kini menjadi sangat tidak enak. Tallulah memanggil namanya dengan formal.


“Sttt.. Tallulah.” Jace hendak menenangkan kekasihnya.


“Lihat. Apa yang kurang dari tanganku.” Kata Tallulah mengacungkan jemari tangan kirinya ke udara. Sontak perhatian Jace mengarah ke sana.


“Cincinmu, kemana cincinmu? Sweety Pie, hei…” seru Jace panik perasaan khawatir. Ia pun membalikkan badan Tallulah. Ia menatap bola mata Tallulah telah menjatuhkan air mata.


“Maafkan aku, Tallulah. Demi Tuhan, maafkan aku.” Pekik Jace meraih kedua jemari Tallulah dan menciuminya.


Tallulah tersengal oleh perih yang menyayat hatinya. “Sayangnya, aku tidak bisa memaafkanmu.” Ucapnya sambil menggelengkan kepala.


Jace menatap Tallulah dengan lekat-lekat. “Sweety Pie.” Tangannya mengulur menghapus air mata kekasihnya yang terus menerus meluruh.


Tallulah berdeham, menarik napas panjang dan dalam. Ia menatap Jace dengan sendu. “Aku telah mengeluarkan semua pakaianku dari apartemenmu, Mr. Alstrom. Kita sudah berakhir.” Katanya kemudian merogoh kantong jumsuitnya.


Jace terperangah, ia tidak tahu harus mengatakan kalimat tepat dalam posisinya saat itu.


“Ini, aku kembalikan.” Tallulah meletakkan cincin antik warisan grandma Jace di tangan pria yang menghancurkan hatinya.


“Tallulah. Bisakah kau pikirkan lebih lama? Tuhan, jangan memutuskan hal penting secepat ini, Tallulah. Tolong…” Jace mengerang.


Tallulah menguatkan hati. Ia menggeleng kuat. “Tidak. Aku tidak bisa. Aku yang tidak bisa menjalani hari setelah ini dengan pria sepertimu. Ya, jujur sampai detik inipun aku masih sangat mencintaimu, Mr. Alstrom. Hanya aku tidak bisa memaafkanmu. Sejak dulu aku telah mencurigai jika wanita itu memiliki hati kepadamu. Dia bekerja bersamamu di Paris. Kau menyukainya…”


“Tidak! Tallulah, bukan aku yang memulai pelukan dan ciuman itu.” sergah Jace menjelaskan kejadian sebenarnya.


Bukannya percaya, Tallulah tidak bergeming. “Sudahlah, Mr. Alstrom. Kita tidak usah berdebat. Karena kau pasti memiliki sudut pandang yang meringankan posisimu, begitupun aku yang melihat segalanya. Kalian berciuman, titik.” Ucapnya menjatuhkan vonis yang tak bisa dibantah lagi.


“Maafkan aku, Tallulah.” Pinta Jace menghiba. Ia mencari sinar cinta yang dulu berpijar di manik biru kekasihnya, sayang itu tidak Jace temui.


Cinta telah redup di bola indah Tallulah, jika gadis itu mengatakan cinta untuknya. Setidaknya Jace masih ada di hati Tallulah.


“Biarkan waktu yang menjawabnya. Tapi sekarang aku ingin menata hidupku, Mr. Alstrom. Aku tidak perlu menanyakan hal itu kepadamu, kau jauh dewasa dari usiaku.” Kata Tallulah menahan isak tangisnya yang hendak meledak.


“Sweety Pie, kenapa?” manik abu Jace memburam. Ia memegang semakin erat kedua jemari Tallulah. Jace berupaya sekuat tenaga menahan gadis cantik yang terluka dengan hebatnya. Jace adalah cinta pertama Tallulah, pun ia juga yang memberikan luka pertama karena cinta.


“Berikan aku kesempatan memperbaiki kesalahanku, Tallullah.” Jace berjuang. “Ayo, kita menikah. Kalau perlu malam ini.” ujarnya semakin kehilangan arah.


Tallulah menangis, meraung memeluk Jace.


“Aku mencintaimu, Tallulah Bluebells. Aku tidak ingin melukaimu, tolong berikan aku kesempatan.” Jace menangis pelan seraya menciumi surai Tallulah yang memancarkan wangi khasnya.


Jantung Tallullah memompa dengan nyeri. Ia menggeleng. “Aku tidak bisa. Maafkan aku, Mr. Alstrom aku tidak bisa.”


Pupus sudah, semua usaha Jace. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain mendekap tubuh Tallulah yang terisak. Hingga tangis Tallulah mereda, gadis itu pula yang melepaskan diri dan berjalan mundur selangkah.


“Apakah kau kembali ke apartemenmu?” tanya Jace membelai pipi Tallulah dengan lembut. Hatinya sakit melihat wajah cantik dan terluka yang berhasil memutuskan hubungan mereka.


“Apakah kau akan mencariku?” Tallulah balik bertanya sambil tersenyum manis.


Jace mengangguk. “Aku pasti merindukanmu, Sweety Pie.” Manik abunya berkaca-kaca, suaranya serak menahan tangis. Jace tidak pernah serapuh ini.


“Aku tidak akan tinggal di apartemen itu.” tandas Tallulah menatap wajah tampan yang juga akan ia rindukan.


“Dimana?” Jace menuntut sebuah jawaban pasti.


Tallulah mengangkat bahu. “Tidak tahu. Kau tidak perlu tahu juga, Mr. Alstrom. Biarkan aku untuk pulih. Hingga aku berani muncul di depanmu dengan kuat.”


“Tuhan.. Tallulah.” Suara gemetar Jace seraya menangkup kedua pipi Tallulah.


Gadis yang terluka kemudian menunduk memandang dari alas kaki, celana, atasan suit dan berhenti pada wajah Jace. “Kau adalah pria hebat, Mr. Jace Von Alstrom. Banyak hal luar biasa aku dapatkan dengan bersamamu dan mengubahku menjadi seperti ini.”


“Tallulah..” Air matanya mengalir di pipi. Ia membayangkan hidupnya tanpa gadis bermanik biru. Namun Jace sadar akan posisinya. “Tolong panggil aku sekali saja dengan sebutan kesukaanmu.”


 Tallulah terkekeh dengan bola mata yang berkabut. Ia menatap Jace. “Boo?”


Jace mengangguk.


“Boo.. aku akan merindukanmu. Peluk aku, Boo.” Tallulah tak butuh lama dan akhirnya ia berada dalam dada hangat pemilik The Alstrom.


“Tallulah, apakah ada jalan untuk kembali dari awal? Cintaku, kita mulai nol. Kita lepaskan semua, dunia yang gemerlap ini.”


Tallulah mendesah dan menggeleng. “Tidak. Tapi aku tidak tahu jalan kita di depan. Jika memang semua amarah, benci telah hilang dan cintaku masih sebesar saat pertama kali melihatmu. Dan cintamu benar-benar hanya untukku seorang. Ya, mari kita memulainya dari awal.”


###




don't hate me, please