
Aaron Watkins bisa jadi satu-satunya orang yang tidak berbahagia di Housewarming Party sang supermodel. Aaron belum bisa menerima kenyataan pahit tentang Tallulah yang kembali bersama dengan Jace Von Alstrom. Bahkan kejadian dua hari lalu melekat di kepala Aaron, bagaimana Jace yang menerangkan hubungan mereka dan Tallulah mengiyakannya.
Kecewa. Tentu saja Aaron kecewa karena ia memuja dengan sangat kepada Tallulah. Ia sudah berangan-angan berkencan dengan seorang supermodel papan atas. Ia pastinya makin terkenal jika sukses mengandeng Tallulah di ibukota atau mungkin ketika mengajaknya ke Hawai.
Yeah, Aaron telah memikirkan hal tersebut, membawa Tallulah ke rumah pantainya di Hawai. Bahkan telah bermimpi mengenalkan Tallulah kepada kedua orang tuanya. Ia menemukan wanita impiannya, wanita yang menggerakkan sisi hatinya yang beku.
Tapi lihat kenyataan yang harus Aaron terima. Aaron sedang berusaha mendapatkan Tallulah dan Jace datang merusak segala rencana-rencana indahnya.
Pria itu, Aaron menatapnya dengan tajam. Jace sama sekali tidak paham jika sedang diperhatikan oleh Aaron. Aaron semakin geram melihat Jace asyik berbincang dengan orang tua Tallulah, sementara wanita cantik itu bercengkerama dengan teman modelnya. Aaron tahu Ellis, Tallulah sering memamerkan kebersamaan mereka di sosial media.
"Hei." sikutan dari wanita di samping Aaron membuatnya menoleh dengan manik menyipit.
"Apa?" Aaron menenggak isi gelasnya sampai habis.
Lucy Harrington, teman yang berhasil mendapat undangan dari Tallulah berdecak sambil menggelengkan kepala.
"Aku tahu kau jatuh cinta kepada Lula, Sayang. Tapi lihat dengan jelas." angguknya mengarah ke Jace.
Aaron memutar mata dengan malas, ia tidak menatap ke arah Jace, dadanya panas ketika melihat sosok itu.
"Terus?"
Lucy tersenyum kemudian menggigit bibirnya menggoda. "Aku pun tertarik dengan pria seperti dia, Sayang. Tapi pria seperti dia tidak mungkin melirik wanita seperti diriku. Wanita yang hanya bergelut dengan kuda dan peternakan. Lula dan tuan itu, berada di dunia yang sama. Dirimu juga."
Aaron tercenung. Ia kemudian menggelengkan kepalanya. "Aku lama bersama dengan kekasihku sejak sekolah menengah, kemudian dia memutuskan hubungan dan memilih pindah ke Brazil. Aku akui berkencan dengan beberapa wanita cantik, namun sekelas Lula tidak pernah kudapatkan."
Lucy terkekeh lirih kemudian menghela napas pendek. "Sebenarnya seperti apa tipe wanita yang kau inginkan, Tuan Watkins? Kita sudah lama berteman namun aku belum tahu seperti apa wanita yang kau inginkan."
Aaron memandang Tallulah yang sedang tergelak tawa dengan Ellis. "Seperti dia. Wanita yang sempurna."
"Ya, Lula sempurna. Dan Tuan Alstrom juga sempurna, mereka sepadan. Bagaimana denganmu? Apakah kau akan terus berusaha sementara mereka saling memiliki satu sama lain?"
Aaron melipat bibir menatap nanar ke arah Tallulah. "Tidak tahu, tapi api di dadaku belum padam. Jangan memintaku untuk berhenti jika belum waktunya. Aku seorang pengusaha, dan bertaruh seperti ini adalah adrenalin. Kau juga seperti diriku, bukan?"
"Tidak. Aku lebih memilih mencintai dalam diam daripada menghabiskan energi kepada sesuatu yang mustahil, Sayang. Mengurus kuda telah menguras waktu, aku merasa percintaan tidak pernah tepat untukku."
"Kau pesimis, Lady." akhirnya Aaron tertawa sambil menepuk punggung temannya. "Lihat dirimu, tinggi dan tangguh."
"Terlalu tangguh untuk seorang wanita, semua pria ketakutan melihatku kecuali dirimu." sungut Lucy.
Aaron semakin tergelak tawa hingga matanya berkaca-kaca. "Kau menarik, Temanku. Hanya kau terlalu sibuk dengan peternakanmu."
Lucy hanya bisa tersenyum tipis. "Mungkin sepertinya begitu." sahutnya menyerah. Ada hal yang disembunyikannya dan itu perasaannya terhadap Aaron.
"Suatu hari kau akan mendapatkan pangeranmu." hibur Aaron mengacungkan gelas berisi wine, Lucy pun mengadu gelasnya.
"Kau juga, Sayang. Kau pria yang sukses, tampan, masih muda, tentu banyak wanita yang tertarik kepadamu."
"Yang aku sukai tidak menyukaiku."
Lucy tidak menanggapinya selain melambaikan tangan ke arah Tallulah, wanita cantik itu bergerak mendekati mereka.
"Lula kesini." gumam Lucy dan menoleh menatap Aaron yang sedang memandang penuh perasaan kepada supermodel itu. Sorot mata yang tidak pernah ia dapatkan selama mereka berteman.
...
Giulio tertunduk sambil meremas jemarinya. Ia kembali menatap gadis belia di depannya yang sedang bermuram durja.
Wajah Franca tipikal orang Italia asli yang coklat hampir seperti batu bata, eksotik. Giulio sangat menyukai itu, terlebih manik Franca yang coklat. Namun apa artinya dia mengagumi kecantikan Franca, jika di hatinya masih ada tempat untuk Iris.
Ya Iris Coppole, wanita arogan dan keras kepala itu telah kembali ke Paris meninggalkan Verona. Putri kecilnya yang mewarisi hati teguh sang mama, terbukti Verona tidak menangis sedikitpun ketika Iris pergi. Namun mereka sering bercakap-cakap lewat panggilan suara dan video.
Kepergian Iris mengusik Giulio. Perasaannya yang dulu terbagi atau bisa dikatakan cenderung ke Franca berbalik arah dominan ke ibu Verona. Giulio bahkan tidak bisa tidur hanya memikirkan Iris, merindukannya. Terlebih mereka tidak banyak berbicara sebelum Iris pergi. Ada hal yang belum terselesaikan dan itu sangat menganggu.
"Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpamu." isak Franca sambil menggelengkan kepala. "Verona, aku tulus menyayanginya."
"Maafkan aku, Franca."
Isak tangis Franca mengeras, tangannya terkatup kuat-kuat di atas meja. "Sweet Darling menjadi Franca, kau semudah itu melepaskan panggilan kesayanganmu kepadaku. Kau sungguh jahat, Tuan Celi." Ucapnya terbata-bata.
"Franca, tolong mengerti posisiku." Giulio menghiba, ia bisa melihat Franca yang muda terluka, dan tidak bisa mengontrol diri. Andai Giulio bukan pria baik-baik, akan lebih mudah mengakhiri hubungan mereka dengan menghilang tanpa ada kata perpisahan. Tapi itu bukan sifat Giulio.
Franca mengikat manik biru Giulio dengan tatapannya. "Aku berusaha tapi ini sangat menyakitkan, Pria Terhebat Yang Kukencani." jawabnya polos. Nyatanya Franca tidak pernah menemukan pria seperti Giulio sebelum ini. Pria dewasa yang membuatnya tergila-gila, sayangnya satu besar membuat mimpi harus karam. Giulio pria memiliki istri.
"Maafkan aku, Franca. Aku berusaha jujur kepadamu, jika aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita."
"Berhenti. Jangan mengulangi perkataan itu lagi."
"Aku yang salah. Aku-lah yang terlebih dahulu mendekatimu, aku yang menggodamu."
"Aku jatuh cinta ketika pertama kali melihatmu." aku Franca mengulang momen pertemuan pertama mereka. "Kita berdua yang salah."
Giulio meletakkan selembar kertas kecil di atas meja, Franca menatapnya dengan manik melebar.
"Aku minta maaf melakukan ini. Tapi tolong terimalah."
"Tidak!" tolak Franca terpekik. Ia menggeleng sangat kuat, bola matanya menyorot tajam.
"Tolong." Giulio bersikeras menahan selembar cek berisikan angka yang luar biasa bagi Franca.
"Kau melukai harga diriku, Giu! Kau menyogok agar aku bisa menerima perpisahan ini. Tidak! Aku tidak memerlukan uangmu." Franca berang, spontan berdiri namun Giulio menarik tangannya.
"Duduklah. Mari kita bicarakan baik-baik." pinta Giulio.
Franca kembali terduduk dengan muka kesal, tangisannya hilang seketika saat Giulio menaruh cek senilai setengah juta Euro.
"Aku tidak mau." erang Franca.
"Dengar aku, tolong." Giulio tenang sambil menarik napas panjang. Franca patuh dan pasrah.
"Franca, jangan menganggap aku membeli harga dirimu dengan cek ini. Sebelum ini terjadi aku punya banyak impian denganmu. Meninggalkan flat kecil itu, tempat kita menghabiskan waktu. Aku ingin melihatmu hidup lebih baik bersamaku. Tapi sekarang aku tidak bisa mewujudkannya. Cek ini, aku harap bisa memperbaiki tempat tinggal dan hidupmu. Raih cita-citamu dan pergilah berlibur. Kau masih sangat muda, jangan berduka terlalu lama setelah ini."
Franca menitikkan air mata, tangannya mencengkeram lengan Giulio. Kepalanya rebah di bahu Giulio. "Kau mencintaiku, Tuan Celi."
"Ya. Aku mencintaimu tapi separuh hatiku ke Verona dan mamanya. Ini tidak adil untukmu dan maafkan aku harus dirimu yang kukorbankan." ucapnya lugas, tidak ada yang perlu Giulio tutupi. Ia
Franca si gadis bersurai hitam menggeleng di bahu pria yang ia cintai sekaligus melukainya. "Jadi aku harus menerimanya?"
"Ya, terima pemberianku, terserah apa yang mau kau lakukan dengan uang itu."
Franca menelan salivanya pahit. "Kita juga tidak akan bertemu, aku akan pindah ke tempat lebih tenang. Semoga saja aku bisa melupakan perasaan ini dengan cepat karena aku tidak mungkin meratapi dirimu yang telah bahagia dengan dia dan Verona."
"Dewasa. Hal itu pula membuatku tertarik kepadamu. Maafkan aku." desah Giulio. Walau ia berhasil menundukkan Franca dengan perpisahan mereka, namun tetap saja ia juga bersedih karena telah menyakiti hati semurni gadis yang ia usap puncak kepalanya.
Franca memejamkan mata menahan perih yang melukai hati. "Kau adalah hal terbaik yang pernah hadir di hidupku, Tuan Celi."
Giulio menarik napas panjang. Ia tidak boleh tergoda untuk membatalkan perpisahannya dengan Franca. Di dalam hatinya ia ketakutan akan karma buruk terhadap perbuatannya terhadap Franca.
Giulio bertaruh, lebih memilih melepaskan Franca walau Iris belum tentu akan kembali kepadanya. Bisa jadi Giulio tidak mendapatkan apa-apa, namun setidaknya ia memiliki Verona. Satu-satunya manusia yang tidak pernah menuntut apapun, kecuali menunjukkan kelucuannya setiap hari. Kini Giulio sangat merindukan Verona, bukan Iris. Mungkin melepaskan Franca adalah sebuah keputusan yang salah besar.
...
Jace tersenyum melirik Tallulah yang berjongkok di sampingnya sedang merapikan tanaman bunga di halaman.
"Sebentar lagi ini akan berbunga." ujarnya pelan.
Tallulah menoleh sambil tersenyum indah. "Sebentar lagi, namun aku akan ke New York bulan depan."
Jace tiba-tiba mengecup pipi Tallulah. Wanita cantik itu tertunduk. "Aku akan menemanimu di New York. Kita kembali ke apartemen." ujarnya ringan.
Tallulah meletakkan alat berkebunnya, kemudian menjatuhkan bokongnya di atas rumput. Jace melakukan hal yang sama.
"Boo." panggil Tallulah manja.
Jace menyunggingkan senyuman bahagia. "My Sweety Pie."
"Aku jahat kepadamu." Tallulah menghela napas kasar.
"Hei." seru Jace seraya merangkul pinggang gadisnya.
Manik biru indah itu mengerjap dengan cantiknya. "Selama kau berada di sini aku membuat jarak. Tidak mudah membuka diri, sementara kau berusaha keras memenangkan hati yang sebenarnya telah kembali jadi milikmu."
"Tuhan." Jace mengerang pelan dengan hati bahagia. Siapa yang tidak bersuka cita jika selama 7 hari ia berusaha membuktikan kesungguhan hatinya terhadap Tallulah. Sedangkan gadisnya bersikap datar, seperti hari pertama Jace di Nebraska. Saat itu Tallulah mengatakan akan memberikan kesempatan terhadap Jace. Bukan langsung takluk dengan mudahnya.
Selama 7 hari itu Jace harus membuktikan dirinya yang terbaik, bukan sekadar janji omong kosong. Ia bahkan terusik dengan kehadiran dan panggilan telepon Aaron. Yang akhirnya Jace bisa bernapas lega ketika Tallulah menjelaskan posisi Aaron.
Ya, salah satu dari jutaan penggemar kekasihnya. Namun hanya Jace yang memiliki Tallulah.
"Daddy dan mommy banyak memberikan nasehat."
"Tentang apa?" tanya Jace memamerkan giginya.
Tallulah cemberut. "Orang tuaku menjadi sekutumu."
Jace tertawa. "Kau memiliki orang tua yang sangat baik."
"Mommy mengingatkan untuk tidak menggantungmu terlalu lama dan menerima si super hebat Tuan Jace Von Alstrom sepenuhnya." ringis Tallulah kemudian memeluk prianya. Satu-satunya pria yang akan hadir di hidupnya. Ia bukan wanita yang gampang jatuh cinta, ketika mencintai hanya ada satu untuk selamanya. Sekuat itu ia mencintai Jace, cinta pertamanya.
"Jadi?" pertanyaan Jace menggantung sambil menatap wajah cantik Tallulah penuh makna.
Supermodel itu tersenyum kemudian menggigit bibirnya. "Ya." angguknya tersipu malu.
"Aku merindukanmu. Dan ingin segera menikah denganmu."
Bola mata berwarna biru itu membelalak. "Mr. Alstrom!" seru Tallulah dengan wajah merah merona.
Jace merengkuh Tallulah, mendekapnya erat-erat sementara senja ke delapan sejak kedatangannya perlahan hadir.
"Kita sudahi penantian panjang ini, Nona Bluebells. Jadilah milikku seutuhnya."
Tallulah menengadah menatap wajah Jace. Ia hanya mengangguk pelan dan pelukan luar biasa hangat yang didapatkannya dari Jace.
###
Alo kesayangan💕,
Aku kembali upload Jace, susah banget nyari waktunya nulis.. maaf yah.
Next, mau si mafia atau pertarungan antara para pangeran?
sebenarnya aku ingin memasukkan foto Giulio, tapi picnya di hape satunya yang sangat jarang aku nyalakan.
😔
tetap sehat, Ladies 💪🏻🤟🏻
love,
D😘