JACE

JACE
Two Different Sides



"Yakin hanya sampai di sini?" tanya Jace setelah menghentikan kendaraannya di depan gedung bertingkat tinggi agensi yang menaungi Tallulah.


"Tentu." sahut wanita cantik di sebelah Jace yang sedang mengulas senyuman lebar. Tallulah membuka seatbelt dan meraih handbag-nya dari jok belakang.


"Aku antar sampai pintu." Jace menawarkan dibalas gelengan kepala oleh Tallulah.


"Tunanganmu bukan anak kecil lagi, Mr. Alstrom." sahutnya sambil mencondongkan kepala lalu memberikan kecupan ringan di bibir. Jace terlihat kurang puas dengan ciuman singkat itu.


"Terlebih kau juga akan ke kantor." tambah Tallulah menatap wajah rupawan tunangannya. Bola mata Jace menyipit membentuk lengkungan indah, sementara bibirnya mengerucut.


Pagi itu Jace mengenakan suit berwarna merah maroon, lengkap dengan topi bundar sewarna. Pemilik The Alstrom berpenampilan seperti runaway model. Sementara Tallulah mengenakan top crop berwarna hitam memamerkan perut ratanya dipadu dengan baggy jeans.


"Daripada aku di apartemen tidak mengerjakan sesuatu. Lebih baik menampakkan wajahku di kantor."


"Jacob menunggumu, tadi sempat mengirimkan pesan hanya untuk memastikan Mr. Jace Von Alstrom ke kantor. Katanya banyak yang harus kau tandatangani, Boo."


Jace mendesah sambil mengangguk. "Terus berikan kabarmu." giliran Jace mengecup pipi Tallulah.


"Yes, Sir." 


Tallulah menoleh dan mendapati Jace masih setia mengikutinya dengan pandangan mata dari balik kemudi, ia pun melambaikan tangan sebelum masuk ke dalam gedung. Tallulah harus menaiki lift untuk sampai di kantor managemennya di lantai 12. Berbagai bidang dan perusahaan di bangunan tersebut, mengingat lokasinya yang sangat strategis di pusat kota New York.


Tarikan tangan dari Valentino pemimpin The Sosiality, management model tempat Tallulah bernaung. Ya, Valentino tentu saja seorang g*y, berdarah separuh Italia dan Amerika. Pria berusia akhir tiga puluhan itu menarik Tallulah masuk ke dalam ruangannya.


"Coba lihat." pekiknya dramatis. Valentino memerhatikan cincin berlian di tangan Tallulah dengan seksama. "Ini cincin seharga 2,5 juta dollar!"


Tallulah menggigit bibirnya sambil menganggukkan kepala. "Ya, aku tahu."


Valentino berdecak keras menyaingi bunyi cicak yang sedang mengabarkan kedatangan hal kasat mata. "Jangan lepaskan, bahkan ketika pemotretan. Ini akan membuat namamu semakin melambung, Darling. Paparazzi belum mengetahui jika kalian menjalin hubungan bahkan kembali bertunangan."


"Belum tahu." gumam Tallulah. Ia baru tiba di New York semalam, itupun dengan jet pribadi yang disewa oleh Jace. Berita pertunangannya pun hanya berputar di sekitar keluarga besar mereka berdua.


"Aku tidak masalah jika model-modelku menikah, pekerjaan ini tidak mengenal status dan usia." ujar Valentino yang kini menghempaskan bokongnya di atas sofa. Tallulah ikut duduk, ia sengaja berangkat pagi sementara jadwal pemotretannya akan dimulai sekitar jam 3 sore. "Apalagi kalian mendapatkan pria yang tepat, seperti Mr. Alstrom. Pria yang tidak mengenal digit uang."


Valentino mendengus ketika mendapati Tallulah tertawa tanpa suara. "Banyak pria yang memujamu, Darling. Mr. Alstrom sangat tahu jika butuh cincin seindah ini untuk mengikatmu bukan cincin dari jaman purbakala itu. Syukurlah dia merubah pikirannya." sindirnya mengingat cincin tunangan Tallulah yang pertama.


"Aku suka cincin itu, Val."


Valentino mengedikkan bahu lalu tersenyum terpaksa. "Sudahlah yang lalu biarkan terkubur oleh waktu. Oh yah, bagaimana dengan rumah barumu? Apakah kalian akan tinggal bersama di sana atau di mansion tunangan kayamu itu di Hamptons? Jika boleh aku menyarankan, Darling. Lebih baik kau tinggal di Hamptons daripada di Nebraska."


"Aku suka di sana, tampaknya Jace juga suka."


Valentino menyeringai lalu mencibir. "Pria itu dimanapun akan menetap jika kau suguhi s3x yang hebat. Kau belum hamil?"


Tallulah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, sepertinya hari akan panjang dengan pertanyaan-pertanyaan Valentino Troisi.


"Sebentar lagi Ralph akan datang dan memotong rambutmu, sebelum kita akan ke lokasi. Hari ini aku tidak punya pekerjaan, jadi aku memutuskan menghabiskan Selasa bersamamu, Nyonya Von Alstrom." Valentino langsung mengusap tangannya dengan kasar. "Aku merinding hanya menyebutkan nama itu. Wah... besok berita pertunanganmu akan menghiasi semua tabloid dan berita di televisi. Baiknya aku merayakannya lebih cepat."


Valentino berdiri dan berjalan gemulai ke arah lemari tempat ia memajang koleksi wine dan minuman beralkohol lainnya. "Kau pasti sudah sarapan, jadi temanilah aku." ucapnya mengerling ke arah Tallulah yang sedang mengetikkan sesuatu di ponselnya.


"Sedikit saja, aku tidak mau menjalani pemotretan dengan mata sayu dan mulut bersendawakan gas." jawab Tallulah seraya menghela napas panjang.


Aku mencintaimu juga, Mr. Alstrom. Tallulah tersenyum lebar usai membalas pesan tunangannya, sepertinya ia butuh wine di pagi itu walau tidak banyak. Tallulah sangat paham jika Valentino bermain ke lokasi pemotretan kemungkinan pimpinannya itu memanggil media untuk meliput kegiatannya.


"Hari yang panjang." desahnya ketika menerima gelas dari Valentino.


...


"Pyuhhh." keluhan Tallullah ketika memandangi wajahnya di depan cermin. Pemotretan berakhir tepat jam 7 malam, kembali pimpinannya sok sibuk hari itu menawarkan lebih tepatnya memaksa Tallulah untuk makan malam bersama. Tadi sore di sela-sela pemotretan, ia harus melayani pertanyaan-pertanyaan wartawan dari Mode Magazine yang mendapatkan berita ekslusif pertunangan Tallulah.


Jacob sedang merencanakan akan melamar Elle, pacar barunya.


Tallulah akhirnya kembali tersenyum tulus walau tipis setelah ia harus memasang wajah semringah dibuat-buat di depan Valentino. Ia sungguh bosan melayani perkataan pimpinannya itu selama seharian. Tallulah adalah seorang introvert, hampir 12 jam bersama orang banyak membuatnya kelelahan. Kini ia merindukan apartemen Jace yang nyaman dan sunyi.


Sampaikan ucapan selamatku kepada Jacob.


Tallulah membalas pesan Jace, sebelum kembali ke meja dan bergabung dengan Valentino yang berisik bersama dua temannya, Roberto beserta Alan. Setidaknya Tallulah aman bersama mereka, pria-pria yang tidak tertarik dengan wanita namun ia harus lebih banyak diam membiarkan ketiganya menguasai dunia. Ya, dunia kecantikan dan model tentunya. Roberto adalah seorang hair stylish terkenal, sementara Alan memiliki agensi model walau tidak sebesar The Sosiality, milik Valentino.


Tallulah terkejut ketika mendapati Aaron berada di mejanya, sementara ketiga pria yang tadinya bersama di restoran itu tak terlihat lagi sosoknya.


"Hai Lula." Aaron berdiri sambil tersenyum.


Dengan bimbang Tallulah duduk sambil mengulum senyuman pura-pura tulus. "Aku tidak tahu jika kau di restoran ini juga." ujarnya sambil mengedarkan pandangan. Tallulah berharap jika bisa melihat bayangan Valentino bersama teman-temannya.


"Teman-temanmu sudah pulang duluan, apakah mereka tidak mengirimkan pesan?" Aaron terdengar prihatin walau kini telah duduk tenang di kursinya, berbeda dengan Tallulah yang terlihat gelisah.


"Valentino bukan temanku melainkan pimpinan The Sosiality." Tallulah akhirnya pasrah ketika mengingat pembicaraan ketiga pria tadi membahas pesta di kawasan East Side.


Aaron mengangguk sekali. "Aku mengerti." sahutnya sambil memerhatikan cincin tunangan Tallulah yang berkilau. "Tunangan?" tanyanya seakan tidak percaya, alisnya berkerut dengan wajah menegang.


"Ya." singkat Tallulah seraya mengangguk.


Aaron terdiam namun tetap memandang Tallulah dengan sorot mata yang tajam. Ada kemarahan, juga kekecewaan terpancar dari wajahnya.


"Secepat ini kau percaya kepadanya, Lula. Bukankah dia pernah membuatmu terluka?"


Tallullah meremas jemarinya sambil menghela napas. "Ini tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu, Aaron."


Bola mata Aaron melebar mendengar penolakan Tallulah. "Hei, aku temanmu Lula." serunya mengingatkan.


"Aku tahu." ucap Tallulah berusaha tetap tenang.


Tadi Aaron sempat membuang muka namun kini ia kembali pada pandangan indah di depannya. "Aku pikir kalian hanya kembali berpacaran belum memutuskan untuk bertunangan. Aku bahkan bisa menghitung berapa lama kalian kembali bersama, aku menandainya karena pada saat pria itu mengatakannya secara langsung. Masih terlalu dini."


"Ya begitulah dengan perasaan, segala sesuatu bisa cepat atau lambat. Aku mengenal Jace jauh sebelum ini, Aaron." timpal Tallulah.


"Tetap saja kamu terlalu gampang luluh." Aaron meremehkan perkataan Tallulah.


Supermodel itu tersenyum bukannya membalas dengan kata yang sengit seperti nada Aaron yang mendadak paham segala hal termasuk Jace dan perasaan Tallulah.


Betul kata Jace, Aaron menyukainya. Sikapnya terlalu berlebihan mengingat mereka baru saja berteman berapa bulan terakhir.


"Ya, aku menaruhnya di rumah namun malas membaca surat yang ikut di paket itu. Kau sungguh tidak menghargai pemberianku, Lula." sungut Aaron.


"Bunga itu sangat mahal, aku tidak sanggup memeliharanya di rumah tanpa ada penjagaan. Kami hanya ingin hidup tenang dan simpel, Aaron. Dan sekarang aku tidak bisa menjamin keberadaanku di Nebraska. Karena bisa saja aku terbang kemana mengikuti jadwal pekerjaan." kilah Tallulah namun tidak berhasil melembutkan hati Aaron yang terlanjur sakit.


"Rumah itu lama kau kerjakan, hanya karena pria itu semuanya jadi berantakan." sindir Aaron.


Tallulah mengerutkan alis, melipat bibirnya menjadi satu garisan datar. Pernyataan Aaron terdengar sangat kekanakan, pria di depannya adalah pemimpin Watson namun di depan Tallulah setiap perkataannya menyindir yang mengarah kepada Jace.


"Ada papa yang akan mengeceknya." Tallulah mengalah, ia sangat berharap bunyi denting pesan atau telepon masuk di ponselnya. Tentu ia tidak bisa menjabarkan rencana-rencana masa depan yang ia rencanakan dengan Jace kepada pria yang sedang meradang karena cintanya tidak akan bisa Tallulah balas. Mengingat kesan pertama ketika bertemu dengan Aaron yang manis dan sangat membantunya mendapatkan pernak-pernik untuk rumah. Kini berbanding terbalik dengan ingatan itu, mungkinkah apa yang Tallulah lihat sekarang adalah Aaron yang sesungguhnya?


Andai saja Jace tidak kembali, Aaron bukan pilihan Tallulah untuk dijadikan seorang kekasih. Tallulah mungkin saja lebih memilih Anthony, temannya. Namun entahlah, sifat seorang pria bisa berubah dalam seketika hanya karena perasaan cemburu yang membabi buta. Terbukti dengan sikap Aaron yang sekarang ini Tallulah saksikan dengan mata kepala sendiri.


"Kau masih lama di New York?" tanya Tallulah bersorak riang dalam hati ketika mendengar lagu yang ia atur sebagai nada panggilan khusus ketika Jace meneleponnya.


"Masih lama." Aaron mengikuti gerak-gerik Tallulah yang meraih ponselnya dengan wajah yang terlihat sangat bahagia.


"Aku terima telepon dulu." Tallulah berdiri sambil membawa serta tasnya dan berjalan ke sudut restoran yang terlihat lengang.


Lima menit lagi aku akan tiba di depan Osteria, bersiaplah Sweety Pie.


"Ya, aku akan menunggu di depan."  Tallulah mengangguk cepat penuh semangat.


Bye, Love. Jace menyudahi panggilan telepon dan Tallulah bergegas kembali ke mejanya. Kali ini ia tidak akan duduk melainkan hanya akan berpamitan dengan Aaron.


"Sepertinya kita harus berpisah sekarang." Tallulah tersenyum tipis, ia sangat yakin untuk tidak bersikap berlebihan kepada Aaron. Kini ia paham, sedikit perhatian saja bisa membuat pria tersebut berpikir macam-macam. Tallulah tidak boleh lengah.


"Dia sudah menjemputmu." duga Aaron bernada datar, begitupun wajahnya tidak menyiratkan apapun.


"Terima kasih telah menemaniku, Aaron. Semoga harimu menyenangkan selama di New York." kata Tallulah lagi sambil mengangguk. "Selamat tinggal."


Aaron hanya bergumam tidak jelas, bibirnya sama sekali tidak tersenyum malah terlihat merenggut. Tallulah tidak ambil pusing, ia membalikkan badan dan berjalan tanpa menoleh ke belakang. Ia tidak peduli dengan perasaan Aaron. Sungguh tidak peduli.


Tallulah bukan main riang ketika melihat mobil Jace memasuki area restoran, segala perasaan lelah dan kesal karena ditinggalkan oleh Valentino juga perkataan Aaron menguap begitu saja.


"Boo." pekik senang Tallulah membuka pintu mobil. Jace terkekeh hingga matanya menyipit.


"Aku seperti menjemput anakku di sekolah yang seharian bosan dengan pelajaran Kimia." ucap Jace membantu Tallulah memasangkan seat belt.


"Benar hari ini membosankan." sungutnya kemudian memeluk lengan Jace dengan erat. Tallulah merebahkan kepala sambil memejamkan matanya. "Dan melelahkan."


"Kita akan tidur sesampai di apartemen." imbuh Jace mengecup puncak kepala Tallulah sebelum menginjak pedal gas dengan pelan.


"Semoga hujan turun." gumam Tallulah yang enggan memberitahu pertemuanya dengan Aaron kepada Jace. Ia tidak ingin merusak suasana hati Jace terlebih juga hatinya.


"Suara hujan tidak terdengar dari kamar kita, Sweety Pie." Jace kembali tertawa ringan. Tallulah manja, dan terlihat benar-benar lelah.


Tallulah mendesah panjang namun tetap berada di lengan Jace, memeluknya dengan erat. "Boo, pertunangan kita apakah akan berjalan lancar hingga hari pernikahan?"


"Huh? Apa maksudmu, Sweety Pie?" tanya Jace kebingungan.


Tallulah menggeleng lemah. "Tidak ada apa-apa."


Jace menghela napas panjang sambil mengarahkan pandangan ke depan pada padatnya jalanan menuju Greenwich. "Nona Bluebells yang aku sangat cintai, tolong jangan pernah bersikap seperti ini lagi. Entah itu meragukan pertunangan kita, atau mungkin juga meragukan aku. Tolong jangan. Kita pernah berpisah sangat lama, dan banyak hal bisa diambil sebagai pelajaran proses pendewasaan diri masing-masing. Kita sudah berbeda dengan Tallulah dan Mr. Alstrom tiga tahun yang lalu."


"Iya, aku tahu. Tapi apakah kita bertunangan kembali tidak terlalu cepat?" tanya Tallulah mengeluarkan isi hatinya yang terganggu akan perkataan Aaron.


"Menurutku tidak. Apa yang kita tunggu lagi, Sweety Pie? Aku tidak ingin membuang waktu lagi. Aku pernah katakan itu beberapa saat lalu. Aku bahkan merencanakan akan mengadakan pesta pertunangan di rumah kita di Hamptons, mungkin mengundang beberapa teman dekat agar mereka ikut merasakan kebahagiaan kita, Sayang."


Tallulah menarik tubuhnya tegap. "Really?"


"Ya, Sweety Pie. Aku akan meminta sekretarisku di kantor untuk mencari jasa party planner terbaik di kota ini. Sebenarnya ini saran Jacob juga, menurutku bukan masalah besar menyelenggarakan satu pesta, sebelum kita akan disibukkan dengan persiapan pesta pernikahan. Aku ingin kau campur tangan dengan segala macamnya."


"Hmm?" Tallulah membelalakkan mata indahnya, jantungnya berpacu cepat mendengarkan perkataan Jace yang sangat antusias dengan segalanya.


Tangan Jace mengacak surai coklat kekasihnya. "Karena kita hanya akan menikah sekali seumur hidup, tidak boleh ada penyesalan sedikitpun entah itu gaunnya, makanannya atau hal kecil lainnya. Aku sungguh tidak sabar melihatmu di altar, kau pasti akan sangat cantik dengan gaun putih. Demi Tuhan, aku tidak sabar menanti hari itu, Tallulah Bluebells. Hari di mana kau akan menyandang nama belakangku dengan bangga."


Tallulah menangkup bibirnya dengan mata berkaca-kaca. "Aku juga ingin menikah denganmu, Boo. Sangat ingin, agar tidak adalagi perkataan miring kepada kita berdua."


Jace tertawa. "Hidupnya kurang bahagia jika memiliki waktu untuk memikirkan orang lain."


"Mungkin." timpal Tallulah yang sekarang ikut tertawa ringan.


"Berendam dengan sabun kesukaanmu, musik jazz sambil melihat hujan yang jatuh dari jendela kamar kita." kata Jace ketika melihat rintik hujan mulai membasahi kaca mobilnya. Ia menoleh dengan senyuman lebar di bibir. "Doamu terwujud."


Tallulah terkesima melihat Jace yang penuh gairah tentang segala hal. Sikapnya yang optimis, ceria, bertanggung jawab, sungguh berbeda dengan sikap pria-pria yang ditemuinya hari ini, terlebih pria terakhir yang ingin dilupakannya. Aaron yang pesimis dan egois.


###




alo kesayangan💕,


Jace akhirnya kembali, ladies...


menunggu yah??


hahahahha


Jogja sudah mulai hujan, aku terkantuk-kantuk menyelesaikan ini.


stay healthy yah.


love,


D😘