JACE

JACE
Ku Dengannya Kau Dengan Dia



“Serius jika Mr. Asltrom mengajakmu tinggal bersama?” tanya Ellis Wilder, teman Tallulah.


Keduanya sedang menikmati sore menjelang malam di kafe dekat dengan hotel mereka yang berada di Hogarth Road. Sebuah kafe yang dihiasi dengan bunga imitasi namun terlihat seperti tanaman asli. Sungguh menipu mata. Namun tetap saja suasana sangat nyaman untuk berbincang santai.


Gadis berlesung pipi dengan manik birunya itu menganggukkan kepala.


“Kalian sudah melakukan itu?” Ellis tidak bisa menahan diri untuk tidak menanyakan hal sensitif tentang kehidupan percintaan temannya.


Tallulah tersipu, menggigit bibirnya “Belum.”


“Apa?” pekik Ellis sambil menggenggam pergelangan tangan Tallulah.


“Aku serius, love. Kami belum pernah. Jace sangat sopan memilih tidur di sofa ruang tengah, sebenarnya sofaku sangat empuk, tetap saja


aku kasihan melihatnya tidur di situ. Jace menolak tidur di kamar depan.”


Ellis menutup bibirnya sementara maniknya melebar “Kau memanggilnya dengan nama depan Mr. Alstrom, love. Ya ampun, kalian benar telah


menjadi sepasang burung cinta. Terus seperti apa ketika dia mengatakan cinta, apakah menggunakan musik? Candle light dinner ?”


Tallulah tersenyum tipis seraya mengembuskan napas pendek “Tidak. Jace hanya memintaku menjadi kekasihnya. Tidak ada kata “I love you”


apalagi makan malam romantis.” Sahutnya dengan polos.


Teman Tallulah menggeluti dunia model  semakin melebarkan maniknya tidak percaya.


“Serius, love? Jangan-jangan dia tidak mencintaimu dengan tulus. Hanya memanfaatkanmu. Tahu sendiri kau masih sangat muda, pria mana coba yang tidak menyukai gadis secantik Tallulah Bluebells.” Ujar Ellis menunjuk Tallulah yang terus merona, sama sekali tidak tersinggung dengan perkataannya.


“Iya, aku serius, nona Wilder yang cantik. Tapi menurutku dalam hubungan ini, aku –lah yang beruntung. Siapa tidak mengenal Mr. Alstrom, sementara aku hanya seorang model baru merintis karir. Sejak berita tentang kami muncul,


managementku tidak berhenti menerima


panggilan telepon untuk berbagai peragaan dan pemotretan.”


“Victoria?” cecar Ellis menangkap binar bahagia Tallulah yang tidak biasanya.


Manik biru mengerjap indah seraya mengangguk pelan. Ellis memekik seraya berdiri dari duduknya lalu memeluk tubuh Tallulah. Kedua model bertubuh tinggi semampai itu saling berpelukan, berputar-putar. Syukurnya kafe sore itu tidak begitu ramai, hingga hanya beberapa pasang mata yang menyaksikan momen kebahagian dua model yang memiliki kecantikan yang berbeda.


“Selamat, love. Sebentar lagi kau akan berada di posisi yang sama dengan supermodel Sky Navarro. Walau sekarang dia tidak di Victoria, tapi namanya tetap besar di dunia kita.” Ellis


mengecup pipi temannya kemudian kembali ke tempat duduknya semula.


“Sky memiliki suami yang kaya raya.” Tallulah meraih gelasnya yang berisi affogato seraya menyesapnya.


Ellis terkekeh “Kau juga memiliki kekasih yang kaya raya. Cabang The Alstrom tersebar di seluruh penjuru dunia, kau akan hidup tenang, love.” Hiburnya.


Tallulah mengukir senyuman menutupi rasa tidak percaya dirinya “Seperti kau katakan tadi, love. Mungkin saja Jace tidak mencintaiku, aku hanya salah satu gadis yang beruntung tahun ini untuk dikencaninya. Jadi, aku tidak akan berharap banyak dan memanfaatkan popularitas namaku yang sedang naik dengan sebaiknya. Aku tidak akan bermimpi, jika hubungan ini akan seperti Sky Navarro dengan suami kayanya. Tidak, love. Usiaku masih muda, tapi aku tidak akan menjadi sugar daddy dari Jace. Walau tidak sebanding dengan pendapatan harian Jace dengan hasil jerih payahku selama sebulan, setidaknya aku masih bisa menabung untuk masa depan.”


Ellis meraih jemari tangan Tallulah dan menggenggamnya dengan lembut “Kau adalah malaikat, cintaku. Itu mengapa aku sangat


mencintaimu. Jadi kau akan menolak untuk tinggal bersama? Bagaimana jika dia berhasil tidur denganmu, kemudian dia pergi?”


Tallulah tersenyum lebar “Aku akan tinggal bersama, bahkan jika suatu hari mungkin bulan depan Jace mendepakku, aku masih punya apartemen tempat untuk kembali. Kau tahu sendiri jika Jace adalah cinta pertamaku, pria


pujaanku.”


Ellis spontan mengangguk dengan tegas “Ya, dia pria pujaanmu. Andai Henry Cavill naksir kepadaku, dengan senang hati aku akan menyajikan tubuhku kepadanya. Dan akan menangis darah jika Superman itu meninggalkanku."


Suara tawa Tallulah pecah mendengarkan pemujaan tiada henti Ellis kepada aktor pemeran Superman tersebut.


“Oh love, dia hanya keren di film. Di kehidupan nyata Mr. Cavill hanya orang biasa.”


Ellis menggelengkan kepalanya kuat “Tidak, dia sempurna. Aku mengikuti akun sosial medianya, Henry Cavill pria superku itu bahkan bisa


merakit komputer untuk gaming. Gila, dia sungguh nerd dan sangat hot juga seksi. Aku rela menjual jiwaku pada setan agar bisa tidur dengannya.” Ujarnya sangat antusias.


Tallulah mengusap lengannya yang bergidik mendengar perkataan gila Ellis.


“Semoga impianmu tercapai, love.”


Ellis malah tertawa heboh tubuhnya meringkuk pada single sofa berwarna abu dari beledu. Tangannya menggapai udara sementara suara


tawanya bisa dikatakan mengusik pengunjung kafe tersebut.


“Itu hanya sesumbarku.” Ellis kembali menegakkan tubu seraya mengambil sehelai tissue untuk melap air mata karena tawa yang


berlebihan.


“Lebih baik kita kembali ke Mr. Alstrom. Dia adalah cinta pertamamu, love. Kau pasti sangat bahagia mendapatkan pria itu.” tutur Ellis


dengan nada yang kembali normal.


“Aku sangat bahagia. Kau tahu tidak tentang kutukan cinta pertama, love?”


Kening Ellis mengerut “Kutukan cinta pertama? Aku baru mendengar hal itu.”


“Bahwa cinta pertama jarang berakhir di pelaminan, umumnya hanya berpacaran kemudian berpisah. Aku melihat beberapa orang mengalaminya, mereka adalah kakak-kakak sepupuku. Umumnya mereka menikah dengan pria lain, bukan dengan pria yang di puja sejak sekolah.”


Ellis mendengus “Itu hanya mitos, mungkin hanya kebetulan. Kau pasti dekat dengan kakak sepupumu karena kau anak tunggal, pasti sangat kesepian.”


Tallulah mengangguk seraya tersenyum “Sangat kesepian, aku tidak punya kakak atau adik untuk bercerita. Terkadang aku berpikir untuk menikah


muda, kemudian melahirkan banyak anak.”


“Minta Mr. Alstrom untuk menikahimu. Atau nanti jika kalian sudah tinggal bersama, kau tidak usah menggunakan pengaman, tentu saja kau akan


hamil.” Kembali Ellis terpekik hingga Tallulah menaikkan telunjuknya agar temannya bisa menurunkan volume suaranya.


“Oh Tuhan.” Tallulah terhenyak dengan tubuh merinding, membayangkan tangan Jace menyentuhnya di setiap inchi.



Mata Iris menyipit ketika sinar matahari masuk ke dalam kamar tidurnya, ia menoleh ke belakang memastikan keberadaan pria yang setia menemaninya.


Giulio yang tampan dan jantan masih terlelap dengan mimpi, Iris tersenyum simpul.


“Selamat pagi, amore.” Sapa Giu tanpa membuka mata seraya menarik tubuh Iris yang kaget dalam dekapan.


Tubuh Iris memanas ketika kulit bersentuhan dengan tubuh Giu. Dadanya berdesir-desir mengingat malam-malam yang mereka lewati


bersama. Terlebih semalam.


Ah, selalu ada yang membuat Iris semakin memuja Giu.


“Aku mencintaimu, Iris Coppole.” Tangan Giulio membelai rahang gadis yang sedang memejamkan mata menikmati setiap sentuhan tangan kokoh, penuh kepemilikan dan sekaligus pemujaan.


Kening Giulio ditempelkan dengan kening Iris, tanpa jarak membuat dada si gadis yang terus di isap madunya berdebar tak karuan, bahkan


hari masih pagi, pikirnya. Mungkin saja di luar sedang mendung hingga cahaya yang masuk ke


dalam kamar masih seperti sinar matahari pagi, benak Iris kembali membantah.


Sabtu, Iris tidak memiliki kesibukan kecuali tidur


sepuasnya, mengerjakan laundry dan sekarang ia menikmati kegiatan baru yang mencandu, yakni bergelung dalam rengkuhan tunangannya yang tampan.


“Kenapa kau tidak menjawabnya, amore?” geram lembut Giulio di telinga Iris ketika pria itu menyarangkan sebuah kecupan basah.


Hati Iris meragu, bahkan tubuhnya telah dalam penguasaan Giulio namun hatinya belum sepenuh menjadi milik pria yang menghujaninya dengan


kecupan-kecupan kecil.


“Aku mencintaimu, Tuan Celi.” Bisik Iris tidak sepenuhnya jujur dengan isi hatinya. Mungkin ia tidak memiliki rasa syukur bahkan pria sesempurna Giulio telah menjadi pemuja nomor satu kepada Iris, tetap saja pikirannya terbang melayang ke kota New York.


Kembali Giulio menggeram senang seraya mendekap erat Iris.


Iris bergeming sejenak kemudian meminta Giulio untuk mengendorkan pelukan tangannya.


“Bukankah ini terlalu cepat, Giu? Kita baru saja memulai.” Ucapan Iris terhenti dengan gelengan kepala Giulio yang berulang kali. Wajah pria yang


menumbuhkan bulu wajahnya itu terlihat serius.


“Tidak, amore. Kita harus menikah, pertama karena aku mencintaimu, kemudian yang kedua tak lama lagi kau akan mengandung.”


Iris memilin bibir setelah sadar akan kecerobohan yang dibuatnya. Ia sama sekali lupa meminum pilnya, dan terjerembab dalam pusaran gairah Giulio. Benar kata pria tampan dan panas yang terus tak melepaskan jemari tangannya dari tubuh Iris. Ya besar kemungkinan ia akan hamil!


Oh Tuhan, bagaimana jika itu terjadi?


“Giu.” Erang pelan Iris.


Kedua manik berbeda warna itu bertatapan, Giulio dengan pandangan penuh cinta sementara Iris sangat kalut.


“Amore, kau tenang saja. Biar aku yang mengurus semuanya. Kita tidak perlu kembali ke Turin untuk menikah. Aku akan mendatangkan seluruh


keluarga, dan memberikan berkat dan doa untuk pernikahan kita. Bagaimana menurutmu, amore?”


Iris semakin gamang, dengan perlahan meloloskan diri dari dekapan Giulio yang penuh dengan godaan. Ia pun terdiam sembari memakai pakaian yang sejak semalam berserakan di lantai.


Sekilas Iris mendapati pantulan dirinya di cermin, bagian perutnya terekspos. Sesaat itu juga ia seperti terkena serangan jantung kecil.


Iris sedang berada fase subur dan terus-terusan berhubungan tanpa pil sialan itu. Bodoh! Sungguh bodoh.


Setelah semua pakaiannya telah terpasang, Iris kembali menatap kepada pria yang memamerkan bagian tubuh atasnya yang kekar.


“Giu, apa kau yakin jika kita menikah akan menjalani hidup yang bahagia? Apakah dirimu yang sekarang tidak akan berubah? Masih seperti


ketika pertama kita tidur bersama?” berondong pertanyaan Iris sembari mengenang ciuman pertama mereka ketika Giulio memasakkan makan malam, yang kemudian berakhir dengan gairah tertuntaskan di tempat tidur.


“Kemarilah.” Giu melambaikan tangan agar Iris mendekat.


Iris menurut. Tubuhnya tak lama kemudian terduduk di samping tubuh polos Giulio yang tertutup dengan selimut berwarna putih bersih.


“Amore.” Giulio meraih jemari tangan Iris setelah bersandar pada headboard tempat tidur.


Sorot mata Giulio semakin melembut, tangan Iris di kecup dengan dalam dan penuh pemujaan.


“Percayalah kepadaku, kau –lah satu-satunya wanita yang ingin kunikahi. Mungkin bagimu ini sekadar memenuhi janji leluhur kita, tapi bagiku tidak. Aku sungguh terjatuh dalam denganmu. Kau sempurna, Iris Coppole. Setiap hari kujalani sangat indah bersamamu, aku tidak sabar untuk memasangkan cincin pengikat di jemarimu. Dan memamerkan ke dunia bahwa kau adalah istriku. Jadi jangan pernah meragukan diriku, amore. Kita sudah sejauh ini, benih cintaku ada di dalam rahimmu, dia butuh orang tua yang utuh.” Kedua tangan kokoh Giulio berada di perut rata Iris.


Darah di tubuh Iris memompa dengan sentuhan itu, Giulio mendominasi tubuh dan pikiran sehatnya.


“Jadi pernikahan jalan terakhirnya? Bahkan aku belum sepenuhnya mencintaimu. Giu?”


Pria tampan dengan senyuman indah itu mengangguk dan menggeleng “Ya  dan aku tidak peduli, amore. Aku percaya cinta besar akan tumbuh seiring waktu kita bersama.” tandas Giulio


penuh kepercayaan diri yang sangat tinggi.


Iris memejamkan mata lama dan menarik napas panjang, mengisi paru-parunya yang masih berfungsi dengan baik.


“Baiklah, kita menikah. Dan semuanya kuserahkan kepadamu, Giu.” Kata Iris memberikan kecupan di bibir panas tunangannya. Giulio hendak


memperpanjang sesi ciuman Iris, namun gadis bersurai putih dengan gaun tidur berwarna rose pucat itu menarik diri.


“Amore.” Giulio menggeram dengan sorot mata merajuk.


Iris terkekeh pelan “Aku lapar, calon suamiku. Aku tunggu di dapur, menu sarapan kita omelett dan sosis panggang.” Serunya langsung berdiri dengan cepat.


“Amore.” Teriak Giulio membuat Iris tertawa ringan menuju dapur. Tak lupa ia meraih ponselnya di atas coffee table.


Beberapa notifikasi menghiasi layar datar miliknya.


Jace Von Alstrom menyukai foto anda.


Jantung Iris terbelah, tangan gemetar menekan layar ponselnya dengan terburu-buru.


Pria pemilik The Alstrom meninggalkan jejak tanda suka pada foto unggahan terakhir Iris.


“Tuhan!” tangan kiri Iris mengepal keras dengan hati gamang. Ia baru saja mengiyakan permintaan Giulio kemudian semenit kemudian ia tergoda untuk membatalkannya.



Indera penciuman Jace merasakan wangi Tallulah, dengan cepat ia mendongak dan mendapati kekasihnya berdiri dengan tas pakaian berbentuk


kotak berwarna perak yang tidak begitu besar.


“Hanya itu?” tanya Jace bergerak cepat dari duduk santainya di sofa Tallulah.


Gadis belia yang tersipu dengan wajahnya merona merah menganggukkan kepala.


“Hanya ini.” tangan Tallulah meremas pegangan tasnya dengan kuat. Setelah semalam tiba dari London, dan ketika jam masih menunjukkan pukul 9 pagi, bel pintunya berbunyi. Sosok pria mengenakan suit maroon dan celana bahan


berwarna coklat berdiri tepat di depan pintu dengan tubuh tinggi beserta wajahnya yang rupawan.


Tangan Jace mengulur membelai wajah Tallulah “Kita akan membeli yang kau butuhkan. Atau meminta dari toko untuk mengirimkan satu helai


setiap produk Alstrom.”


Manik biru Tallulah berpendar dengan cahaya yang membuat jantung Jace goyah.


“Tidak usah. Aku tidak bisa membebanimu terlalu banyak.” Tolak halus gadis belia itu.


Jace meraih koper Tallulah dengan tangan kiri dan tangan kanannya menggenggam jemari kekasihnya yang kembali canggung dengan kedekatan mereka.


“Kau kekasihku, sweety pie. Kita akan tinggal bersama, otomatis semua kebutuhanmu adalah tanggung jawabku.”


Sekilas Tallulah menengok ke belakang, mengamati setiap sudut apartemennya. Ia merasa jika kepergiannya tidak akan lama, secepat pria yang menggenggam tangannya mengakhiri mimpi indah Tallulah.


“Berapa banyak wanita yang pernah tinggal bersama denganmu?” tanya Tallulah dengan hati-hati ketika pintu apartemennya tertutup. Kembali ia berdiri mematung. Jace tepat di sebelahnya.


“Baru kali ini.” jawab Jace singkat.


Tallulah mendongak menatap wajah rupawan pria yang dirindukannya selama di London.


Jace tersenyum memamerkan gigi kelincinya, Tallulah larut seraya membalas erat tautan tangan prianya.


“Andai saja ini tidak akan lama, Mr. Alstrom. Aku tidak akan menyiakan setiap detiknya.”


###






alo kesayangan💕,


ost chapter ini lagunya Afgan 😆


sekalian lagu ini buat kamu di luar sana,


wkwkwkk


dh itu aja.


love,


D 😘