
Sepertinya ada yang habis berpesta.” Ujar Jace mencium wangi pakaian Tallulah yang dipungutnya di lantai.
“Maaf.” Tallulah menggigit bibirnya dan menunduk. Ia tidak berani mengeluarkan kalimat panjang membalas perkataan yang terdengar menyindir sekaligus menghakiminya.
Jace menoleh kembali menatap seksama kekasihnya dari atas dan bawah. Cantik, walau rambutnya sangat jauh dari iklan Pantene. Sisa makeupnya pun belum dibersihkan semakin memperkuat jikalau Tallulah habis berpesta hingga mabuk berat. Untungnya Jace tidak mendapati teman model Tallulah di dalam kamar tidur.
Jace menggeleng seraya menarik Tallulah ke kamar mandi “Kau perlu membersihkan wajahmu, Nona Bluebells.”
“Aduh.” Desah Tallulah tak berdaya.
Jace mengambil ikat rambut di meja wastafel, menguncir surai coklat kekasihnya. Dengan telaten Jace menuang pembersih muka di kapas lalu perlahan mengusap wajah Tallulah perlahan.
“Ini bukan dirimu, Sweety Pie. Malas membersihkan muka sebelum tidur.” Jace berdecak sementara tubuh Tallulah bergetar oleh isak tangis yang tertahan.
Usai melap wajah Tallulah dengan handuk, Jace mengulurkan sikat gigi kepada kekasihnya. Wajah Tallulah sendu namun tetap menyikat gigi ditemani oleh Jace yang berdiri di samping sambil melipat tangan di dada.
“Kita harus memesan makanan, Sweety Pie.” Jace berjalan kembali menuju ke kamar dan meraih telepon bergagang antik berwarna gading.
Tallulah sesaat mematung sebelum akhirnya sadar jika bajunya masih tergeletak di tempat tidur, belum sempat dirapikan yang dipungut Jace sesaat lalu.
“Dua paket breakfast ke kamar 603, ya atas nama Miss Tallulah Bluebells.” Ujar Jace di telepon, sekilas melirik kekasihnya yang sedang sibuk merapikan barang-barangnya.
Sang designer sekaligus pemilik The Alstrom menarik napas lega.
“Nanti kau bereskan, Sweety Pie.”
Tallulah menggeleng dengan manik sayunya. Ia menyibukkan diri dengan memilah pakaian kotor yang nantinya akan diserahkan kepada binatu hotel.
Kekakuan pasangan yang hampir sebulan tidak bertemu berlanjut ketika menyantap sarapan bersama. Jace membiarkan suasana itu berlangsung selama 30 menit, ia tidak mau membahas tentang perilaku kekasihnya di tengah jam makan mereka.
Tanpa perbincangan sama sekali, namun Jace melihat Tallulah menyantap makanannya dengan sangat lahap. Bahkan gadis cantik itu bertingkah seperti baru mendapatkan makanan layak selama seminggu berpuasa.
“Kau boleh meminum jusku.” Jace mengulurkan gelasnya berisi orange jus. Jace masih memiliki secangkir americano sebagai penutup sesi sarapannya.
Jace mendengus geli melihat Tallulah menandaskan dua gelas jus, mimiknya semakin lucu ketika mengelus perut rata yang telah penuh dengan sandwich, dua sosis, kentang goreng dan telur setengah matang.
“Masih mengantuk?” tanya Jace merapikan perkakas sarapan sementara Tallulah menyahut dengan gelengan kepala yang pelan seraya berjalan menuju balkon kamar. Tak lama berselang Jace menyusul dan mendapati Tallulah termenung, menopang tangannya pada tembok balkon.
“Apakah hari ini kau senggang?” Jace melirik gadis yang mencepol rambutnya, Tallulah tampak selalu luar biasa. Bahkan ketika sang supermodel cantik itu belum membersihkan tubuh.
Jace mengembuskan napas panjang saat merasakan jika Tallulah sedang membuat jarak dengannya.
“Tidak ada.” Lirihnya sambil memerhatikan pepohonan besar di depan mereka.
Jace menarik napas sambil meraih jemari tangan kekasihnya.
“Ada apa. Tallulah? Apakah aku memiliki kesalahan, atau ada sesuatu terjadi beberapa hari terakhir. Karena aku merasakan sikapmu berubah setelah kau berada di London. Tolong berbicaralah, jangan diam seperti ini. Kita tidak bisa menyelesaikan masalah apapun, Sweety Pie.” Tegur Jace menaikkan volume suaranya.
Tallulah tersentak dan menatap Jace dengan manik birunya yang sayu dan berair.
“Aku tidak tahu yang ingin kukatakan.” Sahutnya lemah. Cairan bening meluncur dari kelopaknya membuat matanya memanas.
Jace menangkup pipi kecil di jemari tangannya yang panjang kuat.
“Kau sepertinya memiliki sesuatu di dalam pikiran dan hatimu, Nona Bluebells. Dan aku tidak tahu itu apa, karena kau tidak mengatakannya. Aku hanya menyimpulkan sendiri setelah beberapa hari kau tidak membalas pesan, tidak mengangkat panggilan teleponku.” Tutur Jace menatap wajah Tallulah. Jace menyeka cairan bening yang jatuh di pipi kekasihnya.
Tallulah menunduk menatap perbedaan busana di antara mereka, walau ia bisa melihat kantung mata samar milik Jace namun pria tampan bermanik abu itu selalu memakai pakaian yang sangat keren dan modis. Sementara dirinya masih mengenakan kaos kebesaran berwarna putih, berwangi parfum lavender musk dan sisa alkohol masih setia keluar dari hidung sekaligus mengaduk isi kepalanya. Sungguh tidak sebanding dengan wanita berpakaian rapi di panggilan video Jace seminggu yang lalu.
“Mr. Alstrom.” Tallulah mendadak memanggil kekasihnya dengan sangat formal. Jace terbelalak mengeraskan tangannya pada pipi Tallulah.
Pria bersurai coklat itu menggelengkan kepala tidak percaya. Jemari lentik Tallulah naik dan memegang pergelangan tangannya. Tampaknya Tallulah ingin melepaskan diri dari cengkeraman lembut Jace.
“Aku pikir sebaiknya kita berpisah saja, Mr. Alstrom.” Ucap Tallulah lambat-lambat dengan suaranya yang parau. Hatinya sakit ketika mengatakan kalimatnya barusan. Ia kemudian menunduk dengan tubuhnya yang lemah.
“Sweety Pie.” Jace mengerang seraya mendekap tubuh kekasihnya dengan erat.
Tangis Tallulah pecah, tangannya mengeras pada kain kemeja pria yang merengkuhnya.
“Aku tidak percaya diri, Mr. Alstrom. Kau dikelilingi wanita cantik. Sementara diriku tidak bisa selalu menemanimu, ini hanya membuang waktu kita berdua.” Ujar Tallulah sambil terisak perih. Jangan tanyakan perasaan cintanya terhadap Jace, ia telah membuka hatinya hanya untuk satu pria itu saja.
“Aku tidak merasa membuang waktuku denganmu, Tallulah. Aku tidak mempermasalahkan dengan jarak yang membentang di antara kita. Tentang wanita-wanita cantik itu, aku sudah terbiasa dengan mereka sejak dulu kala. Jadi, walau bersama dengan mereka, aku telah menetapkan pilihan kepada satu wanita saja dan itu kamu orangnya.” Ujar Jace dengan raut yang serius.
Tallulah menggeleng bimbang “Kau bisa mendapatkan seseorang yang menemanimu selama 24 jam terus menerus, memberikan seluruh waktunya kepadamu, Mr. Alstrom.”
Jace menggeram keras, tampaknya Tallulah ingin membuatnya marah dan memutuskan hubungan cinta tanpa ada perbincangan yang dewasa di antara mereka. Jace adalah seorang pria matang, dalam pikiran dan emosi. Ia sangat tahu jika kekasihnya masih sangat belia, dan usia 20an pada umumnya hanya berbicara mengikuti perasaan yang memenuhi isi hatinya tanpa dipikirkan secara matang. Pun Jace sekarang paham bahwasanya perubahan sikap Tallulah oleh karena perasaan cemburu yang mengakar sangat dalam di hati gadis cantik itu.
“Berhenti memanggilku resmi seperti itu. Aku merindukan panggilan “Boo –mu”, Sweety Pie.” Pinta Jace yang juga terdengar memerintah.
“Pembicaraan kita sepertinya tidak bisa dilanjutkan, Sweety Pie. Kau tidak berpikir jernih karena sisa alkohol di kepalamu, aku bisa menebak kisaran minuman yang kau habiskan di pesta semalam. Sekarang kau membutuhkan tambahan tidur dan aku akan menemanimu. Nanti setelah kita bangun, membersihkan diri dan lalu keluar makan sore.” Sambung Jace sambil membimbing kekasihnya kembali masuk ke dalam.
Tallulah tidak berani membantah, pun berkelit. Ia naik ke atas kasur dan membiarkan Jace mengurusnya. Selimut lembut perlahan di tarik Jace menutupi tubuh Tallulah.
Selama mereka bersama, umumnya Tallulah yang mengurus Jace dari segala macam dari hal kecil hingga sesuatu yang besar. Kini Tallulah seolah kembali pada masa awal-awal kedekatan mereka. Jace yang perhatian, ketika Tallulah mabuk bersamaan dengan kelelahan mendera tubuhnya. Jace yang memikirkan dirinya ketika mereka bertemu di pesta para orang kaya The Hamptons.
Tallulah lupa, betapa besar perhatian Jace kepadanya. Ia hanya selalu tidak percaya diri dengan semua kebaikan hati designer top dunia tersebut. Jace yang hebat, kekasihnya yang tidak bisa ia dampingi.
“Beristirahatlah, Sweety Pie.” Usapan Jace lembut kepala membuat hati Tallulah yang tadi berkecamuk menjadi lebih tenang. Semenit kemudian, alam bawah sadarnya mengambil alih raga yang masih sayup-sayup merasakan belaian tangan kekasihnya.
…
Iris menatap nanar ponselnya dengan hati memanas. Ia kembali menekan ulang story sosial media Jace untuk memastikan jika ia tidak salah lihat.
Iris berdecih dengan bahu yang ikut naik ke atas. Giginya gemeretak usai melihat foto seorang gadis yang tidur dengan tangan pria bertengger di kepala dan memberikan dua patah kata “my girl”. Sangat sederhana kata tersebut, tapi Iris yakin jika bukan hanya dirinya yang meraung melihat story sosial media milik Jace Von Alstrom.
Meradang, lebih tepatnya. Kemarin mereka masih bersama, maksudnya Iris dan Jace. Bercanda sambil membahas masa depan yang bersinar akan menjadi milik Iris. Hanya berselang belasan jam kemudian, kini pimpinan The
Alstrom berada di London menemui wanita itu.
Ya, wanita yang sempurna memiliki karier sangat bagus di dunia modelling. Hidupnya sangat diberkati oleh Tuhan karena mendapatkan pria seperti Jace.
Bukan karena kekayaan, yang membuat Iris semakin menyukai Jace. Ia juga tidak pernah jatuh cinta oleh karena fisik, baginya Jace sempurna karena ide-ide brilian yang tercurah di setiap design The Alstrom. Mereka sejiwa,
sepemikiran. Iris menyukai gagasan dan selera unik seorang Jace.
Hati Iris masih memanas, membayangkan kebahagiaan Jace yang akhirnya bertemu dengan wanita itu.
“Amore.” Panggil Giulio sambil melambaikan tangan. Iris terkesiap dan kemudian sadar jika ia berdiri termangu di dekat rak boneka. Tadinya ia memilihkan boneka katak yang sangat disukai Verona, dibandingkan hewan lain,
putrinya lebih menyukai binatang berwarna hijau tersebut.
Tangan Verona menggapai-gapai dengan wajah berbinar ketika melihat Iris berjalan boneka kesukaannya.
“Masih perlu dibayar, Princess.” Ujar Giulio tertawa kecil melihat anaknya terpekik bahagia di dalam kereta dorongnya.
“Tidak apa-apa, tuan. Kami bisa menginputnya dengan mainan lainnya tanpa perlu barcode.” Kilah sang pengawai toko mainan dengan sopan kepada pasangan yang tak segan menghamburkan uang untuk berbagai macam mainan anak. Si pengawai toko menyimpulkan jika si pria hanya memperlihatkan mainan pilihannya kepada putri kecil dan lucu, ketika mendapatkan respon sang putri yang tertawa-tawa, si tuan yang rupawan lalu mainan memasukkan ke dalam keranjang. Berbeda dengan sang istri, tak lain mama si bayi cantik. Wanita itu lebih hati-hati dalam memilihkan mainan untuk anaknya.
“Aku pikir kita perlu membelikan pakaian untuk Verona.” Ujar Giulio kepada Iris yang sedang berjongkok mengajak Verona bermain dengan boneka kataknya.
Manik hitam Iris melebar dan kepala mendongak menatap suaminya.
“Lagi? Please, Darling. Pakaian anakmu ini sudah penuh di lemarinya.”
Giulio ikut berjongkok sementara pegawai toko memilih mengangkat belanjaan mereka menuju meja kasir.
“Pakaiannya sudah banyak yang tidak muat, Amore. Kebetulan kita bisa berbelanja bersama, tidak ada salahnya membelikan pakaian untuk Verona. Lihat putriku, dia sangat menyukai keluar dari apartemen dan melihat banyak hal indah dan orang-orang menyapanya.”
Iris mendesah sambil berdiri.
“Baiklah. Tapi pikirkan pakaian yang sesuai dengan anak kita, hanya untuk musim ini dan musim depannya. Verona tumbuh dengan cepat, sekarang sudah bisa berjalan jadi wajar dia sangat suka pergi keluar, Darling.” Jawab Iris sekenanya.
“Ada apa, Amore? Sepertinya moodmu seketika tidak bagus usai melihat ponsel. Apakah ada sesuatu terjadi dengan designmu? Tapi ini akhir pekan, aku pikir semua orang sedang libur dan bersantai.” Kata Giulio dengan simpati.
“Ya, semua orang libur, Darling.” Sahut Iris sambil mendorong kereta Verona menuju meja kasir.
Giulio menarik napas lega, ia merangkul tubuh istrinya dan terus memandangi raut wajah yang terlihat tidak memiliki semangat.
“Ya memang seharusnya begitu, Amore. Hari Sabtu dan Minggu baiknya digunakan untuk bersama dengan orang yang dicintai.” Katanya sambi menepuk pelan punggung istrinya.
Iris hanya menaikkan kepala dan menatap wajah rupawan Giulio yang semakin mempesona ketika senyumannya merekah sempurna.
“Baiklah.” Gumamnya lirih sambil memikirkan Jace bersama dengan wanita itu. Ya, wanita yang dicintai pria pujaannya.
…
Matahari beranjak tenggelam ketika Jace menarikkan kursi untuk Tallulah. Mereka sengaja berpakaian rapi demi kencan dadakan sambil melanjutkan pembicaraan tadi pagi yang tertunda.
Tallulah sangat cantik dengan gaunnya berwarna coral dihiasi manik di setiap bagian terlebih pada bagian depan. Rambut ikalnya diikat sederhana membuat Jace tak bosan untuk memandang ke arah kekasihnya.
“Kau menyukainya?” tanya Jace ketika melihat Tallulah tersenyum dan kagum melihat pemandangan di samping meja tempatnya. Sengaja Jace meminta tempat terbaik demi kencan dengan gadis cantik yang tadi pagi berpikir untuk memutuskan hubungan dengannya.
“Tempat ini sangat indah.” Mata Tallulah bersinar dan bibirnya tersenyum indah ketika menoleh ke arah Jace.
“Syukurlah jika kau menyukainya, Sweety Pie.” Jace meraih jemari kekasihnya dan mengecupnya dengan dalam. Wangi lotion mahal menempel kuat di kulit Tallulah, kekasihnya adalah brand ambassador produk kosmetik terkemuka yang terkenal dengan kemewahan wanginya.
“Terima kasih, Boo.” Balas Tallulah yang semakin melunak. Ia tersipu oleh sorot mata abu yang terus menerus memandanginya tanpa lelah. Ia memiliki Jace, batinnya mengatakan itu. Selama berapa jam Tallulah tertidur, tubuhnya direngkuh hangat dalam dekapan sang designer.
Jace adalah miliknya, seluruh perhatian pria itu tercurah hanya kepadanya. Tak ada satupun momen yang memisahkan mereka selama beberapa jam terakhir. Jace ada untuknya.
Pria mengenakan suit coklat bergaris dengan kemeja bermotif abstrak berdeham pendek. Tallulah membalas tatapan si pria tampan berbibir manis dan seksi.
“Aku telah menganggap pembicaraan kita tadi pagi tidak terjadi sama sekali, Sweety Pie. Kau masih dalam pengaruh alkohol, dan kita telah lama terpisah. Baik kau dan diriku memilih sesuatu yang mengganjal di dalam hati. Aku
tidak pernah berpikir untuk berpisah atau melepaskan dirimu. Ya, benar banyak wanita yang dekat denganku. Tapi mereka sebatas teman kerja atau para model sepertimu yang hampir setiap saat datang ke kantor guna mencoba beberapa pakaian. Aku tidak mempermasalahkan dengan pekerjaan yang mengharuskanmu terbang kesana-kemari hingga kita jarang bertemu. Kebutuhan akan pasangan yang wajib ada di sampingku selama 24/7 sementara waktu sepertinya bukan sesuatu yang urgent. Aku paham kau sedang di atas, Sweety Pie. Dunia membutuhkanmu dibandingkan diriku, aku mendukung jika kau ingin mengejarnya. Aku bisa terbang seperti ini jika merindukanmu. Berkencan selama akhir pekan dan kembali terbang ke Paris atau New York untuk bekerja pada hari Senin pagi. Aku bisa melakukan itu semua demi dirimu dan hubungan kita. Jadi jangan pernah berpikir untuk menyudahi apa yang kita mulai bersama. Aku juga sangat tahu perasaanmu kepadaku, Sweety Pie.” Kata Jace memandang lurus ke arah kekasihnya yang manik birunya telah rintik menjatuhkan air di pipinya yang mulus.
“Maafkan aku.” Ucap pendek Tallulah. Ia menggigit bibirnya menahan kebahagian, kesedihan dan kelegaan yang hadir bersamaan dengan penuturan panjang Jace.
“Aku akan memaafkanmu dengan satu syarat.” Ujar Jace tersenyum dengan gigi kelincinya yang lucu.
Tallulah menyentuh bagian selangka merasakan dadanya melebur senang dan berdegup kencang. Manik birunya melompat ketika Jace menaruh sebuah kotak beledu berisikan cincin antik di atas meja.
“Ini peninggalan mendiang grandma. Dan Aku ingin kau memakainya, Nona Tallulah Bluebells.”
###
alo kesayangan💕,
bagaimana dengan weekend kalian, mau ngapain?
pacaran, berwisata dengan org dicintai? atau berolahraga, kalau itu kalian rencanakan berarti kita sama..
men san in corpo sano..
tubuh sehat, pikiran juga sehat.
jadi bergeraklah 💪🏻
love,
D😘
[Menteri Olahraga Kerajaan Mersia]