JACE

JACE
I Care About You



Tallulah mengangguk ketika Jace kembali menoleh menatapnya, seolah pria bersurai coklat memastikan keadaannya yang hanya berdiri dan tidak melakukan apa-apa. Sementara Jace terlibat percakapan heboh dengan


teman-temannya. Para pria bujang, kaya raya yang sedari tadi dengan sembunyi-sembunyi memandang ke arah Tallulah.


“Jadi kau menyimpan si cantik ini untuk dirimu, teman?” celetuk Stephen mengalihkan perbincangan bisnis ke hal lebih pribadi. Sangat tampak jika pria muda kaya raya itu memiliki ketertarikan kepada Tallulah Bluebells. Model


memiliki lesung pipi dan sorot mata yang indah, mengerjap dan menatap dengan raut wajah tersipu. Hati pria mana yang tidak bergerak melihatnya.


Jace kembali menoleh kepada Tallulah lalu ke arah temannya, Stephen dan Raymond “Tallulah adalah model yang bekerja sama dengan Alstrom. Aku tidak menyimpannya, tapi mengkhawatirkan keadaan Tallulah. Ketika pesta di


Paris dia jatuh pingsan karena sakit. Aku takut dia mengulangnya di pestamu, teman.”


“Wah.” Seru Stephen dengan terkejut.


Tallulah menggelengkan kepala “Hanya kelelahan, Mr. Villard.” Sahutnya dengan sopan. Berada di tengah-tengah pria membuatnya sangat canggung, sementara ia bisa melihat teman modelnya masing-masing telah


mendapatkan pasangan kencan. Misi tercapai, kecuali Tallulah yang awalnya cuma ikut-ikutan ke pesta orang-orang berpenghasilan jutaan dollar setiap jamnya.


“Kau masih sangat muda, harusnya tubuhmu lebih kuat dari kami ini. Mulailah berolahraga, bukannya seorang model harus menjaga tubuhnya.” Raymond menasehati Tallulah, sang model dengan cepat menganggukan kepala dengan khidmat.


“Ya, dengarkan coach kita ini, Tuan Raymond Burke. Dia memiliki gym dan pelatih pribadi di mansionnya. Aku juga memiliki beberapa alat gym di lantai 2, tapi belum segila Ray.” Tambah Stephen memamerkan kekayaan temannya.


Raymond terbahak tawa pun lalu menaikkan kedua tangannya, layaknya seorang binaragawan memamerkan ototnya yang terbungkus suit mahal.


“Olahraga itu penting, gadis cantik. Omong-omong berapa umurmu?” tanya Stephen tidak bisa melepaskan pandangan pada model di samping Jace.


Tallulah tersenyum manis dan menatap si penanya “Tahun ini aku berusia 22 tahun, Mr. Villard.”


Dua pria berusia 30 tahunan itu ber Wow riang, bak mendapatkan mangsa ikan kakap berharga, pun mereka lalu saling berpandangan, hanya Jace menelengkan kepala dengan lemah.


Andai ia tidak mengambil Tallulah sejak awal, pastinya akan menyaksikan si model belia itu di pelukan pria-pria pencari kehangatan sesaat, sama halnya yang akan terjadi pada teman-teman sejawatnya. Mereka muda


dan belum berpikir banyak, jika pesta, **** bebas sepaket dengan penyalahgunaan obat-obat terlarang.


“Sangat muda, apakah kau memiliki seorang kekasih? Biasanya para model memiliki pria spesial yang berasal dari kota yang sama.” giliran Ray mencari tahu hal pribadi Tallulah.


Sang model sekilas menoleh kepada pria bergigi kelinci di sebelahnya “Aku tidak memiliki hal itu, Mr. Burke. Tapi aku memiliki pria pujaan, cinta pertama.” Aku Tallulah dengan senyuman simpul yang manis kepada Stephen dan Raymond.


“Jadi kau mencintainya sebelah pihak? Hei Tallulah, kau itu sangat cantik pria manapun bisa kau dapatkan.” Raymond menyemangati walau ia berada dalam misi berburu mendapatkan simpati sang model, tentu saja ia bersaing ketat dengan Stephen, temannya.


“Aku cukup melihatnya, karena dia hal yang tidak bisa kugapai, Mr. Burke. Dia sempurna.” Tallulah mengakhiri ucapannya dengan anggukan pelan. Bersamaan saat itu pula Jace menoleh, seketika jantungnya hendak copot, pria yang diceritakan sedang tersenyum manis mendengar ucapannya.


“Cinta harus diungkapkan, Tallulah.” Jace berucap dengan lembut. Sontak Tallulah memerah dan menggeleng.


“Maafkan aku, tapi bolehkah menggunakan toilet?” Tallulah dengan gugup, ia tidak bisa menahan tubuhnya lebih lama berada di dekat Jace. Jika pria idolanya meneruskan pembicaraan membahas tentang hal itu, Tallulah memastikan dirinya akan jatuh pingsan lagi.


“Kau mau kuantar?” Stephen menawarkan dengan sopan, berharap kesempatan terbuka lebar untuknya.


Sayangnya Tallullah menggelengkan kepala “Aku bukan anak kecil lagi, Mr. Villard. Sepertinya para pelayanmu bisa menunjukkan jalannya.” Tolaknya dengan tak kalah ramah.


Stephen mengembuskan napas kecewa, Raymond lalu menepuk punggungnya menyemangati.


“Dia benar, teman. Walau kau adalah tuan rumah tapi Tallulah bukan anak usia 2 tahun. Kami tunggu, setidaknya grup ini punya pemanis pesta.” imbuh Raymond


Tallulah menatap pria di sebelahnya seakan meminta ijin, pun Jace mengangguk.


“Sampai nanti.” Pamit Tallulah bergegas pergi, ia perlu toilet untuk mengenyahkan kegugupan dan dada berdebar sangat kencang.


Tidak tanggung halaman mansion milik Stephen Burke,Tallulah menerka jika luasnya sebesar lapangan sepakbola. Kegugupannya menghilang ketika menaiki anak tangga, ia sempat menoleh kepada pria yang ditinggalkannya.


Jace tertawa manis dengan Stephen dan Raymond. Saat itu pula Tallulah berdiri dan memerhatikan setiap gerak-gerik Jace Von Alstrom.


Yeah, dia sempurna di kejauhan. Berada di dekatnya Tallulah bisa kehilangan kesadaran, terlebih perkataan Jace.


Cinta harus diungkapkan


Napasnya sudah hampir putus. Di kejauhan Tallulah bisa menggunakan paru-paru dan jantungnya dengan baik.


Tallulah akhirnya tahu jika ada orang yang sangat indah dilihat dari kejauhan, dan tidak membahayakan kesehatan jantungnya.


“Ehem!” dehamam keras membuat Tallulah berbalik. Seorang wanita super seksi tersenyum miring menatapnya.


“Pardon me.” Kata Tallulah sopan kepada wanita yang memandang dengan dengusan remeh dari bibirnya.


“Sejauh apa hubungan kalian?” Aubrey mendekat hingga berhadapan dengan Tallulah.


Alis Tallulah bertautan “Maaf?” sahutnya bingung. Ia sama sekali tidak mengenal wanita di depannya, dan bersikap tahu tentang Tallulah.


“Kau dan pria yang kau lihat itu.”


Tallulah menghela napas panjang “Mr. Alstrom.” Akhirnya ia mengerti maksud pertanyaan wanita seksi dan sensual itu.


Aubrey tertawa “Yeah, Jace Von Alstrom. Kau dan dia seperti apa? Kencan semalam?” tebaknya sambil memerhatikan dandanan Tallulah. Cenderung biasa untuk hadir di pesta Hamptons.


“Kami bekerja bersama. Mr. Alstrom pemilik Alstrom tempatku menjadi model. Maksudku..”


Aubrey mengibaskan tangannya dan menghentikan perkataan Tallulah “Aku mengenalmu. Peragaan Paris kemarin ada kau, Lula. Lula, begitu panggilan teman-temanmu, bukan?”


Tallulah mengangguk dengan polosnya.


“Jadi kalian dekat sejak Paris? Sejauh apa? Teman tidur? Kau tahu jika Jace memiliki predikat berganti-ganti teman wanita. Andai kalian sedang bersama saat ini, tunggu hingga ia membuangmu.” Ucap Aubrey dengan sinis.


Tallulah yang belia tersentak mendengar perkataan wanita memiliki tampilan luar yang sempurna, hanya saja sikapnya bertolak belakang. Mendapatkan perlakuan Aubrey mengingatkan masa kecilnya yang kerap mendapatkan bully-an dari teman sekolahnya. Karena perundungan yang dialami Tallulah, membentuk pribadinya.


Tallulah gampang gugup, tidak percaya diri, dulu ia sempat histeris ketika di kerubungi oleh orang banyak.


Peran orang tua dan keluarga membuatnya lebih kuat. Satu lagi orang yang berjasa dalam hidup Tallulah tak lain Jace. Ya, pria yang pernah membagikan video di akun sosial media membicarakan kepercayaan diri. Itulah menyembuhkan Tallulah secara perlahan. Di saat bersamaan Jace membangun mimpi besar Tallulah untuk berlenggang di panggung catwalk.


“Apakah kau hanya menjadi model dan bisu?” sindir Aubrey melihat Tallulah yang merenung.


Tallulah menggeleng dengan wajahnya yang sendu “Maafkan aku.” Jawabnya lalu menggigit bibir bawahnya.


Kening Aubrey berkerut mendapatkan respon Tallulah.


“Kau belum menjawab pertanyaanku.”


Kembali Tallulah menggeleng lalu mengedarkan pandangan ke arah panggung mini yang disemarakkan oleh kehadiran DJ terkenal. Beberapa temannya terlihat sedang bergoyang riang di tengah para tamu yang melakukan hal yang sama.


“Maaf, aku tidak bisa menjawabnya.” Niat ke toilet ia urungkan, tanpa pamit sang model bertubuh ramping berbalik menuruni tangga dan bergegas menuju tempat temannya berpesta.



Jace menoleh ke arah bangunan mansion Stephen, sosok yang meninggalkan grup berbincang belum juga kembali dari toilet.


“Stephen, sepertinya kau harus mencari wanita lain malam ini.” Raymond menyikut temannya. Stephen menyeringai lalu tertawa garing.


“Katanya teman kita ini bukan sekadar boss yang baik, tapi memiliki sesuatu yang lebih kepada modelnya. Bukan begitu, Ray?” balas Stephen menyindir Jace yang beberapa kali kedapatan menoleh ke arah pintu mansion.


Jace memutar mata malas mendengar serangan kedua temannya “Terserah kalian mengatakan apa, tapi jujur aku sangat mengkhawatirkannya.”


“Kau melihat arah yang salah, Mr. Asltrom. Teman kencanmu sedang asyik bergoyang.” Raymond menunjuk ke arah gadis belia mengenakan mini dress hitam. Tallulah bertubuh indah dan pula cantik sedang di dekati


beberapa pria, walau gadis itu seolah asyik sendiri dengan dunianya.


“Malam kelabu ini harus kita rayakan, 3 pria bujang kaya raya yang tidak berguna.” Stephen menaikkan gelas berisi wine mahal ke udara, Raymond menyambut dengan mendentingkan gelasnya.


Jace menolak merayakan malam kelabu mereka. Pemilik Alstrom menaruh gelasnya di atas nampan dan membalikkan badan lalu bergerak ke arah kerumunan orang bergoyang. Hanya sesaat saja, kerumunan tadinya tidak begitu banyak menjadi tiga perempat tamu sudah turun memadati area depan panggung.


Jace harus melewati orang-orang separuh mabuk dan sepenuhnya mabuk untuk mencapai Tallulah.


Selain menjadi model, Tallulah terlihat memiliki bakat sebagai seorang penari beat. Gerakan tubuh indah yang luwes seirama dengan musik oleh DJ terkenal itu. Ketika tangan Tallulah naik ke atas, saat itu pula Jace


menangkap pergelangan sang model.


Tallulah kaget dengan kehadiran tiba-tiba Jace, terlebih tangannya langsung di pegang dengan erat.


“Ikut aku.” Pinta Jace sembari berteriak agar Tallulah mendengarnya.


Beberapa pria yang berada di dekat Tallulah perlahan mencari mangsa baru, mengacuhkan sang model. Mangsa cantik yang rupanya telah memiliki teman kencan malam itu.


Bak hewan yang di tarik oleh pengembalanya, Tallulah patuh mengikuti langkah pria yang menariknya menjauh dari tempat pesta berpusat. Semakin menjauh, mengitari mansion mewah. Pegangan tangan Jace terlepas ketika di depan mansion, Tallulah terdiam hanya bisa melihat pria bersurai coklat itu mengetikkan sesuatu di ponselnya.


Helaan napas kasar ketika Jace kembali menaruh ponsel di saku suitnya lalu menoleh ke arah Tallulah. Sontak gadis belia itu diliputi kecemasan mendalam.


“Kita pulang New York malam ini.” Ucap Jace yang membuat Tallulah hampir mati membeku.


“Tapi..”


Jace terdiam dan menatap wajah kikuk dan pula cantik itu.


“Kau menginap di hotel mana? Kita pergi mengambil barangmu lalu berkendara kembali ke kota. Ayo.” Jace kembali dengan tatapan dalam, kali ini ada permintaan yang sulit di tolak Tallulah.


Jace berjalan pelan diikuti dengan Tallulah di belakang setengah langkah melewati deretan mobil mewah dengan berbagai warna memenuhi pekarangan depan Stephen, tentu saja milik para tamu.


Sebuah BMW hitam dengan pria berpakaian rapi menanti di sebelah kendaraan mewah itu. Sesaat lalu Jace sempat meminta sebuah kendaraan kepada tuan rumah untuk mengantarkannya kembali ke New York. Jace bisa merasakan ponselnya bergetar, siapa lagi jika bukan Stephen mengirimkan rentetan pesan, pasti menanyakan akan sikapnya yang serba mendadak.


“Naiklah.” Pinta Jace agar Tallulah untuk menaiki mobil berwarna hitam yang sangat mengkilat itu.


Pun sang model patuh, Tallulah duduk dengan pelan di kursi belakang. Jace bergabung di sebelahnya, tanpa ada perkataan lanjutan.


“Tuan, kita akan kemana?” tanya sopir menoleh ke arah Jace.


Pria yang ditanya tak menjawab malah bertanya ke gadis sebelahnya.


“Barangku tidak banyak dan tidak penting. Aku bisa meminta Vero, temanku untuk membawanya kembali ke New York.” Tallulah membalas tatapan datar Jace dengan berkata lembut.


“Sir, kami akan kembali ke New York. Maafkan kami membuatmu ke kota.” Ucap Jace sopan kepada sopir Stephen.


“Albert, Mr. Alstrom. Hanya menyetir selama 2 jam hal kecil bagiku, tuan. Jadi nikmati perjalanan ini, Mr. Asltrom.” Sopir itu menganggukkan kepala dengan senyuman simpul kepada kedua penumpangnya.


“Terima kasih, Albert.”


Hampir 30 menit mobil berjalan Jace tidak mengeluarkan suara, pun Tallulah hanya bersandar dengan pandangan lurus ke depan.


“Tallulah.” Gumam Jace menoleh ke arah gadis di sampingnya.


“Ya, Mr Alstrom.” Sahut Tallulah dengan cepat. Sedari tadi jantungnya bertalu-talu tidak sopan, menghentakkan isi dada.


Jace memperbaiki posisinya, menghadap ke samping.


“Jangan lakukan itu lagi. Ketika ada orang menunggumu kau harus kembali ke tempat semula.” Sebuah tatapan tanpa ekspresi membuat Tallulah gelalapan.


“Mr. Alstrom menungguku?” cicitnya lemah tak berdaya akan tatapan intens Jace.


Jace menghela napas panjang “Bukankah tadi aku sudah katakan untuk berada di sampingku. Dan kau mengingkarinya.”


Tallulah mengangguk lemah “Ya, salahku. Aku lupa, Mr. Alstrom. Terlebih siapa aku yang harus mengganggu pestamu.”


Jace mengembuskan napas lewat mulut, sekilas ia terlihat memejamkan mata dan kemudian kembali memandang penuh arti ke arah Tallulah.


Saat itu waktu seakan berhenti, ketika manik biru dan abu bertemu.


“Jangan menangis.”


Jace menaikkan tangannya dan menyentuh pipi basah oleh tetesan air mata.


Berbanding terbalik ketika di Paris, kali ini wajah Tallulah sangat dingin bak es di Alaska, negara tempat sang model berasal.


“Maafkan aku, Mr. Alstrom.” Isakan tangis Tallulah menjadi, wajahnya tertunduk tak berani menatap Jace.


Insting menggerakkan kedua tangan Jace menarik tubuh Tallulah masuk ke dalam dekapan “Maafkan aku yang terlalu keras kepadamu. Aku sangat mengkhawatirkanmu, terlebih pria-pria di pesta tadi ingin menerkammu. Kau itu masih sangat muda, kau tidak memiliki pengalaman dengan pria. Jadi, baiknya kau menjaga diri lebih baik lagi.”


Isi kepala Tallulah kosong, tidak punya kemampuan untuk mencerna perkataan Jace. Dalam isakan dipelankan, ia menaikkan kepala dan menatap pria yang mendekapnya hangat. Saat itu pula sebuah kecupan mendarat di


kening dari pria yang menjadi cinta pertamanya.



Ribuan kilometer dari New York, tepatnya di kota Paris seorang gadis bersurai hitam termangu menatap ponselnya. Berkali-kali ia mengembuskan napas panjang dan kecewa.


“Dia bukan untukmu, babe.” sebuah tepukan di punggung Iris, sontak ia menoleh ke arah Bex, teman kuliahnya.


Iris tersenyum miris, berusaha menyakinkan jika ia tidak terpengaruh oleh berita yang menaikkan foto Jace dan Tallulah saling bergenggaman tangan.


Model Tallulah Bluebells dan pemilik Alstrom, berkencan.


“Aku tahu, babe. Walau kami sering bertemu dan mendengarnya berbicara membuatku semakin memujanya. Tapi yah, dunia kami berbeda. Kamu benar, dia bukan untuk wanita biasa-biasa sepertiku.”


Bexley, gadis berusia setahun di bawah Iris mengiyakan dalam anggukan riang.


“Kau itu cantik, babe. Saatnya membuka hatimu untuk Julian, Owen, Reef dan siapa lagi pria yang menjadi tunanganmu di Italy sana?”


Iris mendengus kesal lalu tertawa “Giulio Celi.”


Bex tertawa lalu memeluk Iris “Giu lebih tampan dari Mr. Alstrom idolamu itu. Yeah, Mr. Celi sangat  tampan bukan, babe?”



alo kesayangan ^^,


Happy satnite buat kalian dan aku ...


love,


D


(no ikon, coz aku online dengan lepi)