JACE

JACE
Lucky Me



"Kau menyukainya?" tanya Jace sembari menghampiri Tallulah yang duduk di pinggiran kolam dengan pemandangan pantai belakang mansionnya. Mereka baru saja tiba di The Hamptons, setelah Tallulah menyelesaikan semua pekerjaannya.


Matahari hampir tenggelam, bayang-bayang hitam menghiasi langit di ufuk barat. Tallulah belum mendapatkan pemandangan mansion yang terbaik kala matahari terbenam dan langit memerah dengan indahnya. Hal itu merupakan kebiasaan Jace duduk di tempat yang sama sembari memikirkan banyak hal, terutama kisah cintanya yang telah berakhir dengan Tallulah. Ya, itu dulu, berbeda dengan sekarang. Jace berhasil mendapatkan kembali wanitanya, beberapa Wedding Organizer menghubunginya setelah berita pertunangan mereka merebak di berbagai media.


"Aku suka." sahut merdu Tallulah sambil tersenyum indah menawan hati. Jace mengulum bibir sambil bergabung di sebelah tunangannya.


Tallulah dengan sigap menautkan jemari, Jace membalas dengan kecupan ringan di pipi. "Rumah ini akan menjadi tempat kita berlibur, ya itu ketika rindu dengan suasana laut. Selebihnya kita akan menetap di Nebraska." putus Jace.


"Boo!" Tallulah terpekik kegirangan. "Terima kasih, aku pikir kita akan tinggal di sini."


"Jujur aku menyukai kota itu, suasananya tenang untuk keluarga kita nantinya." ujar Jace bijak.


Tallulah terlihat lebih semringah daripada sebelumnya, ia mengangguk-anggukkan kepalanya dengan mata berseri. "Semuanya ada bukan?"


"Ada kau, itu yang penting. Aku melihat peluang besar di sana, kita bisa mencari lahan yang bagus untuk dijadikan peternakan sekaligus pertanian."


Tallulah terbahak seraya mencubit pipi pemilik The Alstrom tersebut dengan gemas. "Apakah aku tidak salah dengar?"


Jace mengecup kening Tallulah, kekasihnya itu semakin merona. "Aku serius, Sweety Pie. Di sana tanahnya sangat luas, aku tidak mungkin memintamu pindah dari rumah yang sekarang ke peternakan."


"Selama bersamamu, itu bukan hal besar." timpal Tallulah membalas perkataan Jace. "Aku punya teman, hmm.. sebenarnya teman Aaron, tapi aku mengenalnya dengan baik. Lucy Harrington, namanya."


"Jujur aku malas mendengar nama itu, penggemar beratmu." Jace mendengus kemudian tertawa kesal.


Tallulah terdiam, ia memikirkan pertemuannya dengan Aaron pada hari Selasa malam. Sepertinya ia harus menutup rapat bibirnya, tidak membocorkan kehadiran Aaron di New York.


"Tenang, Sweety Pie. Ini baru rencana, dan sepertinya mudah untuk menemukan orang yang tepat untuk belajar tentang membangun sebuah ranch. Apalagi yang memiliki ranch di Nebraska bukan hanya kenalanmu itu saja. Lebih baik kita menghindari lingkaran pertemanan Aaron."


Tallulah masih termenung, kepalanya mengangguk-angguk tanda ia mengerti akan perkataan Jace.


"Kenapa aku mengatakan itu, mungkin tepatnya memutuskan. Ya, karena kita akan menetap di sana. Tentu kita akan mengadakan berbagai macam jamuan pesta, dan aku tidak ingin kehidupan pribadi kita sampai di telinga Aaron lewat temannya itu. Apalagi kau mengenalku dengan baik yang sangat selektif memilih teman akrab."


"Ya, aku paham." sahut Tallulah. Ia menatap Jace, matanya melembut dengan kepala terangguk pelan. "Sama, aku tidak ingin itu terjadi."


Jace menatap ke depan, saat itu Tallulah merebahkan kepala di bahunya. "Aku punya banyak rencana tentang hidup kita, Sweety Pie. Ketika aku masih sendiri di sini, aku ingin membawamu tinggal menemaniku. Menurutku melihat laut setiap hari akan sangat menyenangkan. Namun, setelah kau mengenalkanku dengan Nebraska, muncul rencana hidup yang lain."


"Tidak selamanya kita akan tinggal di Nebraska, Mr. Alstrom. Maafkan aku, ketika membeli rumah itu tidak terpikirkan jika kita akan kembali bersama. Pindah ke Nebraska hanya demi dad dan mum."


"Jace menepuk jemari Tallulah yang berhiaskan cincin pertunangan mereka. "Benar adanya perkataan bahwa hidup tidak bisa diprediksi. Mungkin sekarang kita memutuskan untuk tinggal di Nebraska, tapi suatu hari ketika kita telah memiliki anak, dan mereka menyukai suasana kota besar, entah itu New York , Hamptons, atau mungkin Eropa, tentu aku akan menuruti permintaan mereka."


Tallulah menggerakkan tubuhnya tegap, ia memandang lekat Jace. "Anak?" cicitnya dengan jantung bertalu kencang.


"Kau ingin anak berapa, Nyonya Alstrom?" tanya Jace sambil tersenyum lebar. Ia bahagia melihat wajah polos Tallulah merona dan kikuk.


Tallulah bergumam pendek, menarik napas panjang kemudian menatap Jace. "Banyak. Kita berdua adalah anak tunggal, mungkin tiga atau empat anak."


"Serius?" Jace bersorak dengan manik abu yang melebar. Ia kemudian terkekeh tawa yang riang.


"Ya, sangat menyedihkan tidak memiliki saudara. Kau tahu pasti rasanya, Boo." keluh Tallulah.


"Ya, aku tahu." Jace mencubit pipi Tallulah kemudian tertawa. "Kita juga bisa membuka restoran di Nebraska, bukankah dulu kau pernah mengatakan impianmu itu."


Tallulah terlihat gamang. Jace spontan menggoyangkan tubuh supermodel itu. "Tenang, kita hanya perlu mencari bangunan yang tepat, merekrut satu kepala chef dan sisipkan menu andalanmu di restoran tersebut. Gampang, bukan?"


"Kau sungguh bersemangat. Boo. Banyak rencana di kepalamu, dan pasti kau juga masih bisa memikirkan The Alstrom."


Jace tersenyum. "Tentu, The Alstrom adalah yang utama. Bukan, kau yang pertama, Nona Bluebells Tersayang. The Asltrom juga pernah menjadi kedua ketika aku masih bekerja sebagai manager Sky."


"Boo, apakah kau masih merindukan Sky Navarro? Yang mana lebih kau cintai aku atau dia?" celetuk Tallulah terdengar serius, rautnya datar dan menuntut jawaban.


Jace mengerutkan alis. "Huh? kenapa baru sekarang kau bertanya seperti ini? Bukankah semuanya telah jelas, Sweety Pie."


Si gadis berambut coklat merah mengerucutkan bibirnya sekilas. Ia merajuk manja kepada Jace. "Tapi  dulu kau pernah tergila-gila kepadanya."


Jace berdiri, kini di langit tak menyiratkan warna merah kecuali gelap sepenuhnya telah hadir di pesisir The Hamptons. Ia menarik tangan Tallulah agar ikut berdiri. "Itu dulu, sekarang gilirannya aku tergila-gila kepadamu. Tahu tidak, semua ada masanya, Nona Bluebells. Masa yang memberikan kita banyak pelajaran untuk melanjutkan hidup."


"Aku tidak memiliki pria yang aku sukai sebelum bertemu denganmu." ujar Tallulah membiarkan Jace menuntunnya masuk ke dalam rumah.


Jace menoleh sambil tersenyum manis. "Maka dengan itu, sungguh beruntungnya diriku."


...


Tangan Iris gemetar, wajahnya pias dengan tatapan ngeri ia kembali terpaku pada test pack di genggamannya. Ia menggeram, entah marah atau sedang frustasi.


"Dasar bodoh!" rutuknya kemudian berdiri. Tak lupa ia menekan flush toilet lalu membasuh tangan dan wajahnya yang pucat.


"Kenapa aku lengah?" suara parau itu kembali terdengar melirih di dalam kamar mandi. Tubuhnya bergetar ketika air mata menyeruak di kelopak matanya. Seiring air mata berjatuhan di pipi, pun ingatan tentang malam-malam yang ia habiskan bersama dengan Giulio kembali menyeruak.


Ya, hanya ada pria itu yang berada di dekatnya selama sebulan terakhir. Giulio bersikap manis, lembut, penuh perhatian, tak jarang Iris mendapatkan bantuan terkait urusan rumah bahkan pekerjaan. Ia bisa melihat kedekatan Verona dengan Giulio melebihi hubungan ayah dan anak pada umumnya.


Semudah itu Iris bisa terlena dengan Giulio, hanya dari percakapan yang intens, sedikit wine diralat setengah botol wine dari koleksinya. Ia pun berakhir tidur bersama di tempat tidur Giulio dua minggu yang lalu. Setelah itu mereka tidak tidur bersama setiap malamnya, hanya ketika percikan gairah itu hadir dan rasa hampa melanda. Terakhir mereka melakukannya karena Iris cemburu setelah mengetahui bahwa Franca masih menghubungi Giulio.


Iris tidak akan berakhir dengan hamil kembali jika Giulio menggunakan pengaman, mereka selalu terlena akan gairah tanpa kendali. Ketika pagi datang, Iris menyesalinya, berbeda dengan Giulio yang tampak tenang-tenang saja. Pria itu tetap melakukan aktifitasnya, tidak ada perubahan sikap yang signifikan kecuali lebih banyak membahas tentang putri mereka.


Tok Tok!


"Iris, apakah kau ada di dalam?" teriak Giulio terdengar tidak sabar.


Iris menarik napas panjang kemudian mengumpulkan suara di tenggorokannya. "Ya, aku di sini."


Usai menyahut saat itu pula pintu kamar mandinya terbuka, Giulio muncul dengan wajah yang terlihat sangat khawatir. "Kami menunggumu di meja makan, ini sudah 30 menit lamanya kau ke kamar mandi..." perkataannya terpotong ketika melihat alat test pack di atas wastafel ganda berwarna gading.


Iris menggigit bibir ketika Giulio meraih test pack tersebut.


"Aku kecolongan." jawab Iris mencoba tegar, syukurnya air mata tadi telah kering tak berjejak di wajahnya. Ia selalu nampak tangguh di depan Giulio, bahkan semua orang yang mengenalnya.


Giulio tidak memberikan tanggapan kecuali menggenggam jemari tangan Iris dan memimpin wanita itu keluar menuju ruangan di mana Verona sedang menunggunya.


"Sayang, bisakah kau makan tanpa papa dan mama? Papa ingin berbicara dengan mamamu sebentar." kata Giulio lembut kepada putrinya yang setia menunggu tak menyentuh menu sarapannya.


Verona adalah putri yang sangat pintar, gadis kecil itu meyatukan jempol dan telunjuknya membentuk huruf O sambil menganggukkan kepalanya dengan riang.


"Papa dan mama di situ, Sayang." tunjuk Giulio ke arah sofa yang berada di ruangan yang sama. Verona tidak mendengarkan perkataan sang papa, putri berkuncir satu itu sedang asyik dengan makanannya. Verona adalah seorang Italia sejati, pecinta, penikmat makanan apapun.


"Kita bisa.." Iris bimbang meneruskan perkataannya ketika ia mendapati Giulio menatapnya dengan tajam.


"Tidak!" tegas Giulio sambil menggeleng. "Aku tahu apa yang ada di pikiranmu, Iris. Tuhan, kita akan dikutuk Tuhan jika melakukan itu."


Iris merenung sambil melipat bibir, sesekali ia melayangkan pandangan ke arah Verona.


"Kita akan kembali bersama. Ya, hanya itu jalan satu-satunya. Suka atau tidak suka, kita jalani ini bertiga." putus Giulio tegas.


"Hah?" sahut Iris seraya mendengus, tak lama ia meringis dengan gelengan kepala berulang kali.


"Apakah ada pria lain di hatimu kecuali fashion designer itu?"


"Siapa?" Iris balik bertanya, ia mendadak buntu dengan isi kepala yang seharusnya bisa bekerja dengan baik.


"Mr. Alstrom." cetus Giulio


"Jangan sebut namanya lagi di depanku, aku sangat membencinya." amarah Iris tiba-tiba saja meledak. Taruhan jika udara di ruangan tersebut naik sebanyak 5 derajat celciuls.


Giulio tersenyum sangat tipis. "Baiklah, kita lupakan orang itu. Aku ingin fokus dengan kehamilanmu. Ya, anak kedua kita."


Iris memejamkan mata meresapi perkataan Giulio. Ya, dua kali ia jatuh di lubang yang sama. Ia tidak menyalahkan hasilnya, terbukti Verona tumbuh dengan baik. Namun Iris menyalahkan diri telah meminta Giulio untuk menginap di kediamannya, dan kembali terjerumus akan pesona dan panasnya pria itu.


"Padahal aku tidak menginginkan hal ini terjadi." Iris menantang sorot manik biru milik Giulio.


"Aku menginginkannya." pungkas Giulio seraya mengambil napas panjang dan menggenggam jemari Iris. "Benar aku menginginkan ini, Iris. Kenapa?"


Giulio memotong perkataannya sambil menunggu respon Iris. "Aku tidak bisa berpikir dengan jernih." jawab wanita bersurai hitam itu.


"Dengarkan aku." pinta Giulio.


"Baiklah." Iris melunak, ia tidak bisa menentukan sikap dengan pikiran yang kacau balau. Ia pasti juga tidak bisa melarikan diri untuk sekadar menenangkan pikiran di kamarnya. Giulio terlihat menuntut.


"Iris, aku menunggu saat ini terjadi. Karena hanya hal ini yang membuat kita kembali bersama seutuhnya. Aku tidak terikat dengan wanita manapun, begitupun dirimu. Dan lihat Verona. Dia membutuhkan kedua orang tuanya. Dan itu berlaku kepada adiknya."


Iris terdiam, perkataan Giulio ada benarnya. Ia memilih menatap Verona, putrinya. Iris mencintai Verona, dan memikirkan berpisah dengan putrinya membuat dadanya sesak.


"Sama seperti ketika mendapati diriku hamil yang pertama, aku tidak merasakan cinta yang besar seperti cerita orang tua kita. Begitu juga sekarang, aku tidak merasakan cinta itu kepadamu." jujur Iris.


Giulio mendengus sambil mengangguk, bibirnya terangkat sebelah. "Kau pikir cuma dirimu, Amor? Aku pun sekarang tidak. Jika dihitung dengan angka, aku menyukaimu tak lebih banyak dari 35 persen."


Giliran Iris mendengus kesal. "Terus buat apa kita bersama? Demi anak?" bisiknya tajam. Ia tidak ingin suaranya terdengar hingga ke telinga Verona.


"Ya. Demi anak. Apa yang bisa kuharapkan dari dirimu, Iris? Dulu aku tidak begini, aku sangat mencintaimu tapi dirimu sangat kaku. Memang banyak orang menikah karena saling mencintai dengan hebatnya, namun tidak sedikit juga tetap bersama dalam pernikahan walau mereka saling melukai. Mungkin kita adalah golongan itu, golongan orang-orang berusaha bersama demi menjaga hati dan mental anak. Jadi lembutkan hati dan pikiranmu, kita arungi hidup itu. Semoga ada bahagia di depan, kita tidak tahu. Ya, semoga saja ada."


...


Jantung Tallulah berdebar kencang dan nyeri. Ia meremas gagang gelang wine-nya dengan keras. Dari kejauhan ia melihat sosok sensual berjalan dengan lenggokan dibuat seheboh mungkin. Ya, wanita itu rupanya diundang Jace ke pesta pertunangan mereka. Aubrey, wanita yang pernah Tallulah dapati jalan bersama dengan Jace. Ia sempat berpikir jika Jace menjalin hubungan romantis dengan wanita seksi tersebut. Tapi bukan itu yang membuat jantungnya memompa berkali lipat, melainkan pria yang menggamit lengan Aubrey. Sosok pria yang mengenakan suit rapi berwarna dark brown. Pria yang sama kini sedang tertawa mendengarkan perkataan Aubrey.


"Kenapa duniaku menyempit." gerutu pelan Tallulah menaruh gelasnya ketika pelayan menghampirinya.


Pasangan itu masih di jalanan menuju mansion, Tallulah bergegas mencari Jace. Syukurnya pria itu sedang mengambil buah pencuci mulut, yang tadinya masih berkumpul dengan teman-temannya.


"Boo." Tallulah mencengkeram lengan Jace posesif.


"Ada apa? Kau terlihat pucat." kekeh Jace menimpali perkataan tunangannya.


Tallulah bernapas pendek-pendek, manik birunya melebar. "Dia di sini. Aaron Watkins datang bersama dengan Aubrey."


###



alo kesayangan💕,


apa kabar kalian? apakah masih ada team Iris di sini 😂


serius, aku lupa apakah Jace itu anak tunggal atau punya saudara.


aku pelupa akut, berusaha mencari chapter membahas itu dan tidak menemukannya.


poor me 😌


banyak yang aku kerjakan di real life, semoga dalam seminggu itu bisa menggungah 1 or 2 novel.


harap dimaklumi, ladies 🙏🏻


love,


D😘