JACE

JACE
What Do You Want?



Iris sempat kehilangan semangat untuk bekerja ketika mendapati pria pujaannya telah bertunangan. Bukan hanya di kantor, melainkan di segala media terus menerus membahas berita Jace dan Tallulah telah bertunangan. Cincin antik peninggalan nenek sang designer tak luput dari pemberitaan, itu disebabkan karena cincin tersebut diwariskan secara turun temurun.


Tallulah yang beruntung !


Ya, wanita itu sangat beruntung, bahkan usianya belum menginjak 25 tahun dan segala keindahan dunia telah berada di genggaman tangannya.


Ini bukan isi hati Iris, melainkan para pembenci supermodel tersebut di situs yang Iris ikuti. Ia pun sempat buka suara untuk menambahi, untungnya tak ada satupun mengetahui identitas asli Iris. Sebuah boomerang jika Iris menjabarkan dirinya yang sedang magang kerja di perusahaan milik Jace Von Alstrom.


Tapi itu kemarin, dua minggu yang lalu. Kini Iris sedang berada dalam pesawat menuju New York. Verona di pangkuannya sedang tertidur, hal sama berlaku pada Giulio yang terlelap di kursi sebelah. Setidaknya Iris tidak bersusah payah di kelas ekonomi berkat suaminya. Ia duduk nyaman selama 5 jam ke depan di first class salah satu maskapai terbaik dunia.


Jace terlebih dahulu ke New York, tepatnya lima hari lalu. Pemilik The Alstrom harus memastikan persiapan New York Fashion Week dari kantor pusat. Walau sebenarnya pria itu tidak perlu bersusah payah dikarenakan telah memiliki team khusus yang berpengalaman. Tetap saja sifat perfeksionisnya dominan, Jace tak ingin ada cacat sedikitpun karena semua menyangkut nama besar The Alstrom.


Sementara Iris yang sangat ingin menyusul Jace ke New York, walaupun ia tidak memiliki kepentingan mendesak di sana, pun disetujui oleh Giulio. Suaminya mengatakan jika mereka bisa berliburan sebelum Iris sibuk dengan peragaan rancangannya.


Benar perkataan Giulio, mereka sama sekali tidak pernah berliburan bersama. Tak ada waktu untuk berbulan madu, setelah Iris dan Giulio menikah. Keduanya terfokus pada kandungan Iris, kemudian Verona lahir dan proses magang kerja.


Ya, waktu sangat cepat berlalu, beberapa rencana Iris harus kandas. Namun kembali ia menyadari jika semua pengorbanannya sepadan dengan kehadiran Verona.


Begitu membatinkan Verona, seketika itu juga putrinya menggeliatkan badan namun Iris dengan cepat menepuk pelan punggungnya.


"Shhhhh..." Iris menenangkan Verona sebelum merengek, putri cantik itupun kemudian pasrah dan melanjutkan tidurnya.


Helaan napas berat di sebelah membuat Iris menoleh. Giulio ikut terbangun, matanya sayu dan indah, aliran darah Iris berdesir. Iris hanya wanita biasa, pesona Giulio tidak selamanya membuat hati kaku dan berkeras hati.


"Kau tidak tidur, Amore?" Keseksian Giulio dengan suara beratnya yang parau membuat Iris mengukir senyuman tipis.


"Aku tidak bisa, Darling. Jantungku berdetak kencang, aku membayangkan peragaan busanaku."


Giulio mengusap lengan Iris dengan lembut "Tetap tenang, Amore. Semuanya telah dikerjakan, bukan? Kau hanya perlu datang di tempat itu tanpa memikirkan apapun."


Iris menghela napas panjang sambil mengokohkan pelukan pada Verona.


"Aku takut dengan respon orang-orang. Aku tidak siap jika mendapatkan kritikan apalagi mereka membawa nama The Alstrom." ucapnya risau.


"Sepertinya semangatmu sedang turun, aku pikir bossmu adalah orang yang sangat tahu tentang kualitas sebuah design yang bagus untuk brand-nya. Jadi, semua yang diperagakan beberapa hari ke depan telah dipikirkan baik-baik olehnya." ujar Giulio pelan, ia tidak mau pembicaraan mereka membangunkan Verona.


Sejenak Iris melihat ke arah jendela pesawat, tak ada pemandangan yang terlihat kecuali gelap gulita. Mereka sengaja mengambil penerbangan malam agar bisa tiba pagi di kota New York.


"Semoga intuisi Jace bagus." Iris bergumam lemah seraya menatap wajah Giulio yang terlihat prihatin.


"Ya, kami para pemimpin perusahaan harus berani bertaruh, tapi kembali pada The Alstrom adalah sebuah brand yang sangat terkenal, Amore. Bahkan sebuah kain lap jika dijadikan pakaian akan laku tanpa orang berpikir lama untuk membelinya. Apalagi rancanganmu yang fenomenal itu." tutur Giulio tulus.


Iris terkekeh manis dan menunduk sesaat. "Ya, aku terhibur akan ucapanmu, Darling."


"Aku tidak menghiburmu, Amore. Tapi apa yang kukatakan benar adanya. Kau satu-satunya designer hebat yang kukenal dan kau memiliki dedikasi tinggi. Ini sebuah kesempatan emas tampil di NYFW, setelah ini semua selesai kau akan menjadi Iris Coppole yang berbeda. Orang-orang akan mengenalimu. Percayalah, jika peragaan The Alstrom akan berjalan sukses." Giulio menepuk lengan istrinya sambil tersenyum.


"Baiklah, aku akan mempercayai perkataanmu. Semoga saja setelah ini berakhir aku akan menjadi designer yang lebih baik." sahut Iris seraya mengembuskan napas dalam.


"Kau yang terbaik, Amore. Jadi istirahatlah selama Verona juga tertidur." kata Giulio lembut sambil melirik jam tangan mewahnya.


...


Jace mengacungkan jempol kepada teamnya. Tampak senyuman puas bertengger di bibir pemimpin The Alstrom setelah mengecek satu-persatu pakaian yang akan diperagakan.


"Jam berapa para model akan audisi?" tanya Jace kepada Emmanuelle, Direktur Perencanaan itu tentu saja ikut bersamanya ke New York.


Emmanulle mencebik ketika melihat jam tangannya kemudian menatap Jace. "Sebentar lagi. Jika kau ingin ikut mengaudisi. Mungkin ada beberapa model muda cocok dengan The Alstrom. Kita perlu wajah baru, boss."


Jace melipat bibir sambil berpikir. "Sorry, aku tidak ikut. Aku akan keluar bersama dengan Jacob, makan siang bersama dan sedikit berbicara tentang perusahaan." ujarnya menolak tawaran wanita berambut pendek itu.


"Aku mempercayai matamu, Emma. Kau sangat jeli dengan model-model muda, terutama model wanita." sambung Jace mengedipkan matanya sambil menyeringai.


Emmanuelle menggigit bibirnya dan meninju pelan dada Jace. "Jangan salahkan aku jika mengencani salah satu modelmu."


Jace mendengus dengan cebikan di bibirnya. "Sejak kapan aku mengurus kehidupan seksmu, Emma. Tapi selama bukan Tallulah yang kau lirik."


Emmanuelle tergelak tawa kemudian merangkul bahu Jace selayaknya mereka berteman akrab. Bukankah Jace adalah temannya, ya.. mereka sangat dekat.


"Aku tidak bersaing denganmu, boss. Wanita manapun bisa kau dapatkan hanya dengan satu kedipan mata. Tapi jujur, jika aku sedang menyukai salah satu pegawai di Alstrom." ujar Emmanuelle santai, Jace spontan menoleh.


"Siapa? Pegawai di New York atau di Paris? Aku pikir kau telah menyerah dengan Leah." Sergah Jace dengan cepat. Leah yang dimaksudkan Jace adalah pegawai di New York, bawahan Jacob.


"Bukan. Aku tidak tertarik lagi dengan Leah, yang ini sesuai dengan kriteria pasanganku. Dia sempurna, dan sangat dekat denganmu." sahut Emmanuelle.


Ketika keluar dari ruangan tempat berkumpulnya para team branding dan team designer inti The Alstrom, nampak Jacob telah menanti Jace sambil bersandar di dinding.


"Sampai di sini saja boss, aku masih menjaga jarak dengan temanmu itu." Emmanuelle melepaskan rangkulan sambil menghindari bertatapan mata dengan Jacob.


Jace terkekeh menelengkan kepala. "Jangan terlalu membenci, nanti kau menyukainya."


"Aku masih tidak normal, boss. Tapi tenang saja, masalah akan kami diselesaikan. Mungkin setelah peragaan ini." Emmanulle menepuk punggung Jace kemudian membalikan badan dengan buru-buru.


Jacob yang melihat tingkah Direktur Perencanaan Paris malah justru tergelak tawa sambil menghampiri Jace.


"Kau dikelilingi wanita, mate." Sindir Jacob masih tertawa.


Jace terus berjalan sambil memutar matanya yang berwarna abu. "Kita mengenalnya dengan baik, dan itu juga yang membuat kalian perang dingin. Ya, karena Leah." ujarnya santai.


Jacob mengedikkan bahu. "Yeah, dia keterlaluan dalam mengejar Leah. Aku tidak suka melihat bawahanku tidak bisa berkonsentrasi bekerja karena mendapatkan berbagai kiriman seperti bunga, barang mewah ke kantor dari seorang wanita. Dia gila." umpatnya sambil menekan tombol pintu lift.


"Emma mengatakan jika tidak tertarik lagi dengan Leah. Tapi dengan seorang pegawai The Alstrom lainnya. Aku juga tidak tahu siapa korban berikutnya, tapi Emma sempat mengatakan jika wanita itu dekat denganku." Jace menyahut sambil mengangkat bahu. Ia tidak mau ambil pusing dengan permasalahan cinta Emmanuelle, hampir semua pegawai The Alstrom dekat dengannya.


Jacob terlihat acuh, tidak mau membahas tentang Emmanuelle lebih lanjut. Matanya terpaku pada angka-angka yang bergerak mengecil hingga dentingan menandakan mereka telah sampai di lobby.


Kedua pria itu berpandangan dengan takjub ketika melihat ruangan lobby diisi model-model yang menunggu untuk naik ke atas. Para model tersebut terpilih tanpa audisi, berbeda dengan model-model yang mengantri di luar bangunan. Mereka mencoba peruntungan dari para team seleksi The Alstrom.


"Aku tidak melihat Tallulah." Ujar Jacob menyapu lobby memerhatikan setiap orang yang kini melemparkan senyuman terbaik kepada Jace.


Jacob menunduk tidak bersemangat mendengarkan penuturan Jace.


"Ada apa?" tanya Jace menyikut temannya.


Jacob merangkul bahu Jace kemudian berbisik. "Aku akan bercerai. Kami tidak bisa bersama lagi. Lebih baik menyudahi pernikahan daripada hampir setiap hari bertengkar dengan berbagai alasan yang tidak jelas. Dia emosional dan cemburu kepada siapapun. Aku lelah, mate."


Jace membulatkan matanya di saat bersamaan terdengar suara meneriakkan namanya.


"Mr. Alstrom."


Jacob menyeringai menatap wanita yang tergopoh-gopoh dari meja resepsionis.


"Kau dikelilingi wanita cantik." sindir Jacob.


"Kau mengenalnya, dia salah satu designer peragaan kali ini, bro." Jengah karena ditatap puluhan model, Jace melepaskan diri dari rangkulan Jacob.


"Kami saling mengikuti di sosial media. Sayang, Iris sudah memiliki suami."


Jace menoleh membulatkan manik abunya sambil menggelengkan kepala.


"Tahan mulut besarmu itu." ucapnya mengingatkan teman baiknya.


"Mr. Alstrom." sapa Iris lebih manis setelah berteriak yang membuat orang-orang lebih memerhatikan mereka.


"Hei, Iris. Akhirnya kau di New York. Bagaimana dengan kota ini? Apakah kau menyukainya?" tanya Jace sambil membentangkan tangannya.


Raut wajah Iris semakin berseri-seri dan mengangguk riang. "Ya, aku menyukainya. Kota ini sangat hidup, orang-orang bergerak dengan cepat sementara di Paris lebih lambat menikmati segala suasana."


Dua pria rupawan kompak tertawa kecil sambil memandang ke arah Iris. "Seperti inilah New York. Aku menyukai keduanya. Paris dan New York memiliki pesona tersendiri. Oh yah, kami akan makan siang bersama. Apakah kau ingin bergabung?" tanya Jace seraya memamerkan senyuman terbaiknya.


Kaki Iris meleleh, pun jantungnya. Ia sudah melupakan janji temunya dengan Emmanuelle, tawaran Jace adalah berkah yang sangat hebat ketika menginjakkan di bangunan tinggi perkasa milik The Alstrom.


"Tentu saja saya mau." Dengan lekas Iris menyahut hanya terpaku pada satu wajah.


Jace melirik Jacob. "Table for three, mate."


"Apapun untukmu, boss." balas Jacob memimpin kelompok kecil yang menjadi perhatian model-model memukau mata.


...


Jacob menahan tawa ketika melihat mimik muka cemberut Iris setelah makan siang mereka berjalan selama 30 menit. Penyebabnya adalah Jace sedang menerima panggilan telepon dari Tallulah. Sekarang perhatian Iris kepada pria tampan yang begitu hidup dan sedang berdiri berbicara dengan ponselnya di luar restoran.


Jacob berdeham yang berhasil mengalihkan perhatian Iris dari sosok Jace.


"Kau menyukainya juga?" tanyanya ketika Iris tepat menatap wajahnya dengan lekat.


Iris terdiam namun raut mukanya mendadak tegang dan bernapas pendek-pendek.


"Aku pikir semua orang menyukai Mr. Alstrom." dalihnya mencoba keluar dari jerat pertanyaan teman Jace.


Jacob mendengus pendek sambil tersenyum. "Kau tidak bisa mengalahkan Tallulah di hati Jace, Miss Coppole. Dia sangat mencintai gadis muda itu. Andai Jace tertarik dengan wanita yang telah berkeluarga atau seorang single parent pastinya adik sepupuku telah menjadi teman kencannya."


"Apa? Adik sepupu?" Iris larut dalam provokasi Jacob, pria itu kini semakin terbahak tawa bahagia.


"Hmmm... Yeah, Aubrey. Sampai sekarang pun Aubrey masih setia menanyakan keadaan Jace, hanya saja dia memilih mundur setelah melihat saingannya adalah seorang Tallulah Bluebells. Aku salah, dulu pernah berpikir jika Jace menyukai wanita berstatuskan single parent karena cintanya yang sangat besar kepada Sky Navarro. Ternyata dugaanku salah. Ia menjatuhkan hati kepada gadis belia yang sangat polos dan cantik. Mereka tinggal bersama, dan kini telah bertunangan. Jace sangat mencintai Tallulah. Itu yang perlu wanita-wanita seperti dirimu ketahui, jika tidak ada jalan untuk mengganggu hubungan mereka." Kata Jacob yang sangat lancar seakan ia didaulat menjadi juru bicara dari pihak temannya. Jacob sama sekali tidak menyukai Jace di puja-puja secara berlebihan dari wanita yang telah bersuami dan juga sangat cantik.


Wajah Iris mendadak sangat kesal bahkan melebihi ketika melihat Jace tertawa-tawa manis dengan Tallulah lewat telepon.


"Bagaimana jika aku berhasil mendapatkan Mr. Alstrom? Setidaknya melihat diriku yang memujanya, mengetahui jika aku juga memiliki perasaan lebih besar daripada tunangan kecilnya itu? Apa yang aku dapatkan Mr. Westberg?" tantang Iris tak gentar, ia terlanjur tersulut oleh perkataan Jacob.


"Tuhan!" pekik Jacob melihat raut Iris yang begitu meyakinkan dalam mengungkap kata-kata majisnya dengan mantap.


"Apa yang aku dapatkan? Karena aku lelah menahan diri berada di samping Jace namun hatiku sangat besar ingin memeluknya, memberikan segala hal yang dia butuhkan."


"Apa yang kau inginkan?" tanya Jacob melemah, tadi ia sempat meremehkan kekuatan Iris, kini ia mendapatkan karmanya dengan kontan.


Iris menyeringai penuh kemenangan kembali memerhatikan sosok pujaannya.


"Sebuah butik di Paris. Aku menginginkan itu, Mr. Westberg."


Di depan restoran Jace memandang ke dalam pada sosok yang sedang tersenyum lebar dan indah kepadanya.


"Kami hanya berdua di restoran, Sweety Pie. Jacob sepertinya butuh teman cerita. Ya.. Aku juga merindukanmu."


###


Jace with Jacob gowes bareng, seperti aku dan temanku ketika weekend tiba 😁.



masih Jace, we have same hobbies 🤘🏻



alo kesayangan💕,


Aku datang lagi setelah berapa hari gak Up?


Para pecinta MERSIA sudah kasak kusuk menanti, tapi aku tidak bisa berkhianat dari Jace, jadwalnya tayang sebelum Orion. Bersabarlah ladies, aku juga berusaha menyempatkan diri untuk menulis.


love,


D😘