JACE

JACE
You’re Not Going To Lose Me



Hari Kamis yang cerah, Iris melahirkan seorang bayi perempuan yang menggemaskan. Wajah putri kecil itu mengambil raut Giulio, bahkan manik birunya. Verona Celi, begitu nama anak pasangan berbahagia yang tak lain Iris dan Giulio.


Khas orang Italia yang selalu berkumpul bahkan pada acara makan siang, apalagi perayaan menyambut bayi yang mempersatukan dua keluarga, apartemen mendadak Iris di sesaki oleh orang-orang yang sengaja terbang dari Turin ke Paris.


Tentu saja para tamu jauh tidak menginap di situ, Giulio telah menyiapkan kamar-kamar nyaman di hotel yang berada di blok sama dengan tempat tinggal mereka. Iris yang kemarin baru kembali dari rumah sakit, dipaksa oleh  orang tua untuk beristirahat di dalam kamar. Sementara Verona berada dalam pengawasan adik Giulio, Giulietta Celi berusia 27 tahun telah menikah lima tahun yang lalu namun belum diberikan keturunan. Wajar jika Verona tak lepas dari Giuletta, wanita cantik yang sangat merindukan tawa bayi di kehidupan rumah tangganya.


Iris baru saja bergerak dari tempat tidur dan suaminya yang tampan berjalan masuk sambil membawa nampan berisi makanan.


“Tetaplah di tempatmu, Amore.” Giulio menggeleng meminta istrinya kembali pada posisi semula. Bibir manis Iris cemberut, Giulio tertawa ringan.


“Aku juga ingin bersama dengan mereka di luar.” Iris menggerutu seraya menyandarkan punggungnya.


“Nanti, Amore. Mama menginginkan kau beristirahat, tubuhmu masih lemah.” Giulio meraih meja lipat kecil yang berada di sisi tempat tidur. Walau tangannya sibuk namun sesekali pandangannya mengarah ke wajah cantik istrinya.


Semangkuk Pasta e Fagioli dan satu Calzones membuat mulut Iris banjir, ia buru-buru menelan saliva. Ketika Giulio meletakkan makanan di atasa meja, Iris tidak berbicara langsung meraih sendoknya.


“Pelan-pelan, Amore. Kau seperti Coco yang tidak diberi makan selama dua hari.” Celetuk Giulio mengingat anjing golden retrievernya yang berada di Italia. Ia sangat ingin membawanya ke Paris, namun papanya terlebih dahulu menginginkan Coco dalam pengasuhannya.


“Darling, Verona –ku sedang apa?” tanya Iris sambil menyuap pastanya dengan pelan. Setelah Giulio melayangkan protes, ia pun mengembalikan sopan santun cara makannya. Hormon pasca melahirkan dan perasaan lega membuat nafsu makan Iris melonjak tinggi. Terlebih sekarang ia bisa menyantap masakan buatan para mama yang sangat menggugah selera.


“Sedang tidur, tenang ada Letta menjaganya.” Jawab Giulio sambil tersenyum menyebut nama pendek adik satu-satunya.


Iris mendesah dan sorot matanya menyendu “Aku sangat kasihan dengan Letta. Biarkan saja Verona dengannya.”


Giulio mengangguk “Lusa juga apartemen kita akan kembali sepi, Amore. Tinggal aku, kamu dan Verona. Perjuangan sebagai orang tua akan dimulai selepas ini.” Katanya dengan bijak sambil menepuk lengan istrinya.


Iris terdiam merasakan sedih, ia belum siap dengan kepergian keluarga besarnya. Bahkan sekarang ia merindukan rumah dengan halaman belakangnya yang sangat luas, umumnya berbagai macam perayaan hingga acara makan bersama diadakan di tempat itu sambil bercengkerama mendengarkan segala cerita lucu dan sedih para anggota keluarganya.


“Aku merindukan suasana rumah di Italy.” Iris tidak bisa menyimpan perasaan rindu, baik adanya ia mengungkapkan kepada Giulio daripada memendamnya dalam-dalam.


“Oh amore, aku sangat ingin membawamu pulang ke Italy, tapi kau sedang berkuliah. Aku sedang menahan perasaanku, Amore. Karena dirimu lebih penting dari segalanya dan sejak awal aku sudah berjanji akan menemani hingga menyelesaikan kuliahmu. Setelah itu, kita bisa kembali ke Turin atau kota lain yang kau inginkan.”


Seketika Iris kehilangan kata-kata, sejujurnya ia ingin memulai karier sebagai designer di Paris. Hatinya di landa dilema, pernikahan yang membuahkan sebuah tanggung jawab yang sangat besar yaitu kehadiran Verona. Di sisi lain ada impian yang membuatnya meninggalkan Italy hingga menetap di Paris.


“Apakah kita bisa tinggal di Paris, Darling?” tanya Iris dengan suara yang pelan.


“Amore.” Giulio menggeleng


Mata Iris melebar dan terpana dengan senyuman merekah suaminya.


“Tadi kau mengatakan rindu dengan Italy, sekarang mau tinggal di Paris. Sebenarnya apa yang kau inginkan?” kata Giulio. Pandangannya turun ke mangkuk pasta yang telah kosong, sekarang Calzones menjadi santapan Iris berikutnya.


Iris menggigit bibir bawahnya.


“Giulio Celi, kau tahu jika aku ingin menjadi seorang designer, usai menyelesaikan kuliah aku berencana untuk membuat label sendiri. Dan sebuah kebanggaan bagiku jika di logo designku tertera “Made in Paris”. Jujur, aku hanya ingin berliburan di Italy, belum bisa menetap di sana. Mungkin dalam waktu 10 tahun ke depan.” Sahutnya bimbang. Sebenarnya Iris tidak percaya diri, apakah ia bisa berhasil dalam kurun waktu itu.


Kembali mengingat pria yang menjadi penyemangat untuk terus menekuni dunia fashion, yaitu Jace. Pemilik The Alstrom pernah mengatakan kepada Iris untuk tidak menyerah dalam mencapai impian setinggi apapun itu.


Terdengar gampang saat Iris belum memiliki Verona. Pada waktu itu ia terpana dengan penjabaran Jace dalam membangun The Alstrom. Berbagai kiat-kiat menekuni bidang fashion dijelaskan dengan percuma oleh idolanya, berjam-jam berbincang dengan Jace hingga matahari terbit tak membuatnya bosan. Semakin banyak Iris berbicara dengan Jace, semakin ia menyadari jika perasaannya bukan sekadar memuja, melainkan ia menemukan pria yang sejiwa dengan dirinya.


Seminggu setelah pertemuan terakhir mereka, Iris kerap didatangi mimpi tentang ia akhirnya bisa bekerja bersama dengan Jace. Hal itu pula yang membuat keinginannya menjadi pegawai magang di Alstrom semakin menguat.


Tepukan di bahu Iris membuatnya berhenti merenung. Sorot matanya menatap wajah tampan Giulio yang sedang tersenyum penuh makna.


“Aku akan mendukungmu, Amore. Apapun keinginanmu, aku akan berusaha untuk memenuhinya. Jika kau ingin memiliki sebuah label tersendiri, tentu saja aku harus mencarikanmu bangunan yang akan kau tempati untuk bekerja. Kau merekrut pegawai yang akan membantumu. Saranku, walau kelak Made in Paris namun baiknya pasarnya lebih condong ke Italy. Di sana kau telah memiliki butik, dan itu tidak kecil , Amore. Jadi yah, masih ada waktu setahun untuk itu. Saat itu Verona sudah betah dengan pengasuhnya. Oh ya, Amore. Apakah kau sudah menentukan babysitter untuk anak kita?” Giulio melirik ke meja, nampak map berwarna cerah dari jasa penyedia tenaga kerja untuk mengurus apartemen dan satu lagi untuk Verona.


“Belum.” Sama dengan impiannya, Iris memiliki kekurangan dalam menentukan pilihan. Semua berjalan dengan apa adanya, kecuali memilih pindah ke Paris itupun setelah melewati proses perenungan yang amat panjang.


Giulio beranjak mengambil map cerah berwarna pink muda kombinasi dengan putih.


“Bagaimana jika aku saja yang memilih, mereka bisa mulai bekerja minggu depan dan kita masih punya waktu untuk menyiapkan segala sesuatunya seperti kursi yang empuk di kamar tidur Verona.” Giulio menunduk sambil


membaca kualifikasi yang tertera di setiap lembaran yang memuat gambar dan pengalaman kerja para babysitter.


Wanita bersurai hitam yang sedang mengunyah makanannya, menatap Giulio dengan lekat. Pria tampan itu adalah suaminya, sangat pengertian, pendukung terbaik cita-citanya, ayah dari Verona. Giulio mapan, mempunyai berbagai macam bisnis di Italy, properti dan perkebunan anggur sampai pengolahan wine. Pria yang sempurna, namun hati Iris merasa ada yang kurang. Ada sudut hampa di hatinya, sekuat apapun Giulio berusaha berjuang selama 9 bulan terakhir.



Tallulah melonjak dari sofa ketika melihat sosok tinggi membuka pintu.


“Boo!” serunya dengan riang dan berlari memberikan pelukan kepada Jace. Pria tersenyum lebar memamerkan gigi kelincinya menyambut tubuh Tallulah.


“Kau tidak mengabarkan jika sudah pulang, Sweety Pie.” Jace mencium bibir Tallulah lalu kembali mendekap kekasihnya.


“Aku ingin memberikan kejutan, dan kau juga sangat sibuk bekerja. Aku tidak ingin menganggumu dengan kepulanganku.” Ujar Tallulah menaikkan kepala memandangi kantung mata Jace. Dua minggu ia berada di Eropa,


dan hasilnya Jace tetap tampan dengan penampilannya yang keren namun minus dengan rautnya yang lelah.


Jace menarik napas panjang seraya mengembuskannya pelan “Tetap saja kau harus mengabariku.” Sahutnya sambil menatap ke arah dapur, makanan malam telah tersedia di atas meja makan. Ia kembali memandangi paras model cantik yang memiliki kemampuan memasak yang sangat luar biasa.


“Bahkan kau sudah menyiapkan makan malam.” Jace menggelengkan kepala sejenak lalu memberikan kecupan di pipi Tallulah.


“Aku singgah di swalayan berbelanja bahan makanan. Dan benar tebakanku, kulkas kita sudah kosong.” Kata Tallulah sambil menarik tangan Jace menuju meja bar.


Jace tersenyum hangat, seolah ia kembali ke rumah orang tuanya. Di mana ada mama yang selalu menyiapkan segala kebutuhannya.


“Terima kasih, Sweety Pie.”Jace menyantap masakan Tallulah yang tidak pernah gagal membuatnya berdecak kagum dan nikmat.


Tallulah tersenyum memamerkan lesung pipi yang indah dan sedang merona panas. Gadis berusia 24 tahun itu menunduk seraya memainkan pisau steaknya di atas piring.


“Bagaimana perjalananmu?” Jace menoleh kepada Tallulah, mereka duduk bersisian di samping meja bar. Tempat favorit Sky menyantap makanannya, hal itu diteruskan Jace hingga hidup bersama dengan Tallulah.


Tallulah mengangkat bahunya “Pesawatnya sedikit goyang, tapi aku lebih banyak tidur. Mungkin terlalu lelah.”


Jace memandang Tallulah, dengan bibir ternodai dengan kuah steak ia mengecup pipi kekasihnya.


“Maafkan aku.” Ujarnya sambil melap pipi Tallulah. Jace tertawa dan gadis cantik itu hanya sedikit merenggut dengan bibir seksinya.


“Aku baik-baik saja, Boo.”


“Sweety Pie, aku sungguh berterima kasih dengan semua ini. Aku tahu kau sangat lelah dengan perjalananmu dari Eropa. Malah kau masih menyempatkan diri untuk menyiapkan segalanya. Harusnya kau pergi ke spa, bukan


berbelanja dan memasak.” Tutur Jace mengusap punggung Tallulah dengan lembut.


Tallulah membalas dengan menepuk pelan punggung Jace “Kau juga telah bekerja keras selama beberapa hari terakhir, Mr. Asltrom. Kau menguras pikiranmu dengan design The Alstrom untuk tahun depan. Aku hanya berusaha memberikan yang terbaik, walau kau makan makanan enak di restoran tapi aku sangat tahu jika kau


lebih menyukai masakanku.” Kata si cantik bermanik biru seraya terkekeh manis.


Jace menatap wajah Tallulah yang tulus dengan setiap kata yang terlontar dari bibir seksi dan begitu indah ketika tersenyum.


“Tetaplah berada di sampingku, Sweety Pie.”


Tallulah mengangguk ragu, walau sorot manik abu Jace memancarkan kesungguhan namun ia tidak bisa


mempercayai cinta bisa bertahan lama, era mereka berbeda dengan generasi para orang tua. Pun Tallulah berkaca kepada orang-orang yang bergelut di dunia yang sama, kebanyakan dari mereka memiliki kehidupan asmara yang tidak bertahan lama. Dan Jace memiliki catatan tidak begitu baik di dunia percintaan. Bisa saja sebuah badai kecil menghempaskan Tallulah dan Jace dari hubungan hangat yang sekarang mereka reguk. Menjadikan keduanya menjadi orang yang tidak saling mengenal,


Mau tidak mau Tallulah setiap saat bersiap diri, termasuk rutin menengok apartemennya dan menabung setiap sen jerih payah sebagai model demi mewujudkan impian-impian besar di hidupnya.


“Aku akan mencoba, walau aku tidak bisa bermimpi tinggi tentangmu, Boo.” Tallulah mengecup bibir Jace ringan. Tangannya mengusap surai coklat pria tampan dengan bibirnya yang memabukkan.


“Aku mencintaimu dengan sepenuh jiwa, Jace Von Alstrom. Aku memberikan yang terbaik yang aku punya kepadamu, aku tidak berharap kau membalas dengan cara yang sama. Kau hanya perlu sehat, makan makanan yang enak, tidurmu cukup, tidak banyak pikiran dengan pekerjaan yang menumpuk.” Ujar Tallulah seraya tertawa keras.


Jantung Jace berdetak kencang menikmati suara renyah kekasihnya, apartemen yang semula sepi kini kembali hidup.


“Sekarang aku seperti mamamu, bukan?” jemari langsing dan lentik menangkup rahang Jace, Tallulah menatap penuh cinta dan memuja.


“Persis.” Singkat Jace tetap termangu dengan keindahan Tallulah, luar dan dalam gadis itu sangat sempurna. Tidak, Tallulah memiliki satu kekurangan.


Tallulah tidak pernah percaya diri dengan hubungan mereka, terkadang Jace berkaca pada diri sendiri. Apakah dirinya adalah segala sumber keraguan Tallulah. Ataukah usia muda Tallulah, yang kerap labil. Sama seperti sekarang, sosok dewasa muncul dalam diri kekasihnya namun di saat yang sama Tallulah juga meragukan Jace.


“You’re not going to lose me, Sweety Pie.”



Giulio tersentak kaget ketika mendengar pekikan Iris dari dalam kamar, spontan ia mematikan kompor dan tergopoh-gopoh berlari menuju asal suara istrinya.


“Amore!” seru Giulio dengan khawatir terjadi sesuatu kepada Iris.


“Darling!” Iris dengan mata berkaca-kaca mengacungkan ponselnya ke udara.


“Ada apa? Kau mengagetkanku, Amore.” Dada Giulio naik turun dan hanya menyaksikan wajah Iris yang tampak bahagia sekaligus terharu.


“Mereka menerimaku, Darling.” Pekik Iris bergerak kemudian memeluk Giulio.


“Siapa?” Giulio mengerutkan kening belum paham akan kebahagiaan istrinya.


Senyum Iris mengembang sangat lebar layaknya mendapatkan undian berhadiah sebesar 10 juta Euro.


“The Alstrom, mereka menerimaku menjadi pengawai magang. Tuhan, akhirnya impianku tercapai!” Iris kembali terpekik riang, dadanya bergemuruh sekaligus meledak dengan berbagai macam warna.


“Selamat, Amore.” Giulio mengecup kening Iris lama.


“Ini hari yang paling membahagiakan untukku, Darling.” Iris terbuai oleh sepucuk email singkat dari The Asltrom Paris.


Giulio hanya bisa tersenyum tipis sambil bergumam “Bagiku menikahimu dan kehadiran Verona adalah hari paling bahagia di hidupku, Amore.”


###






alo kesayangan💕,


apa kabar kalian?


baik?


kangen gak?


kalian tidak meninggalkanku, bukan?


maaf masih sibuk kek gasing dan hobby juga..


virtual demi virtual run dan bike.


kalian jadi tersisihkan.


but, i'm here darlin'


semoga kalian masih ingat jalan cerita Jace.


sepertinya aku akan menulis kisah Jace tiap hari,


semoga ada waktunya.


#fingercross


love,


D😘