
Suara alarm memutarkan musik di pagi hari, Andini terbangun dan menggeliat di atas kasurnya. Dia memegangi bibirnya teringat dengan kejadian tadi malam yang membuat jantungnya berdebar hari itu. Entah bagaimana dia nanti akan menghadapi hari berhadapan dengan Arci, terus terang ciuman mereka berdua tadi malam menggetarkan sesuatu di dalam sanubarinya. Ada sesuatu yang salah, tetapi sesuatu yang salah itu bukanlah sesuatu yang harus dianggap benar-benar salah. Karena memang ia telah mengakuinya, ia jatuh cinta.
"Arci, aku tak tahu apakah aku berani berhadapan denganmu hari ini," gumam Andini.
I LOVE YOU, HANDSOME.
Hari senin, kabar Arci nonton bareng dengan Andini langsung menyebar. Mulai dari karyawan sekelas OB, security, sampai karyawan sekelas manajer membicarakannya lewat dunia maya.Mereka berbisik-bisik ketika Arci datang seperti biasa ke kantor, mereka juga membicarakan Andini. Yang tidak suka terhadap isu itu hanyalah Rahma dan dua temannya, padahal mereka bertigalah yang memulai pembicaraan itu kemudiam didengar teman sebelahnya, sebelahnya teman ternyata punya channel di bagian lain. Kemudian di sebatkan dan disebarkan kemudian update status di medsos hingga akhirnya menjadi pembicaraan hangat.
Begitu Arci datang dan duduk di kursinya, Yusuf menegurnya "Ci, kamu kemarin jalan ama Bu Dini?"
"Hah, koq tahu?" tanya Arci.
"Yaah...sekantor juga tahu kalee." kata Yusuf
"Sumpaon?" (sumpah lo/serius)
"Beneran,"
Arci menepuk jidatnya "wah kalau seluruh kantor tahu gawat dong, aku cuman nonton aja ama beliau nggak ngapa-ngapain."
"Heheheh, tahu nggal? kalau Bu Dini itu nggak pernah jalan ama cowok lain loh, cuman kamu doang."
"Halah wis, mbuhlkah. kerjo sing bener." (ah sudah; ga taulah. kerja yang bener)
"Selamat pagi semua?" Andini menyapa semua orang yang ada di dalam ruangan.
"Pa..gi..? sahut Arci.
"Pagi bu", tampak.Rahma berdiri dari tempat duduknya menyambut atasanya.
"Gimana Arci? sudah selesai request saya minggu kemarin?" tanya Andini ke Arci langsung.
"Saya sedang membuat portal dan toko online, semuanya sudah saya coding dan bisa langsung pasarkan melalui sosial media."
"Hmm? pasarkan melalui online?"
"Yang penting stok di gudang itu bisa habis bukan? saya yakin dalam waktu kurang dari dua minggu stock itu bisa habis terjual. Kita tinggal melakukan pemasaran melalui media online, memberikan diskon, kemudian kita memberilan semua apa yang diinginkan oleh cutomer. Dalam.hal ini kita bisa memanfaatkan sosial media, seperti yang kita tahu sosial media saat ini lebih digandrungi oleh masyarakat. Untuk online pun sekarang tidak terlalu sulit seperti dulu," jelas Arci.
"Sebentar, lalu bagaimana cara pembayaranya?"
"Saya kemarin sudah berunding dengan bagian keuangan, untuk kasus ini saya bisa memakai rekening perusahaan. Untuk masalah ini dan katanya saya harus meminta persetujuan ibu, enaknya bagaimana?"
"Oh, baiklah. Kita ada nomor akun untuk senua jenis pembayaran, kamu saya ijinkan untuk memakainya sebagai tempat untuk pembayaran, Paypal, Mastercard dan lain-lain, silahkan tanya ke bendahara."
"Ok, kalau begitu nggak ada masalah, besok kita sudah launching." kata Arci "Situs pertama kita. Evolus Textile Untuk Evolusi Gaya Anda."
"Hahaha, kamu yang mikirin slogan itu?"
"Iya."
"Baiklah, keren. Ok besok saya inginkan hasilnya."
"Beres."
Setelah itu Andini berbalik ke ruangannya , Yusuf hanya tercengang melihat hal itu. Rahma juga sepertinya tak menyangka Arci melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh tim pemasaran. Membuat sebuah situs website? Hei ini beneran? kurang dari satu minggu udah selesai?
Mungkin tidak terpikirkan sebelumnya oleh kebanyakan orang bahwa Arci ini selain anaknya jenius juga tekun dalam mengerjakan sesuatu.
Dia benar-benar menunjukan siapa dirinya , memang mungkin bisa dilihat tentang bagaimana dia.mengerjakan apa yang diinginkan oleh atasannya dengan cepat dan sempurna. Hanya saja dibalik keseriusan dirinya, dia adalah orang yang lebih cendrung tertutup. Seperti hari itu, dia akhirnya mengikuti aturan Andini untuk istirahat siang.
Di kantin Arci duduk di dekat jendela, semangkuk pangsit yang sudah dia pesan belum dia sentuh sama sekali. Ia hanya memandang ke luar jendela, dia asik dengan pikirannya sambil menopang dagu.
"Hei?" sesorang mengejutkannya.
Arci terkejut, ketika Rahma sudah ada di hadapannya, "Hai juga." sapa Arci.
"Sendirian aja? nggak ganggu kan? atau lagi nunggu orang?" tanya Rahma.
"Sendirian, ada apa?"
"Hehehe nggak, cuman kepengen mau nemenin aja,"
"Ada sesuatu? Pasti soal aku dan Bu Dini kemarin kan?"
"Hehehehe, tau aja. Kemarin kamu jalan ama beliau ya?" Rahma pura-pura nggak tahu.
"Iya."
"Kalian jadian?"
"Nggak."
"Yang bener?"
"Benerarn."
"Oh."
"Sebenarnya gosipnya apa sih? Aku cuman nonton aja sama Bu Dini, nggak ada maksud lain koq."
Padahal Rahma sangat tahu kalau mereka berdua berciuman. dia ingin menjelaskan ke Arci kalau dia dan temen-temennya duduk di belakang mereka saat di bioskop tapi urung ia beri tahu.
"Kamu punya cewek nggak?" tanya Rahma "kulihat kamu sendirian aja."
"Blom punya, kamu sendiri?"
Rahma menghela nafas "kalau aku sih dibilang punya ya nggak, dibilang nggak ya ada."
"complicated."
Rahma mengangguk.
"LDR?"
Rahma mengangguk
" udah lama?"
Rahma mengangguk lagi.
"Dia setia nggak?"
"Entahlah Ci lah wong orangnya di luar negeri."
"Tapi masih kontak-kontalan kan?"
"Masihlah, tapi ya itu. makin lama makin hambar aja, godaanya di sini berat."
"hahaha, mulai ada yang nyangkit di sini?"
"Sebenarnya juga sih kita belom resmi koq."
"Trus siapa cowok ini kalau aku boleh tahu?"
"Namanya Singgih, sekarang sedang kuliah di inggris."
"Hmm, inggris ya." Arci mulai menyantap pangsit mie ayamnya yang sudah dingin.
"Biafpun dikit pake ongkosny ke sananya,"
Rahma menoleh ke arah lain, saat itu tampak Andini baru saja datang.
"Tuh ibu suri datang, aku menyingkir dulu!" kata Rahma yang ingin beranjak.
"ngapain? nggak usah, sini aja!" Arci mencegah Rahma, dia memegamg lengan Rahma.
Andini mendekat ke meja Arci, Rahma yang tadi hendak berdiri jadi enggan karena boosnya sudah berada di dekat mereka lalu duduk di kursi yang kosong.
"Keberatan aku ikut?" tanya Andini.
"Saya permisi dahulu bu." kata Rahma.
"Nggak perlu sungkan, duduk aja:" kata Andini.
Rahma nyyemgir. ia jadi sedikit malu-malu kucing.
"Aku tau, kalian sedang ngomongin aku ya?" tanya Andini to the point.
"Eh, nggak koq bu. Enggak." elak Rahma.
"Gosip sudah beredar, nggak usah ditutupi. Kamu pasti minta klarifikasi ke Arci ya?"
Rahma menelan ludah, ia pun mengangguk . Padahal dia tahu apa yang sebenarnya terjadi kemarin di bioskop.
"Nah, Arci kamu sudah berikan penjelasan dia soal kemarin?" tanya Andini.
"Ya, begitulah," kata Arci
"Bagus."
"Kamu sudah pesen?" tanya Andini ke Rahma.
"B..belum bu," jawab Rahma.
Andini melambaikan tangan kemudian sang pelayan datang, Rahma jadi canggung setengah mati. Dalam hati Arci hanya ngikiksaja, tentu saja makan siang itu dilewatkan.dengan.canggung. Andini bertanya banyak hal kepada Rahma.tentang pekerjaan, Arci sedikit lega karena tak ditanyai lagi hal-hal yang aneh oleh Rahma.
Setelah makan siang yang canggung Arci sibuk lagi, hingga akhirnya tak terasa sudah sampai jam pulang kantor, Arci masih berada di meja kerjanya.
"Kamu lembur," tanya Yusuf yang sudah membereskan mejanya.
"Yah, mau gimana lagi?" jawab Arci.
"Oke, aku duluan yah?" kata Yusuf.
"Ok."
Rahma pun sudah beberes dan mengambil tasnya, "pulang dulu ya Ci, Eh iya, boleh miny nomor telepon?"
"Oh, boleh nomorku 0819221200***,"
Rahma kemudian menambahkannya diponsel "makasih ya Xi?"
"Ok."
Arci kembali sibuk sampai setengah jam kemudian.gantian.Andini yang keluar dari ruangannya.
"masih di sini?" tanya Andini.
"Iya bu, ini sudah mau selesai tinggal dikit lagi. Ini sedang mempersiapkan materi untuk besok sekalian." kata Arci
"Besok bisa selesai?" tanya Andini
"Mestinya begitu." jawab Arci
"Ok, besok. kamu coba paparkan ke seluruh jajaran direksi," kata Andini
"Ok, siapa takut."
"Aku pulang dulu ya?"
Hanya ada Arci di ruangan itu sendirian, namun bagi orang yang suxah terbiasa dengan yang namanya sendiri maka kesunyian justru merupakan temannya. Ia tidak pernah menyesali ketika sudah akrab dengan yang namanya sepi, baginya dalam.kesendiriannya ia bisa mendengar dengungan lebah. Ya dengungan lebah-lebah yang sedang bekerja sesibuk dirinya dalam kesendirian.
I LOVE YOU, HANDSOME.
Rahma sudaj sampai di kostannya saat petang hampir usai, dia tinggal di sebuah kamar kos di dekat kampus Widiyagama. Di sini sebenarnya adalah rumah pamannya yang mana dibuat sebgai kost-kostan, sebagai keponakan tentunya ia tak membayar. Hanya saja tak enak kalau tak membayar, akhirnya ia ikut andil bagian walaupun harus dengan harga diskon yang besar.
Teman-teman Rahma adalah para mahasiswi dari berbagai perguruan tinggi yang berada di sekitar kota malang. Mereka. cukup akrab satu dengan yang lainnya, begitu masuk kamar dia langsung ambruk di kasurnya. Bruuk! untuk beberapa saat lamanya ia membenamkan kepala di kasur, lalu Rahma mengambil ponselnya dan menyapa seseorang di ponselnya dan dicarinya nama Singgih.
[WA]
Rahma : test!
koq nggak ngasih kabar??
kamu ngapain??
sehat nggak?
menurutnya percuma saja memberi kavar ke Singgih, toh WA nya nggak bakal di balas, sudah lebih dari sebulan ini tak ada kabar. Hal ini tentu saja membuat Rahma khawatir, lalu dia melihat nama "Arczre" iseng dia chattingam dengan Arcu.
[WA]
Rahma: test?
masih di kantor kah?
Lama.tak ada balasan, Rahma akhirnya.menggeliat lalu melepaskam seluruh pakaiannya. Ganti baju dengan baju rumahan berupa kaos dan celana pendek sepangkal.paha. Ia sengaja tak memakai br* dan ****** ***** karena hendak.mandi. Peralatan mandi dibawanya, rambutnya diikat. begitu ia hendak keluar kamar menuju kamar mandi, ada balasan chat WAnya.
[WA]
Arczre : barusan mau keluar
Rahma tersenyum, ia pun membalasnya.
[WA]
Rahma; emang ngerjain apa sih?
Arczre; ada deh.
Rahma: ya udah hati2 pulangnya, jgn ngebut.
Arczre: nggak bsa non, laki2 gak ngebut itu namanya ban**
Rahma; 😁 yah setidaknya hati2 aja deh
Arczre: thx 😎
Rahma: btw tdi itu aq canggung bgt tau, semeja sma bu dini
Arczre; lah kmu kan skretarisnya masa canggung
Rahma: Yeee..kamu ini gimana sih? ya jelas canggunglah , tau sndiri gosip dikantr sprti apa? tpi aq sneng misalnya kmu ma bu dini bsa bersma.
Arczre : apaan sih. kan udh aq bilang kita ga ada hub apa2.
Rahma : ga mungkin deh Ci, dr tatpan mata klian aja aq ykin klo kalian dket.
Arczre : dibilangin koq ga percya
Rahma : emangnya kmu dah punua cwek?
Arczre : blm, hmm complicated
Rahma : ealah ikut2an ja.
Arczre : hhhh nti disambung deh ni aq mau nyetir mtr
Rahma : oh ya dah aq mau mandi dlu
Arczre ikuut dong
Rahma : enak aja.
Rahma senyum-senyum sendiri, ia kemudian meletakan ponselnya di atas kasur lalu pergi ke kamar mandi. Bagaimana Rahma bisa sesetia ini kepada Singgih? padahal bisa jadi Singgih di luar sana tak setia, entahlah yang namanya.cinta memang kadang bikin orang jadi bodoh. Rahma tak habis pikir dengan kondisi dirinya sendiri, dikata jomblo iya dibilang udah punya pacar iya juga. Bingung semua ini hanya karena satu kesalahan, yang ia lakukan. iya satu kesalahan hari itu tepatnya dua tahun yang lalu...
bersambung HIATUS (maaf beribu-ribu kalau terdapat banyak typo)