I LOVE YOU, HANDSOME

I LOVE YOU, HANDSOME
PURIFIER



DOR! DOR! DOR!


Arci menembak tiga target dan semuanya tepat sasaran, sudah hampir satu bulan Arci berlatih. Kini dia sudah mulai bisa menggunakan pisau, pistol dan beberapa gerakan kravmaga. Hampir tiap hari dia berlatih dengan Ghea, sekalipun tubuhnya sakit semua tetapi Arci memaksa untuk berlatih.


Pagi hari turun gunung kemudian naik lagi, dan lagi. Begitu terus tiap hampir tiap hari, kini otot-ototnya sudah terbentuk, refleknya pun sudah terbentuk. Di bulan ke dua Arci mulai mahir menggunakan semua senjata yang ia punya, bahkan menggunakan apapun sebagai senjata, Ghea benar-benar keras melatihnya.


Mungkin karena sering bersama Arci. melihat tingkah Arci, mempelajari sifatnya. Ghea mulai terusik hatinya dia tidak tahu apa maknanya. Hatinya merasa kehilangan ketika Arci belum naik gunung sampai hari hampir siang, tapi perasaanya lega ketika melihat Arci tiba.


Ketika Arci membuka perbannya ia sangat kesakitan, entah mengapa Ghea refleks langsung menolongnya. Awalnya mereka diam-diam saja tak bicara satu sama lain. Seminggu setelahnya mereka mulai bicara walaupun masih terasa canggung, minggu ke dua barulah mereka bisa bicara akrab satu sama lainnya.


Awalnya Ghea tertutup, tapi dia kemudian mulai bicara. Dia menceritakan masa lalunya, dia menceritakan bagaimana dia berlatih militer, didik keras oleh ayahnya hingga seperti sekarang. Arci pun mulai menyadari Ghea tak pernah diajari tentang cinta.


"Kamu pernah tahu ayahku bukan? ceritakanlah tentangnya! orangnya seperti apa?" tanya Arci.


"Ah, paman Archer. Dari seluruh keluarga Zenedine kukira dia yang paling baik, dia sangat Lembut kepadaku. Berbeda dengan ayahku, aku suka setiap dia memperlakukanku . Aku rindu saat dia menganggapku sebagai orang yang paling dia sayangi, aku tak pernah mendapatkan perlakuan sayang dari seorang lelaki manapun kecuali dari dia. Sebagai keponakannya ia selalu memanjakanku, ayahku sempat marah ketika aku bermain boneka hadiah ulang tahunku yang diberikan oleh paman Archer. Ayahku marah dan merusak boneka itu."


"itu kejam sekali."


Ghea tersenyum, "Apa yang bisa kamu harapkan dari ayahku?"


"Ah, aku kira dia orang yang baik."


"Dia sangat baik sebenarnya, hanya saja ia menempatkan kepada fungainya di keluarga ini."


"Fungsi?"


"Fungsiku di keluarga ini adalah sebagai tangan kanan ayahku, dia adalah Anjing Penjaga Zenedine, aku harus mensupport dia. Agaknya setelah ayahku tidak ada semua sekutu-sekutunya pun tidak punya kekuatan untuk mengalahkan Tommy."


Malam mulai larut mereka duduk di dekat perapian yang ada si ruang tengah, sementara itu udara dingin mulai datang , kabut sudah menyapa menyelimuti sekeliling rumah. Ada rasa debar tak menentu di dalam diri Ghea, baru kali ini dia bertemu lelaki seperti Arci. Biasanya kalau seorang lelaki di dekatnya langsung menggoda dirinya, tapi Arci tidak, karena itulah ia merasa nyaman dekat dengan Arci tak hanya itu tapi ada sesuatu yang lain.


"Kamu.pernah jatuh cinta sebelumnya?" tanya Arci.


Ghea langsung menjawabnya, "Aku...jujur. Tak tahu apa itu cinta."


"Sungguhkah?"


"Iya."


"Ah, I see."


"Anehkah orang yang belum mengenal cinta gadis seusiaku?"


"Tidak juga, hanya saja seseorang paling tidak harus mengenal.cinta sekali, ketahuilah kamu pernah mengenalnya."


"Kamu sok tahu."


"Ketila ayahku memperlakukanmu, itu adalah cinta."


"Cinta?"


"Ya, cinta seorang paman kepada ponakannya seperri cinta kepada anaknya sendiri."


"Ayahku pun mencintaiku, dia senang ketika menyelesaikan tugas yang diberikan olehnya."


"Bukan seperri itu, cinta itu tak butuh balasan, cinta tak membutuhkan imbalan. Ketika seseorang mencintai orang lain, maka yang ia lakukan adalah memberikan cinta itu tanpa mengharapkan balasan."


"Apakah orang sepertiku bisa memberikan cinta kepada orang lain?"


"Bisa, tentu saja bisa."


"Bagaimana caranya?"


Arci juga bingung menjawabnya, "Ah soal itu, banyak cara sih seperti memberi hadiah yang pernah ayahku lakukan, kecupan atau bahkan dengan memperlakukan dia dengan baik."


"Kamu mencintai kakakmu?"


"Ya, sangat mencintainya."


"Apakah, bercinta denganya juga salah satu wujud cinta?"


"Ah, soal itu....beda."


"Beda? Kenapa beda? Bukankah kalian saling mencintai?"


"Iya, tapi seharusnya itu tak terjadi?"


"Kenapa?"


"Ah, aku tak tahu. Ada hal-hal kompleks yang tak bisa aku jelaskan dengan bahasaku sendiri."


Ghea merangkak mendekat ke Arci, "Aku tak tahu apa itu cinta. tapi... saat ini dadaku berdebar-debar ketika bersamamu!"


"Hah?"


Ghea mengangguk, "Dan semenjak aku melakukan ini...." Ghea tiba-tiba mencium bibir Arci. Arci kaget, wajah Ghea semakin tersipu-sipu, "Rasanya aneh, perasaan itu makin kuat."


Arci tak menyangka Ghea menyukai dia.


"Apakah itu cinta?"


"M-mungkin."


"Tak mungkin aku jatuh cinta padamu? tapi saat aku mengatakannya aku menjadi lega. Ya lega. Arci aku seperrinya jatuh cinta padamu."


"Ghea kamu tahu aku pria beristri." kata Arci.


"Ya, aku tahu. Apa salahnya? Bukankah kamu juga melakukan hal itu kepada kakakmu? Bukankah papaku dan ibu tirimu juga melakukannya? Salahkah hal itu?"


"Itu...." Arci tak bisa menjawabnya.


Ghea yang hanya memakai kaos dan celana pendek itu, mulai menggoda Arci dengan merapatkan tubuhnya ke tubuh Arci. Kini selan****an mereka bertemu lagi. Ghea teringat peristiwa memalukan antara dirinya dengan Arci saat di parkiran. Perlahan-laham tubuh Arci menerima tubuh Ghea yabg bersandar di tubuhnya.


Arci tahu ini salah, tapi mungkin karena situasi dan kondisi. Godaan ini terlalu kuat, dia hanya manusia biasa tak mungkin ia menolak ini, apalagi Ghea masih polos kalau ia menolaknya Arci takut nanti Ghea salah mempresepsikan tentang arti cinta yang sebenarnya. Mungkin dengan perlahan Arci akan menciba untuk mengajarinya, Arci agak ragu ketika ingin menjamah rambut Ghea yang tergerai panjang .Akhirnya ia pun memeluknya.


"Andjni maafkan aku." rutuknya pada diri sendiri, mungkin pria manapun tak akan sanggup menerima cobaan seperi ini. Seorang gadis cantik dan sedang ingin dibelai berada dihadapanya menggoda dirinya, siapapun lelaki itu pasti akan takluk. Sebenarnya bisa saja Arci mendorong Ghea dan Ghea tak akan marah juga, tapi perasaanya melampaui itu semua, terlebih Arci juga sudah lama tak melakukan itu dan rasa itu pun datang, sebuah rasa yang disebut sebagai nafsu. Ya nafsunya sudah sampai ubun-ubun.


"Kamu mau bercinta denganku?" tanya Arci


"Sejujurnya berhubungan badan aku hanya sekali dan itupun ketika aku diperkosa dulu." jawab Ghea.


"Kamu ingin merasakan make love yang sesungguhnya?"


Ghea mengangguk.


"Tapi aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu, cinta itu tak bisa dipaksa. Dan aku sudah mencintai wanita lain. Kamu tahu?"


Ghea mengangguk, ia memalingkan wajahnya. "Maafkan aku..." Ghea meneteskan air mata. Baru kali ini Arci melihat gadis itu meneteskan air mata, baru kali ini Ghea yang terkenal keras, kejam, beringas, bisa mellow seperti ini. Arci memegang wajahnya agar menatap dirinya, mata Ghea masih berkaca-kaca. Arci tak tega dan dia kemudian.menciumnya mereka pun berpangutan, Arci bernafsu menciumnya tak ada yang bisa mencegah mereka berdua. Bercinta malam itu di perapian dengan hawa dingin yang menusuk serta birahi yang telah memuncak. Akhirnya Arci harus melakukan apa yang harus dilakukan, ia melakukan dengan lembut.


"Arci, aku ingin jadi kekasihmu?" kata Ghea


"Kamu tahu, cinta tak bisa dipaksa." kata Arci


"Jadilah kekasihku untuk malam ini, please!"


"I can't"


I LOVE YOU, HANDSOME.


Pagi datang menjelang, Ghea terbangun dalam pelukan Arci. Ia bingung sekarang, apa yang harus ia lakukan dalam keadaan seperti ini, ia.merasa dirinya hina. Takluk pada seorang lelaki, terlebih lagi lelaki yang sudah beristri. Bahkan lelaki ini saja belum merasakan malam.pengantinya, ia merasa bersalah namun ketika mengingat kembali kejadian malam tadi. Ia tak menyesal, ada perasaan aneh yang kemudian ia pun mengetahui ini namanya cinta.


Arci terbangun. Ketika menyadari dia mendekap Ghea, ia segera melepaskanya. Ghea tau Arci teringat dengan Andini maka dari itu ia memakluminya. Sebenarnya Ghea bangun beberapa kali ketika Arci memanggil-manggil nama istrinya, ironis memang orang yang dipeluknya bukanlah istrinya. Ghea pun menyadari siapa dirinya, ada rasa sakit, sakit sekali di dalam dadanya.


Arci berdiri dan memakai celananya kembali, pemuda ini melangkah menuju kaca jendela dan melihat matahari terbit. Ghea baru menyadari bahwa pemuda ini sangat gagah, bahunya mulai kekar, lengannya mulai berotot hasil latihan yang dia tempa selama ini.


"Ini adalah pertama dan terakhir aku melakukannya denganmu, kuharap kamu.mengerti." kata Arci.


"Aku mengerti, cinta tak bisa dipaksa," kata Ghea.


"Tapi apakah aku bisa.merasakan cinta darimu Arci?" kata Ghea dalam hati, "Entah kenapa dadaku rasanya sakit sekali, apakah ini namanya cemburu?"


Inilah untuk pertama kalinya Ghea meeasakan cemburu; rasanya sakit, bukan sakit secara fisik tetapi secara batin, hatinya serasa dicabik-cabik. Dia baru kali ini mengenal cinta, ia juga baru kali ini mengenal sakit karena cinta, tapi ia tahu Arci bukanlah miliknya dia tak bisa memaksa Arci untuk menjadi miliknya. Arci milik Andini dan ia harus menerimanya walau memang sakit, entah kenapa dia sangat menyesal bercinta dengan Arci tadi malam. Ia sangat menyesal, ia menyadari seandainya ia berada di posisi Andini, ia akan sangat marah kepada apa yang telah ia lakukan.


Dia menggoda Arci, dia sudah menjadi wanita jal**g yang menggoda lelaki yang sudah beristri, apalagi ia belum pernah menyentuh istrinya sama sekali. Betapa rendahnya dia, ingin sekali saat itu Ghea menarik pelatuknya dan menembakannya dikepalanya. Tapi hal itu akan menyakiti hati Arci, ia tak ingin seperti itu. Gadis ini terlalu cinta kepada Arci, mungkin sekarang cintanya sangat dalam.


Arci menoleh kepada Ghea, Arci baru sadar Ghea menangis. Pemuda itu pun berbalik menghampirinya setelah itu Arci merapilan selimut untuk menutupi gadis yang sedang menangis itu.


"Aku yakin suatu saat nanti kamu akan bertemu dengan lelaki yang tepat, yang penting kami sudah mengerti bukan apa arti cinta?"


Ghea mengangguk, "Tapi rasanya sakit."


Arci mengusap-usap kepala Ghea, "Aku tahu rasanya, aku juga pernah merasakannya. Tapi jangan jadikan rasa cinta itu berubah jadi kebencian, jadikan itu semangat untuk hidupmu."


Kata-kata Arci itu seperti sebuah embun yang membasahi hatinya yang gersang, Ghea baru sadar selama ini tak punya alasan membenci sesuatu ia juga tak mempunyai alasan untuk menyukai sesuatu. Apapun itu asalkan sesuai yang diinginkan ayahnya maka itulah dirinya. Bersama dengan Arci mengubah dia dari singga betina mungkin menjadi seekor kucing yang lucu.


I LOVE YOU, HANDSOME.


Agus Trunojoyo menggebarak meja, "Apaa??"


Pengacaranya mengangguk, "Benar, itu yang terjadi."


"Maksudnya? Tanda Tangan tidak sah?" tanya Agus.


"Iya, tanda tangan Arci tidak sah alias tidak otentik, karena itu bukan tanda tangannya yang asli. Berdasarkan tanda tangan yang pernah ia lakukan pada beberapa berkas dan surat menyurat tanda tanganya tidak seperti itu," kata sang pengacara.


"Apa tidak bisa dipalsukan?" tanya Agus.


"Tidak.mungkin, tanda tanganya sangat rumit dan penyerahan harta perusahaan haruslah dengan adanya pengacara yang khusus dia miliki."


Agus langsung mengambil ponselnya, ia pun langsung menghubungi Tommy. Tommy pun langsung mengangkatnya, saat itu ia sedang berada di kolam renang dengan ditemani beberapa wanita.


"Ada apa Gus?" tanya Tommy.


"Ada masalah Tom." kata Agus.


"Masalah apa?"


"Keponakanmu itu memalsukan tanda tangannya! kita dibodohi!"


"Apa?"


"Kita harus mencari Arci!"


Tommy agaknya sedikit gusar, ia mnediring kedua wanita yang memeluk dirinya, "Jadi begitu ya, baiklah aku akan memaksa dia keluar, aku akan melacak keberadaan istrinya. Ia pasti akan muncul kalau aku berhasil mendapatkan Andini, kamu jangan khawatir. Sekarang tak akan ada yang menghalangiku, keluarga Zenedine sudah ada dalam genggamanku."


Bersambung GERILYA