
Safira mengamati Arci, pergi pagi-pagi sekali, rapi, pulang malam dan kucel. Hampir semua tugas rumah Arci yang melakukannya, dan sudah sebulan Safira tak 'kerja', dia memang tidak mencari pelanggan lagi terlebih setelah kemarahan Arci beberapa waktu lalu. Lucu juga, sebagai seorang kakak seharusnya dia yang bisa marahi adiknya ini, tapi ternyata tidak. Dia mungkin terlalu sayang sama adiknya atau bisa jadi sudah terlanjur cinta.
Hari minggu Arci tak pergi ke kantor. Di rumah dia sibuk mencuci dan bersih-bersih, bahkan urusan memasak Arci pun jagonya. Hampir semua tugas rumah dia yang melakukan dan dibantu dengan sang adik yang masih SD.
Terkadang sang ibu ikut membantu Arci dalam urusan dapur,
Lian pernah bercerita kepada Safira tentang siapa ayahnya. Ayah Safira adalah seorang berondong yang menyewa jasa Lian waktu itu, antara percaya dan tidak Safira hanya bisa menerimanya.
Dia bahkan pernah melihat siapa sang ayah hanya saja dia tak berani untuk menyapanya, Lian sendiri mengatakan setelah Safira memaksanya. Dan sebenarnya Ginjalnya diberikan kepada ayahnya, sekalipun dengan upah hal itu semata-mata dilakukan Safira karena ingin menolong ayah biologisnya.
Sekalipun sang ayah tak mengakuinya, pahit memang tapi hal itu tak pernah diketahui oleh Lian ataupun Arci. mereka hanya tahu kalau Safira menjual organ ginjal.
Lalu ayah Putri? Ayah Putri adalah seorang tentara yang tewas beberapa waktu lalu, ketika ditugaskan ke sebuah daerah konflik.
Nahas memang ketika Lian mulai serius dengan seseorang selalu saja sang lelakinya bernasib sial, akhirnya Lian hanya bisa pasrah.
Dan entah kenapa sampai sekarang Lian tak pernah menceritakan kepada siapa pun tentang siapa ayah Arci. Pasti ada sesuatu, Lian mengunci rapat-rapat identitas ayah Arci. Dia hanya bisa mengatakan bahwa ayah Arci sudah meninggal, tapi itu tak cukup pasfinya.
Safira hanya memakai kemeja putih lengan panjang sepaha,, dia tak memakai br* dan C*. Dia keluar dari kamarnya dan langsung nonton tv, pagi itu dia melihat bagaimana Arci mondar-mandir kesana-kemari hingga akhirnya selesai masak di dapur bersama ibunya, setelah itu dia duduk di sofa bersebelahan dengan Safira dan direbutnyalah remote Tv di tangan Safira.
"Eh, rese ngerebut remote sembaranagan!" kata Safira yang berusaha merebut kembali remot tv.
"Makanya jadi cewek itu belajat masak sonoh, nyuci kek, bersih-bersih kek, nggak di kamer aja trus bangun liat Tv." kata Arci.
Safira berusaha merebut tv tapi tak sanggup, akhirnya dia menyerah. Arci pun meindah-mindah saluran untuk mencari acara yang menurutnya bagus. tiba-tiba Safira memeluk pinggang dan merapat ke Arci.
Kini posisi tubuh Arci seperti dipeluk oleh Safira, ada perasaan nyaman pada diri Safira saat dia memeluk Arci seperti itu, perasaan nyaman yang aneh.
Arci diam-diam mengamati kakaknya, yang kini menindih tubuhnya. Arci mulai berbaring, Safira beringsut menempelkan dadanya di dada Arci.
"Kamu sudah punya pacar dek?" tanya Safira.
Arci menggeleng dan menelan ludah saat tahu kakaknya tak memakai dalaman sama sekali.
"Kenapa kak? tanya Arci.
"Pengen nanya aja, sepertinya kakak akan cemburu kalau kamu.nanti punya pacar."
"Kenapa bisa begitu?"
"Dek, kalau kakak cinta beneran ama kamu gimana?" tanya Safira.
"Maksud kakak?"
"Cinta sebagai seorang kekasih!"
Safira meng**up bibi Arci.
"Kakak tahu bukan itu tidak mungkin?" tanya Arci sambil memeluk Safira erat.
"Tapi kakak mulai menyukaimu, mulai mencintaimu. kakak tak mau pisah sama kamu dek."
"Kalau suatu saat nanti aku punya istri bagaimana? bagaimana juga kalau misal aku punya anak, mereka akan panggil kamu apa? apa yang harus aku katakan pada istriku?"
"Aku tak perduli, dek kamu mau kan mencintaiku?"
"iya, aku bisa."
"Sungguh?"
"iya, apapun buat kakak."
"Aku tak akan mencapuri urusan cintamu, tapi tolong berikan satu ruang di hatimu buat kakakmu ini ya? kamu bisa?"
"Aku akan berusaha."
Sebuah kisah cinta yang kompleks, Arci yang ingin kakaknya berhenti jadi pela**r pun bisa teratasi tapi imbasnya sang kakak jadi mencintai dia seperti seorang kekasih. Siapa yang patut disalahkan dalam hal ini? yang benar atau salah pun terkadang samar untuk bisa dimengerti.
Pagi sudah menjelang , Arci sudah memakai handuk dengan tubuh basah. Badan tegapnya membentuk sebuah siluet di tirai kamarnya, ketika tirai jendela dibuka Safira terbangun.
"Hari ini aku presentasi di kantor. Promosi." kata Arci.
Arci tersenyum dan menghampiri Safira. "kakak serius?"
"serius apa?"
"Serius dengan hubungan ini?"
Safira mengangguk , "aku sudah memutuskannya, mulai hari ini dan seterusnya aku adalah kekasihmu,"
"Kakak tahu kan kita tidak bisa..." jari telunjuk Safira menempel di bibir Arci.
"It's ok dek, you're my everything. I can't stop fallin love with you, i know it's wrong. kalau nanti kamu bertemu dengan pujaan hatimu, aku tak akan cemburu. Memang sudah seharusnya seperti ini, asal jangan pergi dariku, i can't live without you." kata Safira.
Saat Arci membenarkan dasinya Safira melompat dari tempat tidur, dia.membantu Arci memebnarkan dasinya lalu merapikan rambutnya. Arci melihat kakaknya tanoa sehelau benang pun. kulit yang mulus tanpa cacat . mungkin kalau nyamuk berjalan di atasnya bisa jadi terpleset. sebuah kecupan hangat di pagi hari meninggalkan Safira seorang diri di kamar.
di luar kamar Arci di sambut ibunya.
Lian lalu memeluk anaknya, "Arci maafin ibu ya?"
"kenapa?"
"Seharusnya tidak seperti ini, pulanglah cepat nanti. Ibu ingin membicarakan sesuatu tentang ayahmu, cepatlah pulang nanti?"
Mendengar ibunya bertkata seperti itu membuat Arci penasaran, dia menatap mata Lian terdapat raut kesungguhan di sana.
"Cepatlah pulang." kata Lian.
"Baiklah, hari ini aku ada promosi, mungkin agak malam pulangnya." kata Arci.
"Lekas saja pulang." kata Lian.
I LOVE YOU, HANDSOME.
"Bego, kenapa dia kita sekap?"
"Heh, dis sudah mendengar apa yang kita bicarakan."
"Trus kenapa nggak dihabisi saja?"
"Dihabisi? aku tak mau jadi pembunuh, dodol."
"Lah, trus?"
"Dia kita tahan saja dulu, sampai target kita si Andini takluk. lalu kita kumpulin dia sama-sama. lalu garap bareng, kalai dia macam-macam baru kita sikat."
"Sikat gimana?"
"Ancam saja. kalau.macam-macam kita perkosa rame-rame."
"Sekarang dia kita sekap di.mana?"
"Gampang, aku ada tempat, nggak bakal ada orang yang tahu."
"Oke, awas kalau dia sampai lolos dan memberitahukan rencana kita."
"Tenang saja."
"tapi kira-kira akan ada orang yang curiga nggak kalau dia hilang?"
"Ya jelas curiga ada namanya juga orang hilang, tapi hilang kenapa nggak bakal ada yang tahu. itu sudah cukup."
"Ok siip!"
"jangan lupa buang ponselnya."
"Beres, sudah koq."
bersambung RAHASIA