I LOVE YOU, HANDSOME

I LOVE YOU, HANDSOME
SELLING ME



Lian Larasati, seorang wanita yang telah menjual dirinya untuk sesuap nasi. Perjalannya berliku-liku mulai dari gadis kampung tersesat di jalanan ibu kota hingga akhirnya ketemu mucik**i, kemudian jadilah dia melayani pria hidung belang. Dia juga bukan pela**r biasa yang bisa dibayar oleh sembarangan orang. Dan sebenarnya dia sangat protektif, kecuali ketika mabuk. Dia boleh dibilang orang yang tidak tahan minum minuman beralkohol. Karena itulah tiga anak yang ia hasilkan adalah karena mabuk. Ya, dia mabuk karena melayani sang klien, setelah itu jadilah. Sekalipun kehidupannya kelam. Tapi sebenarnya Lian punya sisi kemanusiaan. Dia tidak ingin menggugurkan kandungannya. Baginya hidup itu harus dihargai, baik atau buruk, mulia atau hina. Dosa seorang ibu tidak bisa diturunkan kepada sang anak. Ketika Safira dewasa, dia memberikan keputusan kepada Safira. Ingin memberikan keputusan kepada safira. Ingin mengikuti profesinya ataukah tidak. Dan Safira pun mengikuti sang ibu.


"Ah, aku hanya seorang wanita yang lemah," pikir Safira.


Safira putus sekolah ketika SMA. Ia menghabiskan hidupnya tiap hari untuk membantu ibunya mengurus rumah, mengurus segala hal. Bahkan ketika Arci lahir. Hampir semua kesibukan rumah tangga, Safira yang mengurus. Menerima fakta bahwa ibunya seorang pela**r awalnya membuat dirinya sakit, dicemooh oleh para tetangga, dihina oleh masyarakat. Bagi Safira menerima keadaan seperti ini sangat sulit pada awalnya.


Safira sangat cantik, dengan wajah manis, bibir tipis lembut, rambut lurus sebahu sudah jadi modal utama dia sebagai wanita panggilan. Dia pertama kali menjual keper****nya kepada seorang pengusaha kaya raya mempunyai mobil lima, rumah mewah seharga 10 milyar lebih dan dua pabrik makanan. Itulah pertama kali Safira merasakan s*x. Dan untungnya dia mendapatkan klien yang baik.


Safira tentu ingat, ketika ia menawarkan kepra****nya di internet. Awalnya orang-orang mengira itu bohongan. Siapa yang bisa menjamin kebenaran dari sebuah situw web yang tidak jelas, tiba-tiba menampangkan wajah seorang gadis ABG usia 17 tahun yang sama sekali tidak terpikirkan untuk menjual kepra***(nya? Dia melelang dirinya , ya melelang dirinya. Awalnya ada orang iseng membeliinya seharha 500.000: What? keperawanan dijual dengan harga segitu? Yang benar saja.


Ya, yang bebar saja.


Untunglah tidak lama kemudian penawaran naik. dari 50.000 menjadi 5.000.000. Hingga akhirnya orang kaya yang diketahu beenama Agus Trunojoyo membelinya seharga 125.000.000,- 125 juta bukan angka yang kecil bagi orang Seperti Safira. Seharusnya memang ia bisa mendapatkan lebih banyak. Tapi kalau hanya untuk mengeluarkan uang lebih dari 125 juta, mending nikah resmi saja nggak sampai mengeluarkan uang segitu. Mungkin juga itu adalah keberuntungan bagi Agus mendapatkan kegadisan Safira waktu itu.


Agus bukan pria tampan. Dia orang J**a, rumahnya di cilacap. Punya pabrik di Sumedang dan Cirebon. Agus punya seorang istri yang bahenol. Siapa pun pasti tergoda kalau melihat istrinya yang s**y, dengan pakaian ketat dan sering menebar pesona itu. Namun satu yang Agus tak pernah dapatkan dari istrinya, Kepera***an. Ya, dia mebikah dengan istrinya dalam.keadaan sang istri sudah tidak per**an. Tapi ia memang sangat mencintai istrinya, dan mau menerima istrinya apa adanya. Awalnya ia mengatakan itu, tapi lama-lama juga nggak bisa.


Lumrah sebagai sisi kemunafikan manusia, mereka akan lebih memilih sesuatu yang indah. Dan Agus akhirnya mengakui dia kepingin merasakan kepra****an seorang wanita. Istrinya sebenarnya orang yang sangat setia. Tapi boleh dibilang sang istri ini sedikit ek**b. Mungkin Agus tak tahu kalau nyonya Agus pernah main mata dengan satpam rumahnya, ataupun tukang kebun yang ada di rumahnya. Tapi itu semata-mata hanya kebutuhan se**al yang ingin dipuaskan. Apalagi sang suami tak bisa memberikan fantasy yang ia inginkan. Tetapi, Nyonya Agua ini sangat setia. Dan ia sangat mencintai suaminya walaupun dengan cara yang aneh.


"Bagaimana menurut mama?" tanya Agus ketika memperlihatkan Safira yang menjual kegadisannya di tabletnya.


"Maksudnya apa pa?" tanya nyonya Agus.


"Maksudnya, papa ingin merasakan per**an." jawab Agus blak-blakan.


"Pa, papa gila ya?"


"Ayolah ma, mama masa mau enak sendiri nyo**in bu**ng laki-laki lain selain papa? Papa juga kepingin ma merasakan per**an. Lagipula ketila kita nikah mama sudah nggak per**an kan?"


"Tapi pa, masa harus dia sih? kaya bukan perempuan baik-baik"


"Emangnya harus? mama sendiri apa yakin kalau Jono si tukang kebun kita itu orang baik-baik?"


Nyonya Agus merasa bersalah ketika kemarin kepergok bermain dengan Jono di ruang tamu. Tapi Agus hanya melengos sambil berkata, "Teruskan saja, habis ini kita bicara!".


Inilah pembicaraan itu. Dan Nyonya Agus menyesal ketika mengetahui keinginan suaminya ingin membeli kegadisan Safira. Nyonya Agus merasa tidak ada yang kurang dari suaminya. Tapi ia sadar menghianati sang suami dengan cara seperti itu bagi dirinya suatu kesalahan yang tak bisa dimaafkan. Tapi nyatanya suaminya membiarkan dirinya.


"Baiklah, mama setuju."


"Nah, gitu. Tapi setelah ini kalau mama kepengen menuntaskan hasrat sama orang lain papa harus tahu. Nggak kaya tadi! Sebab Va**na mama cuman buat papa."


"Iya deh, iya deh, mama minta maaf."


I LOVE YOU, HANDSOME


Safira duduk dengan wajah menunduk. Ia dan Agus janjian ketemu di sebuah hotel. Dan di dalam hotel ada dia, ibunya dan tentu saja Agus. Agus menyerahkan uang dalam amplop coklat kepada sang ibu. Safira menoleh kepada ibunya sesaat. Ia tahu ini salah, sangat salah. Bagaimana mungkin sang ibu mau menjualnya begitu saja kepada lelaki hidung belang ini? Tapi bukankah ini juga adalah keputusannya?.


Awalnya ia ragu. Tapi setelah melihat wajah ibunya yang juga tidak tega, akhirnya ia pun tak ragu lagi. Siapa yang bakal rela menyerahkan sang anak kepada orang lain hanya untuk segepok uang. Tidak ada. Dan kalaupun ada mungkin orang itu sudah gila. Tapi kata-kata RELA agaknya harus dibuang jauh-jauh. Keahlian apa yang dimiliki sang ibu? Terlebih sekarang ini Arci sudah akan masuk sekolah. Lian menaruh harapan besar kepada anak laki-lakinya itu. Ia ingin agar anak laki-lakinya menjadi orang yang berguna, berbeda dengan dirinya kelak.


Safira kemudian berdiri mematung di kamar itu. Ibunya sudah pergi. Di hadapannya ada Agus, seorang lelakii yang usianya sudah menginjak kepala empat. Wajahnya pas-pasan. Kalau misalnya orang yang tampan seperti Brad Pitt itu punya wajah ganteng bahkan ada kembalian, kalau dia itu pas-pasan. Taulah bedanya. Rambutnya sedikit ikal, kumisnya tipis. Tapi percayalah Nyonya Agus menganggapnya sebagai lelaki paling tampan di dunia. Tapi itulah yang namanya cinta, orang bilang cinta itu buta.


Malam itu Safira memulai prosesi pecah sel**ut d*ra. Untuk mengurangi rasa canggung Agus mengajaknya mandi bersama


Safira berusaha menahan malu. Tapi memang dasar Agus yang sudah berfantasi ssjak.lama. Ia memperlakukan Safira dengan baik. Ciumannya di bibir sang gadis pun dibuat selembut mungkin. Di kamar.mandi mereka saling menyabuni tubuh masing-masing. Dan Safira pun dibelai tubuhnya diraba, diratakannyalah sabun itu diseluruh tubuhnya, b**h da**nya, punggungnya, kakinya. Agus sungguh sangat terampil untuk bisa merang**ng gadis 17 tahun itu.


Put**g gadis itu mengacung bak bambu runcing. Agus pun memlintir-mlintir pu**ng kecil keras berwarna coklat muda. B**h d**a Safira yang kenyal pun diremas-remasnya. Sementara itu Safira untuk pertama kali dalam hidupnya memegang p**e berotot. Karena masih kaku maka Agus memakluminya. Safira mengoc**nya tak beraturan namun lambat-laun ia dapatkan iramanya sendiri. Agus benar-benar menahan diri agar tak langsung to the point. Sebab, gadis ini masih bersegel, masih belum tahu dunia e**x-e*(x. Maka dia harus memberikan malam terbaik untuknya.


Safira mulai berbaring di ranjang. Dia hanya memakai handuk, bahkan bau wangi sabunnya masih terasa.


"Om, jujur aku takut," kata Safira.


"Nggak apa-apa rileks aja yah." jawab Agus.


Safira kemudian memjamkan matanya. Agus sudah melepaskan handuk yang membelit pinggangnya. Dia mulai membuka handuk yang menutupi tubuh Safira. Dibelainya rambut di kening gadis yang akan dipra***ani itu. Lambat tapi pasti ciuman pun mendarat di bibir Safira. Safira sekali lagi merasakan bagaimana dengan sabar dan telatennya Agus memperlakukan dirinya


Karena Lian dan Safira bukan orang yang bisa menabung, kebanyakan uang mereka habis untuk foya-foya dan beli make-up. maka secepat itu pula akhirnya mereka berhutang lagi. Hutang yang tidak sedikit. Hingga kemudian Arci pun harus menolong mereka ketika ada seorang tante-tante ingin memakai jasa jasa gi**lo. Tapi tante-tante ini ingin memilih gi**lo yang masih muda, brondong muda yang beluk berusia 17 tahun.


Usia 13 tahun menjadi seorang gi**lo. ini adalah kejahatan. Tapi Arci tak ada cara lain. Dia pun melakukannya, menjual dirinya untuk seorang tante-tante.


"Tunggu sebentar yah, mama sedang pergi. Habis ini mau masuk kamar. Namamu siapah?" tanya wanita itu.


"Arci. Panggil saja Arci," jawab Arci sambil menelan ludah.


"Aku...Iskha," jawabnya.


Iskha cukup tambun untuk cewek seusia dia. Sambil membetulkan kacamatanya ia lagi-lagi melihat ponselnya. Arci bingung, mau apa dia sekarang. Berdiri salah, duduk juga salah. Ia pun canggung. Hanya melihat sekeliling. Dingding kamer hotel ini dihiasi oleh wallpeper, pasti gunanya untuk menyerap bunyi apalagi coba?


TOK TOK TOK pintu diketuk.


Seorang wanita paruh baya masuk melihat Arci.


"Apakah ini tante-tante yang dimaksud"??


"Eh, sudah datang?" tanya tante-tante ini.


"Kenalkan namaku Susiati, ini anakku..."


"Kami sudah kenalan," kata Iskha.


"Oh, ya sudah." kata Susiati


"Maaf sebelumnya, maaf, beribu-ribu maaf." Arci menundukan wajahnya


"Loh, ada apa?"


"Kalau bisa, kalau bisa, tante jangan melakukan ini kepadaku. Aku masih 13 tahun dan.. dan aku melakukan ini terpaksa karena lilitan hutang. Untuk biaya sekolah, kontrakan dan bayar hutang. Aku..aku dan keluargaku terpaksa melakukan ini," kata Arci. "Aku tak.punya cara lain untuk bisa menolong mereka. Ketika debt collector itu darang, aku takut. Aku hanya ingin agar ibu dan kakakku sadar itu saja. Bahwa masih ada pekerjaan halal. Masih ada cara, masih ada jalan. Aku..aku..aku tak bisa melakukan ini."


Susiati dan Iskha terpana. Mereka tak menyangka remaja tampan ini bicara seperri itu.


"Kumohon, kalian boleh memukulku, atau apapun tapi aku tak ingin merusak diriku di sini. Aku tak mau mengikuti jejak ibu dan kakakku. Aku hanya butuh uang itu." kata Arci.


"Tapi kami bayar kamu mahal loh," kata Susiati. "Lagipula, ini bukan untuk tante tapi buat anak tante. Dia ingin mencoba. Daripada melakulan sembarangan sama temennya, lebih baik tante sewa kamu. Kamu tahu kan caranya?"


"Saya tahu tapi saya tak mau, kumohon kasihanilah saya tante. Saya tak bisa melakukannya, saya hanya butuh uang itu."


"Wah...ya susah;"


"Saya akan pinjam. Saya akan pinjam uang tante. Nanti suatu saat nanti akan aku kembalikan. Aku akan sekolah setinggi-tingginya. Aku akan jadi orang sukses dan aku akan mencari tante. Kalau perlu aku akan nikahi anak tante ini. Aku janji, aku janji!"


Arci menatap serius ke arah Susiati. Melihat kesungguhan di mata Arci tampak hatinya luluh juga. Iskha tersenyum.


"Mama, kasih aja deh. Dia anak baik. Sudah seharusnya ia melakukan ini untuk keluarganya," kata Iskha


"Tapi...ya nggak bisa begini juga kan?" kata Susiati.


"Arci, aku pegang janjimu. Kapan kamu akan kembalikan uang kami dan menikahiku?" tanya Iskha.


"Itu...itu..hmmm aku tak bisa meberikan waktu pastinya," jawab Arci.


"Nah, bingung kan?" ejek Susiati.


"Tidak. Aku sungguh-sungguh. bila nanti aku berusia 25 tahun. aku akan mencari kalian. Aku akan mengembalikan uangnya, dan aku janji akan.menikahimu. Aku janji!" mata Arci berkaca-kaca. "Tapi aku tak mau melakukan pekerjaan ini,"


"Hahahahaha," Susiati tertawa. "Anak yang unik. 25 tahun? Keburu tua nanti anakku."


"Kalau aku tidak bisa menepati janjiku. Aku akan bilang ke seluruh dunia bahwa aku adalah seorang gi**lo. Dan aku akan bekerja seumur hidup kepada kalian," kata Arci.


Mendengar itu Susiati merasa tersentuh. "Baiklah. Pada usiamu ke-25 kamu harus memenuhi janjimu. Kalau tidak, aku akan mencatimu dan menyakiti keluargamu dan kalian akan tampil di surat kabar."


"Aku janji. Aku janji. Terima kasih. Terima Kasih, tante memang baik. Mbak memang baik, aku janji aku akan melamar mbak suatu saat nanti, aku juga akan menjadi suami yang baik," ujar Arci.


Begitulah, sebuah janji yang mengubah semuanya. Janji seorang Arci. Tapi apakah Arci masih ingat akan.janjinya ini?


bersambung Ice Fruit Mix