
Andini terbangun di kamarnya, mimpi buruk tentang masa lalunya kembali menghantui. Mimpi tentang Iskha adik satu-satunya yang tewas karena kecelakaan. Sampai sekarang Arci tak mengetahui hal tersebut, Andinilah yang menemuinya di hotel waktu itu dengan mengaku sebagai Iskha, tapi ternyata Arci malah bertemu dengan Iskha yang asli.
Mungkin memang sudah menjadi suratan takdir bahwa Iskha tewas dalam kecelakaan maut itu, dan Arci juga kebetulan tak mencari tahu tentang kecelakaan yang menimpa dirinya.
Alarm di ponselnya berdering, ia pun mengangkatnya dan melihat jadwal dia hari ini. Sebuah kalimat terukir di sana, "Pesentasi produk oleh Arcie." Andini mengangkat alisnya.
"Oh iya hari ini," gumamnya.
Andini segera beranjak ke kamar mandi, dia sibukan aktifitas pagi itu untuk membersihkan diri, berdandan, kemudian memeriksa berkas-berkas yang harus isa bawa. Tak lupa ia membawa tablet dan laptopnya, di meja makan sudah ada papa dan mamanya.
"Pa? kapan pulang?" tanya Andini yang langsung mencium pipi papanya.
"Tadi malam, papa sengaja nggak bangunin kamu," jawab papanya.
Andini tersenyum.
"Bagaimana kabar Arci? kira-kira dia sudah siap menerima siapa dirinya?" tanya papanya.
"Entahlah hari ini penentuannya, sebab sebentar lagi dia ulang tahun ke-25," jawab Andini.
"Kamu sudah siap memberitahukan kepada dirinya siapa dirimu?" tanya papanya.
Andini menggeleng, "Nggak pa, aku ingin menjadi diriku sendiri. Aku ingin Arci bisa menyukai ku dengan siapa diriku sebenarnya, bukan sebagai Iskha. Aku tak ingin dia mencintaiku karena balas budi."
Bu Susiati tersenyum, "Ingat loh ya, dulu mama sudah kasih banyak calon pendamping tapi kamu tolak semua. Ini yang terakhir dan jangan kecewakan mama, usiamu sudah menyentuh kepala tiga!"
"Ma, ketika dulu kita di hotel kenapa sekenarionya jadi begini ya?"
Bu Susiati tertawa kecil, "Entahlah padahal kita dulu di hotel cuma kepengen ngasih kejutan anak itu, toh uang itu tetap akan kita kasih dia minta atau tidak. koq malah jadi sekenario balas budi gini?"
"Tapi dari situlah aku bisa tahu siapa Arci."
"Hei, sekarang fokus saja. Sebentar lagi PT Evolus akan berhadapan dengan PT. Denim, kamu yang jadi kepala direksi akan bertarung dengan direksi lainnya. Sebentar lagi pimpinan perusahaan akan diambil alih oleh pendatang baru yang tidak pernah mereka ketahui sebelumnya, tentunya para pimpinan direksi akan mencari cara untuk menjatuhkannya. Kamu sendirian di sini, papa sangat khwatir." kata papanya.
Andini menghela nafas, "Aku tahu koq pa."
"Kalau kamu butuh bantuan kakakmu, kamu bisa telepon sekarang," sambung papanya.
"Nggak pa, aku bisa sendiri koq."
"Hei Dini kamu jangan berlagak kuat, ingat perusahaan ini kalau 50 persen sahamnya bukan milik kita kamu sudah pasti akan didepak dari jajaran direksi." ujar Bu Susiati.
"Ayah dari Pak Zenedine dulu membangun perusahaan ini dari memintal benang dengan alat sederhana, hingga sekarang sebesar ini. Kita tak boleh mengecewakannya, apalagi selama ini membantu papamu."
"Iya ma, tapi..aku masih penasaran kenapa keluarganya tak mau menerima Lian bahkan mengusirnya?"
"Kamu tahu sebdiri apa profesi Lian, sebenarnya waktu itu niat Pak Zenedine berniat akan menikahinya tapi ia diancam tidak akan mendapatlan sepeser pun dari perusahaan itu kalau menikahi Lian. Akhirnya ia pun mengalah, dan akhirnya Pak Zenedine tak punya satu pun keturunan dari istrinya. Bahkan sampai istrinya meninggal, sekarang satu-satunya keturunan dia adalah Arci. Ada alasan kenaoa Pak Zenedine tak busa dekat dengan anaknya selama ini, karena keluarganya menyembunyikan keberadaan Arci dan membuat sengsara kehidupan Lian, itilah mengapa Pak Zenedine mengutus papa untuk melindungi keluarga mereka."
"Setelah beliau menguasai PT Evolus dan keluarganya tak bisa berbuat apa-apa lagi kepada dirinya akhirnya dia pun membuat surat wasiat yang sekarang dipegang oleh mamamu. Hanya mamamu yang diberikan wasiat tersebut, tak ada satupun yang tahu hingha tanggal 31 Mei nanti. Saat itulah semuanya akan mengubah hidup Arci, tapi itu juga tergantung kepada dirinya, apakah dia akan sekuat itu untuk bisa memimpin perusahaan sebesar PT. Evolus Produtama." jelas papanya panjang lebar.
Andini menyantap roti isi dan menengguk segelas jus jeruk yang ada di meja makan, Andini berdiri ia siap berangkat. "Baiklah Dini berangkat dulu."
"Hati-hati jangan ngebut." kata Bu Susiati.
"Siap ma," kata Andini.
Dia mencium pipi papa dan mamanya lalu berangkat, dia berhenti sebentar di depan foto pigura kecil di pojok ruang tamu. Foto dua cewek berkacamata dengan pipu chuby yang sedang tersenyum ceria, itu adalah foto Andini dan Iskha yang tampak bahagia sampai gigi mereka terlihat.
Hal itu sudah lama , beberapa tahun yang lalu sebelum Andini bertekad untuk melangsingkan tubuhnya, diet dengan berbagai cara hingga dia seperti sekaranv ini. Dua tak ingin seperti dulu, dia ingin menjadi dirinya sendiri dan dia sangat berharap Arci bisa menerima dirinya sekarang. Anduni mengusap pigura tersebut.
"Doain aku ya dek," kata Andini sebelum berangkat.
I LOVE YOU, HANDSOME
Presentasi Arci begitu memukau, ia meberikan banyak solusi bagi permasalahan gudang yang ada. Terutama tentang stock lama, bahkan ketika dia memberikan solusi beberapa applause untuknya dari seluruh peserta rapat. Dalam waktu singkat dia sudah bisa menghabiskan seluruh stock dengan menjualnya ke komunitas penggemar produk PT. Evolus Produtama, membuat toko online dan juga membuat promo-promo terbatu.
Arci terlihat sangat menguasai materi bahkan dia sama sekali tidak melihat layar presentasi, dia bahkan sudah hafal apa saja yang ada di layar tersebut. Dia cukuo bicara dan mengarahkan audience untuk konsentrasi terhadap kata-katanya.
Para direksi yang ada di ruangan rapat terkesima bahkan berapa kali mulut mereka menganga karena heran atau takjub. Andini cukup puas, tak salah dia menempatkan Arci pada posisi manajer marketing sekarang.
"Bagaimana presentasinya tadi?" tanya Arci.
"Well, cukup memuaskan." jawab Andini. "Kamu lihat sendiri tadi bagaimna applause para direksi melihat hasil kerjamu. Posisi itu emang cukup pantas buatmu."
"Sebenarnya aku nggak terbiasa dengan cara seperti ini, ini terlalu mengejutkan."
"No excuse. Gimana kalau kita ngerayain ini?"
Arci menggeliatkan badannya , agaknya di dalam ruangan rapat tadi cukup membuatnya lelah. Dia melihat Rahma yang membawa berkas-berkas.
"Ajak Rahma juga nggak apa-apa kan?" tanya Arci.
Andini menoleh ke arah Rahma, Rahma yang namanya disebut kaget. Hampir saja berkas-berkas yang dia dibawa jatuh..
"Iya, ajak semuanya." jawab Andini. "Kamu tak apa-apakan Rahma?"
"En..ngg..nggak koq bu. Anu, maksud saya..saya ada acara. Jadi sepertinya saya nggak bisa ikut."
"Acara apaan?" tanya Arci, "Udah deh, ayo ikut!"
"Ikut yuk?"
Rahma agak kaku, tapi akhirnya dia mengangguk. Tidak enak juga kalau menolak ajakan Bu Andini dan juga ajakan Arci. Paling tidak dia tidak sendirian, ternyata beberpa orang ikut diajak juga. mereka makan-makan di sebuab tempat yang sudah dipesan , mejanha cukup besar hingga bisa untuk menampung sepuluh orang. Beberapa makanan yang sudah dipesan telah dihidangkan sesuai pesanan masing-masing, Arci duduk diapit oleh Andini dan Rahma.
Andini agaknya agak cemburu ketika Arci lebih banyak ngobrol dengan Rahma.
"Jadi kamu anak tunggal?" tanya Arci
"nggak juga. kamu, sendiri punya saudara?" tanya Rahma
"ada kakak sama adik."
"Orang Tua?"
"ibu ada, ayah sudah meninggal."
"Ah, nggak apa-apa, semua orang juga pasti nanya."
"Byw selamat yah atas promosinya, jarang ada karyawan baru baru masuk beberapa hari sudah dapat promosi!"
"Mungkin aku cuman beruntung saja."
"Kamu itu bukan beruntung, tapi berprestasi." sela Andini.
Arci cuma nyengir dan Rahma ketawa.
"Kalau perusahaan punya sepuluh orang seperti kamu, aku rasa kita tak perlu karyawan lainnya," gurau Andini. kemudian yang lainnua tertawa.
"wah bisa ngambil jatah kita dong bu?" protes Yusuf.
Pesta yang menyenangkan, hari itu Arci bisa berbaur dengan semuanya. Setelah makan-makan mereka tutup dengan karaokean, so pasti tambah kacau, tingkah polah teman-teman kantor Arci.
Arci hanya melihat saja dengan diapit oleh dua perempuan Andini dan Rahma, sang ibu direktur ini hanya melihat tingkah polah anak buahnya saja sambil sesekali melirik ke arah Arci, Rahma malah menatap semuanya dengan tatapan kosong.
"Aku mau pulang dulu." kata Andini beranjak dari tempat duduknya. "Kalian teruskan saja!"
Arci ikut berdiri Rahma juga tapi Arci memberi isyarat agar Rahma tetap duduk. Akhirnya ia pun duduk.
"Aku tak perlu diantar." kata Andini.
"Cuman sampai tempat parkir nggak apa-apa kan? tanya Arci.
"Terserah deh.Rahma duluan?" kata Andini.
"Iya bu!" sahut Rahma.
Arci akhirnya mengantarkan bossnya, mereka berdua menyusuri lorong hingga berbelok ke arah tempat parkir. Belum sampai membuka pintu Andini langsung memeluk dan mencium Arci, sang pemuda itu tentu saja terkejut dengan perlakuan wanita ini.
Tapi dia menerima ciuman sang bidadari, setiap lembut bibirnya ia rasakan. terlebih Andini mengecupnya dengan kuat seakan-akan tak ingin melepaskan ciuman itu, tapi hal itu ia rasakan cukup melelahkan. karena ia harus sedikit berjinjit untuk menggapai wajah sang pemuda tampan. Diapun mengakhiri ciuman itu.
"Maaf, aku tak bisa menahan diri. itu hadiah dariku, semoga kamu suka." kata Andini.
Arci tak menjawab hanya sedikit shock dengan tingkah polah Andini, tapi dia mengerri bagaimana perasaan Andini kepadanya. Hanya saja dia tidak bisa memberikan jawaban.
"Din, aku...aku tak tahu bilang apa?"
"Kamu tak perlu bilang apa-apa, aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan." Andini kemudian membalikan badan meninggalkan Arci.
"Aku tidak menolakmu, hanya saja aku belum bisa. Aku harap kamu mengerti!"
"Aku sangat mengerti, aku sangat mengertu!"
Arci hanya bisa menatap kepergian Andini yang masuk ke dalam.mobilnya.
I LOVE YOU HANDSOME.
Rahma masih berada di dalam ruangan, sementara teman-temannya yang lain sedang asik berkaraoke ria. Entah kenapa tiba-tiba saja dia ingin ke toilet.
"Gaes, aku ke toilet dulu." kata Rahma. dia segera beranjak.
Toilet tersebut sekalipun terpisah laki-laki dan perempuan, tapi sebenarnya masih satu atap. Sehingga kalau ada pembicaraan yang terdengar di tempat cowok juga akan terdengar di tempat cewek, Rahma tanpa curiga masuk ke dalam toilet wanita. dia masuk ke WC dan buang hajat sebagaimana wanita pada umumnya, saat itulah terdengar percakapan beberapa orang.
"Presentasi anak baru itu cukup lumayan ya?"
"Iya, dia sangat berprestasi.Pantas saja dia langsung dapat promosi jabatan."
"Tapi bukankah itu artinya posisi Andini masih aman."
"Untuk saat ini iya, tapi kedepannya dia tak akan bisa berbuat apa-apa."
"Bagaimana itu?"
"Sebentar lagi akan ada rapat di Villa Batu, rapat rutin tahunan. di sana nanti ia akan kita habisi. Kalau bisa dipecat, nggak cuma dihabisi saja, selama dipimpin dia perusahaan memang menguntungkan, tapi kalau dia selalu.menimbun barang terus menerus bagaimana kita bisa kita memangkas biaya produksi?"
"Setuju sekali, memang seharusnya dia dibungkus dari dulu."
"Ah, aku dapat ide. hal ini sedikit nakal."
"Maksudnya?"
"Biarkan dia di sini."
"Loh itu tidak bisa. dia harus disingkirkan. biar direksi dipimpin oleh orang-orang baru."
"Tidak, aku ada rencana. Kita akan buat dia mengemis untuk posisinya, tapi untuk itu dia harus menyerahkan tubuhnya hahahaha. Bagaumana?"
"Hahahaha, ide bagus itu. Gosipnya dia kan masih perawan, sudah lama tidak nyicip perawan!"
"Oke, minggu depan kita garap."
"Trus?"
"Oh, iya tentang merger Evolus dan Denim, akan kita kaji ulang. sepertinya menarik tawaran kerja samanya."
"Oke, hati-hati, sampai nanti."
Rahma menutup mulutnya sedari tadi, ia sangat shock mensengar hal itu. Siapa mereka? kenapa mereka berniat jahat kepada Andini? Arci harus tahu, Arci harus diberi tahu. Rahma segera buru-buru membersihkan dirinya, lalu bergegas keluar dari toilet. Dia ingin tahu siapa orang yang berbicara tadi, tapi sepertinya toilet cowok sudah sepi. dia segera mencari Arci, diambilnyalah ponselnya dan menelepon Arci.
Tapi sama sekali tidak ada jawaban, ponsel Arci tak diangkat Rahma pun kemudian mengirim Chat WA.
[WA]
Ci telepon aku ya cepet penting, gawat!
"Duh gimana ini, gawat ini. Bisa kenapa-napa Bu Dini kalau begini?" gumam Rahma cemas.
Disaat Rahma sedang berusaha menghubungi Arci, di saat itulah sebuah tangan dengan sapu tangan berklorofom membekap dia. Rahma yang tak siap akan hal itu, dia tidak bisa melawan dan menghirup cairan klorofom tersebut hingga akhirnya dia pun pusing dan pingsan..
bersambung I LOVE YOU BROTHER.