I LOVE YOU, HANDSOME

I LOVE YOU, HANDSOME
RAJA PREMAN



Kalau kamu tak diaikui oleh rakyatmu sebagai raja. Kamu hanya membuat kerajaan baru


Kemudian menggempur kerajaanmu yang lama.


"Tommy sudah mengerahkan tukang pukulnya, artinya ia tidak main-main sekarang ini. Ia akan terus memburu kamu dan Andini, terlebih Alfred sudah kamu bunuh, Kani juga sudah kamu bunuh." ujar Ghea.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Arci


"Kita tak punya pasukan, Menghantam.mereka sama saja kita cari mati. Kita hanya berdua." ujar Ghea.


"Kamu benar, lalu rencananya?"


"Kamu harus cari pasukan dan aku tahu kemana tempatnya."


"Di mana?"


"Ke tempat Yuswo, dia orang netral. Tapi kalau kamu bisa mendapatkan deal yang tepat dengan dirinya, maka aku yakin dia akan menolong kita."


"Siapa Yuswo?"


"Yuswono Glegoh Bariono, dulunya seorang preman. kemudian dirinya menguasai beberapa pasar dan kemudian menjadi raja pengemis, tak hanya itu. Ia mempunyai pengikut yang loyal, yang jelas pengikutnya tak bisa disamakan dengan orang-orang yang dimiliki oleh keluarga Zenedine."


"Baiklah, kapan kita kesana?"


"Not so faat, kamu yakinkan dulu keluargamu bahwa mereka benar-benar aman. Tempat ini terlalu terbuka, aku takut mereka akan dengan mudah menemukan kita."


"Kamu benar," ujar Arci sambil menghela nafas.


"Ada masalah apa kamu dan istrimu?" selidik Ghea ingin tahu.


"Tak ada apa-apa." jawab Arci.


"Pasti kamu senang, sekarang sudah melepaskan kerinduanmu."


"Ya, tentu saja."


Ghea terssnyum, "Syukurlah kalau begitu."


"Kenapa?"


"It's okay, i'm fine."


"Maafkan aku."


"Kenapa minta maaf?" Ghea bingung.


"Setelah urusan ini selesai. aku ingin pergi agar hatimu tidak sakit lagi."


"Tidak, aku tidak apa-apa. Akulah yang seharusnya minta maaf, aku hanya bisa berharap, bukankan begitu?"


Arci tak bisa berkata apa-apa, ia pun pergi meninggalkan Ghea . Terkadamg cinta itu susah diungkapkan dengan kata-kata. Dan Ghea mempelajarinya sekarang, rasa sakitnya tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Mungkin memang benar kata Arci. Ia harus mencari sosok lelaki yang tepat agar bisa melupakan dirinya, tapi siapa?.


I LOVE YOU, HANDSOME.


Arci sendirian. Ya sendirian dan ingin bertemu dengan Yuswo, sungguh sesuatu yang tak diduga Arci harus berhadapan dengan salah seorang Raja Preman. Dia tinggal di wilayah pinggiran sungai kali Brantas, Yuswo bukan orang biasa karena begitu Arci bertanya kepada salah seorang yang ada disana mereka semua mengenalnya.


"Kalau jam segini, dia lagi mancing samperin aja dia," kata salah seorang yang ia temui.


Arci melewati jam-jam sempit, melewati jalan bertangga dan landai. Dia melewati beberapa rumah yang sangat penuh dengan penghuni, agaknya untuk mencapai pinggiran sungai gak sesulit yang dikira. Sesaat sebelum turun Arci melihat rumah yang sangat sederhana, terbuat dari kayu. Ia kira itu adalah kandang kambing tapi ternyata setelah dilihat kandang kambing dan rumah jadi satu. Betapa miris, ternyata masih saja ada rakyat yang hidup dibawah garis kemiskinan. Agaknya ia bersyukur tidak menikmati hidup seperti itu walaupun ia sering dikejar-kejar renternir dulu.


Arci melihat seseorang tua yang sedang memancing, orang tua ini berjenggot putih, berbaju lusuh, dan memakai topi. Arci mulai mendekat ia kemdian duduk di sebelahnya.


"Kamu sudah tahu kedatanganku." ujar Arci.


"Ya ada anak buahku yang memberitahuku kalau ada orang yang mencariku, ketika dia memberitahukan ciri-cirimu maka aku sudah tahu bahwa kau dari keluarga Zenedine. Sebab dalam hidupku hanya tiga orang dari keluarga mereka yang menemuiku, Arthur, Archer dan Tommy. Kamu adalah orang ke empat dan semua keperluannya aneh-aneh, ada yang ingin jadi sekutuku, ada yang ingin aku ikut mereka dan yang paling lucu adalah Tommy. Dia ingin merekrutku, bodoh semuaanya. sedangkan kau mau apa?"


Arci memeriksa box yang digunakan untuk menampung ikan, tak ada apa-apa di sana. Yuswo mengelus-elus jenggot putihnya, Arci mengetahui tangan orang ini sangat kekar dan tampak sebuah tatto yang tampak dari sempilan baju di bagian lehernya.


"Aku punya sebuaj tawaran yang menarik," kata Arci.


"Katakan!"


"Kamu.bantu aku untuk menghancurkan bisnis keluarga Zenedine dan orang-orang yang melindungi bisnia mereka, terutama orang-orang yang bersama Tommy dan mendukung Tommy."


"Lalu aku dapat apa?"


"Kamu dapatkan semua harta yang kamu inginkan di keluarga Zenedine."


Yuswo menoleh ke arah Arci, "Kamu mengigau."


"Tidak, lagi pula aku tak butuh kekayaan mereka. Hidupku telah berhenti semenjak.mereka membunuh kakakku."


"Kamu, siapa namamu?"


"Arczre anak dari Archer."


"Hahahahaha, Archer. Aku ingat sekarang, bagaimana dia culun waktu itu. Memintaku agar bisa menjadi sekutu mereka, bodoh sekali. Banyak orang-orang mengincarku posisiku, mereka meminta bantuanku karena aku yang punya banyak pasukan, banyak pengikut loyal. Dan kami memang tak ingin ikut campur dengan urusan keluarga Zenedine, kami netral."


"Aku tahu kamu netral, tapi apakah semua orang akan menolak apabila diberi kekuasaan? Aku rasa tidak, aku berjanji engkau akan mendapatkan semuanya."


Yuswo tersenyum, "Apakah artinya kekayaam bagiku, aku sudah tua, aku sudah bau tanah."


"Baiklah, bagaimana kalau aku menawarkan diri untuk menggantikanmu."


"Maksudmu?"


"Aku tahu, kamu tidak mau kekayaan, tidak ingin apapun. Tapi sudah pasti kamu ingin seorang penerus bukan? Aku menawarkan diriku!"


Unik, pikir Yuswo. Kalau saja Arci ini orang biasa, sudah pasti akan ditempeleng. Tapi pemuda ini seorang negosiator yang baik. Menggantikan dirinya?


"Kalau begitu ajari aku, aku hanya ingin dapat menghabisi orang-orang yang telah menelakai keluargaku. Itu saja." kata Arci, "Setelah itu dengan segala apapun yanv aku punya, aku menawarkan diri menjadi penerusmu."


Yuswo berkata, "Hahahahaha, baru kali ini ada orang yang menawarkan diri jadi penerusku. Boleh, boleh, tapi sini kemarikan tanganmu!"


Arci mengulurlan tangannya, lalu Yuswo memegang tangan pemuda itu dan merasakan telapak tangannya. Setelah itu ia mengangguk-angguk, Yuswo menghela nafas dan melepaskan tangan Arci. Pemuda itu tak memahami apa yang dilakukan oleh orang tua itu.


"Aku akan memberikan sesuatu kepadamu, aku akan melatihmu selama dua minggu. Itu kalau kamu tidak keberatan, kaeena urusan ini lebih rumit dari biasanya. Kalau kamu ingin menjadi raja preman, bos dari para mafia maka kamu harus kuat,"


"Yang ada sekarang kamu lemah, seorang bos dia harus bisa melawan banyak orang sendirian. Kamu belum ada di tahap itu, kamu masih menggunakan senjata api, sesekali menggunakan piasu dan kapak. Aku bisa merasakannya dan guratan-guratan di telapak tangan dan jemarimu."


Arci sungguh takjub, ia tak pernah bertemu dengan orang seperti ini. Dia bisa memahami apa yang pernah dipegangnya, Yuswo kini menatap dengan tatapan serius.


"Dua minggu? Lalu bagaimana dengan keluargaku?"


"Kamu jangan khawatir. orang-orangku akan melindungi kalian! Keluargamu, tak akan ada yang berani menyentuh mereka." ujar Yuswo.


"Tapi aku dengar, mereka mempunyai pembunuh bayaran nomor satu." ujar Arci.


"Yakinlah, selama ada aku mereka tak berani mendekat."


"Baiklah aku terima."


Arci dan Yuswo berjabat tangan, sebuah kesepakatan yang menandai awal sebuab kehidupan kelam tanpa batas. Arci makin masuk ke dalam dunia hitam, dia tak bisa keluar lagi sekarang. Tak bisa semudah itu."


I LOVE YOU, HANDSOME.


"Hooeeek! hooeeek!" Andini muntah-muntah hari itu. Sudah seminggu Arci meninggalkannya dan tepat sekali dia hamil.


"Waduh, kami tak apa-apa?" tanya Lian.


Andini menggeleng, "Kayaknya sebentar lagi ibu akan jadi nenek."


"Oh iya?"


"Aku bisa merasakanya, ada yang aneh ama tubuhku. Mencium masakan Rahma saja sampai mual," ujar Andini.


"Waaaahhh...nggak nyangka secepat itu hihihihi. Kalian ngelakuinnya dimana? jangan bilang di ruang tengah!"


"Emang di situ koq, emang kita punya kamar?"


"Hahahaha, pantesan koq malam-malam seperti ada orang yang kepedesan, itu kalian toh hihihi."


"Ah ibu, jadi malu." muka Andini memerah.


"Arci kemana? Ia harus diberi tahu." kata Lian.


"Dia sedang ada urusan selama beberapa minggu." kata Andini, "Dia tadi ngomong ke aku."


"Yah mau gimana lagi, tapi kamu harus menjaganya loh," ucap Lian sambil mengusap-usap perut Andini. Andini merasa bahagia hari itu melebihi apapun di dunia ini.


"Nanti kalai dia sudah datang aku akan memberitahu." kata Andini.


Ghea yang dari tadi berdiri di pintu dapur hanya menghela nafas, ia memakai tanktop dan kombor berwarna coklat. "Rasanya kita akan sedikit kesulitan kali ini."


Andini mendengar gumaman Ghea, "Kesulitan?"


"Iya Arci tak akan mungkin membawamu yang sedang mengandung kalau kita harus lari lagi nanti." kata Ghea lalu menoleh ke arah Andini.


"Benar juga," kata Lian "Kalau kamu sampai kelelahan, takutnya bakal kenapa-napa sama janinnya."


"Aku punya ide, itu kalau kamu terima. Kalau tidak ya... sudahlah. Bagaimana?"


"Apa itu?"


Ghea tersenyum sambil menegakkan alisnya.


I LOVE YOU, HANDSOME.


Sementara itu Tommy tampak sedang berdiri di depan sebuah peti mati. Peti mati anaknya Alfred, dia makin geram. Banyak orang yang tewas hanya karena mengejar Arci, dia kini mulai tak lagi meremehkan Arci. Orang-orang tampak berkabung, mereka semua dari keluarga dan kerabatnya.


"Bos, ada kabar dari Arci," ujar salah seorang anak buahnya yang mendekat sambil berbisik.


"Apa?" tanya Tommy.


"Raja Preman menyatakan mendukung Arci."


"Apa kau bilang? Bukannya dia netral?"


"Sepertinya Arci melakukan deal dengannya."


"Breng**k!"


"Tapi katanya begini, "Jika ada yang berani mengganggu keluarga Arci, dia akan berurusan denganku."


"Dia bilang begitu?"


"Iya."


"Ini tidak baik. Aku ingin bertemu dengan orang-orang Trunojoyo, kalau mereka ingin perang, maka kita akan berikan perang. Aku tidak takut, kita buat Malang banjir darah!"


"Siap!"


I LOVE YOU, HANDSOME.


Bersambung RAJA PREMAN II