I LOVE YOU, HANDSOME

I LOVE YOU, HANDSOME
RIGHT HAND II



Pieter tinggal di sebuah Mansion yang cukup megah, Mansion dengan gaya eropa dengan halaman yang luas dan terdapat beberpa petugas keamanan yang berjaga-jaga di kediamannya, saat Arci menemuinnya Ghea sudah ada di depan. Ghea mengingat kembali kejadian kemarin, sungguh hal yang sangat memalukan bagi dia, wajah Ghea bersemu merah.


"Hai," sapa Arci.


"Hai, a-ada perlu apa?" tanya Ghea gugup.


"Pieter ada?" tanya Arci.


"Papa ada, m..masuklah!" kata Ghea.


Arci sedikit aneh dengan tingkah polah Ghea yang gugup, dia lalu berjalan melewati Ghea. Ghea menahan lengannya.


"Kenapa?" tanya Arci.


"Kalau kamu ceritakan kejadian kemarin, aku akan membunuhmu." kata Ghea


"Aku kesini ingin menceritakannya."


"APAAA?"


"Iya, aku ingin tahu siapa yang ingin membunuhku."


"Mm..maksudku kejadian kita tubrukan itu." Ghea menunduk malu, wajahnya bersemu merah "Jangan ceritakan bagian itu."


Arci tersenyum, "itu tidak akan,"


"itu..pokoknya jangan. Awas kalau kamu ceritakan."


Arci mengangkat tangannya, "nggak..nggak akan."


"janji."


"Iya, you have my words."


Ghea menghela nafas lega.


"sebenarnya kamu cantik juga kalau malu-malu seperti itu."


Ghea teekejut dan langsung mengeluarkan Glock miliknya dan menodongkannha ke kepala Arci, "apa kamu bilang"


"Sorry, sorry. Ok aku masuk." Arci mundur teratur lalu menuju ke dalam rumah.


Dada Ghea berdebar-debar. Baru kali ini dia merasakan hal ini, badanya panas dingin. Tidak-tidak, ini lebih parah. Mukanya memerah, tangannya dingin, ini lebih parah dari sebelumnya.


"Aku seperrinya harus minum aspirin." gumam Ghea.


Arci berjalan menuju ke dalam, ia tak pernah menyangka Ghea bisa bersikap seperri itu. Mungkin sejak kejadian kemarin Ghea jadi sedikit lebih..feminim.


Di dalam tampak seorang dengan rambut beruban sedang menyiram tanaman, ya dia adalah Pieter. Pupil matanya yang hijau melirik ke arah Arci, bibirnya menyunggingkan senyum.


"Selamat datang di gubukku Atci," sapa Pieter.


"Pagi paman," jawab Arci


"Hahahahaha, untuk pertama kalinya ada yang memanggilku paman. Ah, tentu saja semenjak Alfred tidak ada di sini. Aku rindu dengan panggilan Paman."


seseorang keluar dari dalam rumah, seorang pria botak dengan badan yang cukup tegap. Dia mendekat kepada Pieter dan membisikan sesuatu, dia adalah Jaques orang kepercayaan Pieter. Semua pekeejaan kotor Pieter dialah yang menyelesaikan selain Ghea tentu saja, Jaques bekerja untuk masalah yang mendetail serta dalam bidang-bidang yang berhubungan dengan hukum dan birokrasi. Untuk urusan kekerasan semua diurus oleh Ghea, tapi meskipun begitu Jaques tak bisa diremehkan begitu saja. Dia juga sangat ahli dalam mengatasi masalah nyawa sebut saja menghabisi seseorang.


"Baiklah, aku mengerti. Arci ayo ikut denganku!" ajak Pieter.


"Kemana?" tanya Arci.


"Kamu akan tahu nanti."


Tak berapa lama kemudian Arci sudah berada di salam.mobil Mercedes Benz type SLK 250, Pieter yang mengemudikannya mobil mewah berwana hitam metalik itu. Sementara itu di belakang mereka tampak Jaques dan Ghea membuntuti mereka, mobil itu melewati jalanan protokol membuat semua mata memandang iri keoadanya. Arci hanya bisa menikmati pemandangan dari dalam.mobil yang dikendarai pamannya itu, sambil sesekali canggung.


"Kamu tak perlu canggung, kalau soal mobil kamu bisa membeli mobil seperti ini bahkan lebih. Kekayaan ayahmu tak akan habis " kata Pieter.yang seolah-olah bisa membaca pikiran Arci.


"Ah. tidak. aku lebih suka MPV karena bisa ngangkut banyak orang;" Arci memang sudah memiliki mobil MPV yang baru saja dia beli, dengan mobil itu ia bisa mengangkut banyak orang termasuk Safira, Putri dan Lian. Ketika berbelanja pun mereka mengendarai mobil itu.


"Ayolah, kamu sesekali harus bersenang-senang. Katakan mobil apa yang kamu suka,"


"Arci sedikit berfikir, "mungkin..Lexus."


"Pilihan yang bagus, tapi kalau soal prestige masih lebih tinggi Mercedes Benz, Lexus itu anak perusahaan dari Toyota jadi masih kalah jauh."


"Enfahlah, aku tak terlalu begitu mendalami masalah mobil."


Arci tak begitu mengerti, tapi perjalanan mereka cukup jauh hingga sampai ke sebuah perkampungan sepi dan makin jauh lagi. Hingga Arci tak mengenal daerah tersebut. Semuanya dipenuhi rumput gajah yang tingginya melebihi tinggi manusia, Lalu mobil yang dikendarai Pieter berbelok ke sebuah tempat dimana di sana terdapat banyak mobil bekas yang terbengkalai. Mungkin lebih tepatnya di sini adalah kuburan mobil atau tempat rongsokan mobil.


Arci tiba-tiba teringat dengan film-film.mafia di.mana mereka selalu punya tempat eksekusi. Jantungnya pun berdebar-debar, mau apa Pieter membawanya ke tempat ini? Tak jauh di hadapan mereka tampak beberapa orang memakai jaket kulit berwarna hitam, mobil pun berhenti Pieter mengajak Arci keluar. Arci baru sadar kalau di hadapanya ada seseorang yang sedang berlutut dengan mata di turup kain.


"Kamu telah melihat bukan bagaimana sikapku terhadap penghianat?"


Arci hanya berdiri saja, sementara Pieter bersandar di mobil.


"Jangan takut, kamu adalah bagian dari keluarga ini. Maka aku harus jujur kepadamu, kamu sudah dewasa, kamu berhak tahu seperti apa urusan di keluarga ini diselesaikan. Tenang jangan takut, aku dan ayahmu sangat dekat kalau saja aku tidak dipenjara. Aku dipenjara pun ada alasan khusua, mau dengat?"


Arci mengangguk, ia menoleh ke arah mobil yang mengikuti mereka. Ghea dan Jaques keluar, Jaques beringaut menuju orang yang sedang berlutut itu. Dia tampaknya bersiap menunggu aba-aba dari Pieter.


"Dulu aku dan Archer bermain bersama, belajaf bersama. Dia sangat mengerti tentang keluarga ini, tapi jalan hidupku dan hidupnya berbeda. Aku tidak tertarik dengan kekayaan keluarga ini, aku lebih bisa disebut sebagai anjing penjaga kekuarga ini. Keluarga Zenedine selalu bertarung dan bersaing dengan keluarga Trunojoyo, dari dulu seperti itu. Keluarga Trunojoyo itulah pemilik PT. Denim, kita selalu bersaing dalam banyak hal baik dari yang legal maupun ilegal,"


"Keluarga kita awalnya tak seperti ini, kita dulu hanya penjahit kecil yang kemudian menjadi besar hingga memiliki pabrik sendiri. Tapi lebih daripada itu kita semua adalah orang-orang yang berjuang untuk sebuah perubahan. Persaingan antara kita dan keluarga Trunojoyo awalnya adalah karena persoalan siapa yang paling baik, hingga sampai saling mencuri ide, PT. Denim tak bisa dianggap remeh. Mereka melakukan segala cara untuk bisa mengalahkan atau paling tidak membuat kita bangkrut, untuk itulah kami jadi gila , karena banyak membuat ide itu tidaklah gampang. Kami ingin menguasai pasar, untuk itu kami butuh uang maka kami pun mengembangkan bisnis-bisnis yang lain,"


"Kamu hanya melihat sebagian kecil bisnis kita, tapi sekalipun kita berbianis dalam dunia gelap, tapi kami tidak pernah berbisnis narkoba. Aku tak pernah merasakan ataupun berbisnis narkoba, lebih dari itu. Bisnisku yang lain adalah dalam barang selundupan mobil dan barang elektronik. Selain itu sahamku di PT. Evolus adalah satu-satunya hartaku yang berasal dari jalan yang legal. Segala hal yang berbau hitam di perusahaan ini aku tahu semua, dan agar perusahaan ini tetap berdiri aku akan melakukan apa saja bahkan kalau perlu sampai masuk penjara sekalipun. Ini semua demi keluarga ini demi bisnis turun menurun mereka,"


"Aku saat itu harus melakukanya, tidak ada piliham lain, tak ada cara lain. Pihak kepolisian menggunakan informan mereka untuk mengumpulkan bukti-bukti menjerat siapa saja yang menggunakan kekuasaan mereka di perusahaan ini di dunia hitam. Aku juga salah satunya. Informan itu hampir melaporkan ke pihak yang berwajib, ya hampir saja kalau aku tidak membunuhnya terlebih dulu. Kalau saja aku tidak membayar mahal seorang pengacara, maka aku akan dihukum.mati karena membunuh seorang polisi,"


Awalnya aku mengira kamu adalah orang yang ingin menghancurkan perusahaan ini, tapi melihatmu gigih memajukan perusahaan, menyingkirkan para penghianat sepeeri Yuswan, maka aku yakin kamu orang baik. Hanya saja di keluarga ini semua orang tak suka dengan orang yang terlalu lurus sepertimu, termasuk aku. Kamu bisa berbahaya bagi siapa saja termasuk aku,"


Pieter berbicara panjang lebar, Arci hanya jadi pendengar saja.


"Orang itu, dia penghianat. Anak buah dari Letnan Yuswan, selama.beberapa hari ini dia berusaha masuk ke ruang arsip. Pura-pura mengisi lowongan kerja dengan identitas palsu. Akhirnya ia masuk ke dalam ruang Administrasi melaporkan setiap keluar-masuk barang dan yang membuatku curiga adalah dia sampai mengobok-obok data barang selundupanku. Di PT. Evolus aku bersih tapi memang beberapa kendaraan yang menjadi aset perusahaan berasal dari bisnis kotorku, juga komputer-komputernya. Dia sudah sudah membawa flashdisknya, dan kami memergoki dia Jaques beruntung sekali menangkapnya. Aku ingin tahu apakah kamu ingin keluargamu dihancurkan oleh orang seperti dia? Ingatlah, ayahmu juga hidup dari cara seperri ini, suka atau tidak dia telah berada di dalamnya. Kamu berada di dalamnya hidup dari jerih payahnya. Apakah sampai hati kamu tidak akan mencintai keluarga ini? Baik atau buruknya."


Arci masih terdiam. Ia tak memberikan jawaban, Pieter memberikan isyarat. Ghea menghampirinya lalu menyerahkan pistol kepada ayahnya.


"Bisnisku yang lain adalah ini, jual beli senjata. Kebetulan aku kenal dengan pejabat tinggi di kemiliteran, ia juga punya koneksi di berbagai negara, oleh karena itulah Ghea bisa ikut berlatih dibeberapa pelatihan militer. Aku memang membuat dia menjadi mesin pembunuh, semua pelatihan militer yang ia lakukan hingga pada puncaknya ia harus dilecehkan oleh orang inggris. Akupun menganggap latihannya cukup. Padahal aku masih ingin dia berlatih bersama pasukan khusus di IDF tapi cukup. ini peganglah!"


Pieter menarik tangan Arci dan memberikan pistol itu di tangannya. Ia baru kali ini memegang pistol, tangannya gemetar ketika memegangnya.


"Kamu belum pernah memegang senjata? Aku bisa mengerti ini adalah pertama kalinya. Bunuh orang itu, informan itu. Kalau kamu tidak membunuhnya aku akan melepaskannya. Tapi sebagai imbasnya, ssmua data, semua dokumen tentang kita, tentang kamu, tentang segala yang terjadi di perusahaan ini, termasuk narkoba yang kamu temukan akan.masuk ke tangan kepolisian. Artinya kamu juga akan ikut imbasnya. kalau kamu mau seperti itu, silahkan."


Arci sebenarnya marah, karena Letnan Yanuar tak pernah bilang kalau dia akan menerjunkan tim lain. Dan memang ini jebakan. Kalau ia tak melaksanakan maka polisi itu akan melaporkan segalanya, Jaques melepas penutup wajah orang tersebut. Arci pun melihatnya, orang itu ketakutan.


"Paman Pieter, Ghea selalu mengikutiku atas perintahmu. Berarti kamu tahu kalai letnan Yanuar menghubungiku?" tanya Arci.


"Ya aku tahu." jawab Pieter "Dia tetap menyuruh anak buahnya bukan? itu artinya dia tidak percaya kepadamu. Dia akan memangsamu juga."


Arci msnarik hammer pistolnya. CKREK! Arci maju mendekat ke arah informan tersebut, tangan Arci masih bergoyang, ia tak siap ketika mengangkat dan menodongkan pistol ke kepala sang informan. Mata informan menatap tajam ke arah Arci, Arci menoleh ke arah Jaques yang sudah siap kalau sewaktu-waktu sang informan melarikan diri atau berbuat nekat, Arci menelan ludah.


"Kenapa Letnan Yanuar menyuruhmu kalau ia percaya padaku?" tanya Arcu.


"Bagaimana mungkin kami mempercayakan urusan ini kepadamu?"


"Jadi benar kalian tak percaya kepadaku. Baiklah aku akan menembakmu."


"Tembak saja, ayo tembak!"


Tangan Arci bergetat hebat. Ia tak pernah menembak orang sebelumnya, betapa berat sekali ia menarik triger itu. seolah-olah ia mengangkat beban yang sangat berat. matanya terpejam.


"Buka matamu!" bentak Pieter.


DOR!


Mungkin karena kaget sehingga Arci membuka matanya dan refleks menarik platuknya. Timah panas itu pun akhirnya menembus kepala sang informan, dia pun jatuh tersungkur. Arci terhuyung dan mundur ke belakang, bafu kali ini ia membunub orang. ya baru kali ini, tanganya gemetar.


Ghea menahan lengannya, Arci menoleh ke arah gadis itu. Ghea tersenyum. Baru kali ini ia melihat gadis itu tersenyum, perlahan-lahan Ghea mengambil pistol miliknya lagi.


"Welcome to our family." Ghea mengecup pipi Arci. Mungkin ia ingin membuat Arci kuat dengan itu. Ia tahu bagaimana perasaan seseorang yang baru saja membunuh manusia.


Beberapa anak buah Pieter menyeret mayat sang informan, Pieter menghampiri Arci.


"Kita adalah keluarga, mulai sekarang kamu bagian dari kami." kata Pieter


Arci masih tak percaya, ia melihat telapak tangannya sendiri. Ini lebih mengeeikan daripada yang ia kira, sementara itu Ghea menoleh ke arah Arci, ia melihat sesuatu yang ada pada diri oemuda itu yang tak bisa dijelaskan. Yang jelas, hanya satu. Ia mulai menyukai Arci, sekalipuj ia tak bisa menunjukan hal ifu.


I LOVE YOU, HANDSOME.


Andini akhir-akhir ini selalu menghindar dari Arci, mereka sibuk dengan urusannha masing-masing. Dalam hati ia masih mencintai Arci. Andini beberapa hari ini tidak konsen, dia mengacak-acak rambutnya, membanting apa saja yang bisa dibanting. Dia sampai malas untuk pergi ke kantor. Perasaan wanita sungguh membingungkan, ia sebenarnya masih mencintai Arci, tapi...entah kenapa ia tak ingin bertemu dengannya. Mungkin ia ingin sendiri dulu, Arci harus tahu kalau ia ingin sendiri dulu. Tapi bagaimana memberitahukannya? Tidak mungkin bisa, karena ia sendiri tak ingin bertemu Arci.


Arci berusaha meneleponnya dan sslalu saja ia reject, bahkan ketila makan siang Andini selalu menghindar . Dan beberapa hari ini Arci tak kelihatan, Andini merasa kehilangan. Sekalipun tak ingin menemui Arci tapi ia selalu melihat Arci dari jauh dan itu sudah membuat dia lega. Aneh memang, dia tak ingin bertemu tetapi sangat mengharapkan. Perasaan wanita memang seperi itu, sesuatu yang kontra selalu ada di dalamnya sehingga jalan tengahnya sangat sulit. Antara suka dan tidak, tapi satu yang pasti Andini masih mencintai dia, hanya saja kondisi dia sekarang sulit dikatakan.


Beraambung TRY TO MOVE ON