I LOVE YOU, HANDSOME

I LOVE YOU, HANDSOME
FOREVER LOVE



Aku adalah cintamu


Selamnya......


Andini tersenyum pagi itu. Kicauan burung dan sinar mentari masuk melalui jendela ruang tengah rumah Rahma, tadi malam sungguh luar biasa ini kedua kalinya mereka berhubungan suami istri. Teringat dalam bemak Andini, bagaimana Arci bermain penuh nafsu tadi malam, dia dibolak-balik seperti bantal. Arci benar-benar membuat dia KO, walaupun tidur di ruang tengah dengan kasur tipis, tapi mereka cukup bahagia.


"Sayang, bangun." bisik Andini.


"Hmm...." jawab Arci.


"Kamu capek?" tanya Andini, "aku buatkan teh hangay yah?"


"Hmmm..."


Begitu Andini beranjak.Arci menahan tangannya, "ntar dulu, temani aku lagi,"


"Ihh..udah pagi ini, matahari udah terbit. Mau bangun jam berapa?"


"Oh ya? Ah jam enam yah?"


"Tadi Rahma ngajak jalan-jalan suaminya, ibu ama Putri belanja."


Atci menarik tangan Andini hingga istrinya itu kepelukannya lagi. Lagi yuk?"


"Udah dong say, ntar kalau mereka datang gimana?"


"Peduli amat,"


"Udah aaaahh!"


Arci kemudian mengecup bibir Andini, keduanya berpangutan. Andini menjauh dari wajah Arci.


"Kenapa tanya Arci?"


"Bau acem," jawab Andini.


Arci tertawa geli, ia segera memeluk istrinya. "Kalau gitu, mandi bareng yuk?"


"Hmm?? Mandi apa mandiii?"


"Mandi sambil ehm-ehm."


"Hihihihi, dasar. Bener berarti yah kata orang suami itu ibarat anak kecil berbadan gedhe."


"Bodo amat, aku kangen s**umu,"


"Kamu mau ny**u?"


Arci mengangguk.


"Sambil mandi?"


Arci mengangguk lagi.


"Yuk, tapi cepet yah, takut kalau yang lain dateng."


Mereka berdua pun beranjak, tapi sebagai pengantin baru bisa dimaklumi kalau mereka berdua sedang di masa gairah. Gairah bir**inya meluap-luap. Arci tak sabar, ia pun mencium Andini. Mereka terus berpangutan sambil berjalan menuju kamar mandi. Kegiatan mereka sebenarnya ada yang melihat, siapa lagi kalai bukan Ghea. Dia ada di teras dan mengintip apa yang dilakukan oleh sepupunya itu, dan dia sangat cemburu. Ia memejamkan matanya dan menahan seluruh gejolak yang ada di dadanya.


"Arci, aku tak bisa mencari lelaki lain. Aku.mencintaimu selamanya....," bisik Ghea dalam hati. "Dan maafkan aku Andini, aku tak bisa menghilangkan perasaan cintaku kepada suamimu."


I LOVE YOU, HANDSOME.


"Apa yang akan kita lakukan kepadanya?" tanya Michael.


Lian pun tersadar, tapi tangan dan kakinya terikat. Ia melihat Alexandra ada di hadapanya.


"Hai Pela**r. kita ketemu lagi!" ujar Alexandra.


PLAK! tamparan keras mengena ke pipi Lian.


"Beeng**k! Bajin**n, lepaskan Andini! kalau kalian menginginkan. sakiti aku saja. Tapi lepaskan dia!" kata Lian.


"Melepaskannya? Kau gila? Justru dia ada di sini karena kita akan bersenang-senang, Arci sudah mempermainkan kita dengan memalsukan tanda tangan di surat pengesahan. Ia layak mendapatkan sesuatu yang pantas. Menghancurkan hidupnya," kata Alexandra "Sayangku, lakukan saja!"


Michael tertawa, Tommy dan Agua tampak ada di ruangan itu juga tertawa.


"Mau apa kalian!?" tanya Lian.


"Ini biar bagianku! Kata Agus, "Aku tak pernah merasakan binor,"


"Hahahaha, terserah. Aku akan tinggalkan kalian di luar." kata Tommy meninggalkan mereka semua.


"Breng**k! Lepaskan Andini! Lepaskan dia!" Lian histeris, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa karena terikat. Sementara itu, Michael melepaskan pakaiannya satu persatu hingga tak menyisakan satu helai benang pun, begitu pula dengan Agus. Sementara itu Andini masih pingsan tak berdaya.


Michael mulai menela****i istri Arci itu, Agus pun telaten membantunya. Lian menjerit, "JANGAAAAN!".


"Lihatlah pela**r, aku akan buat menantumu mengikuti jejakmu juga, Hahahahaha," Alexandra menduduki tubuh Lian.


"Jangaaaan! Kumohon jangaaaan! Hentikan! Dia sedang hamil! jangaaaann!" Lian memohon kepada Michael dan Agus. Tapi Terlambat.


I LOVE YOU, HANDSOME.


Sementara itu Arci dan Ghea sudah bersiap, mereka sudah sampai di lantai paling atas. Di lantai tersebut sepi keadaanya hanya ada seseorang yang berdiri di sana, yaitu Baek. Dia tampak sombong bekacak pinggang sambil memberi isyarat menantang Arci.


"Kau tenang saja, ia bagianku," ujar Arci "Istirahtlah."


Baek tertawa, "Kamu kira sendirian bisa mengalahkan diriku? Baiklah, ayo!"


Kaki Baek mulai bergerak-gerak, Arci mengetahui gaya ini. Ini gaya Tae Kwondo, Arci memasang kuda-kuda bebas ciri khas Kravmaga. Baek menendang ke udara, lalu melakukan Spinning Kick, dia memamerkan tendanganya kepada Arci. Arci tetap tenang sekalipun sebenarnya nyut-nyuttan.


Baek mulai menyerang, ia menggunakan kaki kirinya sebagai tumpuan sedangkan kaki kanannya maju menendang wajah Arci. Arci biaa menangkis dengan tangannya, kaki Baek bergantian menendang dan Arci menangkis semuanya. Gantian Arci menyerang kiri dan kanan kemudian diturup dengan low kick, dia mengenai lutut baek. Baek sedikit meringis, tendangan Arci tepat mengenai tempurung lututnya.


Baek melompat lagi dengan tendangan, tubuhnya seperti terbang ketika dua tendangan mengarah ke Arci. Arci sekali lagi bisa menangkis, Baek menaikan kakinya tinggi-tinggi dan menurunkannya dengan cepat tapi Arci berputar dan masuk ke pertahanan Baek yang kosong. Baek tentu saja kaget, tapi Arci memberikan uppercut. Baek bisa menghindar tapi ternyata serangan Arci bukan sekedar uppercut tapi sebuah pukulan smash yang tiba-tiba berubah arah dan pukulan itu telah mengenai wajah Baek.


Baek tersungkur.


"Beladiri apa itu, pukulan apa itu?" tanya Baek.


"Who Knows? itulah inti dari kravmaga bebas bertarung dengan melihat kelemahan lawan." jawab Arci


Baek kembali bangkit dan menyerang Arci, kini dia memakai pukulan sesekali menendang. Arci bisa membaca semua serangannya, Baek makin gusar terlebih semua seranganya bisa dibaca oleh Arci. Dan Arci sekali lagi begitu melihat kelemahan Baek dia langsung menyerang dengan tendangan ataupun pukulan dan semuanya mengena. Baek kemudian menghentikan serangannya dan berfikir, kenapa setiap serangannya bisa diketahui?


Arci kini berbalik menyerang, kini pukulan-pukulan Arci mendaratkan ke wajah Baek. Belum selesai Arci memukul dengan tangannya kini ia mendaratkan sebuah tendangan tepat ke dada Assasin itu, tapi kaki Arci ditangkap oleh Baek. Arci tak tinggal diam, ia segera melompat ke udara berputar dan tendanganya menghantam pipi Baek hingga lelaki itu tumbang. Menangkap kaki Arci, itu adalah tindakan bodoh. Pikir Baek.


Dia bersusah payah bangkit sambil meludah, darah segar keluar dari mulutnya. Baek kini mengganti kuda-kudanya, Arci mengerutkan dahi. Dari kuda-kuda tersebut dia bisa mengetahui apa yang sedang ada di depannya, itu adalah gerakan cappoeira tangannya menari-nari dan kakinya menyapu-nyapu dan gerakan selanjutnya dengan gerakan memutar Baek menerjang Arci dengan tendangan. Arci merendahkan tubuhnya, hampir saja baek menyapu wajahnya tapi Baek tak cukup satu serangan dengan gerakan gesit tangan yang menjadi tumpuan menyerang dada Arci tetapi Arci dengan sigap menghindar menyapu tangan Baek terlebih dahulu. alhasil Baek tersungkur di tanah dan dia segera bangkit sambil merasakan kesakitan pada lengannya.


Arci dan Baek sudah sama-sama berdiri, Arci langsung melepaskan jasnya ia melucutu senjatanya yang ia bawa. Baek mengerutkan dahi.


"Maaf, tadi gerakanku terhalang oleh beban. Sekarang ayo suka-sukamu menyerang dengan gaya apapun." ujar Arci.


Baek merasa diremehkan, dia kembali menggunakan gerakan tumpuan pada tangannya dan kakinya berputar-putar. Di saat itulah Baek menyerang dan Arci berguling menghindar lalu menyerang punggung tangan Baek dengan kakinya, Baek meringis dia mengaduh karena Arci menargetkan punggung tangannya.


"Jenius," ujar Baek.


"Tidak, kamu yang bodoh karena gerakan itu syarat dengan kelemahan.^ ujar Arci.


Sekarang giliran Arci menyerang, ia berlaei mendekati Baek tapi saat mendekat Arci segera melompat ke udara dan mendaratkan sebuah tendangan ke wajah baek, gerakan selanjutnya kakinya ditekuk sehingga kedua lututnya mencengkram kepala baek sekarang. Lalu Arci mengarahkan kedua sikunya ke kepala Baek, seketika itu dia merasa seperti dihantam oleh linggis dan Arci menghantam berkali-kali tanpa ampun.


Setelah itu Baek ambruk dengan luka di kepala, untuk terakhir kali Arci melompat dan mendaratkan lututnya ke punggung Baek sehingga tulang pungguk pendekar tae-kwondo itu remuk.


Akhir yang mengenaskan bagi Baek. Arci jadi mengerti kenapa Ghea mengajarkan Kravmaga kepadanya. karena pada dasarnya Kravmaga tidak berpatok pada satu jenis beladiri saja melainkan mempelajari kelemahan lawan dan menyerang titik tersebut dengan cara yang mematikan. ya pada dasarnya kravmaga adalah gerakan diffensif yang mematikan saat menyerang.


Setelah mengalahkan Baek, Arci menoleh kesebuah pintu. Tiba-tiba saja perasaanya tidak enak, Ghea berjalan tertatih-tatih mendekat ke sepupunya. Arci mengambil kembali senjatanya dan mereka mendekat ke arah pintu yang mana Tommy dan yang lainnya berada di dalam ruangan tersebut.


"Jangaaan!" terdengar suara Lian, "Kumohon jangan!"


Arci langsung naik darah lalu memcari arah suara tersebut. Tampak dia di halangi oleh oleh seorang pemuda dengan sebiah Katana ditangannya.


"Dia bagianku, kamu pergilah." ujar Ghea.


"Hati-hati," ujat Arci


Arci menjauh dari Ungi yang sekarang ini berhadapan dengan Ghea, Ghea mengambil kuda-kuda siap menghunuskan Katananya. Ungi melihat itu ia pun mengambil Katana dari sarung pedangnya, Ghea dan Ungi kini bersiap untuk bertarung hidup dan mati.


Sementara itu Arci sudah berada di ruangan di mana Andini dan Lian di tawan.


"Selamat datang keponakan!" kata Tommy.


Tiba-tiba tubuh Arci dipegangi oleh beberapa orang suruhan Tommy, lututnya ditendang sehingga dia berlutut. Ia tidak bisa bergerak ketika punggungnya di injak hingga tiarap, kemudian kepalanyan dipaksa mendongak dan dia menyaksikan sesuatu yang membuat hatinya hancur berkeping-keping, sesuatu yang membuat darahnya mendidih.


"ANDINIIIII! LEPASKAAAAN! LEPASKAN DIAAA! BAJIN**N" Arci berteriak histeris.


Dimana di depanya Arci diperlihatkan bahwa istrinya sedang diperkosa oleh kedua pria lak**t.


"Ini adalah akibat kalau kamu main-main dengan kami, kamu brani-braninya memalsukan tanda tanganmu. Kamu kira kamu itu siapa? Kamu hanya seorang anak seorang pela**r, kamu tak pantas menyandang nama Zenedine. Sekarang kamu lihat, kamu tak berdaya di hadapanku, semua orang-orang yang kamu cintai aku rampas hahahahaha, menangslah, marahlah sekaranh kamu tidak biaa berbuat apa-apa,"


Air mata Arci keluar ia berusaha meronta untuk bisa terbebas dari cengkraman orang-orang suruhan Tommy, matanya dipaksa menyaksikan bagaimana istrinya diperkosa oleh Michael dan Agus.


Apalah kalian pernah melihat istri yang kalian sayangi dizinahi? Semua orang apabila melihat istrinya selingkuh pasti sakit. Ya sangat sakit pastinya. Apabila sang istri yang di cintai oleh suaminya di perkosa di hadapannya sedangkan dia tak bisa berbuat apa-apa. Arci sangat mencintai Andini. Ia menangis histeris, air matanya tak tertahankan, ia meronta memanggil-manggil nama istrinya.


"HENTIKAAAN! AKU MOHON HENTIKAN! DIA SESANG HAMIL! HENTIIIKAAAAAN!" jerit Arci.


"BANG*******T! AKU BERSUMPAH! AKU TAK AKAN MATI SAMPAI MENGHABISI KALIAN SEMUA! AKU AKAN MEMBERIKAM MIMPI BURUK YANG TAK AKAN PERNAH KALIAN LUPAKAN, BAHKAN KALIAN AKAN MEMINTA SENDIRI KEMATIAN!'


"Hahahaha...., kamu bisa apa? Kamu tak bisa apa-apa sekarang. Nikmati saja suguhan ini" kata Tommy.


I LOVE YOU, HANDSOME.


Apa yang terjadi denganku?


Siapa dia? Kenapa dia ada di ataaku? Tubuhku sakit semua. Apa yang teejadi?


Arci, kenapa dia ada di sana? Oh, suamiku ada di sana. Tubuhku sakit semua. Kenapa dia ada di sini? Aku di mana?


Ada seorang lelaki yang menindihku?


Sakit, sakit sekali...Apakah aku akan mati?"


"Aku puaas...akhirnya keluar juga...ohhh!"


Suara siapa itu?


"Lepaskan dia!"


"Heeei, darah apa ini?"


"S**t! kenapa dia mengeluarkan banyak darah?"


"Darah apa ini?"


"Dia keguguran!"


"Bajin**n! Aku bunuh kalian semua!"


Arci, apa yang terjadi?


Tiba-tiba tubuhku didekap. Arci, itu dia. Suamiku datang. Akhirnya.... oh, aku merindukanmu sayangku. Tapi tubuhku sakit semua. Apa yang sedang terjadi? kenapa dia menangis? Jangan menangis. Jangan bersedih. Aku ingin menghiburmu sayangku, jangan bersedih. Kumohon!....Ciciku jangan bersedih. Kenapa kamu menangis.


I LOVE YOU, HANDSOME.


"Andini...Andini, maafkan aku. maafkan aku!" Arci menangis. Dia terisak. Dia berhasil meronta dari cengkraman anak buah Tommy dan berlari menuju Andini. Ia segera menyelimuti Andini yang sudah berbaring tanpa busana. Darah keluar dari vag**a Andini dan terus keluar tanpa henti.


Tommy, Michael, dan Agus tertawa. Alexandra tampak puas melihat itu semua.


"Ciciku....Kamu datang?" bisik Andini.


"Ya aku datang." jawab Arci


"Tubuhku sakit semua..apa yang terjadi?"


"Tak apa-apa, tak apa-apa sayangku. Tidurlah! Tidurlah! Aku akan memelukmu dengan erat."


"Aku tahu..tapi entah kenapa..rasanya engkau akan pergi jauh."


"Jangan katakan itu kumohon, jangan katakan itu."


"Aku bahkan tak bisa menggerakan badanku, perutku seperti dililit, aku bahkan tak bisa menggerakan badanku. Sayangku...kita pulang saja yuk?"


"Iya, kita pulang. Kita pulang! Kita pulang. Kita akan bangun gubuk, kita akan hidup sendiri. Aku akan turuti keinginanmu. Kita akan bersama, kita akan punya banyak anak. Kumohon jangan tinggalkan aku. Kumohon! Kamu adalah nyawaku, bagaimana aku bisa hidup tanpamu?"


"Apakah aku akan mati?"


"Tidak, kamu tidak.boleh mati."


"Tapi aku merasa ada sesuatu yang lepas dari diriku. Cici, semuanya gelap."


"TIDAAAAKKK! Jangan pergi aku mohooonn! Jangaaaann! Aku akan melakukan apapun asal kamu jangan pergi Andiniii... aku mencintaimu...aku mencintaimu.."


Lian menangis melihat itu semua. Hatinya hancur melihat putranya rapuh sekarang ini.


I LOVE YOU, HANDSOME.


Ungi dan Ghea saling beradu pedang, gerakan Ungi sangat lincah seperti pendekar samurai sesungguhnya. Sabetan-sabetan pedangnya benar-benar akurat dan cepat. Ghea dengan kaki pincang tentu saja kewalahan melawan Ungi. Tapi ia terus bertahan.


"Hebat, hebat, hebat! kamu wanita pertama yang sanggup mengimbangiku," ujar Ungi sambil bergedek..


Luka-luka di tubuh Ghea mulai bereaksi. Tapi dia harus hidup, dan yang dilakukannya olehnya sekarang adalah berfikir bagaimana agat bisa mengalahlahkan Ungi. Ghea menahan rasa sakit di pahanya yang robek, darah membuat celananya makin kaku, bahkan darahnya sampai ke sepatu sendiri sehingga meninggalkan jejak di lantai. Terlebih luka sabetan pisau di perutnya membuat rasa sendiri, Ghea menyadari gerkananya mulai melambat. Dià banyak kehilangan darah, terlebih luka di pahanya cukup dalam, ia sadari ini tidak berakhir baik.


Ghea bertahan. Dia memegang gagang katananyan dengan kedua tangan, dia menarik nafas dalam-dalam posisi kuda-kudanya seperti seorang ahli kendo kedua tangan di depan, katananya mengarah ke depan seolah-olah mengukur jarak antara dia dengan Ungi.


Ungi tersenyum sinis, tiba-tiba berputar cepat sambil mengayunkan katananya ke arah Ghea. Ungi sekarang seperti pusaran angin topan, Ghea hanya bisa berdiri mematung menanti saat yang tepat untuk menyerang. Ketika Ungi menyerang Ghea menghindar, gerakan Ungi sangat cepat untunglah Ghea dapat menghindar, telat sedikit saja dia bisa terbelah jadi dua. Bertarung menggunakan pedang bukanlah keahliannya, tetapi kalau tidak menggunakannya bagaimana caranya dia bisa mengalahkan Ungi?


Ungi yang merasa Ghea bisa menghindari serangannya tampak tak heran, dia kemudian melakukan lagi gerakan memutarnya. Kali ini lebih cepat dari sebelumnya, gadis berambut merah itu pun bertahan. Kakinya tiba-tiba terasa lagi nyut-nyut, Ghea mengumpat pada dirinya sendiri kenapa di saat seperti ini malah terasa sakit. Alhirnya dengan seadanya bertahan dan menangkis serangan itu.


TRANG!TRANG!TRANG!TRANG!


Gerakan berputar itu ternyata datang berrubi-tubi, Ghea tak bisa bertahan lebih lama karena seranganya cepat dan beruntun. Ghea pun terdesak dengan dan dengan benturan beruntun itulah tiba-tiban ia dikejutkan dengan sebuah tendangan yang menghantam kepalanya.


BUAAKK!


Tubuh Ghea terhempas dan membentur sebuah meja yang ada di ruangan itu. Ghea tersungkur. Rasa lelah mulai merambat di tubuhnya, mungkin dikarenakan ia merasakan sakit. Tapi ia pernah merasakan sakit seperti ini sebelumnya bukan? Dengan sisa-sisa tenaganya ia bertumpu pada katananya untuk berdiri.


"Ayo, aku masih belum kalah!" ucap Ghea.


Ungi pun datang secepat kilat kemudian menebaskan katananya ketubuh Ghea, seketika itu Ghea juga menebaskan katananya dari arah bawah menyamping ke atas. Ghea ambruk ke lantai. Ungi terdiam sejenak lalu berjalan meninggalkan Ghea. Seketika itu ia tersadar bahwa tubuhnya sudah terbelah akhirnya ambruk ke lantai tak jauh dari poaisi Ghea.


Bersambung FOREVER LOVE END