I LOVE YOU, HANDSOME

I LOVE YOU, HANDSOME
KETIKA DIA DATANG II



"Siang sepupu," sapa seorang lelaki kepada Pieter.


"Tommy?" Pieter keheranan, "Kapan datang? koq tidak ngasih kabar?"


"Hahahaha, ingin memberi kejutan saja. Denger-denger anaknya Archer muncul ya?"


"Begitulah," ujar Pieter.


Pieter masih sibuk memotongi dedaunan tanaman hiasnya, ia menoleh lagi kepada Tommy yang memakai baju casual. Selama di Prancis sepertinya selera fashion Tommy lebih baik, Tommy melihat-lihat tanaman hias Pieter.


"Kenapa? ada urusan penting kah?" tanya Pieter.


"Sebenarnya tidak ada, aku hanya ingin mengunjungimu saja. Sekaligus tanya-tanya tentang siapa namanya? Arczre?"


"Dia anak yang baik, dia telah menjadi bagian dari keluarga kita. Kamu tak datang ketika pembacaan wasiat itu, seharusnya kamu datang."


"Hahahaha, buat apa. Aku toh tidak tertarik."


"Orang sepertimu tidak tertarik? Mustahil!"


"Kenapa bisa begitu?"


"Hahahaha, Tommy, Tommy...Aku tahu kamu benci kakakmu itu sejak lama, bahkan kamu kan yang melaporkan kepada ayahmu ketika Archer pergi ke Paris bersama Lian? Aku tahu hal itu, walaupun aku di dalam penjara tapi aku punya banyak telinga."


Tommy tersenyum tipis, "itu masa lalau, saat aku emang iri dengannya."


"Apa kamu bisa menjanin sekarang tidak? Aku tak percaya padamu Tom!"


"Lalu, kamu sendiri? apa tidak ingin kekayaan itu juga?"


"Hahahaha, bagi orang seperti aku, bisnis gelapku lebih aku sukai daripada harus mengemis kekayaan keluarga Zenedine. Sedangkan kamu, hidupmu tidak jelas, penghasilan dari melukis? hahahaha kamu membuat aku tertawa. Sejak dulu kamu itu rival Archer, aku tak yakin kamu tak punya hasrat."


"Bisa saja kau ini, sudahlah aku tak mau membahas itu. Sepi sekali, mana Ghea? biasanya ia bersama dirimu."


"Dia ada tugas."


"Oh, baiklah."


Tommy melihat arloji ditangannya , ia menghirup nafas dalam-dalam, "Udara Malang sejuk, aku suka tinggal di sini, ah. Ngomong-ngomong aku ada perlu, selamat tinggal sepupu."


Pieter hanya tersenyum mendengar ucapan Tommy. Tommy melambai kemudian ia keluar dari gerbang. Pieter wajahnya langsung berubah datar, sehera ia berlari masuk ke dalam rumahnya. Dia menuju mejanya mengeluarkan dua buah pistol dan beberapa magazine.


Ucapan Tommy bukan ucapa biasa, umumnya orang-orang akan berkata "sampai nanti atau sampai jumpa" tapi ketika seseorang bilang "selamat tinggal" itu adalah persoalan lain. Dan benar beberapa orang, mungkin puluhan orang masuk ke dalam rumah Pieter. Pieter mengambil ponselnya dan menghubungi Ghea dengan Loudspeaker.


"Papa,?" sapa Ghea.


"Lindungi Arci!" kata Pieter


"Iya, ada apa?"


"Mungkin aku tak bisa melihatmu lagi setelah ini."


"Papa, jangan katakan kalau Tommy menemuimu?"


"Begitulah, kamu sudah tahu ternyata."


"Aku sudah tahu beberapa hari yang lalu, ketika Arci menemui Araline di Rumah Sakit Jiwa. Tapi aku tak percaya begitu saja, aku harus mengumpulkan bukti-bukti dulu sebelum memberikannya kepada mu. Sebagaimana papa bilang, aku tidak boleg gegabah dan aku sudah mendapatkannya , semua obat-obat terlarang itu, narkoba dan sejenisnya Alfredlah yang mengatur,"


"Araline mengatakan dia bisa terlibat narkoba karena pengaruh dari Tommy, dan yang lebih mengejutkan adalah dia sangat bernafsu untuk menguasai harta Zenedine. Dialah yang jadi penghianat, aku telah mendapatkan kesepakatan dia dengan Agus Trunojoyo untuk menguasai PT. Evolus."


"Oh jadi begitu."


"Papa, apa yang terjadi di sana?"


"Ada perusuh masuk, jangan khawatirkan aku. Khawatirkan Arci! Lindungi dia, lagi pula ini hari yang spesial bukan?"


"Papaaa, kalau papa tidak ada, aku harus bagaimana?"


"Pergilah bersama Arci, selamatkan apa yang ada."


"Tapi Papa!? aku akan kesana, tunggulah!"


"PERGI KATAKU!"


Ghea takut mendengar bentakan ayahnya sendiri.


"Baiklah."


"Ghea, aku sangat menyayangimu. Bertahanlah hidup!"


Telepon pun ditutup, Pieter kini memegang dua pistol glock. Rumahnya telah dikepung, semuanya membawa senapan mesin, mereka semua sudah bersiap untuk memuntahkan isi peluru mereka. Dan jadilah hari itu hari berdarah bagi keluarga Zenedine, sang Anjing Penjaga berjuang sendirian menghadapi cecunguk suruhan Tommy Zenedine, Pieter berjuang sampai pelurunya habis.


Pieter berhasil menembak beberapa orang, bukan beberapa tapi puluhan orang. Peluru-peluru yang ia tembakan tidak sia-sia hingga akhirnya habis, setelah habis lalu ia mengambil parang yang berada di bawah mejanya, dia kemudian menyerang orang-orang yang mengepung rumahnya. Benar-benar pejuang yang tangguh, hingga Pieter yang kalah senjata itu akhirnya harus mengakui tubunya tak mampu lagi menahan luka.


Tommy Zenedine kembali masuk ke dalam rumah Pieter, dia menendang anak buahnya yang tewas oleh peluru Pieter. Pieter menatap Tommy tanpa berkedip, darah mengalir dari tubuh yang berlubang oleh peluru-peluru.


"Kamu selalu mengajariku kalau ingin perang selalu memakai rompi anti peluru, ternyata kamu sendiri yang lupa." ujar Tommy.


Pieter tersenyum, "Aku juga mengajarimu. kalau masuk rumah orang. kamu harus tahu ada apa saja di dalamnya bukan?"


Tommy mengerutkan dahi, dia melihat Pieter mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. Sebuah Remote.


"F******KK!" umpat Tommy ia segera berlali keluar dari rumah Pieter. Anak buahnya pun mengikutinya, mereka semua mengambil langkah seribu dan tak lama kemudian rumah Pieter meledak. Ledakannya benar-benar menggunjang dan menimbulkan suara yang keras, getaranya hingga membuat mobil-mobil disekitar rumahnya pun ikut terangkat bahkan alarmnya pun ikut berbunyi.


Tommy selamat, dia sangat beruntung. beberapa anak buannya tewas karena ledakan. "Breng**k! tua bangka, mau.mati saja nyusahiin orang, Kepa**t! MATI KAU!"


I LOVE YOU, HANDSOME.


Andini masih tidak percaya ia datang di pernikahan Arci, ya pernikahan itu berada di ssbuah gedung mewah, semua undangan telah disebar. Tapi mana pengantennya?


Andini memakai gaun warna putih keperakan, Safira mengenakan gaun warna merah maroon. Dan dibandingkan dengan tamu undangan yang lainnya, mereka berdua seperrinya bakal menjadi bintangnya karena mereka terlihat sangat cantik. Dua bidadari ini begitu masuk gedung langsung disambut oleh banyak orang, perlaminan masih kosong, pengantinya belum terlihat. Para tamu sudah menunggu dan sebagian menyantap hidangan yang sudah ada.


Saat itulah dari arah pintu masuk, Arci datang dan menggandeng Rahma. Tentu saja hati Andini serasa mendidih melihat mereka berdua, Safira mencoba menenagkan Andini. Arci menyapu pandangannya ke semua tamu undangan yang hadir dan dia melihat Andini dan Safira, wajahnya tampak berseri-seri, bukan karena acara hari ini tetapi karena melihat seseorang yang sangat dicintainya ada di tempat ini.


Setelah itu Arci buru-buru naik ke atas panggung yang berada disebelah kanan pelaminan, disana sudah ada alat band serta naggota band pengiringnya. Dan Arci mengambil sebuah mic di sana.


"Terima kasih semuanya yang telah datang, hari ini bisa jadi hari bahagia bagi kita semua. Namu bisa jadi hari yang mengharukan bagi sebagian orang, saya berterima kasih kepada kalian yang telah hadir, rekan-rekan kerja, teman-teman yang sudah memberikan waktunya untuk bisa hadir pada acara hari ini" kata Arci.


"Sebelumnya. saya hanya ingin kalian semua menjadi saksi," lanjut Arci. "Saksi atas apa yang terjadi pada hari ini. Yang pertama, saya meminta kalian untuk membawa undangan bukan? apakah sudah kalian bawa? dan angkatlah undangan tersebut."


Semua tamu yang membawa undangan tersebut mengangkat undangan sesuai instruksi Arci. Mereka tak mengerti akan maksud Arci, Rahma juga gagal paham. Andini yang membawa undangan itu juga ikut mengangkatnya, ia merasa konyol dengan kelakuan Arci.


"Setalah itu lihatlah ada pita ditengah halamanya? dan tariklah pita tersebut, maka ada halaman baru di dalamnya" kata Arci.


Andini mengerurkan dahi, ia tak percaya , maka ia menarik pita itu dan kata-kata yang sebelumnya


ARCZRE dan RAHMA


berubah menjadi


ANDINI dan ARCZRE


RAHMA dan SINGGIH


Andini mulutnya menganga, Safira tertawa puas.


"Apa-apaan ini?" kata Andini.


Rahma juga heran ketika ia baru menyadari bahwa ada halaman baru di dalamnya, sebuah nama yang ia tak akan pernah lupa. Arci kemudian menunjuk ke sebuah arah, di pintu masuk tampak seseorang berada di kursi roda. Ia tak mempunyai lengan dan kaki, tapi wajahnya sangat dikenal Rahma.


"Singgih?" kata Rahma.


Arci kemudian berjalan menuju ke arah Andini, seluruh tamu undangan tercengang. Mereka gagal paham terhadap apa yang terjadi. tapi mereka mencoba mencerna. Beberapa orang mulai faham.


"Andini, kamu masih ingat janjiku ketika kamu menjadi Iskha? tanya Atci yang kini sudah berada di hadapanya .


Mata Andini berkaca-kaca, "Kamu jahat! Tentu aku ingat."


"Hari ini orang catatan sipil telah menunggu, mau kah kamu menjadi istriku?" tanya Arci.


Andini masih tak percaya, beberapa saat lalu hatinya hancur diaduk-aduk, sekarang berubah 180 drajat. Dia menoleh ke arah Safira, Safira mangacungi jempol. Andini menangis, ia tak perduli make-upnya ia lalu memukul-mukul Arci.


"Breng**k! kamu pria terbreng**k yang pernah aku kenal," kata Andini. Ia lalu memeluk Arci "Tapi aku cinta ama kamu."


Rahma tak menghiraukan apa yang terjadi pada Arci dan Andini, di hadapannya sekarang ada Singgih yang didorong oleh seorang wanita. Wanita tersebutlah yang selama ini merawat Singgih, Singgih tampak memakai baju yang sangat rapih. Khusus di hari spesial ini, Arci telah mencarinya setelah beberaoa waktu. tak sulit mencarinya. Dia tinggal menghubungi pihak kedutaan Indonesia di inggris, lalu menjeout Singgih melalui orang suruhannya. Lalu membuay acara kejutan ini.


Sekarang Rahma mengerri apa yang dimaksud Arci, bahwa hari ini dia menikah dan Arci juga menikah. Dan dia paham sekarang yang dimaksudkan ia tak akan mendapatkan apa-apa, Singgih dengan kondisinya yang sekarang artinya Singgih tak akan bisa memberikan Rahma apa-apa.


"Hai..., apa kabar? tanya Rahma.


"Beginilah kabarku, kamu sangat cantik hari ini," kata Singgih, "Aku tak bisa menghubungimu, keadaanku seperri ini. Aku ingin pulang tapi aku tak bisa."


Rahma meneteskan air mata, ia tak kuasa melihat Singgih.


"Aku telah dimintai Arci, dia yang merancang semua ini. Dia bilang, kamu masih mencintaiku. Aku tidak percaya diri dengan keberadaanku seperti sekarang ini, aku merasa kamu lebih pantas menerima orang yang lebih baik dari pada aku, tapi...dia memaksa. katanya kalau kamu mencintaiku, maka kamu akan menerimaku apa adanya." Singgih tak kuasa menahan haru. "Kenalkan dia Catherine, dia yang menabrakku, dia merasa bersalah dan merawatku hingga sekarang."


Catherine tersenyum kepada Rahma. "So it wa you, Singgih told me everything about you, He ove you so much."


Rahma tak bisa bicara lagi, ia langsung memeluk Singgih. :Sudah cukup; sudah cukup...Aku sudah bilang jangan pergi! tapi kamu memaksa. tak usah disesali lagi."


"Maafkan aku," ucap Singgih.


Keduanya tenggelam dalam tangis, Catherine tak mampu lagi membendung kesedihannya, ia juga larut dalam tangis. So..ini happy ending? Yeah sepertinya. Tapi cerita belum berakhir. Kegelapan mulai mendekat kepada mereka semua, seperri senut yang merambat di atas batu hitam di kegelaoan nalam.


Bersambung DARKER THAN BLACK