
Arci sampai di rumah malam itu dengan banyak pikiran, selama perjalanan pulang ia teringat dengan berbagai hal dalam hidupnya yang sangat aneh. Seperri yang terjadi beberapa tahun setelah peristiwa ia menjual dirinya saat itu, Dia masuk ke bangku SMA bagi dirinya ada sebuah peristiwa yang tak pernah ia lupakan lagi. Yaitu ketika sang kakak tidak pulang selama tiga hari, kejadian ini terjadi beberapa waktu yang lalu.
Malam.itu hujan seperti biasa di bulan Desember saat menjelang akhir tahun, hujan turun lebih sering daripada bulan-bulan sebelumnya . Arci di rumah setelah menjalani hari yang berat mengikuti UTS, sekarang saatnya ia bisa di rumah beristirahat. Sementara itu di ponselnya chat di group teman-temannya bersahut-sahutan, satu pun tak dijawab. Hari ini rumah sepi , seperti biasa ibunya 'dinas', kakaknya entah sudah dua hari belum pulang. Kabar terakhir mengatakan, ia ada klien besar. setidaknya.bakal bawa uang banyak katanya.
Pintu tiba-tiba terbuka dan ibunya langsung membanting pintu, Arci segera keluar dari kamarnya.
"Kenapa?ada apa?" tanyanya.
"Breng**k; ada klien yang breng**k hari ini apes," jawab ibunya. Tak biasanya Lian datang dengan wajah seperti itu.
"Klien breng**k?"
"Iya, breng**k. Aku ditipu, katanya sudah transfer duitnya ke rekeningku, eh sudah diservis ternyata masih kosong rekeningnya. Untung belum cr*t? aku sempet lihat si rekeningku belum nambah. Dia cuman kasih SMS palsu transferan ke rekening temannya, breng**k, sebel!"
"Oh, begitu." Arci menghela nafas, bermaksud kembali ke kamarnya.
I LOVE YOU, HANDSOME
Keesokan paginya, sang ibu sudah bangun terlebih dahulu dan meninggalkan Arci sendirian di kamar. Arci terbangun setelah matahari terbit, ia merasa tak punya kerjaan di hari minggu ini apalagi UTS sudah selesai. Dia bangun kemudian keluat kamar.
"Hai mas " sapa Putri adiknya yang masih SD.
"Loh, mbak belum pulang?" tanya Arci.
Putri menggeleng setelah itu dia keluar rumah.
"mau kemana?" tanya ibunya.
"Dolin buk?" jawab putri yang setelah itu pergi meninggalkan rumah.
"Safira belum pulang bagaimana ini?" tanya ibunya.
"Lah, ibu koq tanya aku? emangnya katanya pergi ke mana?" tanya Arci.
"Entahlah, terakhir kali ibu terlibat diskusi hebat dengan dia "
"Dia pengen.berhenti, ibu sudah nasehati mana bisa? mau kerja apa? trus dia bilang yang penting dapet duit."
Perasaan Arci mulai tak enak, "koq, aku merasa nggak enak."
Arci mengambil pinselnya, kemudian menelepon Safira, baru saja hendak menelepon orang yang dibicarakan sudah masuk rumah dengan terhuyung-huyung, hampir saja Safira ambruk kalau tidak ditolong Arci.
"Heh, kamu kenapa?" tanya Arci.
"Nggak apa-apa, akhirnya aku dapat uang dengan cara halal, dan lihat!" Safira menyerahkan sebuah amplop coklat yang isinya cukup tebal.
"Nggak mungkin, dari mana kamu dapet uang segini banyak?" tanya Arci mengintrogasi.
"Aku jual ginjalku, ada yang membutuhkan," jawab Safira sambil tersenyum.
"GILA, wong edan!" Arci membentaknya. "Jual ginjal? sampean koq ya dadi edan mbak?" Lapooo?
"Fira! koq kamu ngelakuin ini??"
Safira hanya tersenyum, sungguh itu perjuanagn tak pernah bisa diterima akal, demi 70 juta Safira menjual ginjalnya. Arci tak habis pikir sampai sekarang, kenapa kakaknya melakukan itu semua. Sampai sekarang Safira kondisinya lemah, ia tak kuat untuk melakukan pekerjaan berart. Alhasol ia masih menekuni profesinya sebagai wanita panggilan, tapi Arci bersumpah dia akan jadi orang kaya dan tak akan mengijinkan ibu dan kakaknya mela**r lagi, tapi apakah ia bisa?
"Aku bersumpah aku akan berjuang hingga jadi orang berada agar kalian tidak mela**t lagi, aku akan sekolah hingga tinggi dan aku akan balas jasa kalian selama ini. Please mbak, jangan lagi jual organ, kamu tahu aku sangat mencintai kalian. Aku tak mau kehilangan mbak!" kata Arci sambil menangis.
"Deek, udah dong, ya...mbak janji mbak ga akan jual organ lagi," ujar Safira "mbak nggal pengen adik mbak nangis, wis cuup! arek lanang ora oleh nangis!" (sudah ya, anak laki ga boleh nangis).
"Tapi aku nangis gara-gara mbak."
Akhirnya Safira memelul Arci dan menenangkannya. "Shhh..udah, mbak janji, mbak janji, nggal boleh Arci nangis lagi, nggak.boleh!"
Selama ini siapa yang bisa berbuat baik kepada Arci, selain ibu dan kakaknya? Tak ada rasanya Arci sangat sayang kepada adiknya. Putri ini termasuk anak yang cerdas juga, Arci betekad sebagai kepala keluarga sekarang, ia harus bisa menopang seluruh kebutuhan keluarganya. Maka dari itulah ia harus bekerja keras kerja keras.
Di dalam kamarnya ia kemudian mengjidupkan laptopnya, pekerjaan kantornya yang sudah ia save diflashdisk sekarang mulai dikerjakan lagi. Arci tak tahu kalau besok akan ada kejutan baginya di kantor. Mungkin.bukan kejutan biasa, karena gosip kedekatan dia dengan sang boss telah menambah di dunia.maya tanpa ia sadari.
bersambung BUSY LIKE A BEE