
"Baguslah kalau begitu, kita tangkap mereka lalu kita tanya kepada Alfred mau diapain mereka." kata Kani. "Bergerak."
Anak buah kani yang jumlahnya belasan itu mulai mengepung rumah, Andini yang berada di dalam rumah sedang membaca-baca buku. Dia menemani Putri yang saat itu sedang belajar.
"Tadi ibu pergi ke pasar beli apa aja?" tanya Andini.
"Nggak tahu, pokoknya banyak banget belanjaanya." jawab Putri, "kenapa kak?"
"Perasaanku tak enak malam ini." jawab Andini.
Lian dari dapur membawa makanan kecil, kemudian ikut nimbrung, " Tak enak gimana Din?"
"Entahlah rasanya seperti ada sesuatu yang akan terjadi," jawab Andini.
"Kamu masih kangen sama Arci? Kita semua kangen," kata Lian.
"Bukan itu...?" Andini tersenyum, "Lainnya."
TOK! TOK! TOK!
Terdengar suara pintu diketuk, Andini dan Lian saling berpandangan.
"Siapa malam-malam begini?" gumam Lian, ia beranjak.
"Tunggu!" kata Andini, "Ibu sudah kunci pintu?"
"Sudah, ibu mau lihat dulu," kata Lian.
"Andini kau di dalam? keluarlah, ada yang ingin bertemu!" kata orang itu.
Lian dan Andini pun merinding
"Mereka tahu di mana kita!" kata Andini.
"Jangan-jangan mereka membuntutu ibu ketika belanja tadi." ujar Lian.
"Aduh, mana mama dan papa sedang pergi. Gimana ini?" tanya Andini.
Putri tampak ketakutan, Lian segera memeluknya dan mencoba menenangkan gadis kecil itu. Andini segera menyeret sofa dan meja.
"Ibu tolong bantu aku, kita tahan mereka agar tidak masuk." ujar Andini.
Lian pun segera membantu Andini menggeser meja untuk membuat blockade. Terdengar suara ribut-ribut dari dalam rumah membuat Kani yang saat itu sedang mengetuk pintu menjadi gusar, ia pun menendang pintu tersebut tapi seperti ada yang menghalangi. Andini dan Lian menahannya Kani menendang lagi lagi dan lagi.
"Breng**k! Lempari kaca jendelanya!" kata Kani
PRANG!
Bebatuan pun dilempar ke arah kaca jendela rumah itu, Putri menjerit histeris. Andini dan Lian harus berjuang sendiri sskarang, untunglah jendela mereka berteralis jadi bisa dipastikan tak ada orang yang bakal bisa masuk tapi hal itu juga membuat mereka tak bisa keluar.
"Pintu belakang!" seru Andini.
Lian dan Andini segera berlari ke dapur, di sana mereka juga berusaha menyeret meja makan untuk mengganjal pintu. Mereka benar-benar diterror dan puncaknya salah seorang anak buah Kani melempar bom molotov ke atap rumah.
"Kalau kamu tidak keluar, maka bersiaplah untuk terbakar!" kata Kani.
Api mulai membakar merembet ke mana-mana, Putri mulai menangis. Lian berusaha menenangkan anaknya itu, Andini berjalan ke arah sekring listrik rumah kemudian mematikannya seketika itu lampu padam semua. Andini bukan gadis yang bodoh, penakut ataupun lemah, Dia pintar, pemberani dan kuat.
Maka dari itulah Andini kemudian mondar-mandir mencari sesuatu, dan akhirnya dia pun menemukan sebuah linggis tapi linggis itu terlalu berat. Dan akhirnya dia menemukan sebuah pemukul kasur, sekalipun terbuat dari rotan tapu kalau untuk gebukin orang akan sangat terasa sakitnya.
"Kita harus bertahan, tak ada jalan lain." ujar Andini.
Lian pun ke dapur mengambil pisau, mereka benar-benar tak tahu harus apa kecuali satu hal yang ada di benak. Bertahan.
WROOOOOMMM! CKIIIITTT! BRAAAKK! DOR! DOR! DOR!
Terdengar suara yang heboh di luar sana, Andini dan Lian saling berpandangan. Saat itu Ghea menabrakan mobil Kani yang terparkir tak jauh dari tempat itu, melihat api yang tersulut dari dalam mobil membuat Arci mengambil kesimpulan bahwa di sanalah tempat Andini berada. Ghea segera melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh ke arah sumber api, ketika melihat banyak orang yang mengepung rumah sambil melempari bom.molotov Arci menyuruh Ghea menabrak sebuah mobil, lalu mereka berdua menembaki orang-orang Kani.
Kani dan anak buahnya yang diserang seperti itu tentu saja kaget, mereka segera berhamburan dan membalas. Terjadi tembak-menembak, beberapa anak buahnya tumbang karena keahlian Ghea dalam menembak tidak bisa diragukan lagi. Kani dan Arci saling menembak.
Mereka pun kemudian kehabisan amunisi, langsung saja keduanya saling menerjang dan bergelut. Mereka berguling-guling di tanah yang berumput, Arci dan Kani saling memukul, menangkis, menendang, menghindar dan mencoba menangkap tangan lawan. Gaya bertarung Arci benar-benar menggunakan segala kesempatan untuk menyerang dengan cara yang mematikan.
Kejutan mungkin bagi Arci karena mereka berdua memiliki gaya bertarung yang sama.
"Terkejut? kita sama-sama di ajari oleh keluarga Zenedine, kita punya gaya bertarung yang sama," kata Kani.
Kani memukul Arci. Arci menangkis, ia dengan cepat segera menyerang leher Kani tapi Kani mengetahui cara Arci menyerang maka dia menangkap tangan Arci. Sang Archer kemudian memakai kakinya untuk menendang betis Kani. Arci lalu menangkap tangan kanan Kani dan membantingnya, ia kemudian mencekik leher Kani. Kani mendorong Arci dengan kakinya.
Arci mengambil pisau yang terselip di pinggangnya, Kani juga mengambil pisau keduanya kini bertarung menggunakan pisau. Sementara itu Ghea berhasil melumpukan semua anak buah Kani, dia lalu memanggil Andini, "Andini, keluarlah! ada Arci di sini! kalian aman!".
Mendengar suara Ghea, sangat senang sekali. Ia akan keluar tapi api sudah membakar rumah bagian depannya, akhirnya mereka keluar melalui pintu belakang. Ghea melihat mereka keluar dari kobaran api, segera ia menolong Andini, Lian dan Putri. Ghea melihat wajah Andini ada rasa cemburu di dadanya ketika melihat Andini saat itu ia jadi tahu sekarang kalau dia sangat kalah oleh Andini karena Andini jauh lebih feminim.
Ghea kemudian menunjuk ke sebuah arah di mana Arci dan Kani sedang bertarung. Kani menyayatkan pisaunya ke lengan Arci, Arci pun membalasnya. mereka saling menyabetkan pisau kadang kena kadang tidak. Hingga kemudian sebuah kesempatan, Kani tidak melihat tempat ia berpijak sehingga terjatuh dengan segera Arci menubruknya dan menangkap tangan kanan Kani. Dipukul-pukulnya tangan itu hingga pisaunya terlepas, setelah itu Arci menghunuskan pisau itu ke dada Kani. Kani menahannya, ia berusaha agar Arci tidak menusukan pisau itu kedadanya. Tapi Arci menggigit tangan Kani, sang Assasin itu menjerit dan disaat ia merasakan sakit yang teramat sangat di saat itulah pisau Arci menembua dadanya tatapan mata Kani membelalak tak berkedip mulutnya menganga dan nafasnya terhenti. Arci bangkit dan melangkah meninggalkan tubuh Kani. disaat itulah Andini, Lian dan Putri berlari menghampirinya.
Arci langaung memeluk mereka, air mata Andini tak bisa dibendung lagi. Sementata itu Ghea memalingkan wajahnya ia tak kuat melihat pemandangan itu.
"Aku datang sayangku, aku datang." kata Arci
"Iya aku tahu kamu pasti datang, aku tahu." ujar Andini.
Malam yang mulai larut. Rumah tempat persembunyian mereka terbakar, Api makin membesar hal itu pun menjadi saksi bisu bagaimana sepasang kekasih akhirnya bisa bertemu kembali.
******
"Kamu bisa tinggal di sini," kata Rahma.
Rahma menerima rombongan Arci dan yang lainnya, usulan ke tempat Rahma sebenarnya dari Arci. Karena Andini dan yang lainnya sudah berpindah-pindah selama dua bulan ini, Rahma tahu apa yang terjadi dengan mereka semua. Maka dari itulah ia mau menolong mereka semua.
"Makasih ya ma?" kata Andini.
"Nggak apa-apa bu." jawab Rahma.
"Nggak usah panggil bu, kamu sudah bukan sekretarisku lagi." kata Andini.
"Arci?" sapa Singgih di kursi roda.
"Apa kabar?" tanya Arci sambil memeluk Singgih.
"Baik, makasih atas apa yang telah kamu lakukan. Mungkin sudah saatnya aku membalasnya." ujar Singgih.
"Aku tak tahu kalau kamu masih ingat aja ama nomorku." kata Rahma.
"hahahaha, siapa lagi kalau bukan kamu yang bisa aku mintai tolong, sekarang adik dan ibuku butuh istirahat kalau boleh ada kamar kosong?" tanya Arci.
"Tentu saja ada satu kamar kosong di sini, maaf ya cuma satu." jawab Rahma.
"Nggak apa-apa, yang penting ibu dan Putri bisa istirahat." ucap Arci.
"Trus kalian?" tanya Rahma.
Andini dan Arci saling berpandangan, "Kami gampang, Andini bisa tidur bersama ibu dan Putri. Aku di sofa saja nggak apa-apa."
"Kalau kamu nggak keberatan sih." kata Rahma.
"Aku biar nemenin suamiku aja deh." kata Andini, "Ibu dan Putri segera ke kamar aja istirahat, sebentar lagi subuh."
"Wah kalau gitu, aku ambilin kasur deh. ada satu kasur yang nggangur dan juga selimut." ujar rahma.
"Ya udah, ayo Put!" ajak Lian.
Mereka akhirnya istirahat di rumah Rahma, rumahnya sederhana. Setelah menikah Rahma tinggal pisah dengan orang tuanya, diberhentikan dari tempat kerjanya sebenarnya juga berat. Tapi Rahma cukup lega, karena ia sekarang bisa usaha sendiri dengan menjahit dan bekerja seadanya.
Ia cukup bahagia karena bersama Singgih, lelaki yang di cintainya. melihat keadaan Arci yang sekarang ia merasa ironis sekali, seseorang yang seharusnya mendapatkan kebahagiaan yaitu kekayaan dari ayahnya, malah sekarang harus berjibaku dengan maut.
Andini dengan telaten merawat Arci malam itu.
"Untung cuman tergorea aja," ucap Andini.
Arci membelai pipi istrinya, "Aku sangat merindukanmu,"
"Aku juga," jawab Andini, "Dibuka bajunya!"
Arci kemudian membuka kemejanya, Andini tampak terkejut melihat banyak bekas luka ditubuh suaminya. Ia pun mengusap bekas-bekas luka tersebut.
"Ini....oh sayangku apa yang terjadi denganmu? Kenapa semua bisa terjadi seperti ini?" tanya Andini.
"Ceritanya panjang...aku tahu siapa yang telah melakukan ini semua. Aku pun melihat Safira tewas di depan mataku dan luka-luka ini adalah ulah mereka, Sungguh aku merasa akan kehilangan kamu, aku tak mau kehilangan orang yang aku cintai lagi." kata Arci.
"Ceritakanlah kepadaku semuanya aku istrimu, aku akan lakukan apapun untukmu. Aku juga merasa kehilangan kamu...Sayangku..jangan pergi lagi ya?"
"Aku tak bisa janji."
"Kamu harus bisa!"
"Boleh aku minta satu ciuman? Karena aku belum menciumu semenjak terakhir kali kita bertemu."
"Kamu minta ribuan ciuman pun aku akan berikan."
Andini langsung mendaratkan bibirnya, Arci dan Andini pun berciuman hangat. Arci seolah-olah tak pernah merasakan ciuman seperti ini sebelumnya, semua perasaan cinta dan kerinduannya pun akhirnya tercurah di sini.
Mungkin hanya seseorang saja yang menangis dalam kesedihan malam itu, Ghea. Dia masih berada di mobil menenagkan dirinya sendiri.
"Cinta itu rasanya sakit..." jerit Ghea dalam hatinya.
Bersambung SERIBU KERINDUAN