
I LOVE YOU, HANDSOME
jam lima sore, waktunya pulang. Jalan raya mondokoro pada jam-jam pulang kantor seperti ini sangat padat, terlebih bagi mereka yang memakai kendaraan roda empat akan tua di jalan. Arci dengan sepeda motor Supra-X miliknya menyelip di sebelah kiri di antara mobil-mobil. Kemudian dia berhenti di pertigaan karang ploso ketika lampu telah berubah menjadi merah Arci pun menarik rem sehingga sepeda motornya berhenti. Pikirannya menerawang jauh. Ya menerawang jauh. Mumpung lampu merahnya di hitung 69 detik.
Bagaimna dia bisa terdampar di kota yang bernama.Malang ini? Sebuah kesempatan yang harus dia lakukan demi menghidupi keluarganya, setidaknya begitu. Ia harus ke kota ini untuk mencari pekerjaan tapu juga mencari tempat tinggal karena hidup dengan kondisi sekarang ini cukup susah.
Mungkin kebetulan, tapi ini adalah yang disebut takdir. tepat di samping Arci, Andini sedang duduk di kursi kemudi melirik ke arahnya. Ia terkejut karena berpapasan dengan si pemuda tampan itu. Andini tersenyum sambil menatap Arci. Entah sampai kapan ia akan merahasiakan tentang dirinya kepada Arci. Yang jelas ia sangat berhutang budi kepada si pemuda tampan yang usianya jauh lebih muda dari dirinya itu.
"Ia mendesah, seandainya Arci tahu tentang rasa ini," kata dia dalam hati.
Ah, seandainya dia tahu.
Cukup lama Andini menatap Arci. Hingga lampu lalu-lintas menjadi hijau dan kemudian Arci mulai melanjukan sepeda motornya. Andini hanya melihat aksi ngebut Arci hingga menghilang dari pandanganya.
"Dasar, tak berubah," ujarnya. Ya Arci suka naik sepeda motor dengan ngebut. Tak berubah sejak dulu.
Setelah berjibaku dengan macetnya jalan raya, akhirnya tibalah Andini di sebuah perumahan elit. Ya, sebuah perumahan elit. Dia termasuk keluarga berada. Ayahnya seorang diplomat, ibunya seorang pengacara ternama, semua kakanya sudah menikah dan sekarang dia tinggal sendirian di sebuah rumah megah seharga 10 milyar yang ia dapat dengan hasil kerja kerasnya sendiri. Ya, begitulah. Keadaan Andini ini sangat berbeda sekarang. Dia hampir mendapatkan semuanya, terkecuali seorang kekasih. Dia sebenarnya sudah putus asa selama ini. Dan hanya ingin memasrahkan semuanya pada yang kuasa. Hanya saja perjumpaanya dengam Arci hari ini membuat semangatnya itu kembali lagi. Sesuatu yang telah lama ia kubur akhirnya kembali lagi.
Mobilnya pun mulai masuk ke dalam setelah seorang ART yang usianya masih cukup muda membuka gerbangnya. Andini segera segera keluar dari mobil dan melihat sebuah mobil terpakir di halaman rumah, ia agak terkejut.
"Loh, mama ada sri?" tanya Andini.
"Iya, non. Tadi sore dateng" jawab sang ART.
Andini segera membawa map dan tas yang ada di dalam mobilnya kemudian menutup pintu mobil, ia segera masuk ke dalam rumahnya.
"Pulang Din?" sapa mamahnya. Mamahnya bernama Susianti seorang pengacara handal dan terkenal. Bukan rahasia lagi kalau klien-klien yang ditangani olehnya hampir semuanya memenangkan kasus. mamahnya tampak sedang duduk di sofa sambil menonton TV.
"Tumben mama ke sini," kata Andini. Dia langsung mencium tangan mamahnya, lalu duduk di samping mamahnya setelah meletakan map dan tasnya di meja.
"Kebetulan ada kasus yang ditangani di kota ini." jawab mamahnya.
"Hmm, kasus di kota ini?"
"Iya, salah seorang pengusaha terkena kasus tukar guling."
"Oh, kabar kakak bagimana?"
"Sekarang sedang nunggu hari lahiran. Kamu kapan nyusul?"
"Entahlah ma." Andini malas kalau harus membahas soal jodoh. Ia sering kali ditanyai oleh mamahnya tentang perjodohan. Tapi berkali-kali tawaran mamahnya tentang seorang lelaki ditolaknya.
"Kamu in,i koq masih jual mahal aja. Ingat usia mama ini udah gak muda lagi. Kamu juga."
"Mama udah ah, gak usah dibahas lagi. Dini masih menanti dia koq."
"Dia? Kamu masih ingat aja tentang dia. Sudahlah, dia sudah pergi."
"Nggak koq ma, dia nggak pergi jauh ternyata."
"Ha? Nggak pergi jauh?"
"Iya, dia ngelamar kerja di kantorku."
"Oh ya?"
Andini hanya mengangguk.
"Kali ini Dini yakin dia tak akan memaafkan Dini."
"Kenapa?"
"Mamah tahu sendiri alasanya."
"Sudahla, toh sekarang kamu sudah berubah bukan?"
"Moga maafin Dini ya mah?"
Susanti pun memeluk Andini. "Duuhh...anak mama."
"Adududuh ma. Jangan kenceng-kenceng!"
"Hehehe,..iya mamah lupa kalau kamu belum mandi. Mandi sana gih!" mamahnya melepaskan pelukan.
"Iya, ya." Andini segera beranjak dari tempatnya duduk dan mengambil map yang ditaruhnya tadi.
I LOVE YOU. HANDSOME.
Arci tiba di sebuah runah kontrakan. Belum sempat Arci masuk ke rumahnya , keluarlah seorang laki-laki asing dari rumahnya. Arci menatap lelaki itu dengan tatapan tidak suka. Dia langsung masuk ke dalam rumah.
"Bu, itu tadi apa?" Arci langsung menghardik ibunya sendiri.
"Ibu kerja." jawab ibunya singkat. Ia membenarkan br* yang barusan melorot. Dia juga melihat kakaknya membetulkan baju yang barusan terlepas ke mana-mana.
"Kak, bu! Ingat kita pindah ke kota ini untuk jadi orang bener. Menjauhi kehdupan kelam kita. Nggak seperti ini." suara Arcu langsung meninggi.
"Emangnya ibumu bisa apa? Nih, berkat kerjaan ini ibu dapet duit. Gimana kamu?" tanya sang ibu.
"Arci keterima kerja hari ini. Dan aku sekali lagi melarang kalian jual diri lagi. Cukup!"
"Sudahlah, berapa sih gajimu. Nggak akan cukup dek! Nih kita dapet dua juta habis bermain bersama tadi." jawab Safira kakak Arci.
"Mana Putri?" tanya Arci.
"Putri ke rumah temannya belajar kelompok." jawab ibunya.
"Jangan sampai Putri mengalami kejadian seperti aku. Kalau kalian jual adikku satu-satunya itu. Kalian nggak akan kumaafkan! Camkan itu!" kata Arci sambil menunjuk wajah kakak dan ibunya.
"Emangnya tahu berapa usiaku ketika menjualku? Aku masih tiga belas!" kata Arci.
"Udahalah, yang penting kita ada uang untuk tambahan. Lagipula yang punya kontrakan sudah nagih," kata sang ibu.
"Aku ingin kalian semua nggak ngelakuin itu lagi. Cari kerja yang halal, apa kek. Kemarin gimana kerja jadi salesnya?" tanya Arci ke Safira.
"Halah, Ci. Aku itu nggak bisa jualan. Yang ada cuman capek. Masih untung kemaren aku koco**n om-om di toilet agar mau beli produk yang aku jual!" kata Safira.
"Anjriiit! Rusaaaak, keluarga rusak. Kalau sampai terjadi sesuatu kepada kalian. Aku nggak akan tanggung jawab. kalau aku nggak menganggap kalian sebagai keluarga, aku sudah pergi dari rumah ini," kata Arci.
Pemuda tampan itu pun segera pergi meninggalkan mereka berdua masuk ke kamarnya. Ya, tentu saja. Arci adalah anak seorang pelacur. Ibunya bernama Lian. Seorang pel***r high class yang terlilit hutang sehingga pergi dari Jakarta ke Malang untuk menghindari dari debt collector. Bahkan saking disebut higj class bayaranya lebih dari lima juta sekali main. Arci sendiri anaknya siapa Lian nggak pernah tahu. Tapi dilihat dari perawakannya yang sedikit bule, Lian mengira salah satu kliennya yaitu seorang bule dari Republik Ceko yang pernah menyewa dia dulu yang membuahinya. Dia sudah lupa siapa nama bule itu. Yang jelas, itu kliennya yang sangat memuaskan. Dibayar mahal plus cu* insi*e.
Sebagai anak dari seorang pela**r, sebenarnya Arci juga gusar. Ia tak ingin dikatakan anak seorang pela**r terus-terusan. Maka dari itulah dia selalu menghindari ketika ditanya apa pekerjaan orang tuanya. Arci juga tak akan pernah lupa kejadian beberapa tahun lalu disaat ia pertama kali melepas perjak***ya. Bukan oleh orang lain, tapi oleh kakaknya sendiri dan itu disaksikan oleh sang ibu. Hanya karena satu hal. Dan ingatanya pun menerawang lagi peristiwa memilukan itu.
Arci yang berusia 13 tahun saat itu baru saja pulang dari sekolah. Saat itu dari rumah keluar beberapa orang bertampang garang. Karena ketakutan Arci segera masuk ke dalam rumah. Dia melihat kakak dan ibunya tampak.menangis.
"Kenapa, ada apa?" tanyanya. Mata abu-abu Arci yang menandakan dia bukan keturunan asli negara ini menatap tajam kepada kedua anggota keluarganya.
"Debt collector, biasa." jawab Lian.
"Ibu, kakak, sudah berapa kali Arci bilang. Jangan srmbarangan ngutang! Apalagi kepada renternir," kata Arci.
"Heh. kalau kita nggak ngutang bagaimana kita bisa bayarin sekolah kamu?"
"Ya sudah, aku nggak usah sekolah saja!" kata Arci.
"Mana bisa begitu?" Justru kamu adalah harapa kami Arci, kamu harus sekolah. Kakak sama ibu rela begini biar kalian bisa hidup, biar kamu dan adikmu bisa menyambung hidup," kata Safira.
"Emang berapa hutangnya?" tanya Arci ingin tahu.
"Ada seratus dua puluh juta " jawab sang ibu.
"Sera.. apa?? Kenapa kalian baru bilang? kenapa?"
"Kamu masih kecil Ci. kenala harus ikut urusan orang dewasa?" kata Lian.
"Ibu. ini serius. Daru mana kita bisa dapat uang sebanyak itu? Lagipula kenapa kalian bisa berhitang sebanyak itu?" tanya Arci.
"Lah? Mobil? Rumah ini semua ini dari mana?"
"Astaga, tak kusangka. Aku sebenarnya mau punya keluarga yang punya pekerjaan seperi ini. Aku malu!" kata Arci.
"Hadapi saja dek. ini kenyataannya." kata Safira.
"Nggak, nggak mungkin. Bagaimana kita bisa dapetin uang segedhe itu??"
Semuanya hening. Arci melemparkan topi SMPnya. Ia serasa ikut berpikir dengan keadaan keluarganya yang begini kacau. Ia padahal sudah. berusaha keras mati-matian belajar di sekolah, tapi ia makin pusing melihat kelakuan ibu dan kakaknya seperti ini.
"Dek, kamu mau nolongin kita nggak?" tanya Safira.
"Apaan?"
"Tapi kamu harus setuju cara kita."
"Caranya?"
"Ada tante-tante yang kepengen brond**g. siapa tahu kita nanti dibayat mahal."
"Brengsek! apaan itu?"
"Ayolah dek, ini cara yang paling wajar buat kita."
"Wajat buat kakak, nggak buat aku."
"Safira, itu cara yang konyol"! bentak Lian.
"nggak, aku nggak bakal mau melakukam itu. Gila apa?" kata Arci.
"Tapi ini demi kita dek, demi kita! Bagaimana kita bisa membayar hutang-hutang itu? Kamu tahu debt collector itu bisa mematahkan kaki dan tangan kita gara-gara tak membayar uang itu anak buah Darsono. Kamu tahu bukan siapa itu Darsono?"
Darsono adalah salah seorang pejabat. Dia memang suka bekerja menjadi renternir, pemalak, penjudi, mucikari dan banyak pekerjaan gelap lainnya. Ia bahkan bossnya mafia. Arci tak menyangka keluarga mereka terlibat dengan orang dari dunia hitam itu. Arci lalu menangis.
"Kenapa? kenapa hidup kita harus seperti ini?" Arci menutup wajahnya.
Melihat adiknya menangis Safira segera merangkulnya. "Husshhh..sshhh.. udah dek, maaf. Maafin kakak. kalau adek nggak mau kakak nggak bakal memaksa."
Lian yang melihat kedua anaknya itu jadi terenyuh. Walaupun ia tak tahu siapa bapak dari ketiga anaknya ini. Tapi didikannya untuk saling mengasihi tampaknya berhasil. Terbukti dari keadaan kedua anaknya ini.
TOK TOK TOK!
Lamunam masa lalu Arci langsung buyar ketika pintu kamar diketuk oleh seseorang.
"Ada apa?" tanya Arci dari dalam.
"Kamu mau titip sesuatu nggak?" kakak mau beli nasi goreng," kata Safira.
"Nggak, nggak usah, nggak laper," jawab Arci.
Setelah itu tak ada suara lagi.
Kembali.lagi Arci melamun, pikirannya menerawang kembali ke masa di mana dia pertama kali berciuman dengan Safira. Kakaknya sendiri. Hari itu ia diajari kakaknya berci**a.
Namun itu adalah siluet masa lalunya. Ia ingin mengubur itu dalam-dalam, satu kali cukup menjadi gi**lo. Dan cukuplah ia hanya melayani ibu dan kakaknya di saat mereka butuh. itu semata-mata karena ia sayang kepada keluarganya tidak lebih dari itu. Walaupun ini adalah dosa tapi biarlah dosa ini dia simpan tanpa boleh ada satupun yang tahu. BERSAMBUNG