I LOVE YOU, HANDSOME

I LOVE YOU, HANDSOME
MAN POWER



Sedikit kembali ke masa lalu, di.mana semuanya berawal. Lebih tepatnya sedikit mengulas tentang hidup Archer Zenedine, Dia bukanlah orang biasa , kisah cintanya sedikit pilu. Inilah awal dari semua petaka yang menimpa Arci.


Hari itu 27 tahun yang lalu di bulan Desember, akhir tahun yang terasa hambar bagi seorang Archer Zenedine dia tidak memiliki gairah hidup, bukan berarti dia adalah seorang pecandu obat terlarang, bukan?


Bahkan dia mengharamkan dirinya menyentuh narkotika, dia juga tidak merokok, dia adalah lelaki baik-baik yang tumbuh normal dalam didikan keluarga baik-baik.


Lian membuka pintu kafe, ia meletakan payung di tempat yang telah disediakan. Dia bosan, suntuk dan serasa otaknya ingin pecah, hari ini dia dapat klien sedikit breng**k. Tapi demi uang ia rela melakukan apapun sekalipun itu menjual dirinya. inilah perjumpaan awal dia dengan Archer Zenedine.


Archer muda saat itu baru saja lulus kuliah, dia tentu saja tak butuh pekerjaan. Masa depannya sudah cerah dengan menjadi satu-satunya pewaris yang bakalan menggantikan posisi ayahnya di PT. Evolus Produtama. Wajahnya khas wajah kaukasia, bermata biru, berambut sedikit pirang. Tentu saja di kafe itu dia menjadi perhatian karena satu-satunya bule yang mau duduk bersama orang pribumi.


Lian juga duduk sendiri, perbedaannya dengan Archer adalah Lian yang jadi perhatian karena tubuhnya yang memakai balutan baju s**y, tanktop warna putih, dengan celana pendek yang memperlihatkan kemulusan pahanya.


Lian melirik ke arah Archer, tapi bagi dia seorang bule seperti Archer lebih terlihat seperti orang baik-baik. Dia tak ingin mengganggu sang bule, namun dugaanya salah karena sang bule tertarik dengan dirinya.


Archer beranjak dari tempat duduknya dan mengambil tempat di depan Lian, dan mereka pun semeja.


"Hai, apa kabar?" sapa Archer.


Lian agak terkejut dengan fasihnya bahasa Indonesia sang pemuda bule yang ada di hadapannya ini, "Wow, baik. Aku kira kamu tak bisa bahasa Indonesia."


"Hahahah, aku sudah lama di Indonesia dan ayahku..menikah dengan orang pribumi. Kenalkan saya Archer Zenedine, dan kamu?"


"Lian..Lian Larasati." jawab Lian sambil menjabat tangan Archer.


"Sendirian saja?"


"Yah, begitulah. Kamu dati mana?"


"Dari rumah."


"Maksudku, kebangsaanmu?"


"Aku Ceko, tapi boleh dibilang aku sudah lama di negata ini."


"Waw keren, apa yang menyebabkan kamu betah?"


"Yah, bisa dibilang salah satunya karena ada wanita secantik dirimu."


Lian tertawa.


"Hei aku serius, wanita Indonesia cantik-cantik semua dan aku yakin kamu juga orangnya cantik."


"Bagaimana kalau misalnya orang yang cantik itu adalah pela**r?"


"Aku menilai oranv bukan dari profesinya, aku yakin setiap wanita memiliki sisi keindahan, bahkan sisi keindahan itu hanya bisa difahami oleh mereka yang benar-benar faham."


"Sudahlah jangan goda aku, kamu tidak tahu siapa aku."


"I don't care."


"Hhhh...Archer yang baik, tak perlu menggodaku."


"Maaf kalai aku menggodamu, hanya saja aku sangat yakin kalau aku hari ini bisa dapatkan nomor teleponmu dan kita malam ini bisa saling menelepon." kata Archer.


Lian tertawa, "Hahahah; smooth. baiklah rayuanmu masuk akal."


"Sendirian saja, jomblo berarti?"


"Bisa jomblo bisa tidak."


"Maksudnya?"


"Aku akan bilang siaoa aku kalau kamu mau mengajakku pergi dari tempat ini."


"Sure."


Archer segera menarik Lian pergi dari kafe itu setelah menaruh beberapa lembar uang 50.000 di meja, Lian tak menyangka cowok bule yang baru dikenalnya ini cukup nekat. Ia segera mengajak Lian ke tempat parkir untuk masuk ke mobilnya.


"So, mau ke mana kita?" tanya Archer.


"Terserah sih, tapi kalau bisa jangan malam-malam yah?" jawab Lian.


"Kenapa?"


"OK."


Akhirnya Archer mengajak Lian ke sebuah Private House, rumah itu sangat mewah, halamanya cukup luas dan rindang, bahkan pagarnya saja dibuka dengan menggunakan remote.


Selama.perjalanan Lian lebih banyak diam, baru kali ini dia diajak kencan seperri ini. setelah mobil berhenti di depan private house, Archer langsung mengajak Lian langsung masuk ke rumahnya.


"Ini adalah salah satu Private House milik keluargaku, anggap seperti di rumah sendiri." ujar Archer sambil menuju mini bar. Rumahnya sangat nyaman, sofanya lembut dan empuk agak jauh ke dalam ada jacuzzi dan di halaman samping terdapat kolam renang. Archer mengambil minuman "mau bir? wisky?"


"Aku nggak minum, aku pasti mabuk kalau minum walaupun sedikit." kata Lian.


"Ok, bagaimana kalau soda?"


"itu juga boleh."


Archer membuka kulkasnya lalu mengambil minuman bersoda, lalu menghampiri Lian yang masih berdiri mengagumi kemewahan rumah itu.


Archer menyerhakan minuman berkaleng soda itu kepada Lian, Archer ikut berdiri di samping Lian. mereka berdua lalu membuka penutup minuman kaleng tersebut kemudian langsung meneguk minuman itu.


Setelah itu agak lama mereka terdiam.


"Masih mengaggumi rumahku? nggak duduk?" tanya Archer.


"Sebentar Archer, aku tahu kamu baik. Tapi kamu tahu siapa aku bukan?" tanya Lian.


"Who cares?"


"Bukan begitu, aku ini bukan wanita baik-baik."


Archer tersenyum lalu dia mengambil camera pocketnya, kemduian memperlihatkan sesuatu kepada Lian. "Check this out."


Lian memegang camera pocket Archer, dia melihat beberapa foto. Di sana terlihat foto dirinya , dirinya? Ya dirinya sedang berada di pasar sedang bersama Safira yang masih kecil.


"Kamu??? Lian terkejut.


"Sebetulnya aku tahu siapa kamu, dan ketahuilah baru kali ini aku menyapamu. Aku tahu profesimu dan aku ingin kamu berhenti. Aku tak ingin kamu seperti ini." kata Archer. "Aku mencintaimu Lian, anggap saja love at the first sight."


"Oh my God." Lian menutup mulutnya. Archer mengambil mengambil camera pocketnya dari tangan Lian.


"sejak kapan kamu mengikutiku?"


"Sejak lama, kamu pasti heran. Ketika saat melakukan persalinan ada yang membiayaimu bukan? itu aku. Aku tertegun kepada cerita perawat di rumah sakit yang mana ada seorang wanita penghibur melahirkan bayi tapi tak mempunyai uang. Ketika aku melihat dirimu saat itulah aku langsung jatuh cinta kepadamu, tapi saat itu aku masih muda belum menjadi pemilik perusahaan, sekarang aku sudah siap."


"Jadi itu kau?"


Lian langsung memeluk Archer, ia tak menyangka bahwa Archer selama ini adalah malaikatnya. Dan Adegan berikutnya adalah Lian menyerahkan dirinya untuk Archer Zenedine.


Hari itu Archer dan Lian memadu kasih, Archer Zenedine merasa Lian adalah wanita yang dia cari selama ini. Mereka pun akhirnya berselimutkan asmara berbalut birahi.


Setelah perjumpaan terakhir itu, ada kedekatan antara Lian dan Archer. Siapa yang hendak menolak cowol seperti Archer, ganteng, blasteran, dan kaya. Siapapun pasti akan takluk kepadanya.


Hanya saja tidak bagi keluarga Zenedine, keluarga mereka lebih mementingkan kasta untuk orang yang masuk ke dalam keluarganya.


Namanya Arthur Zenedine seorang yang ambisius dia ayah Archer, dia boleh dibilang diktaktor dalam keluarganya. Tapi memang berkat kediktaktorannya PT. Evolus Produtama menjadi besar sebesar ambisinya, dan kini kandidat yang ia pilih untuk memimpin perusahaan adalah Archer Zenedine.


Arthur orangnya sangat strict, dia juga suka pada detail , selaim itu dia juga tidak suka kalau ada yang tidak sempurna baik pada dirinya, pekerjaanya maupun kepada putranya. Dia hanya memiliki satu putra sebagai pewaris tunggal, oleh karena itu ia berusaha mendidik putranya dengan sebaik-baiknya, menyekolahkan setinggi-tingginya hingga akhirnya ia siap memimpin perusahaan.


Sebenarnya ada kandidat lain, namanya Tommy Zenedine tapi dia langsung keluar dari kandidat manakala Archer ada dan bahkan siap untuk memimpin perusahaan, apalagi Tommy sama sekali tidak tertarik urusan bisnis textile.


Ia lebih tertarik dengan dengan hal Seni, musik dan berbagai macam yang berbau Indonesia. Tapi sekali pun begitu ia juga mempunyai bisnis batik yang ia kelola sendiri sampai diekspor ke luar negeri.


Pertentanganya dengan Arthur Zenedine juga yang mengakibatkan dia harus didepak dari kandidat sang pewaris.


Ada seorang lagi yang jadi kandidat, tapi jauh dari ekspektasi. Namanya Areline dia hanya menghabiskan hidupnya dengan berfoya-foya clubing dan dugem. Bukan sebagai pewaris yang baik, ia hanya akan menghabiskan uang keluarganya. Dia adalah sepupu Archer, walau memiliki wajah rupawan, pendidikannya juga sama seperti Archer tapi dia jauh dari ekspektasi seorang Arthur Zenedine.


Total hanya ada tiga kandidat, dan hanya ada satu yang terpilih, Arthur Zenedine benar-benar mempersiapkan semua hal agar anaknya menjadi pewaris tahta, dan ia pun yakin anakknya sanggup.


I LOVE YOU, HANDSOME.


Bersambung MAN POWER II