
"Dua minggu waktu yang cukup untuk melatihmu, dari perkiraanku kamu telah dilatih sebelumnya. Tapi aku hanya akan mengajarimu dua hal saja, karena kamu sudah berlatih Kravmaga hanya saja belum sempurna tapi dengan kemampuan dan kecerdasanmu kravmaga yang kau miliki akan menjadi sempurna seiring praktek secara langsung. Dimana kamu akan berhadapan langsung dengan orang banyak. hal yang akan aku ajarkan yang pertama cara menaklukan orang-orang, kedua cara menjadi seorang pemimpin.
Arci pun mulai belajar, tak ada yang mengetahui bagaimana cara Yuswo mengajar Arci, yang jelas tak terasa dua minggu pun berlalu dengan sangat cepat.
Tommy mulai mengumpulkan kekuatan, mereka benar-benar ingin agar Arci dan keluarganya binasa. Latihan Arci memang tidak biasa. di pagi hari sudah harus berada di pasar, berkerumun dengan orang banyak. Dia diperkenalkan oleh Yuswo sebagai penerusnya, dan semua orang harua patuh kepadanya. Dari sini Arci punya kekuasaan sekarang, hampir separuh dari kota Malang ini mengetahui siapa dia. Rumor pun tersebar, bergabungnya Arci dengan sang raja preman sampai terdengat ke telinga Kapten Basuki.
Ia menganggap ini kejutan, karena Arci tak pernah melakukan hal ini sebelumnya, dia pun berpesan kepada anak buahnya untuk tetap waspada karena sebentar lagi akan terjadi perang antara dua kekuatan.
Siangnya Arci berlatih, dia berlatih dengan latihan yang tidak biasa. Dia wajib mengangkat lengannya dan tak boleh diturunkan, dan dia harus masuk ke dalam sebuah barisan pedang kayu. Barisan pedang kayu itu harus ia lawan dengan apa pun dan jangan sampai ia terkena satu pun. Dan hasilnya adalah ia babak belur ketika barisan pedanv kayu yang digantung dengan menggunakan tali itu mengenainya, alhasil kepalanya benjol-benjol.
Malam harinya Arci diberikan arahan dari mana penghasilan raja preman dan bagaimana menarik simpati masyarakat. Selama tiga hari pertama Arci merasakan tubuhnya sakit semua, tapi hal itu ia tahan. Seminggu kemudian tubuhnya mulai terbiasa, dia mulai bisa beradaptasi dengan latihan yang diberikan oleh Yuswo. Bahkan ketika ia berlatih keroyokan pun sekarang ia sudah tak lagi babak belur. Kemajuan yang sangat pesat.
Sementara itu group Trunojoyo telah bergerak, mereka juga mengumpulkan preman-preman untuk bergabung dengan keluarga Zenedine. Bahkan mereka merekrut orang-orang baru, Kapten Basuki sebenarnya mencium adanya pergerakan aneh beberapa truk berisi parang, clurit dan senjata-senjata tajam maupun senjata lainnya dipasok ke sebuah tempat.
Beberapa amunisi dan senjata api dari perusahan senjata api nasional dicuri, hal ini semakin kuat mengindikasikan akan terjadi perang. Kapten Basuki secara sembunyi-sembunyi telah menempatkan anak buahnya ke sudut-sudut kota, mereka semua menyamar. Bahkan sebagian menjaga rumah Rahma yang sekarang ditinggali oleh Andini dan yang lainnya.
Anak buah Kapten Basuki bercerita, "Kapt, ada tiga kelompok yang mengawasi rumah itu. Kita, dan dua kelompok. Satu dari orangnya Tommy, dan satunya lagi dari orang-orangnya Yuswo."
"Tetap awasi, kita tak tahu apa yang akan terjadi nanti!" ujar Kapten Basuki.
"Anda yakin?"
"Yakin, kita tak boleh gegabah. Salah sedikit orang-orang yang tak bersalah bisa celaka."
"Siap kapt."
Tommy dan Agua pun akhirnya bertemu, mereka berada di gedung PT. EVOLUS. Keduanya mengumpulkan semua orang yang yang telah direkrutnya. Sudah hampir dimulai ternyata, dengan bersatunya Arci dengan sang raja preman, apalagi group Zenedine bergabubg dengan group Trunojoyo, maka ini semua mengindikasikan perang besar akan terjadi.
"Semua sudah siap?" tanya Tommy.
"Sudah." jawab salah satu anak buahnya.
Tommy menatap ke arah Baek, Tina dan Ungi. Baek sudah siap menerima perintah, Tina juga, dan Ungi. Anggota yang paling muda sibuk bercermin pada Katana yang ia bawa.
"Kalian semua, segera tangkap semua keluarga Arci, siapapun yang menghalangi bunuh. Jangan beri ampun, Baek, Tina kalian pergi. Ungi kamu tetap di sini!" ujar Tommy.
Cowok dengan rambut acak-acakan bernama Ungi tersebut hanya diam sambil senyum kecut, wajahnya menunjukan kebosanan yang amat sangat. Baek dan Tina kemudian menyingkir, semua orang pun mengikuti mereka berdua.
Tommy dan Agus tersenyum melihat semua anak buah mereka pergi keluar, mereka semua berpakaian necis, berkemeja putih, berdasi hitam, dan berjas hitam. Mereka membawa senjata apapun, parang, pisau, kapak, pemukul baseball, bahkan ada yang membawa senjata api.
Salah seorang informan polisi yang sedang berada di jalan, dengan menyamar sebagai penjual nasi goreng tampaknya terkejut. Karena mendapati banyak lautan manusia keluar dari PT. Evolus dan mereka semua membawa senjata, dia langsung menghubungi Kapten Basuki.
"Kapt, perang akan dimulai. mereka sudah bersiap!" kata informan tersebut.
Kapten basuki yang mendapatkan info tersebut segera beranjak dari tempat duduknya, dan kemudian mengumpulkan semua anak buahnya di halaman polres Malang yang jumlahnya ratusan.
Kapten Basuki mulai mengambil pengeras suara, "Kalian semua, saya ingin menyampaikan sesuatu. Malam ini akan terjadi perang besar antara mafia, mereka semua akan saling bunuh. Kita sebagai para penegak hukum wajib menghentikannya agar tak terjadi pertumpahan darah yang besar, mereka berbahaya, mereka adalah preman, pembunih dan kriminal. Saya juga tidak tahu, apakah tindakan persuasif dibutuhkan. Kita diperbolehkan menggunakan peluru tajam untuk melumpuhkan mereka yang berbuat nekat dan jangan lupa lindungi orang-orang yang tak bersalah. Kita harus menghentikan mereka semua sebelim terjadi bentrokan, Apa kalian semua mengerti?"
"Siap, mengerti! jawab semuanya serempak.
Yuswo pun mendapatkan laporan tentang bergeraknya orang-orang Zenedine dan Trunojoyo, maka dia pun menginstruksikan hal yang serupa. Karena ia tahu kemana mereka akan bergerak yaitu ketempat keluarga Arci.
Arci yang sudah menerima pelatihan terakhirnya sekarang sedang menunggu. Dua minggu lebih ia dilatih, plus latihan khusus yang tidak pernah diajarkan oleh siapapun.Dia sudah mengira akan adanya penyerbuan, maka dari itu Arci seharian ini beristirahat untuk mengumpulkan kekuatanya. Ia menghubungi Ghea agar waspada karena malam ini akan terjadi peperangan besar.
"Kamu sudah saatnya bergerak, mereka akan datang sebentar lagi." kata Yuswo.
Arci mengangguk, ia pun berdiri. mereka berada di teras depan rumah Yuswo.
"Anda tidak ikut?" tanya Arci.
"Hahahahaha, sam, sam, kenapa aku harus ikut? aku sudah tua energiku tak sekuat dulu ketika muda. Tapi itu ambilah pedang itu!" Yuswo menunjuk ke sebuah katana yang masih tertutup sarung pedangnya.
"Itu bukan Katana biasa, kamu pasti akan membutuhkannya. Kamu butuh persenjataan lain?"
"Mungkin."
"Mo! Darmo!" suara Yuswo meleingking.
Dari dalam rumah muncul seorang pembantu, "iya mbah?"
"Ambil Kotak Besar." ujarnya.
Darmo sang pembantu yang awalnya terkejut, tapi ketika melihat kesungguhan mata majikannya ia pun pergi ke dalam. tak berapa lama kemudian, dia menyeret sebuah kotak besar yang di gembok dan kotak tersebut sudah berada di samping Yuswo duduk. Yuswo pun memberi instruksi agar pembantunya membuka kotak besar tersebut.
Arci menelan ludah ketika melihat isi kotak besar tersebut, dia melihat segala jenis senjata tertumpuk di dalam kota besar tersebut.
"Semua senjata dan amunisinya ada di kotak itu, ambil sepuasnya." ujar Yuswo, "ingat yah, aku hanya bisa membantumu sampai di sini. Semua anak buahku sudah siap menunggu instruksimu, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan."
Arci mengambil dua buah pistol yang cukup kokoh, pistol yang dia ambil adalah Desert Eagel 50 AE Snakeskin atau di singkat DE50DS berikut dengan amunisinya serta dia mengambil beberapa senjata tajam dan beberapa granat. Arci lalu mengambil Katana yang di tunjuk oleh Yuswo.
"Ingat, gunakan sebaik-baiknya," kata Yuswo.
"Iya, aku akan mengginakan dengan sebaik-baiknya." kata Arci
"Aku sudah memberitahukan kepada semua orang yang ada di luar gang sana, hari ini kai adalah Raja Preman. Pimpin pasukanku dengan bijak, karena setelah ini aku tidak akan memimpinnya lagi tapi kaulah yang memimpinnya."
Arci menjabat tangan Yuswo, tidak hanya itu ia juga mencium tanganya sebagai bentuk hormat kepada orang tua sekaligus gurunya. Setelah itu Arci pergi.
"Mbah tidak apa-apa membiarkan dia?" tanya Darmo. "Perang ini sudah tercium oleh pihak kepolisian kan? pasti akan banyak korban."
"Kamu nggak.bakal paham, dia sudah bosan hidup. Aku tak melihat pancaran kehidupan di matanya, dia sudah ingin mati dan orang yang ingin mati bakal sulit dikalahkan. Di dalam dirinya hanya ada dendam, kamu sendiri lihat dia berani korbankan apapun demi hari ini. Ah dasar kun**k!"
"Kenapa mbah?"
"Dia ngambil senjata kesukaanku."
"Maksud mbah? yang mana?"
"Desert Eagel itu satu-satunya senjata resmi yang aku beli, senjata yang dikagumi para pecinta senjata laras pendek, pistol itu juaranya. ah Pers**an nasi sudah menjadi bubur."
Arci berjalan menyusuri gang di daerah rumah Yuswo, kakinya melangkah mantap. Ia tahu hari ini akan menjadi penentuan dimana ia akan menagih darah yang telah ditumpahkan oleh Tommy Zenedine dan Agus Trunojoyo. Arci melihat di depan gang, orang-orang berpakaian preman tampak sudah menunggu. Mereka jumlahnya ribuan dan tentu saja mereka menyambut sang raja preman yang baru.
"Kalian siap?" tanya Arci.
"Ya bos, kami siap!" seru semuanya.
"Hari ini mungkin kita akan mati. jadi kalau ada yang takut mati silahkan pergi! Kalau ada yang ingin lari dari perang nanti, aku tidak akan mengampuninya. Hari ini kita serbu PT. Evolus!"
Semua orang bergerak, Arci melangkah maju dengan menenteng pistolnya. Dia yang memimpin ribuan pasukan preman ini. jalanan malam itu menjadi mencekam. Para polisi sudah bersiaga di lokasi dimana kedua kekuatan akan bertemu, mereka menerjunkan kendaraan-kensaraan taktis dan dengan cekatan memasang kawat berduri. Malam itu Malang menkadi mencekam, melebihi suasana kerusuhan mei 98.
Kabar tentang akan adanya peperangan ini tampaknya membuat jalanan protokol sepi, mereka sangat ketakutan bahkan beberapa arus lalu lintas di belokan agar tak terlibat. Polisi mulai bersiaga saat pasukan gabungan dari Zenedine dan Trunojoyo terlihat. Begitu pula ketika pasukan yang dipimpin oleh Arci terlihat. Mereka sudah bersiaga.
Di tengah jalan yang akan dilalui Arci Kapten Basuki tampak berdiri di sana, dia berkacak pinggang tak ada penjaga, apalagi dia tak membawa senjata apapun. Arci terus berjalan menghampirinya hingga berhenti di depannya.
"Arci, kau tak perlu melakukan ini. Kau tahu, kalau kau melakukan ini kau bisa dihukum berat." ujar Kapten Basuki, "ayolah, kamu orang baik aku yakin itu, sudahi balas dendam ini. Kembalilah ke keluargamu!"
Arci menatap mata Kapten Basuki tanpa berkedip, "Kapten, jaga keluargaku!" hanya itu yang disampaikan oleh Arci. dia melwati Kapten Basuki begitu saja. Kemudian orang-orang yang ada di belakangnya juga melewati polisi itu.
"Breng**k!" umpat sang polisi itu, segera ia berlari ke arah lain dan menuju ke.mobilnya. Dia menginstruksikan anak buahnya untuk berjaga melakui radio, "cegah mereka, mereka akan bertemu di jalan A. Yani di flyover cegah mereka. Tembakan apa saja, cepet!"
Bwrsambung RIOT AND CHAOS.