
Setelah acara pesta makan-makan malam itu, Arci segera pulang karena ibunya ingin bercerita tentang sesuatu. Tentang siapa jati diri ayahnya, sebenarnya menurut Arci sendiri hal ini tentunya membuat dirinya lebih senang, tapi ada sesuatu yang entah kenapa dia lebih takut daripada sebelumnya.
Ibaratnya dia lebih takut mengetahui siapa dirinya sekarang, baginya tabir misteri itu lebih baik tetap tidak dibuka daripada dia mengetahui dan busa mengubah semuanya, Ia takut akan hal itu.
Setelah melihat Andini pergi Arci pun ikut pergi, dia lumayan ngebut di atas aspal sama seperti sebelum-sebelumnya. Ia ngebut tapi masih dalam batas wajar, dalam artian tetap mematuhi rambu lalu lintas. Tak berapa lama kemudian dia sudah sampai di rumah.
Sesampainya di rumah dia sudah melihat ibunya duduk di ruang tamu sambil menyalakan rokok, di meja tampak sebuah buku album tergeletak di sana.
"Butuh waktu untuk ibu menyimpan ini semua." kata Lian sambil menunjuk ke album yang ada di hadapannya.
Arci yang tahu apa maksudnya langsung mengambil album itu dan membuka-buka isinya, ada wajah seseorang di sana. Wajah seorang lelaki yang sangat asing. tapi dari sekilas ada kemiripan wajah itu dengan dirinya, terutama bagian mata dan rambutnya.
"Ini..?" gumam Arci.
"Dulu setelah dua tahun usia Safira lahir ibu ibu sempat bertobat, tidak mau lagi menekuni dunia seperti ini. Dan ibu kenal dengan seorang yang cukup tampan, dia berwibawa, pokoknya tidak ada yang bisa menyamai dirinya. Dia adalah klien terakhir ibu saat itu, tipsnya juga besar entah kenapa waktu itu ibu curhat kepadanya soal rumah tangga. Prinsip ibu adalah tak mau curhat kepada pelanggan, karena hal itu bisa menimbulkan ikatan batin yang tidak seharusnya, alhasil terjadilah."
"Namanya Archer Zenedine, seorang berkebangsaan Ceko yang sudah lama.menetap di negara ini. kamu tak.bakal menyangka seperti apa kekayaanya, selama menjalin hubungan dengan dirinya ibu pernah ke luar. negeri beberapa kali, bahkan dia melamar ibumu ketika mengajak ibu ke Moskow. Hanya saja keluarganya tidak setuju, ibu diintimidasi. Dia juga, bahkan keluarganya mengurung dia agar tidak keluar rumah , sampai kemudian kabarnya ia dipaksa untuk menikah dengan wanita pilihan keluarganya.
Tapi ibu sudah hamil dan melahirkan kamu, ibu tak tahu lagi kabarnya . Intimidasi keluarganyalah yang menyebabkan kita seperti ini. Tinggal berpindah-pindah, kehidupan yang tidak menentu bahakan memaksa ibu untuk menekuni profesi lama. Mereka jugalah yang menkasa kakakmu untuk mela**r dan iya ibu dendam kepada mereka kasihan ayahmu. Dia sangat mencintai ibu tapi tak dapat berbuat banyak."
"Dia sslalu mengirimkan surat kepada ibu, disaat-saat terakhirnya setelah ayahnya meninggal, dia mewarisi semua hartanya. Namun nasib juga sepertinya tak membuat dia beruntung, ayahmu mengidap penyakit jantung, sehingga tak lama kemudian dia menyusul ayahnya."
"Tapi dia mengembangkan perusahaan miliknya, hingga sangat besar. dia juga berhasil mengontak ibu lagi. Hanya saja itu sudah terlambat, dia telah menulis sebuah surat wasiat yang akan dibaca pada tanggal 31 mei."
"Di dalamnya ada namamu, ibu sengaja merahasiakannya darimu, ini semua karena ibu tak ingin kamu berbuat nekat dengan menemui keluarga ayahmu. ibu tahu watakmu yang bertindak berdasarkan hatimu, ibu tak ingij kamu kenapa-napa maka dari itulah ibu simpan sampai ibu rasa kamu sudah siap mendengarnya."
Arci terus membolak-balikan album kenangan yang berisi foto ibu dan ayahnya, dan ketika sampai di halaman terakhir terdapat sebuah amplop.
"Bukalah itu, seharusnya kamu baca ketika usiamu tujuh belas tahun. Tapi ibu tak memberikannya kepadamu karena ibu talut kamu belum siap, tapi sekarang kamu harus membacanya itu pesan terakhir ayahmu!" kata Lian. Arci menatap ke ibunya sejenak lalu dia pun membuka amplop tersebut, ada beberapa lembar surat, Arci mulai membacanya.
Anakku Arczre,
Aku tak tahu sampai kapan aku akan berjuang melawan penyakitku ini, tapi sebelum terlambat aku ingin menyapamu dulu. Aoa kabarmu? kamu sekarang sudah remaja, kamu sudah mulai mengenal cinta. papa rahu karena papa dulu pernah muda.
Maafkan papa, papa sangat ingin sekali bisa menggendongmu dirimu, waktu kamu masih bayi dulu. papa sangat ingin sekali memeluk dan menciummu tapi sampai sekarang papa tidak bisa berbuat apa-apa.
Maafkan papamu, tapi dalam setiap mimpi, dalam setiap tarikan nafas kamu adalah putraku satu-satunya. satu nama yang selalu membuatku bersemangat untuk tetap hidup. Andai keadaan kita tidak seperti ini tentu aku akan lebih menyayangimu lagi nak. sayang kita tidak bisa saling melihat, tidak bisa saling menyapa.
Anakku
Maafkanlah ibumu, dia selama ini pasti sangat lelah menjagamu. Mungkin ada kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya, tapi itu semua karena dia sangat menyayangimu. Tolong jangan marah pada ibumu, marahlah pada papamu yang tidak bisa berbuat banyak, bahkan ketika semua kekayaan ini ada ditangan tapi tetap aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Anakku.
Aku sebenarnya ingin marah, tapi tak tahu harus marah keoada siapa? Aku marah karena aku tak berdaya, tak busa berbuat apa-apa padahal aku sangat ingin bisa melihatmu.
Dalam.beberapa tahun ini papa berusaha mencarimu hingga akhirnya bisa menghubungi ibumu lagi, sungguh itu suatu hal yang sangat menyenangkan, tapi sayang kondisi papamu mulai drop, bahkan sekarang makanan yang dulunya enak serasa hambar di mulut.
Hanya makanan halus yang boleh masuk dalam perut, tiap hari papa hanya memandang dari tempat tidur, berbaring terkadang sambil menulis beberapa paragraf untuk dikirim kepada ibumu. Baru kali ini papamu berani menuliskan wasiat ini padamu, sebut saja wasiat, sebut saja salam perpisahan. karena hidup papa tidak lama lagi.
Anakku
Aku sungguh sangat menyayangimu, aku juga sungguh merindukanmu. aku berpesan padamu jadilah anak yang baik. Jagalah ibu dan kakamu, dan kalau kau sudah berumur dua puluh lima tahun papa ada sedikit kejutan untukmu, kuharap kamu sudah siap pada saat itu. Tapi untuk itu kamu harus sekolah yang tinggi, ambil semua ilmu yang ada pebaiki masa depanmu, kamu adalah pewaris PT. Evolus Produtama. Semuanya adalah milikmu dan satu-satunya manusia di planet ini yang berhak mendapatkannya,.
Sementara itu sebelum usiamu genap 25 tahun, papa menyerahkan perusahaan ini pada orang yang paling papa percaya. Datanglah ke PT. Evolus Produtama saat pembacaan wasiat, tapi kalau kamu berhalangan tak masalah karena pengacaraku sudah mempersiapkan semuanya.
Pesan papa berhati-hatilah, papa sengaja merahasiakanmu dari senua orang. Hanya beberapa orang saja yang tahu mengenai dirimu, bahkan namamu pun memang sengaja papa berikan bukan nama Zenedine agar tidak ada orang yang tahu bahwa kamu adalah anakku. Ada orang yang sangat ingin kamu tiada, papa dan ibumu berusaha melindungimu selama ini, jadilah anak yang kuat.
Ini adalah kenang-kenangan dari papamu, tak seberapa tapi kalian memang berhak untuk mendapatkannya. Ini sebagai balasan karena papa tak bisa menjagamu selama ini, kamu mau kan maafin papa?
Anakku...selamat tinggal, jaga ibu dan kakakmu.
ttd
Archer Zenedine.
Mata Arci basah dia meletakan surat itu, di belakang surat itu ada sebuah foto. Foto seorang lelaki yang banyak sekali alat-alat menempel di tubuhnya, wajahnya kurus kering, itu adalah wajah Archer Zenedine di saat-saat terakhirnya.
Arci menoleh ke arah ibunya, ibunya sudah tak bisa membendung kesedihannya, Arci tahu sekarang kebapa ibunya tak memberi tahu siapa ayahnya sampai sekarang, dia hanya tak percaya kalau dia adalah pewaris perusahaan di tempat dia bekerja sekarang ini.
Safira muncul dari kamarnya, dia ternyata sejak dari tadi sudah melihat senuanya. Dia lalu memeluk adiknya, mungkin kisah ini seperti kisah Si bebek buruk rupa. Memang dilihat oleh semua orang dia seperti orang tak berguna , tapi ternyata dia lebih dari dugaan semua orang. Arci pewaris sebuah kerajaan dan satu-satunya orang yang berhak atas PT. Evolus.
I LOVE YOU, HANDSOME.
Arci terbangun. Hari sudah pagi. Dia kaget mendapati Safira sudah ada di sampingnya, dia baru ingat kalau tadi malam Safira memeluknya sampai dia tertidur. Arci menyunggingkan senyum. agaknya dia akan terbiasa melihat Safira selalu ada di kamarnya tiap hari, dia tadi malam.mencharger ponselnya dan kini dia menyalakan ponselnya kembali dan langsung ada satu notifikasi masuk.
[WA from Rahma Savithri]
Ci cepet telepon aku, penting, gawat!.
Arci mengerutkan dahi, "Apaan nih?" ia segera menghubungi Rahma, seketika itu langsung ada suara wanita "Nomor yang anda hubungi tidak aktif atau berada diluar jangkauan kamu."
"Aneh...?" gumam Arcj.
Arci merasa tak ada yang aneh pagi itu, mungkin Rahma ada suatu masalah kerjaan di kantor, nanti di kantor juga bakalan tahu pikirnya.
I LOVE YOU, HANDSOME.
Aku di mana? gumam Rahma.
Dia merasa sangat pusing, dia baru menyadari kalau tubuhnya terikat. kaki dan tanganya terikat dengan tali yang sangat kuat, sementara mulutnya tertutup lakban tapi sudaj terlepas.
Disadari olehnya dia seperti berada di sebuah gudang, ada barang-barang seperti sepeda, meja, kursi dan beberapa besi yang tertumpuk di dekatnya. Sementara dirinya ada di atas ranjang dengan kasur yang bau, ranjang iti adalah ranjang tua sehingga bila dia bergerak maka suara berderit akan terdengar. Satu-satunya penerangan ada lampu pijar ukuran 10 watt yang berada di atasnya. Rahma berusaha menggeser tubuhnya, ternyata tali itu hanya melilit tangan dan kakinya saja.
"Oh tidak, tidak aku harus pulang, aku harus memberi tahu Arci, aku harus memberi tahu ** Dini."
Rahma berguling-guling, hingga akhirnya ia jatuh dari ranjang. ia terjatuh bahu kanannya terlebih dahulu karena dia terikat ke belakang. Rsanya sakit bukan main, Rahma berusaha untuk berdiri tapi dengan susah payah. Dia berusaha mengingat-ingat orang yang berusaha membekapnya, semakin dia mengingat-ingat semakin kepalanya pusing.
Dengan penuh perjuangan dia akhirnya bisa bangkit, tapi karena kaki dan tangannya terikat dia pun melompat-lompag seperti kanguru.
"Toloooong?" teriak Rahma, "Toloooing?"
Tiba-tiba timbul pikiran waras dalam otak Rahma, bisa jadi komplotan yang menyekapnya ada di sana maka dia pun berfikir lagi, dia harus keluar tapi bagaimana caranya, lalu siapa orang yang melakukan ini semua?.
Tiba-tiba di saat seperti ini ia teringat kembali kepada Singgih, apa yang bisa dilakukannya sekarang? Andai Singgih berada di tempaf ini apakah dia bisa menolongnya?.
Di kantor, Arci tak mendapati Rahma di mejanya.
Andini langsung menyeletuk mengagetkan Arci dan bertanya "Nggak lihat Rahma?".
Arci menggeleng.
"Kemana ya? nggak biasanya? gumam Andini, "Coba deh hubungi rumahnya! ada berkas yang harus aku periksa soalnya."
"Baik bu," jawab Arci.
"Oh iya, karena Rahma nggak ada, kamu jadi asistenku untuk sementara yah?"
"Koq aku bu?"
"Apa kamu berkeberatan?"
"Ehhmm..nggak sih."
"Habis ini ke ruanganku!" kata Andini, ia kemudian melangkah ke ruangannya.
Arci hanya menghela nafas, padahal kerjaanya masih menumpuk. ia kemudian mencari-cari nomor Rahma di data arsip karyawan, setelah mendapatkan nomornya lalu ia segera menelepon nomor tersebut.
"Halo? ini rumah Rahma? Rahmanya ada Pak?"
"..."
"Ini saya Arci teman sekantornya, koq dia nggak masuk ya hari ini?"
"..."
"Hah? belum pulang? loh?"
"..."
"Saya nggak tahu juga."
"..."
"Baiklah kalau begitu, terima kasih."
Arci menutup teleponnya, dia bergumam. "Aneh, Rahma belum pulang dari kemarin, ada apa ini?"
"Ada apa Pak.Manajer?" tanya Yusuf yang baru saja tiba.
"Rahma nggak masuk dan katanya belum pulang dari kemarij." jawab Arci.
"Loh?? koq aneh?" Yusuf menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Sepertinya ada yang nggak beres nih, oke deh nanti aku coba lacak ponselnya."kata Arci. "Soalnya kemarin dia chat aku suruh telepon balik, katanya penting. Sayang kemarin ponselku ngedrop jadi pas dia nelepon ke aq pasti nggak bisa."
"Wah wah wah, oke deh. Aku juga khawatir nih ama dia." kata Yusuf.
Arci segera masuk ke ruangan Andini dengan mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Masuk!" jawab Andini yang bersamaan dengan itu Arci masuk dan menutup kembali.
"Din, Rahma nggak pulang dari kemarin." kata Arci.
"Hah, koq bisa?"
Arci mengangkat bahu, "Dan..dia ngirim chat aneh ini ke aku kemarin."
Arci menyodorkan ponselnya untuk menunjukan chat dari Rahma. Andini mengerutkan dahinya.
"Ponselnya sudah dihubungi? tanya Andini.
"Nggak bisa, mati padahal dia sering online? aku coba lacak terakhir kali dia ada di mana." kata Arci
"Oke deh, hati-hati perasaanku jadi nggak enak. Oh iya besok ada rapat dewan direksi selama tiga hari di villa Songgoritti, aku ingin kamu ikut." ujar Andini.
"Aku?"
"Iya, nginap di sana."
"Trus Rahma?"
"Ini penting. Menyangkut hajat hidup orang banyak satu perusahaan."
Arci kembali teringat sesuatu, bukankah dua hari lagi tanggal 31 mei?
"Rapat ini akan menentukan kemana arah perusahaan kita, kamu pokoknya harus hadir. Ada sesuatu yang ingin aku omongin juga penting buat kamu." kata Andini.
"Penting buat aku?"
"Iya penting, tidak saja buat kamu tapi juga seluruh perusahaan. Di rapat nanti akan ditentukan siapa oranv yang kelak yang akan memimpin perusahaan ini. Jadi kuharap kamu hadir."
Melihat tatapan mata Andini, Arci pun bergidik dia hanya bisa menelan ludah. Bagaimana Rahma? sesuai prosedur 2x24 jam tak ada kabar maka berarti memang Rahma telah diculik.
bersambung RUNAWAY