
Agak aneh kalau sampai ada tamu sedangkan dia sendiri belum.mengumumkan di mana alamat Rumahnya yang baru. Arci segera menuju ke pintu, ia melintasi ruang tamu kemudian mengintip dari lubang pintu. Dia melihat seorang wanita paruh baya, cukup cantik dengan baju warna hitam dan rambutnya berombak, seorang wanita yang tak dikenal sekarang sedang berada diluar pintu rumahnya. Kalau saja Arci tidak mengingat dokumen yang baru saja ia baca, maka ia pasti tak akan menghiraukan wanita itu. Ya dia adalah Amanda Zenedine.
Dibukalah pintu, wajah sumringah seorang Amanda terlihat.
"Arci apa kabar? Aku dengar cerita kalau kamu sekarang mendapatkan semua yang ayahmu punya. boleh aku masuk?" tanya Amanda.
Kenyataanya ia adalah istdi sah ayahnya tak bisa ditepis, ia sedikit ragu ketika mengucap kata "silakan" kepadanya. Wanita itu pun masuk Lian yang juga penasaran siapa tamu yang datang agaknya terlihat sedikit terkejut melihat Amanda.
"Apa kabat Lian?" sapa Amanda.
"Baik, bagaimana kamu?" tanya Lian.
"Seperti biasa kesepian." jawabnya.
Amanda lalu berjalan masuk ke ruang tamu, kemudian dia duduk di sofa. Lian dan Arci menemaninya.
"Maaf, kedatanganku mengagetkan kalian." Amanda menghela nafas "mungkin kamu kaget ketika pertama kali bertemu dengan kami disambut dengan sambutan yang tidak pantas," Amanda melihat Arci.
"Ya, aku shock." ujar Arci.
"Aku dan Archer tidak pernah merasakan pernikahan yang sesungguhnya. Berada di dalam keluarga ini rasanya seperti neraka. Aku sangat terkejut ketika mendapatkan kabar bahwa Arci muncul, kalau ada Arci berarti ada Lian, kamu yakin ingin masuk ke dalam keluarga ini." tanya Amanda.
Arci menggeleng, "Aku tak yakin, aku juga tak tahu apakah ini pilihan yang benar atau tidak."
"Aku akan membantumu." kata Amanda.
"membantuku?"
"Ya, apapun yang kamu perlukan, aku akan membantumu Kalau kamu sudah melihat pesan ayahmu, maka aku adalah satu-safunya orang yang bisa kamu percaya sekarang ini." jelas Amnda "Tapi itu juga terserah kepadamu, apakah kamu ingin berjuang sendiri ataukah membutuhkan bantuanku. Aku tahu tak ada yang dipercaya di keluarga ini, tapi aku berani bilang kalai aku adalah satu-satunya harapanmu di keluarga ini."
Arci tak yakin, ia menoleh kepada ibunya Lian hanya menghela nafas. Ia jugabtak tahu apa yang harus dilakukan, mungkin saja kehadiran Amanda bisa membantunya, mungkin juga tidak.
I LOVE YOU, HANDSOME.
Pieter berjalan-jalan d jalani ijen saat car free day, dengan baju training lengan panjang ia teihat santai sambil sesekali menggerak-gerakan tubuhnya. Walau usianya sudah lanjut ia masih energik. Ghea tampak tampak mengawasi dari jauh sambil terus berjalan di belakangnya, rambutnya yang kemerahan dengan mata hijaunya membuat banyak lelaki yang melirik ke arahnya. Mereka tak tahu saja kalau di pinggang gadis berdarah Ceko itu terselip pistol yang siap ditembakan kapan saja, serta beberapa pisau tajam yang siap memotong apapun.
"Ghea, kenapa jauh-jauh? kemarilah!" kata Pieter.
Ghea segera mendekat, dia berjalam di sisi ayahnya sekarang.
"Aku ingin menugaskan kamu untuk mengawasi Arci, kedatangannya di keluarga ini memang mengejutkan tapi.. cobalah mengawasi gerak-geriknya. Kalau ada yang mencurigakan segera lapor kepadaku!"
"Kenapa tidak dihabisi saja dia?"
"Jangan begitu, di dalam tubuhnya mengalir darah Zenedine. Hanya para penghianat yang wajib dihabisi, selama dia tidak berkhianat kita tidak boleh gegabah. Dekati saja dia, korek keterangan tentang dirinya dan jangan berbuat yang jauh. Aku tak mau ia tahu kalau sedang diawasi."
"Baik ayah."
"Satu lagi, cari orang yang menerima bocoran desain dari Yuswan. Kalau ketemu habisi dia, aku tak ingin kita dianggap remeh oleh PT. Denim."
"Baik ayah."
Pieter melanjutkan acara olah raganya, sementara Ghea sudah berbalik meninggalkan ayahnya sendirian.
I LOVE YOU. HANDSOME.
"Aku tak suka dengan orang itu, siapa dia seenaknya masuk ke keluarga kita."
"Aku juga demikian, tapi keputusan itu tidak bisa dimentahkan oleh siapapun."
"Aku tahu wasiat Archer tak bisa diubah tak bisa dibatalkan, tapi apa bisa dia menggunakan warisan ayahnya dengan bijak?"
"Daripada itu, kita lebih baik menjaga diri. Sebab Yuswan telah mati tepat dihadapan kita. aku tak mau kita juga ikut seperti Yuswan, beruntung dia tidak sempat memberitahukan siapa rekannya. Pieter pun meperingatkan kita senua, itu adalah balasan bagi para penghianat. Tentunya kepalamu tak mau berlubang bukan?"
"Ya, kita harus lebih berhati-hati lain kali."
"Tapi kita cukup beruntung, gadis itu hanya memberitahukan tentang Yuswan. Artinya dia tak melihatku."
"Perlu kita bereskan dia?"
"Tidak, misi kita lain. Hancurkan PT. Evolus. kita harus buat PT. Evolus terpuruk dengan begitu anak Archer tak akan dapat dipercaya oleh keluarga mereka dan kita bisa menguasai PT. Evolus dengan membelinya."
"Baiklah."
"Tapi ingat, harus tanpa ketahuan."
"Iya tentu saja."
"Sebentar ada telepon masuk...ya? hallo?"
"..."
"Teruskan, pengiriman harus selesai malam ini ya, tentu saja ke Vietnam."
"..."
"Aoa katamu!?"
"..."
"Ok, aku akan urus sisanya."
"Ada apa?"
"Presiden direkturmu yang baru membuat langkah yang berbahaya bagi kita."
"Hah."
"Sebaiknya aku ceritakan sambil jalan. ayo?"
I LOVE YOU, HANDSOME.
Arci memeriksa pembuatan produk dan dia pun membongkar beberapa baju yang sudah dipack di sebuah box kayu yang sudah siao diekspor.
Arci kemudian merobek salah satu baju, dan dia tercengang mendapati sesuatu di sana. Sebuah bubuk putih berada di lipatan-lipatan jahitan, kecurigaan ayahnya terbukti. Ada sesuatu di perusahaan ini, jadi ada narkoba yang di selundupkan pada produk-produk yang di ekspor.
Saat itu beberapa pekerja tampak menundukan wajah.
"Apa ini?" tanya Arci, "siapa yang bertanggung jawab terhadap hal ini!?"
"OK!, kalau tak ada yang bilang kepadaku siapa yang bertanggung jawab atas ini semua, maka aku akan memecat kalian semua." ancam Arci.
"Maaf pak, semua ini sudah lama." jawab salah seorang karyawan.
"Sudah lama?"
"Iya, sudah lama. Anda mungkin baru tahu. itu bisa dimaklumi, sudah jadi rahsia perusahaan ini khusus untuk produk ekspor yang dipack, diisi serbuk itu. Dan ini semua inisiatif dari mendiang Arthur dia yang merancang sistem ini, pengepakan ini, semuanya."
"Apakah ayahku tahu tentang hal ini?"
Karyawan itu menggeleng.
"Baiklah, aku ingin semua barang-barang ekspor ini di keluarkan. setelah itu rusak semuanya, serbuk-serbuk itu segera disiram air. Musnahkan semuanya, kalau ada yang bertanya ini ulah siapa, jawab saja aku!"
Arci kemudian meninggalkan bagian pengepakan barang setelah barang-barang ekspor dimusnahkan, Arci segera menuju ke ruangannya. Sudah seminggu ini ia menjabat presdir, sungguh sebuah perjalan hidup yang aneh. Dalam waktu singkat ia sudah melejit ke atas. Dia menuju ke ruangan Andini.
Arci melewati Yusuf, ia sapa pemuda itu, lalu Rahma. Rahma langsung berdiri dan Arci menyuruhnya duduk, Pintu ruangan Andini di buka dan Andini agak kaget melihat Arci.
"Ci? Eh, maaf Pak Presdir?" sapa Andini, ia langsung berdiri menyambut Arci.
"Panggil aku sesukamu, nggak apa-apa koq." jawab Arci.
"Yah, kita bertukar posisi sekarang," kata Andini.
"Tidak, tidak, kamu masih bosku." kata Arci.
"Nggak bisa begitu dong!"
Andini meletakan kedua telapak tangannya di pundak Arci.
"Hei, ingat ini kantor?" kata Arci.
"Bodo amat," Andini kemudian melanjutkan dengan ciuman.
"Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan kepadamu!" kata Arci sambil membelai rambut Andini yang halus dan lurus.
"Apa itu sayang?"
"Kamu tahu produk ekspor kita? aku tadi meneriksanya, ada garam murahan di dalamnya."
"Garam murahan?"
"Kokain."
"Hah apaa??"
Arci menghela nafas, "kalau dari raut wajahmu yang heran itu, artinya kamu baru tahu. Aku tak tahu bagaimana tapi barang itu ada di sana, aku sudah menyuruh para karyawan untuk memusnahkan semua produk yang di ekspor yang mengandung kokain."
"Jelas aku tak tahu, tak pernah tahu." ujar Andini sambil keheranan.
"Ada yang tidak beres dengan perusahaan ini, aku akan coba memeriksa ke mana barang-barang ekspor itu dikirim." kata Arci.
"Aku akan meminga Yusuf untuk memeriksanya!"
Andini segera beringsut ke luar dari ruangannya, Arci mengikutinya. Lagi-lagi Rahma keheranan melihat Arci dan Andini jalan bersama, ia semakin yakin kalau kedua atasanya ini punya hubungan khusus. Yusuf sedikit kaget! ketika Andini dan Rahma ada di samping tempat ia duduk.
"Yusuf, bisa minta tolong? aku ingin tahu semua data barang kita yang diekspor kemana tujuannya dan diantarkan menggunakan apa?" tanyanya.
"Sertakan juga kapasitas boxnya, produknya apa saja?"
"Baik bu, sebentar." kata Yusuf.
Dengan cekatan ia memeriksa database, Yusuf cukup terampil. Terima Kasih kepada Arci yang telah membuatkan program khusus sehingga orang awam dsngan sangat mudah bisa mengoperasikannya.
"Oke, kita sudah dapatkan. Kita mengekspor ke Amerika, inggris, perancis, venezuela, kolombia, malaysia, thailand, mexico dan italy." kata Yusuf
"Mana yabg ekspornya paling kecil?" tanya Arci
"Kolombia dan mexico."
"Drug kartel, kedua negara itu terkenal dengan kartel narkoba. Alasan inikah yang menyebabkan sampai diekspor ke sana?" gumam Arci.
"Ini ada apa ya?" tanya Yusuf.
"Berapa laba yang dihasilkan?" tanya Andini.
"Hmm, tak begitu banyak. konsisten tiap tahun." jawab Yusuf.
"itu dia, laba yang konstan. Biasanya perusahaan berusaha untuk meningkatkan laba, tapi kenapa perusahaan ini seolah-olah mendiamkan begitu saja laba konstan? apalagi begitu kecil?" tanya Arci "Kamu tahu siapa yang bertanggung jawab atas ekspor ini?"
"Aku tahu, namanya Jatmiko. Dia bagian Ekspor." jawab Andini.
"Kita segera menemuinya," kata Arci
"Rahma, tolong telepon bagian ekspor. Sambungkan dengan Jatmiko?" perintah Andini.
Rahma segera mengangkat gagang telepon. lalu menekan kode bagian ekspor. cukup lama menunggu respon, lalu ia menggeleng.
"Aneh, tak ada yang mengangkat," kata Rahma.
Arci punya firasat buruk, segera ia pergi meninggalkan Yusuf , Rahma dan Andini. Andini bringsut mengikutinya.
"Ada apa?" tanya Andini.
"Bagian ekspor ada di gedung sebelah bukan?" tanya Arci.
"Iya," jawab Andini.
Arci dan Andini segera bergegas ke gedung sebelah, beberapa staf dan karyawan yang melihat mereka tampak keheranan. Dan tak lama kemudian sampailah mereka di ruangan manajer distribusi dan ekspor, begitu masuk ia langsung berbalik menahan Andini agar tidak masuk.
"Sebaiknya kita tidak usah masuk." kata Arci
"Kenapa? ada apa? tanya Andini.
"Aku takit hanya akan mendapatkan mayat Jatmiko." jawab Arci.
Bersambung Tapi Aku Cinta