I LOVE YOU, HANDSOME

I LOVE YOU, HANDSOME
IT'S (NOT) A DATE



Arci sudah berada di kamarnya sore ini. Besok hari sabtu dan minggu kantornya libur, tapi besok juga adalah hari yang nggak ingin ia hadapi. Sebuah janji yang terpaksa diiyakan olehnya telah ia sanggupi. Arci tak habis pikir kenapa ia sampaik mengiyakan. Tidak sebenarnya ia tidak mengiyakan hanya tidak menjawab. Kamarnya yang berukuran 3×3 meter ini serasa sempit untuk bisa membuat dia berpikir. Udara malang cukup dingin malam ini, bahkan dengan jendela tertutup pun masih terasa dinginnya.


Sejujurnya ia tak pernah cerita kepada ibu dan kakaknya tentang kejadian di hotel itu. Yang jelas, mereka tahu bahwa Arci bisa menghasilkan uang, itu saja. Dan selama ini Arci bekerja mati-matian untuk mereka agar agar mereka tidak mela**r lagi. Uang kontrakannya pun baru dibayar separuh, sisanya menyusul. Arci yakin gajinya nanti bisa untuk menutupi hutang-hutang ibu dan kakaknya. Dan Arci melarang kalau sampai mereka membayar hutang-hutang itu dengan tubuh mereka.


Pemuda ini kemudian memejamkan mata, ia tak mau memikirkan dulu hal itu, apa yang akan terjadi nanti ia ingin menjalani hidup. Biarkan seperti aliran air yang mengalir.


I LOVE YOU, HANDSOME


Matos Malang Town Square, sebuah mall yang megah di malang, mungkin termegah pertama kali waktu itu setelah Sarinah. Kali ini malang di jejali dengan mall-mall yang tak hanya satu-dua, tapi banyak mall-mall yang berdiri. Letak Matos cukup strategis, selain di sebelah pemukiman elite, Matos juga dikerubuti oleh kampus dan lembaga pendidikan lainnya, tak heran anak muda banyak yang mampir ke sini. Di sebelah utara terdapat makam.pahlawan, di sebelahnua juga baru ada sebuah mall yang lebih megah, namanya MX mall. Walaupun mall itu megah, tapi masih sedikit tenant-tenant yang ada di sini. Tapi yang menarik adalah ada sebuah tenant yang sudah di sewa oleh Apple hanya saja kapan digunakan masih tidak ada kabar sampai sekarang.


Arci dan sepeda motornya itu adalah sebuah pemandangan yang tidak pas, sebenarnya mengganggu . Orang secakep itu naik sepeda motor bebek? apa kata dunia. Tapi itulah yang terjadi, hidup memang keras. Mungkin dengan kerasnya itulah akan muncul suatu rahmat yang entah dari mana. Arci sudah sampai duluan, setelah masuk dan menerima tiket parkir. Andini duduk di food court menunggunya, food court terdapat di lantai dua satu lantai dengan play ground dan cineplex 21. Beberapa tenant juga memenuhi tempat ini, seperti toko boneka, batik dan time zone yang letaknya tepat persis di sebelah teather.


Selama.perjalanan ia terus saling kirim chat ke atasannya itu. Begitu sampai di food court Arci menyapu pandangannya, dia pun melihat Andini sedang duduk sendirian sambil fokus ke ponselnya. Dia begitu spesial, karena sekalipun dia duduk di meja, tapi tak ada orang yang mau mendekat, padahal wanita secantik itu bisa duduk dengan gaun berwarna biru yang menampakan kulit halusnya. Kali ini Arci menelan ludah.


"Cantik banget ya bossku ini," gumam Arci.


Andini mendongak dan melihat-lihat ke semua arah, begitu pandangan mereka bertemu. Arci segera melambaikan tangan, Andinu tersenyum. Semua mata lelaki melihat ke arah Andini mereka berandai-andai, kalau bisa jadi kursi yang di duduki oleh Andini. Andini kembali tersenyum, hal itu seolah-olah seperti ada cupid yang memanah langsung ke arah Arci.


"Oh tidak, Jangan. ini tak mungkin;" ujar Arci dalam hati. "Jaim**t koq aku deg-degan gini."


Andini kemudian berdiri, Arci bisa melihat beberapa orang yang kepalanya ikut naik ketika Andini berdiri. Beberapa di antara mereka geleng-geleng saja, Andini memakai gaun panjang warna biru. Sepatunya High heels merk, dia menenteng sebuah tas kecil hal itu membuat dia semakin terlihat anggun. Kontras dengan Arci berpakaian kaos berkerah hitam, celana jeans dan memakai sandal.


Andini menghampirinya, "Jadi, kamu telat lima.menit,"


"Ayolah, di parkiran tadi ngantri," Arci beralasan.


"No excuse, kamu telat. harusnya datang lebih awal,"


"Iya deh bu, iya,"


"Jangan panggil ibu kalau di luar kantor, panggil Dini saja!"


"Ok, Din. Eh nggak enak manggil Dini,"


"Kenapa?"


"Mirip suara klakson."


Andini ketawa, Arci lagi-lagi mengumpat dalam hati. Buset dah ini bossnya ketawanya bisa bikin hatinya rontok. Arci jadi nyengir.


"Nama lengkapku Andini Maharani, terserah deh mau panggil apa,"


"Oke, Din. Dini aja, biar selalu ingat kamu kalau aku nekan klakson," jawab Arci hal itu membuat Andini tertawa.


"Udah ah perutku sakit nanti kalau ketawa terus sama lelucon kamu," ujar Andini sambil megang perutnya.


"Trus, jadi nih?"


"Nggak usah pake boso resmi lapo? biasa wae. Niatnya kan emang uklam-uklam," Andini.mulai berjalan berdampingan dengan Arci.


(boso-bahasa, uklam-uklam mlaku-mlaku/jalan-jalan)


"Habis itu nakam oskab? tapi aku yang traktir kal."i ini kata Arci. (nakam oskab \= makan bakso)


"Yuks,"


Tidak ada yang tahu bagaimna Arci bisa sedekat itu dengan Andini, dalam hati Andini sangat senang sekali bisa bersama dengan Arci. Andai Arci tahu siapa dirinya apakah bisa seperti ini nantinya? Tapi itu semua tak bisa dipungkiri kalau Andini mulai menyukai Arci bukan saja sekarang tapi sejak dulu. Dan perjumpaan dengan Arci ini bukan yang pertama, takdirlah yang akhirnya mempertemukan mereka lagi.


Mereka pun akhirnya melangka ke teather setelah membeli tiket masuk dan beberapa cemilan, mereka pun akhirnya masuk ke dalam studio. Untungnya mereka.masih kedapatan kursi di deretan D; bisa jadi karena terbawa suasana akhirnya Andini pun merangkul lengan Arci bahkan ketika mereka sudah duduk kepala Andini disandarkan ke bahu pemuda ini. Arci sendiri bingung bagaimana menolak Andini yang sudah sedekat ini dengan dirinya. Akhirnya tal ada yang bisa ia lakukan, ya tak ada yang bisa ia lakukan.


Film pun diputar. Selama pemutaran film itu, kedua insan itu menilmatinya. Tertawa ketika pada adegan film yang lucu, dan tegang saat ada adegan laganya. Arci agak canggung tapi kecanggungannya hilang begitu saja semuanya mengalir begitu saja, saat Arci menoleh ke arah Andini adegan di layar memperlihatkan bagaimana dua insan berciuman, saat itu seperti ditarik oleh magnet. Arci dan Andini pun telah beriuman, keduanya saling mengecup. Arci bisa menghirup wangi parfume Andini yang sangat harum, bibirnya yang lembut itu bagai marshmallow. Kalau biasanya ia hanya melihat, sekarang Arci bisa merasakannya.


"Din, rasanya ini terlalu cepat," bisik Arci.


"Tak ada yang terlalu cepat, semuanya memang seperti ini." bisik Andini.


"Maaf, aku tak bisa melakukannya," kata Arci mulai menjauhkan wajahnya.


Tangan Andini memegang pipi Arci, dan mengarahkan wajahnya agar menatap ke Andini, "Katakan kamu mencintaiku."


"Aku..," mulut Arci seperti tercekat, ia takut untuk meneruskan hubungan ini. Ia sangat takut. "Aku tak bisa Din, bukan berarti aki tidak suka. Kamu cantik, anggun semua pria pasti menginginkanmu, tapi... aku tak pantas buatmu,"


"Arci...," panggil Andini dengan nada manja "Tak apa-apa, aku akan menerimanya."


"Tidak, kamu tidak tahu siapa aku. maaf," aku harus pergi kita tidak boleh seperti ini," kata Arci. Dia berdiri, lalu pergi dari tempat dia duduk.


Andini beranjak, ia mengikutinya. Dengan terpaksa sekali mereka harus keluar padahal film belum usai, Arci berjalan pelan di depan, sepatu hak Andini terdengar setiap kali Arci melangkah. Arci menghentikan langkahnya lalu berbalik meilhat Andini. Tubuh semampai, cantik, memakai gaun biru. Siapa yang bakal menolak jalan dengannya? Andini tidak menampakan ekspresinya, hal itu makin membuat Arci bersalah.


"Maafkan aku," kata Arci.


"Tak apa, mungkin memang aku seperti wanita gatel menurut mu," Andini menghela nafas.


"Bukan, bukan begitu. Jujur aku akui, kamu.menarik, kamu cantik siapa pun pasti terpesona kepada mu. Tapi aku tak mau seperti ini, kuharap kamu bisa maklum,"


"Kamu gay?"


"Aku normal."


"Kenapa kamu tidak mau?" aku benar-benar ingin kita bisa jalan,"


"Din, ada sesuatu yang aku tak ingin kamu mengetahuinya. Kumohon dua bulan lagi hari ulang tahunku, dan aku harus kerja keras sampai sampai waktu itu."


"Ada sesiatu kah?"


"Iya ada sesuatu;"


"Apa ada wanita lain?"


"Ya, aku sudah janji kepadanya,"


"Oh, katanya kamu tidak punya cewek,"


"Iya, aku memang tidak punya cewek tapi aku sudah janji kepadanya untuk menikahinya di usiaku 25 tahun nanti. Dab aku punya banyak hutang kepadanya,"


"Tapi, Arci..." Andini ingin memberi tahu siapa dirinya, tapi Arci memotongnya.


"Kumohon beri aku waktu sampai saat itu tiba, aku tak ingin mengecewakanmu. Tapi ini terlalu cepat dan aku tak bisa. Aku... ya aku akui aku suka sama kamu, aku sangat bersyukur punya bos seperti dirimu. Tapi kuharap kita tak terlalu cepat."


Andini menghela nafas "Baiklah, tapi bukam berarti kita tidak bisa bersahabat bukan?"


Arci tersenyum, "tentu saja."


"Yeah, friends;" Arci mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Andini. Sebenarnya ingin sekali Arci merengkuh Andini tapi cukuplah mereka berciuman hari ini jangan lebih dari itu.


"Jadi nakam oskab?" tanya Andini.


"Aku traktir,"


"Siapa takut."


Mereka pun jalan bersama untuk mencari bakso terenak di kota malang. Ya kota yang sangat terkenal dengan dengan kuliner baksonya, mulai dari bakso biasa, bakso bakar bahkan bakso berbagai isi ada di sini. Cara penyajiannya pun beragam, hal ini membuat kota malang memang terkenal dijuluki kota bakso.


I LOVE YOU, HANDSOME


Sementara itu sebenarnya di dalam bioskop tadi. Rahma, Nita dan Sonia melihat Arci dan Andini, mereka terkejut ketika mendapati dua orang itu. Bisa ketawa-ketiwi sambil beli tiket, mereka berriga benar-benar kalah dalam hal pakaian. Pakaian Rahma, Nita dan Sonia cukup casual berbeda jauh dengan Andini yang memakai gaun menawan, seluruh mata lelaki tertuju ke Andini daripada ke mereka bertiga rasanya membandingkan antara putri raja dengan dayang2nya.


"Eh, ternyata beneran Bu Dini sama Arci nonton bareng, waduuuhhh....remuk deh hatiku." kata Rahma.


"Eh, eh, mereka koq bisa gandengan seperti itu? Nggak boleh, nggak boleh ini pelanggaran namanya. Gimana bisa woi, kalian jadian aja belum koq sudah pegang-pegang," bisik Nita.


"Kalau kamu ngomong sebaiknya di depan mereka saja!" kata Sonia sewot.


Ketiga gadis ini melihat dua orang itu dari jauh, mereka tak berani untuk mendekati atau sekedar menyapa. Tapi bagi mereka, ini adalah peristiwa langka. Orang seperti Andini yang selama ini tak mau dekat cowok, bisa sedekat itu dengan Arci. Mana Arci juga cowok paling tampan di kantor, rasanya dunia serasa .au kiamat. Ketiga gadis ini seolah-olah tak ada lagi kesempatan buat mereka untuk menang.


Ketika pintu teather dibuka mereka pun masuk agak akhir setelah Andini dan Arci masuk, ketiga gadis itu masih menjaga jarak agar tak ketahuan dan surprise mereka duduk di barisan atas Andini dan Arci.


"Gilak, koq ya pas ya duduknya di bawah kita," bisik Rahma.


"Apa menurut mu mereka berdua sudah jadian?" tanya Nita.


Rahma dan Sonia mengangkat bahu mereka.


Selama.menonton film mereka juga sibuk menonton kedekatan Andini dan Arci.


"Eh, eh itu kepala, kepala, kepala," bisik Sonia.


"Kenapa?" tanya Rahma.


"Kepalanya mereka koq nempel?" kata Sonia.


Saat itu Andini dan Arci sedang berciuman, dan benar seperti dugaan mereka bertiga. Arci dan Andini berciuman saat itu, tak berapa lama kemudian Arci beranjak meninggalkan Andini, Andini kemudian menyusul. Rahma pun berinisiatif menyusul mereka sambil sambil menjaga jarak, Nita dan Sonia awalnya berpandangan tapi akhirnya mengikuti Rahma.


Ya mereka bertiga mendengarkan semua percakapan Andini dan Arci, itu artinya Rahma dan kawan-kawannya masih punya kesempatan untuk mendekati Arci.


"Syukurlah, mereka nggak jadian," kata Rahma setelah mendengarkan percakapan mereka berdua di lorong pintu EXIT teather.


"Iya, nggak jadian tapi bikin penasaran. Janji Arci itu kepada siapa?" gumam Nita.


"Ada sesuatu nih, kita selidiki yuk?" ajak Sonia.


"Eh, apa baik nyelidiki seperti itu? takutnya itu urusan pribadi Arci, nggak baik kita bongkar-bongkar," kata Rahma.


"Yee, aku bukannya bongkar hanya penasaran aja. Pasti ada sesuatu pada diri anak baru itu, pesonanya memang luar biasa tapi ada yang aneh aja sih," lanjut Sonia.


"Oke deh, setuju," kata Nita.


"Girls, yang bener aja!" Rahma tak setuju.


"Ayolah non, kalau misalnya Arci itu orang baik-baik kita nggak bakal rugi kan suka sama orang baik? tapi kalau orang yang jahat baru deh silahkan kita kasih tahu ke Bu Dini," kata Sonia.


"Koq gitu?" tanya Rahma.


"Hello, Bu Dini atasan kita dia juga wanita, masa kita nggak ngasih tahu hal itu kalau memang itu baik buat Bu Dini. Kalau misalnya Arci bukan pemuda baik-baik yang rugi bukan cuman Bu Dini, kita-kita juga." lanjut Sonia.


"Ah kamu bener, nggak ada salahnya juga kita selidiki siapa itu Arci." kata Nita.


Rahma.menghela nafas, ia tampaknya tak bisa mencegah teman-temannya ini. "Terserah kalian deh."


"Nah, gitu dong. Oke kita gerak yuks!"


"Aku balik ah mau nonton lagi," kata Rahma. sedikit mendongkol karena cowok idamannya akan di stalking oleh kedua sahabatnya.


"Ayolah nooon, jangan sewot begitu," Sonia kepengen membujuk Rahma, Nita pun mengikuti.


I LOVE YOU, HANDSOME


Di sebelah MX Mall ada sebuah pujasera, dikenal dengan pujasera UB. di sini banyak warung-warung yang menawarkan berbagai macam kuliner. Saat itu Andini dan Arci menikmati makan bakso salah satu warung ini, mereka mengobrol banyak hal . Tapi seperti biasa Arci menutup diri ia tetap tak ingin membuka tabir tentang dirinya, Andini tak ingin memaksa Arci ia tahu beban yang dibawa oleh Arci sangat berat.


Setelah kenyang makan bakso, Andini berniat pulang. Arci pun mengantarkan sampai ke tempat parkir mobil, adalah hal bodoh kalau membiarkan wanita secantik ini jalan sendirian menuju parkiran yang sepi. Sebagai seorang gentelmen Arci tak sebodoh itu membiarkan wanita seperti Andini pergi sendirian.


"Baiklah, hari ini sangat menyenangkan," kata Andini saat mereka akan berpisah.


"Sorry atas ciuman tak terduga tadi," kata Arci


"Halah, nggak usah dipikirin. anggap aja bonus,"


"Bonus, bonus yang kane ilakes," (enak sekali)


Andini memukul bahu Arci, Arci tertawa.


"Kamu tak perlu tertutup pada ku, katanya aku sahabatmu?"


"Yeah, aku belum siap. Aku tak.mau ketika aku ceritakan siapa diriku kamu akan berempati kepadaku, aku tak mau. Aku cowok., aku kuat, Aku bisa menghadapi segalanya, sekalipun aku seorang diri,"


"Jangan sok kuat terkadang kamu butuh seseorang untuk menumpahkannya,"


"Sekarang aku masih sangguo "


Andini tersenyum "Ok, met malam. sampai ketemu senin?"


"Iya, samapi ketemu Senin. Have a sweet dream."


"You too."


Andini menvhirup nafas dalam-dalam, setelah menghela nafas kemudian ia beranjak meninggalkan Arci. Arci hanya bisa melihat Andini masuk ke mobilnya, kemudian ia melambaikan tangan pada wanita itu. Setelah mobil Andini pergi ia hanya bisa mengumpat dirinya sendiri.


"Fuuuuu***k, apa itu tadi? katanya "Kenapa aku jadi suka sama dia. Bu Susiati, Iskha janjiku kepada kalian..... apakah harus aku ingkari?"


Arci kemudian berjalan menuju ke parkiran motor, malam itu ia pulang dengan perasaan galau. Galau yang tak terkira.


bersambung part CATATAN MASA LALU