I LOVE YOU, HANDSOME

I LOVE YOU, HANDSOME
INHERITANCE II



Setelah seharian mengikuti meeting, akhirnya rapat hari itu sukses. Esok hari akan ada pembacaan wasiat dari Archer Zenedine. Seluruh pimpinan direksi dan hampir semua keluarga Zenedine akan hadir, sebagian sudah tau isi wasiat itu, sebagian tidak tahu.Beberapa keluarga Zenedine tahu tapi hanya sebagian kecil, mereka hanya penasaran siapa anak dari Archer yang akan menjadi pewaris tahta.


Arci tak menginap di Villa itu, sedangkan yang lainnya menginap di sana. Ia lebih memilih menuju hotel di mana Andini menginap, Rahma telah diantar pulang ke rumahnya. Tentu saja kedua orang tuanya sangat khawatir, akhirnya mereka berdua bisa bernafas lega setelah mengetahui Rahma selamat. Arci segera menemui Andini, setelah sampai di hotel itu ia pun mengetuk pintu kamar hotel tersebut.


Andini pun membuka pintu, Arci kemudian masuk.


"Bagaimana rapat tadi?" tanya Andini.


"Tenang saja, aku sudah mengatasinya. Aku mengatakan kalau kamu masuk rumah sakit." jawab Arci.


"Fiyuuh...trus?"


"Besok, kita lihat aja apa yang terjadi besok?"


Arci menghadap ke Andini, Arci lebih tinggi dari Andini, tapi perbedaan usia mereka tentu saja berbeda. Bagi Arci ia sangat takjub dengan Andini, bagaimana ketika ia bertemu dengannya dulu, dalam.keadaan yang sangat berbeda dengan hari ini.


Arci memegang pipi Andini tangan itu terasa lembut di pipi Andinu, ia merasakan kesejukan ketika tangan halus pemuda itu membelai pipinya. Andini memejamkan mata, agaknya ia pasrah terhadao apa yang akan dilakukan pemuda itu.


Di kamar hotel berudaan, Arci bisa saja melakukan yang lebih jauh dadi sekedar menciumnya. Tapi hari itu ia hanya mendaratkan sebuah ciuman di bibir Andini dan memeluknya.


Dalam pelukannya Andini berkata, "Aku sangat merindukanmu, kamu tahu itu?"


"Kamu beda sekali."


"So, Mr Zenedine. I'm yours."


"No no no, Not like this. Aku sudah berjanji akan menikahimu, kamu bisa tunggu?"


Arci memegang bahu Andini.Wanita itu hanya tersenyum; senyum kebanggaan memiliki kekasih seperti Arci.


Andini melepaskan pelukannya, ia kemudian melepaskan kemejanya lalu roknya hingga ia hanya menakai g-str**g dan br*. Arci menelan ludah dengan sangat susah, Andini memberi isyarat dengan jari telunjuknya agar Arci mendekat.


I LOVE YOU, HANDSOME.


Saat ini adalah hari yang ditunggu, Arci dan Andini hadir. Dalam sekejap villa tersebut sudah dipenuhi mobil-mobil mewah, hampir semua keluarga Zenedine dan orang-orang yang dekat dengan Archer Zenedine hadi di sana. Dan tentu saja Bu Susiati sebagai seorang pengacara yang sangat disegani ada di sana.


Arci melihat dengan seksama seluruh keluarga Zenedine, sebentar lagi semua orang akan tahu siapa dirinya. Ia tak tahu apa yang akan terjadi nanti, tiba-tiba ia teringat dengan Letnan Yanuar.


Tentang kelakuan keluarga Zenedine yang sebenarnya, mereka semua adalah mafia. Arci tak tahu apa yang harus dilakukan, apakah ia akan menerima tawaran itu ataukah tidak. Mengumpulkan bukti-bukti untuk menghukum anggota keluarganya sendiri?.


Bu Susiati mulai mengeluarkan sebuah CD, ia kemudian memasukannya ke sebuah player. Sebuah imager yang terpampang di tengah ruangan pun mulai menampilkan Video Player. Bu Susiati kemudian memutar Video tersebut, setelah itu munculah wajah Archer Zenedine. Arci mengetahuinya.


"Ini adalah wasiatku. Aku Archer Zenedine, aku tahu kalian akan bertanya-tanya kenapa harus hari ini tanggal 31 mei beberapa tahun setelah aku tiada. Jawabanya hanya satu. karena hari ini adalah hari ulang tahun putraku. Putra semata wayangku, dialah satu-satunya yang berhak atas semua kekayaanku, dan satu-satunya orang yang akan mengarahkan ke mana perusahaan yang diwariskan oleh Arthur Zenedine kepadaku."


"Namanya adalah Arczre Van Zainal, dia adalah anak biologisku dengan seorang wanita yang sangat aku cintai, Lian. Semuanya telah sah aku tanda tangani dan mulai hari ini Arczre mewarisi semuanya,"


"Dia berhak menjadi anggota keluarga Zenedine, dia berhak atas semuanya. Dan kepada anggota keluarga yang lain semuanya sudah aku bagikan yang mana akan diurus oleh pengacaraku, sekian. Dan untuk Arci aku pesan kepadamu 'Follow your heart".


Berakhirlah rekaman video itu.


"Ini semua yang menjadi wasiat dari Archer Zenedine, dan ini sudah menjadi ketetapan hukum dan tidak bisa diganggu gugat." kata Bu Susiati.


"Ini gila, ini tidak mungkin. Siapa anak pamanku itu? toh kita tidak tahu dia masih hidup atau tidak." protes seorang pemuda. Ia sepertinya lebih muda sedikit dari Arci.


"Aku tak setuju, wasiat sampah, akulah yang seharusnya menjadi pewaris resmi," ujas seorang lagi.


lalu seluruh ruangan menjadi ricuh, tapi Pieter yang saat itu juga ada di tempat itu mengangkat tangannya. Semua orang langsung terdiam, ternyata Pieter punya pengaruh yang luar biasa di keluarga ini.


"Arczre Van Zainal anak Archer Zenedine ada di sini, bukan begitu?" tanya Pieter sambil menoleh ke arah Arci. Tatapan Pieter itu seolah-olah dia sudah mengetabui semuanya.


"ya dia ada di sini." kata Bu Susiati.


"mana?" teriak salah satu anggota keluarga Zenedine.


"Saya orangnya." Arci bangkit dan melangkah maju.


Semua mata tertuju padanya


Tiba-tiba dari kerumunan keluarga Zenedine seorang wanita bergerak maju dan menodongkan sepucuk pistol ke kening Arci, wanita itu tampak masih muda dan sangat cantik, tatapan matanya tajam dan bulu matanya tebal. Pisfol model glock itu sudah hampir ditarik platuknya dan Arci tentu saja kaget. Jangungnya hampir copot.


"Aku akan menghabisi orang yang mengaku sebagai anak paman Archer ini, dia tak pantas menyandang nama keluarga Zenedine. Kalau dia dihabisi bukankah kekayaanya bisa dibagi ke kita?" ucap gadis yang sepertinya masih berusia 21 atau 22 tahun itu.


"BODOH!" bentak Pieter, "kalau kamu membunuhnya maka tidak satupun dari kita akan mendapatkan warisan itu, bahkan senuanya akan disumbangkan ke yayasan sosial!"


"Jadi aku harus menerima dia sebagai anggota keluarga kita?"


"Tentu saja, lagi pula dia tak sebodoh yang kamu kira." kata Pieter sambil bersuata lantang.


Semua orang membisu. Wanita yang dipanggil Ghea itu pun menurunkan pistolnya. Arci menarik nafas lega.


"Aku tak suka kepadamu sepupu!" Ghea mendorong Arci, Arci mundur satu langkah setelah itu dia pergi meninggalkan Arci


Hari itu tentu saja semuanya berubah, semua orang mau tidak mau harus menerima Arci. Keadaan yang tidak menguntungkan bagu keluarga Zenedine .Tapi mereka harus menerimanya, sebagian yang lain mulai merancang sesuatu. Arci tahu di antara mereka tidak akan ada yang bisa diajak bersahabat. Mereka hanya ingin hartanya.


"Arci, apa yang ingin kau lakukan sebagai pemimpin perusahaan ini?" tanya Pieter.


Arci menghirup nafas dalam-dalam.


"Jangan takut, keputusanmu adalah keputusan kami juga, tapi kalau kamu ingin menghancurkan apa yang dirintis oleh kakekmu, aku tak akan tinggal diam." kata Pieter.


"Baiklah. kalian sudah mengetahui apa rencanaku ke depan dari rapat kemarin bukan?"


Semuanya mengangguk.


"Hal pertama yang ingin aku lakukan adalah memecat Yuswan Andi dari jajaran direksi."


Sontak hal itu membuat semuanya terkejut. Ruangan itu jadi ricuh.


"Hei, anak muda? apa yang kamu lakukan? salahku apa? Yuswan Andi protes.


"Kamulah orang yang telah membocorkan rancangan kita kepada PT. Denim, kamu berusaha untuk bisa mempersatukan perusahaan ini dengan PT. Denim dan rencanamu itu telah didengar oleh salah satu rekan kerjaku Rahma. Kamu juga berniat buruk kepada Andini, tapi sayangnya aku telah mengambil alih rapat kemarin." ujar Arci.


"Betulkah katamu itu?" tanya Pieter.


"Aku bisa mendatangkab Rahma menjadi saksi," jawab Arci.


"Jadi dia yang membocorkan desain itu?" tanya Pieter.


"Aku bisa jelaskan semuanya " Yuswan Andi berusaha membela diri.


Pieter memberi isyarat, tiba-tiba seorang berkacamata hitam muncul dari belakang Yuswan Andi dan menodongkan pistolnya lalu...


DOR!


Sebuah peluru bersarang di keoala Yuswan Andi yang belum sempat bicara, ia sudah tewas ditempat. Andini terkejut dan langsung memeluk ibunya. Semua orang tak tega melihat itu.


Pembunuhan tepat di depan mata mereka, Arci benar-benar menyaksikannya secara langsung. Darah segar menggenangi lantai tepat dimana terbujur kaku.


Pieter menghampiri tubuh Yuswan Andi, ia lalu berkata, "Aku tak suka penghianat, aku sudah bilang. Aku tak suka penghianat, kalian lihat? Aku sudah tegaskan kepada kalian, kalau sampai ada yang berkhianat aku tak akan memaafkan orang itu. Dan kamu Arci termasuk kamu. kami rela kehilangan semua warisan dari Archer kalau kamu berkhianat kepada kami. Kamu mengerti?"


Arci menelan ludah, pandanganya terpaku pada Pieter. Pieter hanya tersenyum ia lalu menepuk pundak keponakannya.


"Santai saja; selamat datang keponakanku. Kamu perlu berkenalan dengan kami semuanya nanti," kata Pieter "Maaf sambutanku yang tidak pantas ini."


Setelah itu Pieter dan keluarga Zenedine keluar semuanya dari ruangan, Arci masih bergidik melihat Ghea yang tadi menodongkan pistol ke kepalanya. Pucuk pistol masih terasa dinginnya besi yang menempel di dahinya tadi. Ghea hanya tersenyum simpul kepadanya.


"Bu Susiati, ini kejahatan bukan?" tanya Arci sambil berbisik "kenapa anda diam saja?"


"Arci; ada kalanya, uang dan pengaruh lebih berkuasa dari hukum. kamu akan sering melihat seperti ini di keluarga ini. Aku hanya bisa menolongmu untuk mendaptkan kekuasaan di keluarga Zenedine, selebihnya kamu harus berusaha sendiri." bisik Bu Susiati.


"Lalu?"


"Berusaha jangan mati." jawab Bu Susiati.


Kepala Arci pusing. Dia baru kali ini melihat seseorang dieksekusi tepat di depan matanya, Agaknya ia harus melaporkan ini kepada Letnan Yanuar, tapi ancaman dari Pieter tadi bukan main-main. Ia sekarang sedang berada di sebuah platform yang sangat berat untuk diduduki seseorang yang dijuluki Inheritance. Keturunan dan dia menyesal mendapatkan semuanya sekarang.


Bersambung DI SARANG SINGA