
I LOVE YOU, HANDSOME.
"Terima kasih atas cintamu sayangku. Aku tahu kalau kamu sangat mencintaiku, aku adalah bagian terindah dalam hidupmu. Tapi kalau kita tidak ditakdiran bersama dalam waktu yang lama, apa yang bisa kita lakukan?"
"Pasti ada, pasti ada yang bisa aku lakukan. Kalai kamu pergi... siapa yang akan menjadi nyawaku sekarang? Safira telah pergi, lalu kamu??"
"Ada seorang wanita yang sangat mencintaimu."
"Siapa?"
"Kamu tidak tahu?"
"Aku tahu, tapi kenapa dia?"
"Dia sangat mencintaimu."
"Tapi aku mencintaimu."
"Ya, memang kamu mencintaiku.Tapi aku tidak bisa bersanding denganmu lebih lama lagi."
"Setelah apa yang kita lakukan selama ini? Kita perjuangkan? Kamu harus pergi? Ini terlalu sakit bagiku."
"Dia juga telah merasakan sakit, sakit karena cintanya tak dibalas."
"Jangan lakukan ini Andini. Jangan!"
"Aku tak bisa berbuat apa-apa.:
"Biarkan aku pergi denganmu."
"Tidak bisa. Jangan! Kamu harus hidup! Cintailah dia!"
"Tak akan ada yang bisa mengisi hatiku lagi selain dirimu."
"Bisa, kamu bisa mencintainya. Dia bisa memberikanmu kehangatan seperti yang kuberikan, dia bisa memberikanmu kesejukan seperti yang kuberikan. Kau hanya perlu mengajarinya."
"Andini... aku rapuh."
"Kuatlah suamiku. kamu harus kuat."
"Engkau adalah kekuatanku, engkau adalah cintaku."
"Kalau kau mencintaiku, kamu harus tegar."
"Kenapa perjumpaan kita begitu cepat?"
"Semuanya telah digariskan. Sebagaimana Safira bilang, semua yang ada awal pasti ada akhir. Hiduplah untuk cintamu. Masih ada ibumu, masih ada Putri dan Ghea."
"Andini..."
"Terima kasih cinta...."
"Aku juga mencintaimu... selamanya suamiku. Lelaki yang paling tampan."
"Biarkan aku memelukmu. Biarkan aku memelukmu untuk terakhir kali."
"Selamat tinggal cinta..."
I LOVE YOU, HANDSOME.
Arci membisu. Nafas Andini berhenti, jantungnya berhenti. Arci memeluk tubuh Andini untuk terakhir kali. Ia menempelkan bibirnya ke bibir istrinya, menciumnya untuk yang terakhir kali. Matanya memerah, ia mencopot kemejanya, terlihat kemejanya bersimbah darah karena luka-lukanya. Arci menutupkan kemejanya ke tubuh istrinya, ia menciumi wajah yang terlihat damai itu sekarang. Ya, Andini telah pergi dengan tersenyum. Terlihatlah luka-luka di tubuh Arci, bahkan Lian pun tak sanggup untuk melihat luka-luka di tubuh itu. Di punggungnya ada banyak luka sabetan senjata tajam, terlebih ketika Arci berbalik memperlihatkan dadanya. Ada beberapa bekas luka tertembus peluru di sana.
"Hajar dia!" kata Tommy kepada anak buahnya.
Empat anak buah Tommy yang tadi memegangi Arci langsung menuju kearah Arci. Mereka memukul Arci, menendang. Tapi Arci tak bergeming, ia seperti mati rasa. Matanya masih menatap tajam, pukulan demi pukulan ia terima tapi sekali lagi tak ada rasa sakit. Rasa sakit yang ia rasakan sekarang lebih sakit daripada sebuah pukulan ataupun tendangan, bahkan kalau dia mati hari ini mungkin tak ada rasanya sama sekali.
Arci dengan satu tangan menangkap leher salah seorang anak buah Tommy, kemudian menangkap tenggorokannya serta mematahkannya KLEEK! Orang itu pun langaung ambruk. Melihat rekannya tewas begitu saja maka yang lainnya berusaha menghajar Arci lagi, tapi Arci menangkap tangan salah seoramg dari mereka kemudian menekuknya ke arah berlawanan KRAAK! Orang itu langsung menjerit kesakitan. Tommy heran melihat Arci seperti itu. Dua orang lainnya berasa ketakutan, Arci mengeluarkan kapak yang ia bawa. Kapak.kecil itu digenggamnya erat-erat setelah itu ia ayunkan ke salah seorang anak buah Tommy, tepat mengenai kepalanya. Setelah itu ia cabut dan ayunkan lagi ke perut temannya.
"Aku sudah katakan, aku akan menjadi vampir malam ini. Aku akan hisap darah kalian!" kata Arci "Aku tak akan memaafkan kalian, aku akan hisap sampai kalian mengingini kematian yang cepat!"
Tommy jadi merinding, Alexandra jadi ketakutan melihat Arci sekarang ini. Tiba-tiba Arci bergerak cepat ke arah alexandra dan rambutnya ditarik, Gerakan cepat itu tak pernah disadari oleh siapapun, atau lebih tepatnya semua yang ada di situ ketakutan sekarang. Arci sudah tidak bisa berfikir tentang logika, yang ada di dalam otaknya adalah membunuh semua orang.
"AAARRGHH!" jerit Alexandra "Kamu mau menyakiti wanita?"
Arci tak perduli, ia segera membenturkan Alexandra ke lantai. Michael yang melihat istrinya diperlakukan seperti itu segera berlari ke arah Arci sambil membawa tongkat baseball. Arci dipukul-pukul kepalanya tapi tongkat itu berhasil ditangkap oleh Arci dengan tangan kirinya. Alexandra menggeliat di lantai, Arci mengayunkan kapaknya, kalau saja Michael tidak melepaskan tongkat baseball itu mungkin dia sudah terkena sabetan kapak Arci. Alexandra yang sekarang berada di bawah kaki Arci tampak ketakutan. Entah bagaimana Arci memiliki kekuatan seperti itu sekarang, tongkat baseball itu pun diayunkan ke kepalanya. Arci dengan membabi buta terus-menerus memukul-mukul kepala Alexandra hingga remuk. Istri Micahel itu pun tewas dengan kepala remuk karena tongkat baseball.
Semua orang yang berada di situ merinding. Tommy mencari-cari pistolnya, tak ada di pinggangnya padahal seharusnya ia selalu bawa. Michael menatap ngeri tubuh istrinya yang sudah tak bernyawa itu, Arci membuang tongkat baseball tersebut. Ia berjalan ke arah Michael.
"Tu..tunggu dulu!" kata Michael memohon. Tommy dan Agus mundur menghindar, Arci sudah tidak biaa diajak bicara lagi. Michael ketakutan sangat-sangat ketakutan ia pun berlutut. "Maafkan aku, tolong jangan bunuh aku. Tom! Tommy lakukan sesuatu!"
Tommy dan Agus akan keluar ruangan tapi pada saat mendekati pintu keluar, Arci melemparkan kapaknya hingga menancap di pintu. Tentu saja hal itu membuat Tommy dan Agus terkejut, Arci langaung menendang kemal**n Michael. Michael mengerang kesakitan ketika kedua telurnya dengan keras di tendang oleh Arci, mungkin ia tak pernah menyangka dalam hidupnya bahwa kantong testisnya akan hancur hari itu dengan sekali tendang. Dan Arci menggigit lehernya KRRAASSSHH!
"AAAAAAARRRGGGHHH" Michael meronta-ronta agar Arci melepaskannya, tapi gigitan Arci lebih kuat bagai serigala lapar. Michael berusaha sekuat tenaga mendorong tubuh Arci, tetapi semakin ia mendorong maka gigitan itu semakin kuat. Arci menggigit Michael tepat di pembuluh nadinya, dia menggigit sekeras-kerasnya sambil menghisap setiap darah yang keluar dari luka Michael.
Tommy bergidik melihat itu semua, terlebih lagi Agus. Lian sungguh tak tega melihat itu ia memejamkan mata. Melihat tubuh Andini yang sudah tergolek tak bernyawa itu ia pun merasa bersalah. Bersalah dan menyesal atas dosa-dosanya selama ini. Seharusnya ia tak menerima cinta dari Archer. Cinta yang membawa petaka, cinta yang hanya membawa derita. Ia sendiri tampaknya tak tega melihat kondisi Arci sperti sekarang ini. Arci sekarang seperri binatang buas, ia tak akan berhenti sampai tujuannya terpenuhi.
Michael mengerang dan meronta. Tapi tenaga Arci sangat kuat, entah dari mana tenaga itu berasal. Hingga akhirnya Michael pun lemas, darahnya banyak yang keluar. Apalagi Arci berhasil memutuskan pembuluh nadinya. ia pun menggigit dan menarik daging yang ia dapatkan dari leher Michael dan meludahkannya. Kini mulutnya penuh darah.
Tommy dan Agua sangat ketakutan, apa yang mereka hadapi sekarang ini bukanlah manusia. Ternyata mereka telah bertemu dengan binatang yang sesungguhnya, mereka selama ini bersifat seperri binatang. Menggunakan segala cara untuk mencapai tujuan mereka, namun ketika.mereka dihadapkan dengan keadaan yang sekarang ini. Di.mana manusia yang jadi binatang sesungguhnya mereka pun menjadi ciut.
Tommy mendorong tubuh Agus, Agus yang saat itu tidak siap langsung tersungkur ke depan Arci. Sementara itu Tommy keluar melarikan diri.
"Arci, Arci maaf, kita bisa bicarakan baik-baik. Kau bisa dapatkan kembali perusahaanmu, Anggap semua tak terjadi OK, ampuni aku," kata Agus.
Arci tak bergeming dan seketika itu ia mengayinkan kapaknya ke kepala Agus dan Agus seketika itu terkapar tak berdaya.
Bersambung BIG BOSS
Perhatian : mungkin episode berikitnya akan memakan waktu sedikit lebih lama mohon bersabar