I LOVE YOU, HANDSOME

I LOVE YOU, HANDSOME
DARKER THAN BLACK II



Jaques hari itu baru bangun tidur, ia cukup lelah dengan banyaknya urusan beberapa hari ini. Maka dari itulah ia bangun agak siang, dia mendapatkan pesan dari Ghea agar segera menemuinya. Jacques hanya membalas OK, setelah itu ia berganti baju, memakai kemeja dan juga jas. Sebagai tangan kanan Pieter, Jacques yang sebagai mantan anggota Delta Force itu cukup peka terhadap banyak hal. Tetutama terhadap sesuatu yang mengancam nyawanya, seperti halnya pagi ini ia merasakan sesuatu yang aneh ketika keluar dari rumahnya.


Di halaman rumahnya biasa saja tak ada tanda-tanda yang aneh, jalanan juga sepi. Bahkan mungkin terlalu sepi bagi dia. Dia punya kebiasaan ketika pagi tiba selalu mendapati sebuah koran tergeletak di teras rumahnya, ada anak kecil yang menjadi loper koran langganannya yang selalu melemparkan koran tiap pagi. Tapi hari ini tidak ada dan tidak biasanya, lebih aneh lagi adalah pagar rumahnya terbuka sedikit.


Dia segera menghubungi Ghea tapi Ghea tidak merespon yang ada hanya voice mail, "Ghea ada yang tidak beres coba cek Pieter!"


Jacques tidak masuk ke dalam.mobil, dia keluar dari pagar rumahnya dan melihat sekeliling. Dan perasaanya pun tidak salah, di sana sudab ada puluhan orang menodongkan senjata semi otomatis ke arahnya. Ia hanya tersenyum sinis.


"Jadi ini yang kalian lakukan, Baiklah..."


Jacques tak ada pilihan, tak bisa berbuat apa-apa. Orang-orang yang mengepungnya itu pun sudah membrondong dia dengan peluru. Peluru-peluru dari senjata semi otomatis itu pun menembua tubuhnya, tubuh Jacques pun terkapar di pinggir jalan. Orang-orang yang mebembaknya pun pergi.


I LOVE YOU, HANDSOME.


Agaknya Safira yang sebenarnya tak kuat berada di dalam gedung, melihat Arci dan Andini bisa bersatu membuat dia cemburu. Ah, hidup memang kejam. Tapi ini adalah pilihannya, ia sangat mencintai adiknya melebihi apapun dan ia harus bisa bahagia. Safira melangkahkan kakinya menuju keluar gedung, dan ia terkejut ketika tangannya disentuh oleh seseorang. Safira mengenal orang itu.


"Anda??"


"Ini Agus. Masih ingat?" sapa orang itu.


Tentu saja Safira masih ingat Agus Trunojoyo, client pertamanya yang mendapatkan keperawa**nnya kala itu.


"I-iya, aku masih ingat. Apa kabar om?" tanya Safira.


"Kamu sudah dewasa ya sekarang " kata Agus melihat Safira dari atas sampai bawah.


Safira tersenyum, "Iyalah om, sudah lama juga."


"Maaf, kamu masih menekuni profesimu? kalau masih boleh tuh om pakai lagi. Tadi om terkejut lihat kamu di sini." kata Agus.


"Oh, udah nggak om. Maaf, om diundang juga? Kenal ama adikku berarti?"


"Aku pemilik PT. Denim, tentu saja diundang . Adikmu pemilik PT. Evolus kan? Aku tak menyangka saja dia adalah adikmu?"


"Iya, kehidupan kami cukup berubah."


"Mau ikut om? Tenang saja, kita ngobrol. nggak ngapa-ngapain."


Safira menghela nafasnya, boleh juga pikirnya. Lagipula ia tak tahu apa yang harus dilakukan di tempat itu, ia pun mengangguk. Agus kemudian menggandeng tangan Safira meninggalkan gedung itu, Safira menganggap Agua tak akan berbuat jahat. Sebab dulu Agus memperlakukan dia dengan baik, apalagi membayarnya dengan sangat mahal. Mungkin saja tak akan macam-macam.


Alarm berbunyi dan membuat semua orang panik, semuanya pergi keluar dari gedung itu. Andini kebingungan terhadap apa yang dilakukan oleh suaminya.


"Ada apa?" tanya Andini.


Arci segera menggandengnya menemui Bu Susiati dan Suaminya yang kebingungan.


"Ada apa nak Arci?" tanya bu Susiati.


"Tolong bawa Andini pergi, ada sesuatu yang tidak beres," jawab Arci.


Andini yang sepertinya mengerti maksudnya segera dibawa oleh orang tuanya pergi, Arci mengambil ponsel kemudian menghubungi Safira,. Safira pun menjawabnya.


"Kak, ada di mana?" tanya Arci.


"Aku sedang jalan sama temen," jawab Safira.


"Siapa?" tanya Arci.


"Ada deh."


"Aku seriusan ini! Sama siapa?"


Mendengar Arci berkata dengan nada tinggi membuat Safira terhenyak, "Sama pak Agus."


"Siapa?"


"Klien aku dulu. aku pernah cerita bukan? kamu mengundangnya juga, masa nggak ingat? kalau nggak ingat kenapa dia bisa datang?"


Arci mengingat-ingat nama Agus, dan dia pun teringat dengan nama yang dimaksud Agus Trunojoyo. Mendengar nama Trunojoyo ia terkejut.


"Kak pergi menjauh dari orang itu! Aku tak mengundangnya. Lari!! Dia pemilik PT. Denim, PT . Evolus dan PT. Denim bermusuhan kak. bukan sahabat. Aku hanya mengundang rekan-rekan kerjaku saja dari PT. Evolus. Kamu ada dimana?"


Mendengar itu Safira yang saat itu ada di dalam mobil tersentak. Tapi terlambat, Agus sudah membekap dia dengan sapu tangan berklorofom. Safira kemudian pingsan, Agus tersenyum penuh kemenangan. Dia kemudian menelepon seseorang.


"Kakaknya sudah aku dapatkan!" kata Agus.


"..."


"Baiklah, sopir. kita ketempatku! kata Agus.


Arci yang saat itu panik segera berlari ke luar, namun dari arah pintu masuk tampak beberapa orang dengan membawa clurit, parang, pipa dan berbagai senjata lainnya. Kini Arci sedang dihadang oleh segerombolan tukang pukul, kemudian dari ujung gerombolan itu tampak seseorang tersenyum sinis sambil memukul-mukul tangan kanan ke telapak tangan kirinya. Rambutnya cepak seperti seoarang tentara dia tegap memakai jas abu-abu.


"Alfred...." gumam Arci yang mengenali dia.


Orang-orang pun kemudian panik, mereka semua berlari keluar gedung. Mereka mengira akan ada pertumpahan darah di tempat ini, Arci .melihat ke sekeliling ruangan. ia sudah tak melihat lagi teman-temannya termasuk Rahma juga Andini. Andini yang melihat para tukang pukul dari keluarga Zenedine masuk gedung hal itu membuat dia panik.


"Ma, lepasin ma. Arci masih di dalam." kata Andini.


"Nggak, kita harus pergi. Suamimu bisa jaga dirinya!" kata Bu Susiati.


"Tapi...dia sendirian.ma!" kata Andini.


"Dini, dengar. Arci menyerahkanmu padaku. itu artinya dia percaya kepada mama dan dia bisa menjaga dirinya. Ayo, kita harus pergi!" kata Bu Susiati.


"Ayo Dini!" ayahnya pun menarik tangan anak perempuannya.


Andini bersedih, seharusnya ini menjadi hari bahagia. Ia telah menjadi istri dari orang yang dicintainya, tapi kenaoa harus terjadi hal seperri ini. Tapi ia punya keyakinan, Arci pasti baik-baik saja. Dia segera berlari mengikuti ibunya ayahnya.


Sementara itu Arci terdiam, baru kali ini ia berhadapan dengan banyak orang apalagi dirinya tanpa senjata. Alfred memang benar-benar ingin membunuhnya, Tommy Zenedine ingin menguasai seluruh harya keluarga Zenedine bahkan harus menyingkirkan Arci sang pewaris PT. Evolus.


"Jadi seperri inikah yang kalian inginkan??" tanya Arci.


"Hahahaha, tidak usah dianggap seeius. Ini sudah biasa terjadi di dalam keluarga kami, yang tidak diaukai akan kami sikat. saling menghabisi satu dengan yang lainnya itu sudah biasa!" ujar Alfred.


"Aku sudah tahu apa yang kalian rencanakan, tapi aku tak pernah menyangka kalian akan merusak acara pernikahanku " kata Arci.


"Bagus bukan? memang itu yang kami inginkan." kata Alfred.


Arci mundur, ia tak punya senjata untuk bisa mengalahkan puluhan orang seperti ini. Ia harus punya senjata, dia juga teringat dengan kakaknya. Kakaknya dalam bahaya, ia harus nekat. ia mundur sampai ke meja makan. makanan yang ada di meja adalah presmanan disana tersapat kompor berbahan bakar spirtus yang bisanya menyala, lalu ia mengambil kompir tersebut dan membakar taplak meja yang ada dan tidak sampai di situ ia mengambil lagi kompir yang ada dan melemparnya ke lantai karpet dan terjadilah kebakaran dalam gedung tersebut.


Alfred cukup panik melihat api yang berkobar, arci segera berlari ke panggung lalu ia mengambil stand.mic untuk di jadikan senjata.


Arci nekat menerobos gerombolan tukang pukul dengan mengayun-ayunkan tiang mic. Alfred tiba-tiba berlari dan kemudian menendang Arci hinga Arci terpental mengenai sound system.


Arci melihat jendela kaca yang ada di dekatnya, dengan sigap ia lalu memecakahkan jendela kaca tersebut dengan tiang mic dan akhirnya percah lalu Arci melarikan diri dari jendela tersebut.


"Hallo?" kata Arci


"Halli." saat itu Agus yang menjawab panggilan tersebut.


"Breng**k! dimana kamu? lepaskan Safira? kata Arci.


"Melepaskannya itu mudah, tapi aku harus punya jaminan dulu, kamu serahkan seluruh Aset perusahaanmu ke PT. Denim." kata Agus.


"Baik, di mana kita ketemuan?" kata Arci tanpa berfikir.


"Oh, cepat sekali tanpa berfikir baik-baik?" tanya Agus.


"Anj**g! katakan kamu dimana?!"


"Baiklah, aku tunggu di atas jembatan Sulfat."


Arci melihat seorang pengedara motor dengan pelan, lalu ia menendang pengedara tersebut hinga terjatuh. lalu Arci merebut motor tersebut.


"Maaf, aku pinjam dulu."


Segera Arci menggeber motor tersebut meninggalkan yang empunya.


Butuh waktu beberapa menit untuknya tiba di jembatan Sulfat, Arci melihat Safira berdiri di pinggir jembatan bersama seorang lelaki. Sementara itu beberapa meter di depannya ada beberapa orang menghadang, Arci segera turun dari motor dan berjalan mendekat.


"Lepaskan Safira!" kata Arci.


"Lepaskan? Sesuai perjanjianmu, aku telah membawa surat-surat pengesahan agar semua aset PT. Evolus menjadi milik PT. Denim!" kata Agus.


"Breng**k!" Arci mendekat.


Anak buah Agus dengan sigap memeriksa Arci, kalau-kalau ada senjata yang disembunyikan. Setelah yakin bersih ia mengijinkan Arci berjalan maju mendekat, Safira yang ketakutan menggeleng-geleng punggungnya sedang ditodong pistol oleh Agus. Salah seorang anak buah Agus mendekat dengan membawa dokumen yang telah disiapkan oleh Agus.


"Jadi, kamu bekerjasama dengan Tommy? tanya Arci.


"Ah, kamu tahu juga rupanya." Jawab Agus.


Arci tersenyum sinis, anak buah Agua yang membawa dokumen tadi mendekat ke Arci dan memberikan pena. Arci melihat tulisan-tulisan yang ada di kertas tersebut, dia tak membacanya. Tapi ia membaca situasi bagaimana cara menyelamatkan kakaknya, Arci kemudian mencorat-coret sebuah tempat untuk tanda tangan hingga menyentuh materai. Setelah itu Agus tersenyum penuh kemenangan.


"Hahahaha, akhirnya PT. Evolus menjadi milikku. Selamat tinggal cantik! kata Agus.


DOR!


Arci terkejut "Kak Safira!"


Safira ditembak oleh Agus, wajah perempuan itu seperti terhenyak ia mencoba menggapai Arci, Arci pun menangkap kakaknya itu.


"Nggak, nggak, nggak. Jangan kamu tak boleh pergi. Kakak nggak boleh pergi!" Arci menangis.


Safira tak bisa berkata-kata, rasa sakit dipunggungnya tembus ke perutnya membuat ia tak bisa bicara dengan lancar. Sementara itu Agus dan anak buajnya mulai pergi.


Safira menangis, tubuhnya lunglai kini Arci mendekapnya . Ia sangat bahagia di saat terakhir dalam hidupnya bisa.melihat Arci terakhir kalinya. Lelaki yang dicintainya hancur sekarang Arci membutuhkan kakaknya lebih dari siapapun.


"Terima...kasih sudah...memberikan cintamu kepadaku, maaf..Ci... aku.. tidak bi..sa..menj...adi..ibu.. dari...anak..kita.." Safira memegang perutnya.


"Jangan bilang kamu hamil!?"


Safira mengangguk


"Tidak kak, kamu harus hidup, jangan! tidak seperti ini!" Arci bicara sambil sesenggukan.


Safira tersenyum, kemudian tubuhnya kaku dan lemas, ia menghembuskan nafas terakhirnya.


"Kaaaaakk... kak Safira jangan pergi! Kaaaaaakk!" Arci menjerit. Di pinggir jembatan dia memeluk kakaknya dengan bersimbah darah, ia tak tahu kalau kakaknya sudah menganduk anaknya. Kini ia benar-benar membenci semuanya, membenci orang-orang yang telah mencelakai keluarganya. Dia akan mengejar Agus, ia harus menuntut balas. Digeser tubuh kakaknya hingga bersandar di pinggir jembatan.


Arci kemudian mengambil sepeda motor yang tadi dikendarainya, dengan segera ia melajukan dengan kecepatan penuh mengejar Agus. Mobil Agus masih terlihat dengan kesetanan Arci pun mengejar orang yang telah membunuh Safira. Air matanya mengalir, kesedihan akan kehilangan orang yang sangat ia cintai tak dapat ia bendung lagi.


"Terkutuk kalian! aku akan membunuhmu, Tommy aku akan membunuhmu, Agus, aku akan minum darah kalian aku akan jadi vampir yang tidak akan puas sebelum aku menghabiskan darah kalian!" kata Arci sambil menarik gas penuh.


Dia pun sampai juga mengejar Agus, mereka.mulai melewati jalanan yang curam. Mereka telah berada di jalanan curam dan sempit di daerah Industri, jalanan di sini memang curam menanjak.dan menikung plus ada sebuah jembatan kecil di daerah itu. Arci menendang-nendang pintu mobil Agus. Melihat itu Agus menjadi geli sendiri.


"Pepet aja, di depan ada jembatan lagi bukan!" Perintah Agus.


Mobilnya kemudian memepet Arci hingga motor Arci minggir, kemudian tanpa disangka Arci tak melihat ke depan sehingga ia menabrak sebuaj pembatas jembatan dan ia pun terplanting terjatu di atas jembatan, kemudian mobil Agus segera berhenti. Agus keluar dari mobil dan langsung menodongkan senjata, lalu Arci perlahan-laham bangkit dan setelah itu.


DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! DOR!


Beberapa peluru menembuh tubuh pemuda itu, ia lalu meraba tubuhnya yang terkena peluru. Dia tersenyum, mungkin Arci mengira akan bisa bertemu Safira kalau dia mati. Tapi ia ingat Andini, dia harus hidup Arci terhuyung dan ia pun terjatuh ke sungai.


BYUURRRR!


Agus kemudian masuk kembali ke dalam mobil dan menginstruksikan sopir untuk jalan lagi, tapi tiba-tiba dari arah depan sebuah mobil Mercedes Benz SLK 250 menghantam mobilnya.


BRAAKK!


Dan Air bag mengembang seketika, saat mobil Agus di hantam oleh kendaraan lain, dari dalam mobil keluarlah Ghea, beberapa anak buah Agus pun keluar kemudian Ghea menyambutnya dengan tembakan.


DOR! DOR! DOR! DOR!


Terjadi perang sengit di jalan itu, tapi Ghea tahu prioritas utamanya adalah menyelamatkan Arci. Dia segera berlari ke arah jembatan dan menceburkan diri ke sungai, arus sungai yang deras pun menyeretnya jauh sementara anak buah Agus berusaha mebembaki dari atas jembatan.


Agus kehilangan sopirnya karena hantaman mobil Ghea, Agus keluar melihat keadaan di luar.


"Sudah, sudah biarkan, ayo segera kita pergi!" dan mereka pun segera pergi dari tempat itu.


Sementara itu di sungai, Ghea berhasil menangkap Arci. Dia pun segera menyeret Arci ke pinggir, dengan sisa-sisa tenaganya ia segera membawa Arci pergi berjalan menembua semak belukar, tubuh Arci bersimbah darah terdapat banyak luka ditubuhnya. Ghea harus membawa Arci untuk diobati, tapi ke mana? dan akhirnya ia menggendong Arci tanpa tujuan.


Ghea terus menggendongnya hingga ia melihat sebuah klinik kecil, dia segera berlari ke klinik itu. Klinik tersebut kecil belum ada pasien sepertinya. Segera saja Ghea masuk ke klinik itu tanpa ba bi bu. Dan di dalam klinik tersebut ada seorang perawat yang kaget, terlebih melihat Arci yang penuh luka sampai darahnya menetes dilantai.


Ghea.menodongkan senjatanya, "Kalau kamu tidak mengobati dia, aku akan menembakan ini ke kepalamu!"


Perawat itu gemetar ia panik dan segera mengambil peralatannya, Arci kemudian diletakan di atas ranjang. Dokter jaga klinik itu pun datang dan terkejut melihat Ghea yang menodong perawat kemudian dirinya. Sang dokter pun melihat Arci di ranjang dan menelan ludah.


"Selamatkan dia cepat!" kata Ghea.


"Ok, kami akan selamatkan dia. Tapi jangan ditodong. turunkan senjatanya!" kata dokter.


"Kamu berani memerintah aku?" tanya Ghea.


"Ti...tidak, baiklah." sang dokter pun mulai bekerja.


Bersambung SERPIHAN RINDU