I LOVE YOU, HANDSOME

I LOVE YOU, HANDSOME
SILUET



Andini mengerangkan badannya yang ramping itu berkali-kali mengeluarkan suara gemertuk persendiannya. Ia menggeliat hingga membuat dadanya membusung sesaat. Beberapa hari ini pekerjaannya sangat berat, terutama menjelang pelaporan produksi terakhir. Bulan depan akan ada pertemuan dengan para direksi. Hal itu tentu saja adalah agenda rutin yang setiap tahun yang selalu dibarengi dengan pesta para Boss.


Perusahaan PT. EVOLUS PRODUTAMA, sebuah perusahaan textil yang telah berkiprah selama puluhan tahun dan merajai pemasaran produknya dikancah pertextilan di indonesia hal ini tidak bisa dianggap remeh. Selama berpuluh-puluh tahun telah dianggap sebagai pioner bagi perkembangan dunia textil. Hasil produksinya telah di expor ke mancanegara, hal itu tidak lain adalah berkat tangan dingin sang pemimpinnya yaitu haris surya ramadan.


Andini hari ini lebih memilih tinggal di ruangannya sambil membaca berkas-berkas yang ada di mejanya. Tumpukan berkas itu pun ditelitinya satu persatu sambil serasa sesekali mengerutkan dahinya. Dia lalu mengoreksi dan mengoreksi, dia memang butuh orang yang dapat membantunya menyelesaikan pekerjaannya ini. Dia pun mengambil gagang telepon dan menelepon sekretarisnya Rahma.


"Rahma, bagaimana? Ada kabar dr HRD?"


"Iya bu, HRD sudah ada dua kandidat yang melamat. Tapi yang satu gugur karena tidak sesuao harapan. pada test masuk dia gagal,"


jawab rahma sang sekretaris.


"Trus kapan pelamar itu datang?" tanya andini ketus.


"hari ini seharusnya datang," jawab rahma.


"kalau sudah datang suruh langsung menemui saya. Dan tolong berkas-berkas yang ada di ruangan saya diberikan kepada pak wiguna bagian distributor sekarang."


"baik bu."


Tak berapa lama kemudian rahma.muncul di pintu. Andini menunjuk ke tumpukan berlas yang ada di mejanya. Rahma segera mengambilnya. Rahma tampak.serasi dengan balutas blus warna cokelat dan rok.selutut. Rambutnya disanggul dengan anggun serta cara berjalannya sangatlah mempesona. Ya sekretaris dari andini ini sangat anggun. Bahkan mungkin seandainya bosnya tidak lebih cantik dari dirinya mungkin ialah yang jadi primadona di kantor ini. Sayangnya andini tak kalah cantik walaupun usianya hampir masuk ke angka 30, tapi dia boleh dibilang sebagai wanita yang sangat cantik, sexy, anggun dan menawan. Semua karyawan di kantor ini amat memuja kecantikan andini. Dan beredar desas-desus tak enak karena dengan usia yang hampir memasuki berkepala tiga dia tidak terlihat dengan pria manapun. banyak bos-bos yang jalan dengannya tapi tak pernah lama.


Kabar angin mengatakan bahwa Andini adalah


seorang lesbian. Kabar yang lain, ia sudah


tunangan, kabar yang lain pula mengatakan


bahwa ia lebih memilihh hidup membujang


karena termasuk wanita yang workaholic.


Namun itu semua tidak terbukti. Toh, sampai


sekarang Andini masih easy going, enjoy, dan


free available, sebut saja sesukanya.


TOK! TOK! TOK!


"Permisi," sapa seseorang di pintu.


Sesosok wajah pria ganteng dengan rambut.ala harajuku nongol di pintu. Andini dan Rahma menoleh ke arah pintu dan mendapati seorang pemuda asing dengan baju putih berdasi biru bergaris putih melongok ke dalam.


"Ya? Cari siapa?" tanya Rahma.


"Eh...hhmmm...apa


ini ruangan Direktur


Produksi?" tanya pemuda itu


"Ya, dengan saya sendiri di sini, jawab Andini. Namun Andini sedikit terhenyak ketika melihat wajah pemuda itu. la sepertinya mengenal.sang pemuda.


Oh, maaf. Saya disuruh oleh bagian HRD untuk langsung menemui ibu. Saya yang melamar lowongan di slah satu surat kabar, jawab sang pemuda.


Oh, sudah datang rupanya. Baiklah masuk saja. Rahma tolong bawa berkasnya ya!" kata Andini.


"Baik bu" Rahma kemudian mengambil berkaas-berkas yang kalau ditumpuk sampai sedagunyya. Dia melirik ke arah pemuda yang masuk ke ruangan Andini. Pemuda itu memakai parfum yang maskulin, tubuhnya tegap, tinggi dan kulit sawo matang. Pemuda tampan ini ternyata bisa membuat Rahma berdebar-debar ketika melintas di hadapannya. Rahma kemudian keluar dari ruangan bosnya.


"Anjiirrr..cakep banget itu pegawai baru. Wah, wah, bakalan ramai nih kalau dia sampai keterima di kantor ini, ujarnya dalam hati. la buru-buru kembali ke meja Pak Wiguna.


"Duduk!" Andini menyuruh pemuda itu duduk.


Sang pemuda.tampan ini pandangannya menyappu seluruh ruangan mulai dari lukisan, kaca jendela, hingga AC. Pandanganya pun.terhenti di mata Andini. Calon bossnya ini menatap ke arahnya. Andini menoleh ke arah layar monitornya dan melihat email yang dikirim bagian HRD. Dia membaca berkas yang diberikan HRD di monitor laptopnya.


"Baiklah, nama?" tanya Andini.


"Arczre Vian Zainal" jawab sang pemuda.


"Panggilannya?"


"Arci, jawab sang pemuda.


"Kamu bisa panggil saya.Bu Andini, kata.Andini.


"Baik, bu. Bu Andini"


Andini tersenyum. Dalam hatinya ada perasaan rindu, tapi kenapa mereka harus bertemu dengan cara seperti ini. Dalam hati Andini tertawa. Tapi semuanya ditahan. la tak mau mengacaukan semuanya. Pandangan Andini kepada Arci penuh arti, semua itu karena satu peristiwa masa lalu yang dialaminya.


"Punya pengalaman kerja?" tanya Andini.


"Saya pernah beberapa.kali bekerja di.perusahaan kecil, setahun di percetakan, saya juga mengerjakan servis komputer di rumah, kebanyakan freelance; jawab Arci.


"Lulusan akuntansi.dengan.cumlu de, hebat".puji Andini.


"Alhamdulillah bu" kata Arci.


"Punya saudara?" tanya.Andini.


"Ada ibu, adik dan kakak,.semuanya wanita.jawab Arci


"Kakak sudah.berkeluarga?" tanya Andini.


Arci menggeleng, "Belum sedangkan adik, sekarang masih SMA:"


Andini sebenarnya tidak perlu bertanya tentang silsilah keluarga dari arci, ia sudah tahu. Andai Archi tahu siapa dirinya pasti ia tidak akan memaafkannya. Tapi inilah kehidupan, kadang sesuatu kita ada di atas, kadang juga ada di bawah. Sama seperti yang dilihat olehnya kali ini. Dulu Andini tidak seperti ini. Perjumpaannya dengan Arci mengubah segalanya.


Selama ini dia bertanya-tanya, dimana kah pemuda itu selama ini. Pemuda yang membuat dia berubah. Pemuda yang telah memberikan menggetarkan hatinya, seorang pemuda tampan yang sangat sabar dalam mengarungi kehidup. Dan mungkin saja karena jodoh akhirnya mereka dipertemukan oleh Tuhan di sini.


Dalam hati Arci berkata "cantik sekali wanita yang berada di hadapannya ini. Rambutnya berombak, dewasa, kulitnya putih dan sangat mempesona. Apakah dia sudah menikah?. kalau dilihat dari jari manisnya yang kosong, sepertinya ia belum menikah. Tapi bisa jadi sudah, jaman sekarang ini terkadang memang orang tak mementingkan cincin yang melingkar di jari manis."


"Baiklah, CV-mu sungguh baik. Aku suka suka sama kamu, eh ,.. maksudnya aku suka dengan profilemu. Kapan siap kerja?" tanya Andini agak gugup.


"Sekarang juga saya siap bu," kata Arci.


"Siap bu." kata Arci. "Ada lagi?"


"Itu saja dulu ," kata Andini.


"Baik bu, kalau.begitu saya permisi." kata Arci.


"Silahkan!"


Arci kemudian beranjak dan pergi dari ruangan Andini. Setelah yakin Arci pergi dari ruangannya dan dia sendirian. Andini menghela nafas. Ia mengelus-elus dadanya. Ia senyum-senyum sendiri.


"Aku tak menyangka sekarang kamu berhasil Ci, itu yang aku harapkan. Tapi kuharap kamu tak kaget nanti kalau tahu siapa aku. Arci, jangan kecewakan aku ya!" gumam Andini seorang diri.


"Mbak, mejanya Yusuf sebelah mana ya? Saya disuruh ibu Andini " tanya Arci membuat Rahma yang saat itu baru saja duduk setelah dari meja kerja pak Wiguna terkejut.


"Oh, iya maaf. Masnya langsung kerja di sini?" tanya Rahma.


"Iya nih,"jawab Arci.


"Ikut saya deh, nama mas siapa?"


"Saya Arci."


"Ah, iya"


Arcipun mengikuti ke mana Rahma pergi. Rahma mengantarnya ke sebuah meja yang tak jauh dari tempat Rahma bekerja. Di sana ada seorang pemuda berkaca mata tampak sedang menginput data. Di mejanya ada tumpukan file-file. Tampak sekali tempat mejanya telah dipenuhi berbagai tempelan.


"Mas Yusuf?" sapa.Rahma.


Yusuf langsung menoleh, "Eh, Rahma. Ada apa?"


"Ini pegawai baru bagian audit." kata Rahma.


"Arci," Arci mengulurkan tangannya dan langsung dijabat oleh Yusuf.


"Yusuf." kata Yusuf. "Duduk deh".


Arci kemudian duduk di kursi kosong di meja sebelah Yusuf.


"Aku tinggal dulu ya?" kata Rahma.


Rahma kemudian pergi meninggalkan mereka berdua. Arci melihat ke layar monitor.


"Lulusan mana?" tanya Yusuf.


"UNAIR," jawabnya.


"Wah, keren dong," kata Yusuf sambil membuka file excel.


"Ah, nggak juga. Biasa aja koq mas. Lulus pas-pasan," kata Arci merendah.


"Hahaha, jangan merendah gitu. Dan penampilanmu sepertinya kamu ini bukan orang sembarangan."


"Masa, sih mas?"


"Yah, dari penilaianku saja sih. Tadi disuruh apa sama Bu Dini?"


"Bu Dini? Oh, iya katanya untuk merekap data produksi tahun ini" jawab Arci sambil.menggaruk-garuk kepalanya.


"Oh, gampang itu. kita sekarang sudah punya aplikasinya, kamu tinggal ambil dari aplilasi yang disediakan seperti ini." Yusuf mengoperasikan sebuah aplikasi yang menampilkan data produksi. "kemudian buka file excel lalu export saja ke excel, jadi deh. Kamu tinggal filter aja berdasarkan tanggal.


"Oh, begitu," Arci manggut-manggut.


"Datanya kamu filter juga berdasarkan kode produk karena aku yakin Bu Dini pasti ingin menginginkannya berdasarkan kode produk" Yusuf menjelaskan pekerjaan yang harus ditangani Arci.


"Oh, ok. Gampang kalau gitu. Yang penting semuanya ada diaplikasi ini kan?" tanya Arci sambil menunjuk ke aplikasi yang dibuka oleh Yusuf.


"Iya." jawabnya.


"Consider it done!"


Yusuf mengangkat alisnya "sombong amat bisa selesai cepet," ujarnya dalam hati.


"Ini sebelumnya mejanya siapa?" Tanya Arci kemudian.


"Oh, dulu ini meja milil farid, dia sudah resign," jawab Yusuf.


Arci mulai menghidupkan komputer. Dia menaruh ransel yang ia bawa di meja dekat monitor lalu mulai mengeluarkan binder, pulpen, dan beberapa peralatan lainnya termasuk charger. Ia juga keluarkan ponselnya dan langsung memasukan colokan charger ke tempatnya. Arci mulai bekerja, Yusuf cukup penasaran ketika Arci mulai mengetik dengan cepat. Ia tampak sangat cekatan.


"Boleh juga," kata Yusuf. Tapi Arci tak mendengar. Baginya hari ini ia harus memberikan first impression kepada atasannya.


Beberapa menit berlalu Yusuf sibuk dengan pekerjaannya sambil sesekali melihat Arci bekerja. Disaat Yusuf sedang asik bekerja itulah tiba-tiba Arci menghampirinya lagi.


"Trus dikirim lewat email atau diprint?" tanya Arci.


"Kirim lewat email saja," kata Yusuf. "Emailnya Bu Dini, andini@evolus.com.


Arci manggut-manggut. Segera ia kembali ke mejanya dan mengetikan alamat email ke composer. Setelah itu mengklik send. Dia lalu duduk dengan merendahkan tubuhnya. Melihat itu Yusuf jadi heran.


"Sudah?" tanya Yusuf.


"Yup, kalau cuma mengumpulkan data dengan filternya saja sih sudah." jawab Arci.


"Coba, mana aku lihat?" Yusuf menggeser kursinya kini berada di sebelah Arci.


Arci kemudian memperlihatkan bagaimana cara dia menyusun data sebanyak itu dalam waktu cepat. Pertama dia membuat program sederhana dari bahasa pemograman PHP kemudian dia mengutak-atik kodingnya sehingga dengan cepat ia bisa mendapatkan segala yang ia perlukan.


"Cuman segini kan?" tanya Arci yang membuyarkan lamunan Yusuf yang melongo melihat hasil kerja Arci.


"Gile, kamu cepet juga ya ngerjain ini. Mana sempurna lagi," puji Yusuf.


Yusuf akhirnya mengerti kalu si Arci ini punya sesuatu yang lebih daripada karyawan biasa.


TBC